Sunday, 20 October 2019

Dari Stres Hingga Baby Blues: Dampak Buruk dan Cara Tepat Menghadapi Perlakuan Mom Shaming

13:37 0 Comments

Dampak Buruk dan Cara Tepat Menghadapi Mom Shaming-

"Anaknya jangan dikurung terus. Begitu keluar rumah jadi kayak burung yang lupa sangkar." | "Usia PAUD kenapa belum dimasukin sekolah?" | "Badannya kok kecil ya." | Pernah mendapat ujaran serupa? Itu hanya kalimat pembuka, sebab setelahnya akan ada kalimat menghamiki yang sengaja dilontarkan sehingga seorang ibu merasa disudutkan. Merasa disalahkan atas pilihan pengasuhan yang selama ini diterapkan.

Dalam realnya, masih banyak lagi komentar lain bernada negatif. Kalau dikumpulkan, rasa-rasanya tak ada kapasitas lebih untuk bisa menata hati tetap legowo menghadapi komentar julid dari orang-orang sekitar. Dari yang merasa dirinya paling tahu, mereka yang tak sadar telah berlaku mom shaming.

Mom shaming adalah tindakan mempermalukan seorang ibu karena merasa posisi dirinya lebih benar dalam perihal pola asuh. Beberapa orang tak segan-segan melontarkan ucapan yang bersifat perundungan (bullying), sinis, alih-alih memberi sebuah masukan justru terkesan lebih merendahkan.

Imbasnya? Seorang ibu hilang kepercayaan diri dalam mendidik buah hati. Tak sedikit yang stress, merasa tak becus, menyalahkan diri sendiri, sampai pada kemarahan yang tak terlampiaskan. Tentu saja akan berdampak pada waktu ia menghadapi buah hatinya.

Kemarin, ketika sedang menyusul ananda bermain. Kalimat serupa yang ada di paragraf pembuka melayang dari seorang bapak dengan anak satu seusia Aidan. Didukung  pula oleh ibu beranak 5 yang dengan jelas membuat perbandingan antara Aidan dan anak si bapak tersebut.

Geram? Iya. Bahkan sampai detik ini pun masih terasa mangkel. Dari kemarin aku menahan diri untuk tidak menangis. Betapa mom shaming kerap kali dilontarkan dari mereka yang merasa lebih tahu tentang apa yang benar dan apa yang mereka anggap belum benar. Padahal, mereka hanya membuat penilaian secara mentah tanpa mengetahui persis alasan maupun kesulitan seseorang di balik itu semua.

Hanya karena anak orang lain tidak serupa anak kita, bukan berarti orangtuanya telah salah menerapkan kedisiplinan. Hanya karena praktik yang kita terapkan berbeda cara dengan orangtua lainnya, bukan berarti kita lah yang paling benar dalam soal mendidik.

Setiap anak berbeda, memiliki keistimewaan tersendiri. Memiliki karakter hingga pola kebiasaan yang berbeda. Tentu saja menuntut penanganan yang berbeda pula. Antara satu anak dan anak yang lain tak bisa disamakan, apalagi dijadikan perbandingan. Saudara sedarah saja berbeda watak bukan? Meskipun lahir dari rahim yang sama.

Ada anak yang meski dilepas oleh orangtuanya, hanya akan anteng-anteng saja. Tetapi ada pula anak yang sedikit saja lepas pemantauan, sudah berpindah ke ujung jalan. Orangtua tentu lebih memilih menjaga keamanan ketimbang anaknya cedera.

Ini dilema bagi orangtua yang memiliki anak super aktif. Hal ini pun bukan perundungan pertama yang aku alami setelah menjadi ibu. Hingga berdampak pada baby blues dan benci melihat anak sendiri. Mengapa? Karena perlakuan mom shaming yang didapat dari orang-orang sekitar justru tak membangun sama sekali. Sikap dan cara mereka hanya mendatangkan perasaan terintimidasi. Disalahkan, dijatuhkan, diremehkan, sama sekali tak beroleh dukungan.

Pernah di satu waktu aku menangis sejadi mungkin, berhari-hari, marah pada bayiku, marah pada suami, marah pada diri sendiri. Fase dua tahun pertama setelah menjadi ibu dan berjuang mati-matian melawan syndrome baby blues. Komentar julid orang lain sukses menghempasku ke dasar paling menyakitkan sebagai seorang ibu yang tak bahagia dengan peran keibuan-nya.

Karena itu, ketimbang melontarkan komentar yang barangkali akan melukai orang lain.. lebih baik diam dan tahan untuk diri sendiri.

Kita tak pernah tahu kesulitan macam apa yang orang lain hadapi. Kita tak pernah tahu alasan apapun di balik keputusan yang orang lain ambil. Kita tak tahu persis, tantangan bagaimana yang ia lalui dalam keseharian ketika mendidik buah hati.

Tak adil jika hanya melihat sepintas, kita membuat penilaian dengan garis keras. Seolah-olah, orang lain tak berbuat lebih atas dirinya maupun anaknya.

Mirisnya, mom shaming sampai saat ini masih menjadi tradisi yang tak bisa lepas dari keseharian orang-orang. Tak hanya bersumber dari orang yang tak dikenal dekat atau pun tetangga. Orangtua, ipar, suami, bahkan mertua juga berpotensi sebagai pelaku mom shamers yang menuding seorang ibu tak pernah becus atas perannya.


Padahal, menjadi ibu adalah pekerjaan terberat sepanjang masa. Perlu digaris bawahi, tak pernah ada ibu yang sempurna dalam perannya, kecuali ibu yang sepenuh jiwa raga mendedikasikan hidupnya teruntuk keluarga. Memerlukan waktu dan proses belajar tanpa henti. Tak ada ibu hebat yang serta merta menguasai segala hal hanya dalam sehari.

Ibu yang beranak lima bisa saja merasa lebih paham ketimbang ibu yang beranak satu, tetapi kondisi di lapangan mungkin berbeda. Situasi serta kondisi yang dihadapi juga tak sama. Sebaiknya berhenti membuat penghakiman atas orang lain dan mengangkat diri sendiri dengan jalan menjatuhkan seseorang.

Jadi, hanya karena orang lain tak sesuai dengan prinsip yang kita lakoni. Bukan kita yang berhak menentukan arah orang lain jika kita sendiri tak bisa bertanggung jawab atas kesulitan-kesulitannya. Bahkan tak sedikitpun peran yang kita ambil dalam hidup orang tersebut. Lantas, hak apa yang membuat kita berhak menghamiki orang lain?

Ini self reminder pula untukku. Menjadi ibu yang kerap beroleh perlakuan mom shaming mengajariku satu hal penting, ketimbang mencecar keputusan orang lain, lebih baik posisikan diri sebagai pendengar. Kadang, orang lain tak butuh masukan jenis apapun. Didengar saja sudah cukup. Tak perlu berkomentar lebih jika tak tahu menahu, sebab bisa saja anggapan tersebut salah.

Setiap ibu berhak berbahagia, setiap ibu berharga, setiap ibu istimewa dan berjuang untuk anaknya.

Jaga lisan, dari kebiasaan menyakiti orang lain.

Karena orang lain punya hak atas bagaimana akan menjalani hidupnya.

Orang lain berhak berbahagia atas apapun keputusan yang diambil, maka tak perlu menghakimi.

Aku pernah berjuang sembuh dari baby blues, aku juga berada di posisi sebagai ibu yang menerima perlakuan mom shaming. Karena itu pula beberapa upaya hadir untuk mejaga diri tetap legawa dalam menjalani peran, terlepas banyak penilaian yang tak sejalan.

1. Jawab atau Tinggalkan

Ada situasi ketika kita perlu menjawab semua dugaan yang mereka lempar. Jawab kalem, sesuai apa yang memang terjadi di dalam keseharian. Alasan apa saja yang memaksa kita untuk menerapkan pilihan. Jika mereka masih mengolok-ngolok, nge-gas dengan dalih seolah-seolah cara kita lah yang keliru, senyum kemudian tinggalkan.

Kita tak perlu berlarut-larut berada di antara orang-orang yang jelas berusaha menyudutkan. Sebelum suasana hati bertambah tak enak, tarik diri untuk keluar dari lingkaran. Kamu berhak untuk menjaga perasaan sendiri ketika orang lain berusaha menyakiti.

2. Ambil sebagai refleksi diri

Ada jenis komentar yang harus kita ambil sebagai pertimbangan. Tetapi ada pula yang harus masuk telinga kiri lalu keluar telinga kanan. Ada komentar yang bersifat membangun, ada pula komentar yang bersifat menjatuhkan.

Pilah dan pilih mana yang harus didengar mana yang harus diabaikan. Ambil sebagai koreksi untuk perbaikan diri. Buktikan pada mereka bahwa anggapan mereka tidak lah benar.

3. Menyadari keterbatasan diri

Ketika orang lain beranggapan begini dan begitu, seolah-olah menjadi seorang ibu diwajibkan sempurna tanpa cela. Sadari bahwa tak ada ibu yang sempurna sekeras apapun kita berusaha. Karena manusia memang sebatas berikhtiar. Setidaknya kita tak melemah hanya karena dijatuhkan orang lain. Kita tetap berupaya dengan segenap jiwa raga untuk terus memberikan yang terbaik.

Ibu yang sempurna hanya ada dalam patokan masing-masing orang, tetapi dalam kenyataanya, tak ada yang betul-betul sampai ke tahap itu. Ya, karena kita bukan malaikat. Ibu juga manusia biasa. Kadang kala berlaku salah. Tetap semangat :)

4. Lihat sisi baiknya dan mulai lah memilih lingkungan

Kita berhak memilih lingkungan pertemanan yang sehat. Sekiranya tak mendatangkan manfaat, menarik diri akan jauh lebih baik. Salah satu tanda pertemanan sehat baik itu antara ibu-ibu, ketika tak ada sikap saling melemahkan peran orang lain apalagi terbiasa membuat perbandingan.

Aku juga membuat keputusan untuk tidak sering-sering berinteraksi dengan orang yang terbiasa melakukan mom shaming. Sekali, dua kali, masih bisa dimaklumi. Tetapi kali ketiga, barangkali memang demikian lah karakter individunya. Jaga jarak, jaga aman, dari pada kisruh dan hilang kewarasan. Kita berhak bahagia kok, jika niat silaturahmi tak lagi jadi sesuatu yang sehat, memilih circle lain yang lebih positif tak ada salahnya.

5. Jangan lakukan hal serupa pada ibu lainnya

Berangkat dari pengalaman pribadi, tak nyaman bukan ketika kita disudutkan oleh orang yang tak tahu menahu? Paling tidak, dari mengalami sendiri kemudian muncul rasa empati. Kita jadi lebih tahu bagaimana perasaan orang lain jika kita yang berlaku demikian.

Belajar dari pengalaman, mom shaming itu tak sama sekali mendatangkan manfaat bagi orang lain. Dengan memutus rantai buruk itu, kita berkontribusi untuk mengurangi potensi mom shaming antar sesama ibu. Dari pada saling menjatuhkan, lebih baik saling memberi dukungan.

6. Bersyukur dan berpikir positif

Seperti apapun komentar orang lain terdengar menyakitkan, kita tetap akan bersyukur dengan apa yang dimiliki. Seorang buah hati yang dinanti kehadirannya. Pasangan yang tetap memberi dukungan. Hal-hal positif lain yang dapat kita lakukan bersama buah hati. Tak perlu menilik isi piring orang lain jika hanya mendatangkan dengki dan mengikis rasa syukur dalam diri.

Yakini, bahwa apa yang kita miliki tak kalah baik dengan apa yang orang lain punya. Apa yang orang lain punya, adalah rezekinya. Rezeki kita pun sudah menjadi milik kita dan tak mungkin tertukar.

7. Ambil andil jika melihat mom shaming di depan mata

Dengan guyon dan bahasa yang tak terkesan menggurui, ambil posisi tengah. Beri edukasi pada orang-orang tersebut, bahwa apa yang mereka lakukan adalah tindakan mom shaming. Banyak orang yang tetap mengulangi perlakuan serupa karena tak tahu potensi apa yang didatangkan akibat ucapan mereka.

Jelaskan bahwa setiap ibu tetap luar biasa, setiap ibu berjuang di ranah masing-masing, tanpa harus merendahkan satu sama lain.

8. Recharge pengetahuan dan belajar lebih banyak tentang parenting

Jalan paling bijak untuk mematahkan argumentasi mereka dengan menjadikan diri sendiri lebih baik, dengan terus belajar. Kita melawan anggapan mereka dengan bukti dan pengetahuan. Bahwa apa yang kita terapkan sudah berlandaskan ilmu, bukan asal jalan.

9. Antara orangtua dan mertua

Banyak orang yang akan terlibat atau berusaha terlibat dengan pengasuhan yang kita ambil. Sebagian di antaranya bersikap senioritas dan terkesan meremehkan sebab menganggap kita tak tahu lebih banyak dari pengalaman yang telah mereka alami. Tetap terima kendati bertentangan dengan apa yang kita pelajari.

Tak sedikit cara dan keyakinan orangtua tak sejalan dengan fakta ilmiah saat ini. Salah satunya penggunaan bedong pada bayi. Dulu, ketika kami dikunjungi orang tua dan Aidan dibedong kencang.. kami tetap menerima itu demi menyenangkan orang tua dan menghargai masukan mereka. Baru setelah kepulangan orang tua atau pun sanak keluarga, bedong itu buru-buru kami longgarkan.

Pun ketika ada yang tiba-tiba memukulmu dengan komentar buruk, balas dan jelaskan bahwa kamu sudah berusaha yang terbaik dari apa yang sekilas tampak di permukaan :)

10. Peran dan kehadiran suami yang terpenting

Dari pengalamanku, baby blues seperti racun yang mencekik diri sendiri. Belum lagi jika suami tak mengerti sama sekali. Aku berjuang sembuh, kendati bukan perkara mudah untuk melawan diri sendiri. Alhamdulillah, semakin ke sini.. komunikasi menjadi jembatan paling penting antara suami dan istri untuk beroleh keseimbangan dalam hubungan dan titik temu untuk apapun permasalahan.

Sepelik apapun situasi, kehadiran pasangan ada kalanya menjadi kekuatan tersendiri. Apalagi suami yang siap pasang badan. Ini sangat berpengaruh pada kesehatan mental sebagai ibu. Pasti rasanya hancur, ketika banyak orang yang menudingkan telunjuk tetapi suami hanya diam menyaksikan istrinya menerima rongrongan.

Akan berbeda jika suami siap pasang badan dan menjelaskan keadaan sebenarnya. Biasanya, baik itu orang lain atau pun orang-orang terdekat, mereka akan lebih sungkan untuk berkomentar blak-blakan di hadapan suami. Apalagi jika suami memang orang yang tahu menempatkan diri. Orang akan berpikir ulang untuk menodong kita dengan prasangka buruk mereka.

Intinya, peran dan dukungan suami menjadi penguat bagi kita para istri sekaligus ibu. Jangan sungkan ceritakan pada suami pengalaman tak menyenangkan yang dialami, agar suami bisa jaga-jaga untuk melindungi.


______________________________

Semoga postingan ini bermanfaat. Putus rantai mom shaming dimulai dari diri sendiri. Setiap ibu berhak berbahagia untuk terus bisa mendidik dengan cinta dan sepenuh hati :)

....

Magelang, 20 Oktober 2019
Copyright : @bianglalahijrah

Saturday, 19 October 2019

Hidup Bercerita Tentang Luka

22:05 0 Comments
"Karena tidak seorang pun dapat melalui kehidupan tanpa membawa bekas luka di pintu keluar." [Mark Manson]


Di usia yang tak lagi muda, ia tetap menyongsong hari dengan rutinitas sama dari pagi ke malam, dari bangun ke tidur. Baginya, mengeluh takkan membasuh peluh atau mengganti rasa lelah. Maka bekerja lebih giat, pasang senyum ke seantero jagad, sampaikan pada dunia bahwa pundak dan hatimu takkan runtuh meski bertubi uji merusuh. Itu bukan apa-apa bagi wanita paruh baya tersebut. Sebab keyakinannya telah kokoh, "Gusti Allah niku mboten sare. Nrimo ing pandum, insyaa Allah uripe sae.."

Mataku berkaca, kusebut ia dengan panggilan Budhe. Wanita tangguh, lebih kokoh dari bebatuan karang di tepi laut. Ujian yang menampar hidupnya bukan lagi perkara remah semata. Namun tapaknya tak jua mengisyaratkan gentar. Sebab baginya, itu sudah iradah-Nya.

______________


Muda, belia. Menikah dengan lelaki pilihan yang ia cinta nyaris di sepuluh tahun berjalan, dari awal pernikahan bermula. Bukan hidup jika tak memberimu pilihan. Tetapi tak selalu pilihan itu memberikan kebenaran maupun konsekuensi baik. Manusia adalah tempat salah dan khilaf. Ia pun mengakui itu. Ketika jalan salah ditempuhnya sebagai bagian dari garis takdir yang akan dijalani. Ia pikir sesaknya akan lepas, tetapi justru kian menderanya dalam sesal.

Baginya terluka adalah hal biasa, meronta pun tak lagi upaya sebab akan percuma. Sejak lelaki yang ia sebut bapak kembali menoreh luka bagi sang ibu. Ia menimbang garis seperti apa yang akan ia hadapi di dalam pernikahannya. Tawa kah atau airmata?

"Abang minta maaf, Dik." | Kalimat yang seharusnya membuka simpul yang menyesakkan dada tetapi justru terasa getir. Lirih perempuan belia itu berujar, "Terima kasih sudah seperti bapak."

_______________


Dipandanginya foto anak-anak beserta istri yang tersenyum seolah menatapnya dalam wajah masygul. Jauh nian jarak yang memisahkan mereka. Di zaman itu, teknologi bukan sebuah kemewahan yang mampu dinikmati orang awam selain kaum-kaum bernasib bangsawan.

Selembar foto pun menjadi pelepas rindu, sembari membayangkan sapa lembut istrinya. Gelak tawa anak-anaknya. Matanya sayu berkaca. Rindu, ingin pulang. Tetapi jeruji besi yang mengungkung terasa kian menjauhkan jarak untuk pulang menuju rumah.

Ia dengar, empat bulan pasca mendekam.. istrinya melahirkan anak ketiga mereka.

Sebelum insiden penangkapan itu, sebuah pasar menjadi heboh dan tumpah ruah dengan jejalan manusia. Pasalnya seorang bapak mencuri satu karung beras dari sebuah toko klontong milik toke cina. Ada puluhan warga yang menyerang si bapak secara membabi buta. Tanpa mau tahu alasan di balik itu. Mereka terus melayangkan tendang beserta tinju.

Sedang si bapak pasrah, wajah anak beserta istri membayang. Air matanya merembes tanpa tahu berbuat apa. Tak ada uang lagi. Tak ada apa-apa lagi. Tak ada pula yang peduli. Si bapak terpaksa mencuri lantas mendekam di balik jeruji. Sungguh ironi.

________________

Entah mengapa konten tulisan yang sudah kupersiapkan sejak pagi justru kutepikan begitu saja. Pikiranku tergelitik untuk menulis ini. Teruntuk para sosok-sosok tangguh. Orang-orang yang sejatinya adalah pahlawan, pejuang yang tak kenal patah arang.

Seorang wanita yang menua dengan segenap cita-cita di penghujung usia, yakni ridha Rabb-nya.
Seorang istri yang mengiklaskan kesalahan suami meski hatinya dirajam luka bertubi-tubi.
Seorang bapak yang buntu mencari sangu, tetapi tak ada ladang yang bersedia digarap. Siapa yang sudi memberinya beberapa perak uang, untuk membawa pulang bingkisan penunda lapar bagi orang di rumah?

Tulisan ini lahir untuk para pejuang tangguh di luar sana, mungkin pula di sekitar kita.

Yang memilih untuk tetap bertahan dalam kondisi paling riskan sekalipun.

Yang memilih untuk tetap bergerak maju walau jalan berkerikil batu. Tajam, melukai.

Untuk siapapun yang memilih mendedikasikan jiwa raga, mengikhlaskan luka, dan tetap menapak jalan yang ada di depan sana.. bersama secebik asa bahwa Tuhan tidak mungkin salah memilih pundak. Bahwa ujian yang datang tak mungkin melebihi batas kemampuan hamba.

Apapun itu, sesulit bagaimanapun jalanmu, terima kasih untuk tidak menyerah. Terima kasih untuk menjadi sebaik-baik penebar hikmah beserta ibrah. Ketika banyak orang yang kemudian akan belajar, tanpa harus mencecap rasa serupa.

Dan, di waktu ketika jiwa sedemikian lemah.. menoleh lah pada mereka, yang menggenggam bara bersama cita kemudian terus melangkah. Tak ada alasan untuk berbalik ke belakang, satu-satunya arah tuju adalah bergerak maju.

Teruntuk siapapun yang tengah berjuang. Kalian hebat, kalian luar biasa.

Kita tidak memilih kehidupan yang seperti ini; kita tidak memilih kondisi yang sangat mengerikan ini. Namun kita harus memilih bagaimana untuk menghidupinya; kita harus memilih bagaimana cara untuk bisa hidup dengan semua keadaan ini.

_____________________________________

Kita pun memilih tetap berdiri kuat. Untuk sekali lagi memeluk diri sendiri, meyakini hari esok akan jauh lebih baik. Mudah; hanya ketika kita memilih percaya dan tetap berusaha.

Inspirasi yang lahir dari menyusuri tiap jengkal perjalanan pulang. Berpapasan pada wajah-wajah lelah tetapi tak kenal kata menyerah. Seorang ibu yang menggendong ananda, di ingatanku masih terekam jelas wajahnya. Mereka masih di pinggiran jalan yang sama, menunggu iba manusia.

Magelang, 19 Oktober 2019
Copyrigt : @bianglalahijrah

Friday, 18 October 2019

Sebelum Gawai Merenggut Banyak Hal : 8 Cara Mencegah Anak Kecanduan Gadget

20:10 2 Comments

Beberapa bulan yang lalu, sebuah video berseliweran di Instagram. Tak sedikit orang yang membagikan video serupa. Video ini menceritakan tentang fenomena manusia dengan gadgetnya di masa kini. Ketika banyak orang yang tanpa sadar melepaskan kehidupan yang jauh lebih berarti demi kemewahan yang ditawarkan oleh teknologi.

Banyak orang yang kemudian terobsesi dengan dunia kecilnya, yang dibangun lewat perantara gawai beserta akses data Internet. Tanpa sadar hilang kepedulian, muncul kecurigaan antara satu sama lain, memudarnya kebersamaan yang seharusnya terbentuk kian lekat. Baik itu antara suami ke istri, istri ke suami, maupun anak-anak dengan orangtuanya.

Video ini hanya berdurasi selama satu menit. Tetapi telak menampar kesadaran setiap individu yang telah meluangkan waktu meng-klik video tersebut. Era digital yang katanya memberi banyak kemudahan ternyata juga merenggut sisi lain yang seharusnya kita dekap dengan hangat.

Pemberitaan terkini seperti menambah fakta baru yang justru membuat miris, terutama aku sendiri sebagai seorang ibu. Diberitakan bahwa salah satu rumah sakit jiwa yang ada di Cisarua, Jawa Barat, saat ini tengah menampung banyak kasus ODMK (orang dengan masalah kejiwaan). Yang membuat sedih, pasien-pasien tersebut didominasi oleh anak-anak dari usia lima tahun hingga delapan tahun.

Hati orangtua mana yang tak masygul melihat buah hatinya terkungkung dalam sepetak ruang di kamar rumah sakit jiwa? Tetapi tak ada yang perlu dituding untuk bertanggungjawab lebih soal ini. Orangtuanya lah yang tahu persis. Tindakan paling tepat adalah merelakan ananda untuk beroleh penanganan segera. Menyadari betul kekeliruan dalam bentuk apa yang sudah orangtua perbuat.

Kerap kita merasa telah memberikan hal yang mudah bagi anak. Sesuatu yang kita rasa akan baik-baik saja. Tetapi ternyata, hal itu lah yang pelan-pelan menjadi lumpur hidup dan menarik ananda pada jurang yang lebih dalam.

Sebelum bertambah korban baru, orangtua punya andil besar dalam fenomena ini. Kita tentu tak menyangka bahwa gadget akan menjadi candu yang merusak kejiwaan ananda. Apakah ananda kita yang salah? Mari ingat lagi, orangtua lah yang lebih dulu memperkenalkan gawai tersebut dengan niat memudahkan urusan ayah bunda. Lantas, apakah gadgetnya yang salah? Benda yang ketika kehabisan nyawa tak bisa merecharge baterainya sendiri kecuali kita yang memasang kabel charger pada colokan listrik, tentu tak tahu menahu jika ternyata dirinya adalah benalu.

Lagi dan lagi, menyadari posisi sebagai orangtua adalah kunci. Barangkali kita keliru. Barangkali kita terlalu pewe. Mungkin kita sendiri lah yang menjerumuskan ananda. Anak-anak yang seharusnya menikmati masa bermain, eksplorasi, tertawa dan bahagia. Tetapi justru mendarat di bawah atap rumah sakit jiwa.

Remaja yang seharusnya tekun belajar demi merajut mimpi di masa depan, harus direhabilitasi dini.

Kita sedih sebagai ibu. Pemberitaan yang tayang di layar kaca menjadi bukti. Gadget bukan lagi perkara sepele dengan dalih "yang penting bocahe anteng..".

Lantas, ketimbang merundung diri dan merasa gagal. Apa yang harus kita perbuat?

1. Introspeksi diri

Mengingat lagi moment pertama ketika ananda mengenal gadget untuk pertama kali. Jika kita yang berkontribusi untuk itu, minta maaf pada diri sendiri dan renungkan kembali. Kita selaku orangtua bukan malaikat, sebatas manusia yang memiliki kekurangan di sana-sini. Sebelum menjadi orangtua, tak ada sekolah khusus untuk menjadi orangtua yang baik.

Kita akan melakukan beberapa hal salah atau keliru. Sebab itu kita dituntut untuk belajar terus menerus. Anak-anak lah yang kemudian mengajarkan banyak hal, bahwasanya kita tertempa dan menjadi lebih baik karena ananda sendiri yang menjadi guru di balik itu. Kita lah yang beroleh banyak dari ananda. Kita lah yang sungguh-sungguh belajar setelah kehadiran ananda.

Maafkan diri, kemudian benahi.

2. Minta maaf pada ananda

Sejak hamil Aidan, aku banyak membaca buku-buku parenting. Dari buku yang kubaca itu lah, aku tahu bahwa ketika anak berbuat salah. Saat anak menjadi sulit diatur. Barangkali itu adalah alarm dari Allah teruntuk kita orangtuanya. Waktunya meminta maaf kepada ananda. Barangkali ada kekhilafan yang luput dari kesadaran kita selaku orangtua. Minta maaf pula pada Dzat yang menitipkan ananda sebagai amanah. Tersebab kelalaian kita, anak-anak berbanding terbalik dari apa yang diharapkan.

3. Bangun ruang untuk kembali merekatkan kedekatan antara anak dan orangtua

Jika anak sudah terlalu adiktif pada penggunaan gadget, mulailah dengan membuka komunikasi yang terbuka. Baik antar pasangan. Maupun kepada anak-anak. Ciptakan waktu kebersamaan yang lebih memaksimalkan bonding terbangun dengan baik. Pada saat itu, beri anak pemahaman jika penggunaan gadget yang tak baik hanya akan berakibat buruk baginya. Sampaikan dengan bahasa halus agar anak merasa dirangkul, bukan dengan digertak apalagi dihukum keras.

Cara yang salah hanya akan menjadikan anak semakin stress, marah pada orangtuanya, berimbas pada anak yang semakin sulit diatur. Sebab mereka merasa haknya dicabut paksa, orangtuanya adalah benteng yang harus dilawan. Ingat, semakin kencang kita melempar bola ke dinding maka semakin kencang pula ia berbalik memantul.

Rangkul ananda, tunjukkan bahwa yang ia butuhkan saat itu adalah kehadiran orangtuanya sehingga ananda pun merasa nyaman dan manut saat diberi wejangan. Rangkul dan bonding pada anak.

4. Beri alternatif lain dan alihkan perhatian anak dari gadget

Jika ayah atau bunda langsung menarik paksa gadget dari genggaman anak, yang terjadi justru perlawanan. Anak menangis, bahkan tantrum. Ingat kejadian saat Agustus lalu? Ada anak yang mengamuk dan merusak pintu hanya karena pemadaman serentak dan gadget kesayangannya mati.

Sebegitu candu hingga mempengaruhi emosional sang anak.

Kembali lagi, seberapa sibukkah kita hingga tak sempat memantau waktu anak-anak?

Beri alternatif untuk mengalihkan perhatiannya. Seperti kisah seorang ayah di Tiongkok yang menciptakan berbagai jenis permainan kreatif dari bahan kardus bekas. Ia tak ingin masa kecil anaknya terenggut teknologi lebih dini. Karena itu ia menciptakan berbagai permainan handmade mulai dari tetris, maze game, marble run, papan labirin hingga ke track mobil-mobilan.

Kalau ingat zaman kecilku dulu, begitu ceria dengan permainan anak-anak tradisional yang saat ini justru kian memudar. Sedikit anak yang masih mengenal permainan tradisional, sekalipun itu yang berasal dari daerah sendiri. Anak-anak justru berbalik pada game online maupun aplikasi game yang ada di gadget.

Bagaimana jika orangtua mengajak anak bermain ala permainan tradisional yang dulu pernah dimainkan saat kecil? Seperti bola bekel, gundu, petak umpet, congklak, lompat tali, gobak sodor, panggalan, dan lain-lain. Apa yang masih terekam dalam ingatan ayah bunda?

Sembari melestarikan kembali permainan tradisional khas anak-anak daerah, kita juga meminimalisir penggunaan gadget dengan mengalihkan fokus anak ke hal lain.

Untuk kami sendiri, membaca buku cerita adalah trik jitu untuk membuat anak tak melulu beralih ke gadget. Dan itu berhasil, secara tak langsung kita juga menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku dan literasi. Cerita selangkapnya bisa di baca di sini : [Manfaat Baik Membacakan Anak Buku Cerita Sejak Dini].

5. Arahkan talenta dan pahami minat anak

Contoh konkrit dari Om dan Tante di Batam, sejak kecil mereka tahu ananda pertama mereka gemar pada permainan sepak bola. Karenanya, minat dan talenta itu mereka asah dengan memberi dukungan, apresiasi, termasuk sarana yang memadai.

Hingga kini, ketika anak mereka remaja. Rizky berhasil mengikuti perlombaan sepak bola mewakili kota Batam hingga ke tingkat provinsi. Baru-baru ini mereka bertolak ke Jakarta.

Membanggakan bukan? Dari hobby ternyata juga bisa menghasilkan.

Tak ada salahnya menengok apa yang menarik minat anak dan kecenderungannya saat ini. Tak melulu anak-anak harus lahir dan mengikuti obsesi orangtuanya.

6. Jadilah pedoman sekaligus idaman bagi anak

Anak sekarang pintar loh. Ada anak yang menjawab ketika dilarang bermain handphone. Jawabannya ringan, "Ayah sama bunda aja mainan hp kok, kenapa kakak nggak dibolehin?"

Jleb! Barangkali benar, anak adalah pantulan dari orangtuanya. Apa yang kita contohkan, itu yang akan dia lakukan. Apa yang anak lihat, itu yang akan ia tiru. Anak itu peniru paling ulung.

Mulailah dengan bersahabat dengan anak. Mendidik dengan cinta, sebab yang anak butuhkan adalah kasih sayang serta perhatian dari orangtuanya.

7. Sapih gadget

Mengurangi durasi secara perlahan, sembari terus memahamkan anak. Lakukan secara konsisten hingga anak benar-benar dapat terlepas dari pengaruh adiktif pada gadget.

8. Konsultasikan pada psikolog anak

Sampai di tahap ketika candu gadget yang terjadi pada anak sudah melewati batas wajar, segera bawa ananda untuk dikonsultasikan pada orang yang berpengalaman soal ini. Satu upaya yang bisa orangtua lakukan untuk menyelamatkan anak, sebelum keadaan menjadi lebih tidak terkendali. Tetap berpikiran positif, berkata baik, dan langitkan doa-doa yang baik.

Tahan gerutu agar tidak melompat keluar, karena ucapan ibu adalah doa bagi anak-anaknya.

.................

Postingan ini tak lebih sebagai pengingat bagi diri. Dalam realnya, aku juga belajar terus menerus untuk membersamai balita kami di rumah. Aidan Fayyadh Al-Fatih yang saat ini berusia empat setengah tahun. Alhamdulillah, ketergantungan pada gadget bisa berkurang. Bukan berarti Aidan tak lagi menyentuh smartphone milik orangtuanya, hanya intensitasnya lah yang berkurang. Dalam seminggu, maksimal dua sampai tiga kali sesuai waktu yang kami sepakati bersama.

Saat ini, justru ketika Aidan minta izin menyentuh gadget.. begitu kami bilang tidak, biasanya Aidan akan langsung mengurungkan niat. Jadi memang bertahap, tak serta merta dipisahkan begitu saja. Karena tadinya ananda kami juga sempat kecanduan pada video kartun yang ada di youtube. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa kebiasaan menonton youtube seharusnya tidak diberikan saat ini.

Tak ada orangtua yang sempurna, pasti ada saja kekurangannya. Sekalipun kita merasa sudah melakukan yang terbaik bagi anak, baik menurut kita belum tentu baik untuk anak. Jadi yang dapat dilakukan adalah terus belajar. Berbenah lagi, jangan berpuas diri. Sebab peran ini lah yang kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Semoga anak-anak kita menjadi anak yang shalih dan mushlih, kelak sebaik juga setinggi doa yang dilangitkan orangtuanya. Aamiin.


Semoga bermanfaat :)

_______________________________

a remind my self

Magelang, 18 Oktober 2019
Copyright : @bianglalahijrah

Thursday, 17 October 2019

Memahami Stres pada Ibu Rumah Tangga dan Cara Mengatasinya

22:16 5 Comments

Perempuan itu katanya makhluk Tuhan paling baper. Mengapa? Ya, karena apa-apa dimasukin ke hati. Sensitif. Perasa. Peka luar biasa. Berbeda dengan laki-laki yang lebih mengedepankan akal dulu baru kemudian perasaan. Lah kita? Kayaknya 99% memang didominasi perasaan dulu baru kemudian bekerja di nalar.

Karena itu pula para peneliti mengaitkan stress pada perempuan beresiko dua kali lipat lebih rentan terjadi dibandingkan dengan kaum adam. Ada banyak hal yang mendasari mengapa perempuan lebih mudah terkena stress; di antaranya karena faktor biologis, psikologi, dan lingkungan sekitar.

Untuk ibu rumah tangga, menjaga kewarasan adalah keharusan. Karena stress sedikit saja rusak susu sebelanga. Ibu itu ibarat jantungnya rumah, ibarat matahari, ibarat oksigen, kalau bermasalah sedikit saja maka semua lini di dalam kehidupan rumah tangga juga terkena imbas. Tetapi, sayangnya tak semua memahami ini.

Tak sedikit pula suami yang menuntut istri harus jadi wonder woman ketika menghadapi stress seorang diri, karena toh Kanda sudah lelah bekerja. Padahal, suami dan istri adalah dua orang yang mengemban tanggung jawab besar untuk keseimbangan hidup berumah tangga. Itu berarti sudah menjadi tugas bersama untuk saling menyeimbangi satu sama lain, saling menutupi cela kekurangan, saling melengkapi kelebihan masing-masing. Saling ada! Bukan antara ada dan tiada.

Tak ada yang lebih dibutuhkan seorang istri selain suami yang tahu kapan waktu untuk menyediakan bahu, sebagai tempat bersandar. Terkadang memang demikian, yang kita perlukan hanya keberadaan suami di sisi. Saling sabar untuk mendengar. Saling henyak untuk menyimak. Solusi tak selalu hadir dalam bentuk saran tetapi kehadiran pasangan jauh lebih dibutuhkan.

Bagiku, pemicu stress yang paling umum dialami oleh ibu rumah tangga tak lepas dari rutinitas harian yang itu-itu saja. Hanya jam terbang yang kian meningkat dengan rules tak jauh berbeda tatkala jumlah anak bertambah. Belum lagi jika rentetan faktor ekstern juga ikut membumbui.

Aku yang masih beranak satu saja masih kerap mengeluh dan kadang rentan terkena stress.

Ada saat di mana otak seperti nge-blank, semua terasa buntu. Mau apa-apa malas. Bawaannya mager. Pekerjaan yang seharusnya mudah hanya dengan sekali sentuh, tiba-tiba terasa berkali-kali lipat lebih berat dari sebelumnya.

Aarrgghh. Pengen teriak saat itu juga!

Rasanya lelah? Iya. Jenuh? Tentu. Bosan? Ya, apa boleh buat. Kata terakhir ini rasanya tak mengena jika disandingkan dengan dedikasi para ibu dalam keseharian. Karena faktanya, dalam kondisi sakit saja.. seorang ibu acapkali tak mengindahkan alarm tubuh dan tetap bekerja seperti biasanya. Karena ada tugas yang melambai tanpa bisa diwakilkan. Rasa-rasanya tak boleh ada kamus bosan.

Oleh sebab itu, kita perlu tahu kondisi di mana stress tengah diam-diam menjalar ke dalam diri. Kita manusia moms, manusia biasa. Bukan mutan, super woman a.k.a wonder woman, apapun itu sebutannya. Jadi wajar jika stress melanda di antara semua rutinitas yang memaku diri atas nama tanggung jawab beserta kewajiban yang diemban setiap harinya.


Yang perlu dilakukan adalah menyadari tahap ketika stress mulai melanda. Larut atau tidak, kita sendiri yang memilih situasi pada akhirnya. Konsekuensi tentu saja berimbas ke banyak hal, ya karena dedikasi para ibu adalah segalanya. Tiang yang menyangga rumah untuk tetap berdiri kokoh.

Maka, lakukan langkah-langkah kecil yang berharga tatkala stress mulai merambah jiwa. Suami bukan hanya sebagai pencari rezeki untuk keluarga kecilnya. Suami berhak tahu seperti apa perasaan istrinya saat itu. Jika bukan kepada pasangan, lantas kepada siapa lagi segala keluh kesah berhak berlabuh? Kepada tetangga sebelah? *Menggeleng kepala.

Seperti apapun, istri adalah tembok bagi rahasia rumah tangganya sendiri. Tetangga terkadang hadir seolah mengulurkan bantuan, tetapi di waktu tertentu, juga dapat menjadi boomerang. Ya, karena tak semua orang dapat dipercaya penuh. Tak semua orang yang menunjukkan kepedulian karena murni mereka peduli, barangkali sekedar ingin tahu. Mawas diri adakalanya harus dijadikan alarm untuk tetap berhati-hati.

Selelah apapun, bahkan ketika sedang marahan. Semarah apapun kita, hanya suami sebaik-baik diary bergembok yang bisa menampung semua keluh kesah. Entah karena tingkah anak-anak. Lempitan baju yang beranak pinak. Cucian yang belum juga terjamah. Sampai ke nyinyiran tetangga dalam keseharian.

Teringat perkataan dosenku, perempuan itu saking multi taskingnya.. naik kendaraan saja yang ada di kepalanya berisi rentetan pekerjaan rumah. Entah itu cucian, jemuran, sampai ke masakan. Hal remeh temeh yang bahkan tak pernah terbersit di dalam pikiran seorang suami, sudah dirambah luas oleh istri. Allah tentu punya maksud tersendiri mengapa kita diciptakan unik :)

Karena perempuan adalah sumber kasih sayang. Dalam peluknya ada kehangatan. Di pundaknya teremban amanah untuk membersamai jalan suaminya. Dalam keterbatasannya sekalipun, seorang ibu selalu hadir mengisi lini yang kosong. Menyempurnakan, meneduhkan, pendar kebahagiaan.

Bagaimana jika kita bersepakat? Sedih, marah, stress bagaimanapun, maka cukuplah telinga suami yang mendengar cerita kita. Tak perlu orang lain yang duduk di kursi panas, demi mendengarkan curhatan kita yang tak lega tanpa penjabaran mendetil *kalauaku. Ajak suami berkomitmen, untuk tetap saling berbagi rasa lelah. Saling berbagi rahasia. Saling ada! Di zaman yang serba mudah seperti sekarang, kendati LDM pun masih ada perantara telepon sampai ke internet untuk tetap saling terhubung.

Komunikasi adalah hal terpenting bagi pasangan suami istri.

Setelah berbagi pada suami. Pasti ada kelegaan tersendiri. Suami pun akan lebih mengerti. Tak mustahil ia mungkin akan memberi ruang terhadap istri untuk menikmati me time atau santai sejenak dengan ber-quality time bersama.

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menanggulangi stress

1. Mengeluarkan isi pikiran

Selain suami, masing-masing orang tentu memiliki sosok yang dipercaya untuk berbagi. Sosok yang betul-betul bisa amanah dalam menyimpan rahasia. Bagaimana jika kali ini mencobanya dengan cara menulis? Entah itu melalui platform media sosial seperti blog maupun buku harian. Tujuan kita menulis untuk membangun self improvement dan mendatangkan manfaat bagi orang lain yang membaca. Keterangan lebih lanjut sudah dibahas di postingan ini Menulis Sebagai Terapi Kesehatan Mental tentang manfaat apa saja yang bisa diperoleh dari kegiatan menulis.

2. Menyalurkan minat

Setiap orang punya ketertarikan tertentu dalam bidang yang diminati. Entah itu traveling, memasak, seni, membaca buku, melukis, dan masih banyak lagi. Tak ada salahnya menyalurkan minat tersebut sebagai jeda mengistirahatkan rasa lelah. Agar tubuh dan pikiran segar kembali. Komunikasikan pada suami, untuk sama-sama mengkondisikan waktu.

3. Menonton film kesukaan

Punya genre yang diminati? Tak ada salahnya mengajak pasangan untuk duduk bersama, menemani menonton film, sampai ke diskusi ringan tentang apa yang baru ditonton. Cara membunuh waktu dengan refreshing murah dan bisa dilakukan di rumah tanpa harus ke bioskop terdekat. Sekarang ada website yang menyediakan streaming dengan berbagai genre film yang dapat ditonton. Salah satunya LK21 serta INDOXXI. Ketahuan kan yaa. Catatan nih, tonton sesuatu yang positif dan bermanfaat.

4. Memanjakan diri

Seorang teman berseloroh bahwa jatah mandinya tak lagi senikmat ketika belum memiliki anak. Karena setelah beranak kecil, waktu mandi harus diringkas secepat mungkin. Seringnya halu, pas lagi asyik mandi terdengar suara tangisan bayi. Begitu disusul ternyata baby masih tertidur pulas. Pernah mengalami ini? Sepertinya semua ibu pernah ya. Termasuk aku :'D

Selain itu bisa juga pergi spa ke salon, treatment di rumah dengan mendatangkan tukang pijat, sambil liyer-liyer penat pun mereda. Nikmat!

5. Melingkar bersama orang-orang yang menyalurkan energi positif

Punya crew liqo? Kelompok majelis taklim? Lingkup pengajian setempat barangkali? Komunitas sesuai passion yang ditekuni? Jika berada di tengah orang-orang yang positif dan dapat menyalurkan energi baru, tak ada salahnya berbaur di tengah mereka untuk recharge semangat dan motivasi dalam diri. Kadang, usai duduk melingkar selalu ada cerita dan hal positif yang bisa kita peroleh bahkan dikaji lebih lanjut sebagai bahan tulisan maupun pembahasan ringan bersama pasangan. Apalagi jika tujuannya bertholibul 'ilmi sekaligus silaturahmi.

6. Berolahraga rutin

Olahraga tak hanya membantu untuk beroleh fisik yang bugar dan sehat. Tetapi juga mengembalikan bentuk tubuh ideal, salah satu kunci awet muda, sampai pada kemampuan menurunkan kadar stress di dalam tubuh. Bisa dong dari sekarang mengagendakan waktu untuk berolahraga rutin. Bisa bersama ibu-ibu pecinta aerobic, pilates, yoga bahkan zumba. Atau nge-gym bareng suami. Wah bakalan seru pasti :)

7. Memiliki waktu tidur berkualitas / istirahat yang cukup

Tak ada yang menampik, setelah menjadi ibu memiliki waktu tidur berkualitas adalah kemewahan tersendiri. Faktanya, tak sedikit ibu yang harus bergadang setiap malam. Siangnya pun masih harus berkutat dengan pekerjaan sehingga tak memiliki jeda untuk beristirahat, minimal tidur siang. Barangkali suami bisa ambil alih menepikan anak-anak, dan memberi waktu pada bunda untuk istirahat sejenak. Tidur cukup sangat membantu untuk menjaga mood tetap stabil hingga suasana hati pun tak lekas naik turun.

8. Banyak membaca

Percaya atau tidak, rutin membaca mampu menurunkan peluang stress. Terlebih jika bacaan itu membangun dan mendorong diri untuk jadi lebih baik. Karena beroleh semangat baru untuk melakukan perubahan-perubahan kecil dimulai dari dalam diri. Banyak buku-buku motivasi, pembangun jiwa, self emprovement, buku apapun selama itu memberikan pemahaman positif tak ada salahnya meluangkan waktu untuk membacanya rutin di sela-sela kesibukan.

Terkadang banyak yang berdalih bahwa kesibukan sudah terlalu amat melintir hingga tak ada waktu yang tersisa dalam membaca kecuali rasa penat. Bagaimana jika membaca sendiri dijadikan sebagai salah satu ajang untuk menyegarkan diri? Maka membaca tak lagi menjadi beban atau tugas tambahan melainkan kebutuhan.

......................

8 pointer di atas barangkali belum mewakili keseluruhan, karena tentu ada banyak hal positif lain yang bisa dilakukan untuk menanggulangi stress. Tetapi semoga dari postingan ini, ada manfaat baik yang bisa diperoleh ya. Jangan berhenti di diri sendiri, sampaikan pada orang lain.

Intinya, ada banyak hal positif yang dapat kita upayakan untuk tetap mewaraskan diri sendiri. Setiap bunda memiliki solusi itu di dalam diri masing-masing, tergantung minat dan motivasi. Jangan berhenti menjadi cahaya bagi orang-orang sekitar. Setiap perempuan berharga, setiap ibu luar biasa, setiap kita istimewa. Selamat malam, bahagia adalah niscaya. Jangan lupa bersyukur :)


____________________________

a remind for my self

Magelang, 17 Oktober 2019
Copyright : @bianglalahijrah

Wednesday, 16 October 2019

Dampak Buruk Cyber Bullying dan Upaya Menghentikannya

20:22 2 Comments

Siapa yang bisa menahan puluhan peluru yang dalam waktu bersamaan bersarang di tubuhmu? Tetapi nyatanya, dampak dari Cyberbullying jauh lebih menyakitkan dari puluhan peluru itu. Korbannya mengalami krisis kepercayaan diri, terisolasi, depresi, hingga pelarian pada penyalahgunaan narkoba. Puncaknya adalah mengakhiri hidup dengan tindakan bunuh diri.

Hate speech atau ujaran kebencian kadang kala dilayangkan oleh sebagian besar pelaku bullying di media sosial tanpa memikirkan dampak buruknya. Terlebih, tak sedikit dari mereka yang bersembunyi di balik kedok "anonimitas". Karenanya, para pelaku cyber bullying merasa nyaman melancarkan aksi sebab identitas aslinya tidak diketahui.

Mereka melontarkan hujatan, kalimat yang menjatuhkan, ejekan, mempermalukan korban mereka di jagad maya. Bahkan pada tingkat kasus body shaming yang parah. Body shaming sendiri dapat dikategorikan sebagai cyberbullying. Ketika mengomentari fisik orang lain dengan kalimat merendahkan menjadi kesenangan tersendiri. Padahal berimbas negatif pada diri korbannya.

Sulli, adalah salah satu aktris sekaligus penyanyi yang dimiliki Korea Selatan. Senin (14 Oktober 2019) lalu ia ditemukan bunuh diri karena depresi berat akibat cyberbullying yang kerap diterimanya, dilansir dari berita terkini.


 Apa itu cyberbullying?


Sebuah prilaku buruk 'bullying' yang terjadi melalui dunia cyber atau media sosial. Oleh karena itu penting adanya edukasi mengenal hal ini. Bahwa tindakan bullying dalam dunia cyber bukanlah hal terpuji. Bukan hanya mencederai psikis pelaku tetapi juga korban cyberbullying itu sendiri.

Seseorang yang berada di tahap self esteem rendah akan mudah terjebak di jurang stress maupun depresi mendalam. Stress sendiri tak bisa dipandang sebelah mata apalagi diremehkan. Tak sedikit penyakit bermula dari kondisi beban pikiran yang terlalu pelik hingga berdampak buruk pada kesehatan baik itu fisik maupun mental.

Mengapa? Tatkala stress, tubuh akan memproduksi lebih banyak radikal bebas yang apabila tidak beroleh penanganan tepat maka akan berdampak serius pada kesehatan si penderita.

Tak hanya sistem kekebalan tubuh yang menurun, sebagian besar orang yang mengidap stress juga mengalami kondisi sulit tidur atau insomnia hingga sakit kepala kronis secara terus menerus.

Oleh karena itu cyberbullying dapat dikatakan berbahaya. Sebab ada aktivitas tak sehat serta merugikan orang lain. Tindakan perundungan tersebut menyebabkan kondisi psikis korban akan terganggu, terlebih lagi jika itu terus berlanjut. Tak menutup kemungkinan saat stress yang memuncak di kondisi depresi berkepanjangan, maka bunuh diri kemudian terpikir menjadi solusi.

Apa yang terjadi pada Sulli adalah pembelajaran. Sayangnya, permintaan maaf yang kemudian memburu akun instagram pribadi Sulli, tak lagi berarti sebab dukungan dan permintaan maaf itu diberikan justru setelah pemilik akun itu tiada. Seluruh dunia seolah menunjukkan rasa empati dan simpati yang tinggi soal ini.


Agar tak mengulangi kejadian serupa, apa kontribusi yang bisa kita perbuat untuk mengecam tindakan cyber bullying? Minimal mulai lah dari diri sendiri.

1. Bijak menggunakan sosial media

Gunakan sosial media untuk tujuan positif dan tidak berlebihan. Hanya bagikan hal-hal positif yang 
memberikan manfaat dan informasi baik bagi pengguna sosial media lainnya.

2. Jangan menyebar ujaran kebencian, bernada sindiran, maupun asumsi negatif

Saring sebelum sharing, apakah yang akan kita tulis berdampak baik kemudian? Jika sekiranya hanya mengundang asumsi berbeda dari orang lain, sebaiknya tahan untuk diri sendiri. Karena penerimaan orang berbeda-beda dalam memahami sesuatu hal.

3. Terus gaungkan aksi katakan tidak pada cyber bullying (Say No To Cyberbullying!)

Sesuatu hal besar bermula dari hal kecil terlebih dulu. Hal paling mungkin yang dapat kita mulai dari diri sendiri adalah membagikan konten seputar cyber bullying beserta dampak terburuknya, agar lebih banyak orang yang tahu untuk kemudian tidak melakukan keburukan serupa.

4. Support mereka yang mengalami cyber bullying

Beberapa waktu lalu, sebelum Sulli memutuskan mengakhiri hidupnya. Ia menulis sebuah caption yang menjelaskan keadaan dirinya saat itu. Ia berkata bahwa dirinya telah lelah dengan semua situasi yang ada. Dari bullying yang Sulli terima hingga perasaan sendiri tanpa dukungan dari orang lain. Saat itu, Sulli barangkali telah berada di titik terpuruk dalam hidupnya. Ia butuh dukungan, sokongan, dan semangat dari siapapun yang mengenalnya.

Sayangnya, akun Instagram Sulli diberitakan tak pernah sepi dari para penghujat yang selalu menitikberatkan kekurangan Sulli sebagai pembenaran cyber bullying.


Belajar dari hal ini, siapapun yang kamu ketahui mengalami tindakan bullying di media sosial.. jangan bersikap acuh apalagi pura-pura tak tahu. Meski bukan menjadi pelaku bullying, setidaknya jadilah orang yang memberikan dukungan pertama kali.

5. Jangan terprovokasi melakukan cyber bullying

Sebagian besar pengguna jagad maya latah pada berita yang beredar atau dalam istilah dikenal sebagai hoax. Kadang kala, kita tak sadar bahwa pemberitaan tersebut mengarah pada tindakan cyber bullying terlebih jika ada unsur mempermalukan orang lain di dalamnya. Jangan telan mentah-mentah informasi apapun yang kamu peroleh sebelum kamu mengetahui kebenaran berita. Tahan diri dari kebiasaan men-share berita apapun tanpa tahu kebenaran aslinya.


6. Mawas diri

Tak perlu seluruh dunia tahu apa-apa saja yang terjadi dalam hidupmu. Pentingnya mawas diri, untuk tidak membagikan hal maupun info yang terbilang pribadi ke akun sosmed pribadimu. Siapapun berpotensi menjadi pelaku cyber bullying maupun sebagai korban. Karena itu, tak perlu seluruh hal dibagi utuh ke kronologi akun sosial media milikmu. Tetap berjaga-jaga bahwa tak semua orang bisa dipercaya penuh, terlebih lagi sosial media.


7. Lawan kalimat negatif dengan kalimat positif

Mengutip perkataan Thomas Fuller, "Lebih banyak hasil yang dicapai dengan sedikit kelembutan daripada dengan banyak kekerasan."

..............

Tujuh point di atas adalah upaya kecil yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan hawa segar dalam penggunaan sosial media. Di era digital yang terus mengalami kemajuan pesat, platform media sosial menjadi satu bagian yang seolah tak dapat dipisahkan dari banyak orang.

Entah itu karena manfaat yang diberikan oleh sosial media itu sendiri atau pun karena hal lain. Tetapi terus lah menebar hal-hal positif untuk hidup lebih baik. Kita tak bisa merubah seluruh dunia, kecuali memulainya dari diri sendiri terlebih dahulu.
Stop Cyber Bullying!

Semoga bermanfaat :)

__________________________

a remind my self

Magelang, 16 Oktober 2019
Copyright : @bianglalahijrah

Tuesday, 15 October 2019

Film yang Menginspirasi untuk Backpacker Keliling Dunia

22:15 16 Comments

Film Inspiratif Backpacker untuk Keliling Dunia -

Lahir dari keluarga yang tak memberi ruang kebebasan menjadi tantangan tersendiri. Setiap inchi langkah yang beranjak dari pintu rumah hanya akan menghadiahimu dengan sederet omelan bahkan tudingan. Ah ya, begitulah anak perempuan. Karenanya sejak dulu, menjelajah dan memiliki petualangan sendiri adalah satu di antara impian besar yang dimiliki.

Tak tanggung-tanggung, aku menulis bucket list untuk negara-negara mana saja yang ingin dikunjungi suatu hari nanti. Kendati saat itu hanya bermodalkan atlas dengan mencentang nama-nama negara tersebut. Tetapi bertahun-tahun kemudian, ketika era digital menyuguhkan banyak hal yang mudah. Termasuk informasi apa saja yang ingin kamu ketahui, rasa-rasanya negara yang menjadi tujuan ini bukan lagi halusinasi dari bocah ingusan, yang membayangkan wajah luar negeri dalam bayangannya saja.

Terlebih ketika menonton beberapa film yang menceritakan tentang perjalanan, petualangan, menjelajah ke tempat-tempat baru. Keinginan untuk backpacker pun acap kali tak terbendung. Tak heran jika keputusan meninggalkan tanah kelahiran dan menetap di tanah Jawa adalah satu langkah besar untuk menjemput impian besar tersebut.

Dan, aku sudah sampai di sini. Tepat di sebuah kota, di mana Candi Borobudur berdiri di atasnya. Dulu sekali, situs sejarah ini masih menjadi bagian dari 7 keajaiban dunia sebelum akhirnya digantikan. Candi Borobudur sendiri adalah satu di antara destinasi dari keajaiban dunia yang dulu pernah terucap dalam doa. Tak ada yang tahu nasib seseorang bukan? Sebuah harapan yang tertulis dari bocah ingusan itu adalah doa yang terijabah beberapa tahun kemudian.

Bersama suami, kami memiliki keinginan yang sama soal traveling. Kendati hingga hari ini destinasi yang disambangi masih terbilang wisata lokal dari satu kota ke kota lain. Tetapi itu saja sudah menjadi pencapaian yang perlu disyukuri. Kadang kala, Allah bahkan begitu baik membuka jalan demi jalan.. hingga berkunjung ke tempat baru lainnya bukan hanya kebetulan belaka, melainkan pencapaian. Satu lagi tempat yang berhasil dikunjungi.

Berangkat dari beberapa film di bawah ini yang membuat impian itu terus bersenandung. Semoga apa yang tertulis di sini, dalam waktu dekat akan menjadi doa-doa yang terijabah. Mengutip tagline yang terkenal dari film The Bucket List : 'You Only Live Once, So Why Not Die With Style?"

Jika diterjemahkan dalam versi pribadi, hidup di dunia hanya sekali jadi di antara banyak pencapaian dalam impian yang ingin diraih, milikilah ruang untuk menikmati hidup. Bepergian, menempuh perjalanan, berpetualang, mengenal hal-hal baru, beroleh teman-teman baru, berbonus ilmu tentu saja.

Ini beberapa judul film yang hingga hari ini tak bosan-bosan ditonton. Ada banyak pesan hidup yang akan kamu peroleh, bukan saja pemandangan alam yang tersuguh indah, tetapi esensi dari setiap perjalanan yang kemudian menghantarmu untuk memahami makna dari sisi lain kehidupan. Tentang perjalanan, cinta, pemahaman, ilham, pengalaman, bahkan tentang menemukan Tuhan.

Sederet di antaranya :

1. The Lord of The Rings



View Edoras di Mount Sunday

New Zealand menjadi lokasi syuting untuk banyak adegan di film ini. Dari Wakatipu Lake di Queenstown, Hobbiton, Mount Sunday, hingga Kaitoke Regional Park.

Film ini bercerita tentang petualangan Frodo Baggins yang beroleh tugas untuk menghancurkan cincin milik Sauron, penguasa kegelapan yang kembali bangkit, dengan jalan dibuang ke dalam kawah gunung Doom. Misi ini membawa Frodo pada perjalanan yang tak mudah, penuh tantangan, ditemani oleh sahabatnya bernama Samwise Gamgee, demi menyelamatkan Middle Earth dari kegelapan ambisi Sauron.

Intinya New Zealand sudah memiliki daya tarik tersendiri, terlepas dari The Lord of The Rings yang menjadikannya lokasi syuting dalam film trilogi garapan sutradara Peter Jackson ini.


2. The Secret Life of Walter Mitty




"To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other, and to feel. That is the purpose of life."

Tulisan yang dicetak di sebuah dompet pemberian Sean seorang fotografer untuk Walter. Karena dompet pemberian Sean itu beserta kecerobohan seorang Walter lah yang kemudian menghantarnya untuk melaui perjalanan yang seumur hidup belum pernah ia lakukan. Perjalanan dimulai dari Greenland, berlanjut ke Islandia, hingga kemudian Walter sampai di Himalaya. Menyusul Sean yang saat itu berada di puncak gunung Himalaya untuk mengambil gambar Harimau Salju.

Pemandangan yang tersuguh di sepanjang perjalanan Walter, sampai pada soundtracknya, akan membuatmu berpikir melakukan perjalanan serupa. Penuh petualangan, ketegangan, pemandangan alam yang mempesona, beserta menemui orang-orang baru. Namun ada yang lebih bermakna bagi Walter yang ia dapatkan setelah menempuh perjalanan tersebut. Penasaran?


3. The Wild




"We are never prepared for what we expect."

Film ini bercerita tentang Cheryl Strayed yang menempuh perjalanan sejauh lebih dari 1000 mil untuk melintasi Gurun Mojave membawa seluruh memoar pengalaman pahit hidupnya beserta kenangan kasih sayang sang ibu. Cheryl yang terpukul pasca kehilangan sang ibu membuatnya hilang arah dan kecanduan narkoba.

Selama di perjalanan 1000 mil Cheryl, kita disuguhkan dengan slide memoar tentang perjalanan hidup Cheryl hingga pernikahannya yang kandas. Perjalanan itu bisa dikatakan sebagai penebusan sekaligus pencapaian bagi seorang Cheryl yang kemudian menemukan makna sejati dari inti perjalanannya itu.

Film ini diangkat dari kisah nyata yang diilhami langsung oleh penulis bukunya, yaitu Cheryl Strayed sendiri. Diperankan dengan apik oleh aktris Reese Witherspoon.

Selalu ada yang bermakna di setiap perjalanan. Entah perjalanan itu yang merubahmu, atau karena kamu sendiri telah menyadari sesuatu hal penting dalam hidup. Film ini menyentuh, menyakitkan, sekaligus menginspirasi. Monolog Cheryl di akhir film akan membuatmu menatap relung di dalam diri, untuk menemukan tujuan apa yang lebih berarti.

4. Letters To Juliet




Perjalanan Sophie Hall ke Italia, telah menuntunnya pada penyatuan cinta sejati yang terpisah selama puluhan tahun. Tanpa sengaja ia bergabung sebagai "sekretaris Juliet" bersama beberapa wanita lainnya. Sophie membalas surat lawas yang ia temukan di tembok rumah Juliet. Karena hal itu, Claire si pemilik surat datang ke Italia untuk menemui belahan hatinya, Lorenzo.

Tetapi kemudian tak hanya Claire yang berhasil menemukan Lorenzo Bartolini setelah melakukan pencarian di setiap sudut Italia. Hingga akhirnya menikah di usia yang tak lagi muda. Perjalanan yang mereka tempuh juga menuntun Sophie pada cinta sejatinya. Sophie yang memang berniat menjadi penulis, pada akhirnya mengangkat kisah Claire dan Lorenzo ke dalam buku yang ia tulis kemudian.

Tak hanya keindahan kota Italia yang menarik mata, untuk mendambakan satu lagi tempat yang ingin dituju, Italia! Pengalaman sejati yang Sophie peroleh dari perjalanan singkatnya akan memberikanmu kesan lain tersendiri. Tonton saja.

5. Mr. Bean's Holiday




Ada yang tak mengenal Mr. Bean? Karakter konyol, koplak, yang diperankan oleh Rowan Atkinson.

Bermula dari memenangkan sebuah undian berupa jalan-jalan ke Cannes, kamera video Sonny beserta uang 2000 Euro. Mr. Bean pun memulai perjalanannya. Bukan Mr. Bean jika tak membuatmu tertawa lepas sekaligus gemas.

Tetapi selain itu, setiap sudut yang tersuguh dalam film ini terasa menyejukkan. Membuatmu ingin masuk dan menikmati view yang ada dari jarak dekat. Walau tak lepas dari aksi konyol Rowan, film ini sukses bikin baper para traveler.

Mr. Bean saja piknik ya kan :D Maka, kota Paris di Perancis pun menjadi satu tempat yang masuk ke bucket list. Mengingat Menara Eiffelnya akan menambah daftar di antara 7 keajaiban dunia yang ingin dikunjungi setelah Candi Borobudur di Indonesia. Sudah nonton belum nih? Nonton gih, menghibur meski belum berlibur :D

6. One Week




Mengisahkan seorang guru yakni Ben Tyler yang berpetualang dengan motornya dari Toronto ke British Columbia. Kita akan langsung disuguhkan dengan pemandangan alam yang indah dan menakjubkan.

Ketika satu keputusan besar dalam hidup menuntunmu untuk menemukan sebuah perjalanan yang penuh arti. Ben sendiri melakukan perjalanan ketika harus mengambil keputusan besar untuk menikah. Film ini tak hanya menceritakan tentang pengalaman seseorang, tetapi juga menginspirasi. Jadi pengen ke sana kan ^_^

7. The Bucket List




Dua lansia Edward dan Carter yang dihadapkan pada kenyataan bahwa hidup mereka tidak akan lama lagi. Ya, keduanya divonis mengidap penyakit kanker.

Tak putus asa, mereka pun akhirnya menulis daftar keinginan terakhir yang paling ingin mereka wujudkan. Dari traveling, melihat Piramida, sampai datang ke klub malam. Petualangan mereka dikemas dalam liburan seru dua lansia.

Film ini memberi pesan untuk tidak lupa menikmati hidup, sebelum hidup menghabisimu lebih dulu. Jadi, sudah punya agenda ke mana?

8. 127 Hours




Film inspiratif yang diangkat dari kisah nyata tentang Aron Ralston. Seorang pendaki yang terjebak di dalam ceruk tebing Blue John Canyon setinggi 65 kaki. Ia terjebak selama 127 jam lamanya dengan lengan kanan yang terjepit batu seberat 360 kg.

Keadaan semakin buruk ketika persediaan logistik yang ia bawa habis. Suhu dingin di malam hari membuatnya berhalusinasi. Di detik-detik terakhir, dengan pergumulan antara rasa sakit serta emosional yang mendera. Aron memutuskan untuk memotong sendiri lengan kanannya menggunakan alat multifungsi Leatherman miliknya.

Bagaimanapun akhir yang dramatis, film ini memberi pesan untuk tetap memikirkan kemungkinan yang terjadi di luar perkiraan. Jangan lupa mengabari orang-orang terdekat, meski tripmu terbilang singkat. Teliti lah dalam mengecek peralatan atau bekal yang akan dibawa sebelum berangkat.

Dari kisah Aron yang berjuang demi bertahan hidup, film ini memanjakan mata dengan landskap Grand Canyon yang akan menarik keinginanmu untuk terbang ke sana.

9. Tracks




"The two immportants thing that i did learn were that you are as powerful and strong as you allow yourself to be, and that the most difficult part of any endeavour is taking the first step, making the first decision." [Robyn Davidson, Tracks]

Film yang bercerita tentang seorang trekker perempuan tangguh, Robyn Davidson. Menyusuri 2.735 km perjalanan dari gurun pasir Alice Springs ke Samudera Hindia ditemani empat ekor unta dan seekor anjing selama 9 bulan.

Menyajikan landscape yang cantik dari gurun pasir Australia dan pantai Samudera Hindia. Film ini juga menyuguhkan sekilas adat budaya suku Aborigin. Film yang menginspirasi kamu untuk setangguh Robyn Davidson. Bahwasanya traveling juga bisa menjadi media self healing untuk membantumu sembuh dari bayang-bayang masa lalu. Selain have fun kamu juga beroleh banyak pengalaman baru.

10. Haji Backpacker




Film yang terakhir datang dari industri film dalam negeri. Setelah menonton film ini, yang muncul di benak adalah kehendak melakukan trip serupa. Film ini lebih pada perjalanan spiritual Mada si tokoh utama untuk kembali pada jalan yang benar.

Haji Backpacker akan membawa kita berpindah dari satu negara ke negara lainnya sebelum akhirnya berakhir di Makkah.

Bersama Mada memulai perjalanan dari Indonesia - Thailand - Vietnam - China - India - Tibet - Nepal - Iran - Saudi Arabia. Hanya dengan menonton film ini, backpacker sejati seperti tertantang untuk segera mengemas tas carrier dan menempuh perjalanan yang tak biasa.

Mengapa film ini kutaruh di urutan paling terakhir dari list yang kutulis? Sebagai pengingat diri, bahwa sejauh apapun perjalanan yang hendak dituju. Seindah apapun destinasi yang didamba di negara tujuan. Rumah Allah adalah tujuan hakiki yang sejatinya terpatri dalam dada setiap muslim. Kelak, di antara semua destinasi maupun negara yang akan dikunjungi.. maka Makkah adalah puncaknya.

Semoga Allah perkenankan, mampukan, segerakan, dan mudahkan. Aamiin yaa mujibassailin :)
_______________________

Magelang, 15 Oktober 2019
Copyright : @bianglalahijrah

Monday, 14 October 2019

Makna Cantik Setelah Menikah

19:20 2 Comments

Terbangun dan mematut diri di depan cermin. Memerhatikan tubuh yang tak lagi selangsing dulu. Raut wajah yang tanpa jeda mempertegas bertambahnya usia seiring waktu, namun tak tersentuh skincare routine dengan jaminan kulit glowing dan bebas kerut. Hijab yang dikenakan menutup kondisi rambut yang digelung asal. Lengkap dengan baju dinas khas ibu rumah tangga, pakaian resmi sehari-hari, yang dikenakan tanpa kesan mewah.

Kadang kala istilah mbahrenggo pun melekat, "kumbah-karing-dinggo". Dicuci, kering, langsung pakai. Sebuah drama yang lahir dari keseharian seorang ibu di rumah tangga.

Pernah di tahap ini? Barangkali tak sedikit perempuan [kita] yang melalui fase di mana banyak hal yang tanpa disadari telah berubah seiring waktu. Tatkala sibuk menunaikan tugas sebagai istri dan ibu. Ketika tumbuh kembang anak jauh lebih penting ketimbang upgrade merk skincare di meja rias. Pun, saat pendapatan keluarga hanya berpusat pada gaji suami.. maka berhemat di tengah gempuran kebutuhan jauh lebih mewah ketimbang meladeni ingin pribadi.

Tetapi di balik semua itu, akan ada rasa lelah. Rasa jenuh. Setelah sekian periode berlalu atas nama bakti, sami'na wa atho'na.

Bertambah jengah ketika komentar julid datang mengusik ruang tenangmu yang tadinya qana'ah dengan apa yang ada. Pelan-pelan syukur seolah mengendur dari wadahnya.

Suatu hari, ketika tengah duduk di antara segerombolan emak-emak. Tiba-tiba ada yang nyeletuk ringan tetapi menohok, tepat saat hawa hatimu sedang tidak enak-enaknya. Niat kongkow, nonggo barang sejenak berujung kisruh di dalam benak. Komentar itu beruntut menjejal telinga..

"Sekarang kok kamu kusem? Mbok ya perawatan kayak dulu."
"Welah, anak baru satu wis melar puoll."
"Ibunya itu loh, tetangga yang tinggal di RT sebelah, anak tiga tapi masih kayak remaja ya."

Ada komentar yang lebih menusuk lagi. Ini berdasarkan survey pribadi yang kerap menampung curhat teman. Di antaranya beberapa curhat serupa berasal dari ummahat yang geram bercampur sedih sebab penampilannya dikomentari tampak lebih dewasa [bahasa halusnya tuwir] jika dibandingkan dengan sang suami yang memang qadarullah dianugerahi baby face.

"Saya itu tadinya mau santai, nggak dimasukin ke hati. Tapi kok malah kepikiran terus, jadinya sedih. Terus kudu piye? Apa perlu saya rombak penampilan dan wajah sekalian?" jelas ummahat tersebut dengan hembusan nafas berat.

Lisan, oh lisan. Mudah sekali meluncur tanpa beban. Padahal, ibu yang kita komentari kusam barangkali bukan karena tak mau perawatan. Tetapi lebih pada waktu yang terkuras untuk momong anak dan menghandel segala soal perkara domestik. Dan setiap harinya selalu berujung lelah di penghujung hari tanpa sempat lagi ngopeni rai [wajah]. Bisa tidur nyenyak di malam harinya, bingkisan paling nikmat untuk rebahkan penat.

Bisa saja ibu yang kita komentari melar, bukan karena ia terlalu kalap makan dan enggan peduli pada penampilannya sendiri. Barangkali di antara komentar yang masuk, ia betul-betul merunut diri, berusaha diet mati-matian. Ia tahu tanpa diberi tahu, bahwa pasca melahirkan berat badan yang melonjak belum kembali ke angka ideal lagi. Butuh waktu, proses, dan usaha lebih. Tetapi tak perlu menambah rasa ketidakpercayaan dirinya dengan membuatnya merasa kerdil hingga hilang syukur atas tubuhnya saat ini. Astaghfirullah.

Jangan pula membandingkan satu ibu dengan ibu yang lainnya. Kita tak tahu kendala seperti apa yang ada di kehidupan masing-masing. Pun perjuangan seperti apa yang mereka lalui. Tak adil jika ternyata orang yang kita bandingkan berbeda jauh dari segi financial dan nasib. Ibu yang satu qadarullah beranak tiga, namun harus mengerahkan segenap tenaga dan upaya yang tersisa untuk mengurus segala sesuatunya seorang diri.

Sedang ibu yang satunya lagi? Kendati beranak tiga, secara financial ia jauh lebih baik. Ada si Mbak yang membantu momong anak-anak. Ada si Mbok yang membantu pekerjaan rumah tangga. Hidupnya tak perlu dilingkupi dengan rasa penat, stress karena apa-apa dikerjakan sendiri.

Aku termasuk tipe yang malas nonggo, bukan anti bersosialisasi loh ya. Keluar rumah bagiku hanya sepentingnya saja. Jika dirasa tak ada yang terlalu urgent, ngungkum di rumah berkutat dengan rutinitas yang ada, jauh lebih aman. Kadang, niat ghibah tak berasal dari diri. Tapi dosa ghibah harus dibagi-bagi, sekalipun tadinya hanya sebagai pendengar. Ibu-ibu kalau sudah ngumpul sekalipun peluangnya kecil, kadang-kadang nyerempetnya ke ghibah. Sudah tradisi barangkali.

Ketika diam, memang menjadi pilihan bijak saat kita sendiri tak dapat menakar kata-kata yang terlontar dari mulut.

Ah, perempuan.. tak marem jika kebiasaan berkomentar tidak melayang begitu saja. Sepet jika tak mengoreksi orang lain. Sampai-sampai adab tak lagi jadi patokan apalagi filter bagi lisan yang berkata. Seringnya, ucapan satu ummahat ke ummahat lain terkesan lembut tetapi menusuk telak ke ulu hati.

Siapapun yang terlahir sebagai perempuan, tampak cantik dan dipuji cantik adalah fitrah. Tetapi tak semua makhluk bernama hawa Allah ciptakan rata soal kadar kecantikannya. Ada yang terlahir cantik dari sananya, ada yang cantik karena dananya, ada pula yang biasa-biasa saja karena memang berusaha qana'ah tanpa banyak memaksakan keadaan yang ada.


Cantik di mata setiap orang itu relatif. Cantik menurut standart kita belum tentu sesuai dengan cantik menurut standart orang lain. Tetapi yang terpenting adalah menjadi diri sendiri dengan segenap rasa syukur pada apa yang Allah beri, tanpa perlu bersusah payah merubah ciptaan Allah.

Bukan berarti kita dilarang berhias dan mempercantik diri, tetapi suguhkan itu hanya teruntuk suami. Tak perlu berlomba-lomba di luar sana demi terlihat wah. Cukup Allah yang menilai kecantikan hakiki yang tersemat dalam dada. Cukup suami yang tahu betul seperti apa wajah dan tampilan cantik diri, dengan atau tanpa polesan.

Jangan karena ikut-ikutan trend kecantikan hingga tak sadar melanggar syariat. Dari Abdullah bin Mas'ud, "Rasulullah melaknat perempuan yang menggambar tahi lalat (tato, garis-garis palsu, dan sejenisnya), perempuan yang minta digambari, perempuan yang mencukur serta menipiskan alis mata, dan yang mengikir giginya dengan maksud mengubah ciptaan Allah."

Ketika seorang istri berhias, tak lebih sebab upaya berhias itu untuk memberi kenyamanan dan menyenangkan suami. Menyuguhkan keindahan di mata sang suami disertai niat ibadah.

Sebab kecantikan sejati seorang wanita adalah kecantikan yang tak hanya berpusat pada kulit luarnya saja, melainkan pula ruhiyahnya.

Inner beauty : kecantikan hati yang terpancar keluar sehingga membuat seorang wanita terlihat cantik kendati tak memenuhi kriteria cantik secara fisik. Outer beauty : cantik yang tampak dari luar ditunjang oleh penampilan maupun dandadan. Dan yang kita kejar adalah keseimbangan antara inner beauty maupun outer beauty.

Cantik dari dalam dan luar. Dengan terus meng-upgrade kapasitas ilmu, meningkatkan kualitas ruhiyah. Dengan tetap merawat tubuh dan kecantikan sebagai syukur pada pemberian Allah, juga hadiah teruntuk suami. Lebih cantik lagi jika lisan terjaga dari kebiasaan berkomentar buruk tentang orang lain. Aamiin insyaa Allah.

Jika boleh berkata, "Akan kurawat cantikku, untukmu suamiku." :D


________________________

Magelang, 14 Oktober 2019 .. a remind for myself ..
Copyright :@bianglalahijrah

Sunday, 13 October 2019

Manfaat Baik Membacakan Anak Buku Cerita [Secara Rutin] Sejak Dini

22:52 2 Comments

Ketika sedang duduk di teras rumah bersama ananda, ditemani beberapa judul buku cerita yang siap kubacakan. Ada tetangga yang mendekat dan memperhatikan kegiatan kami. Aku melanjutkan bacaan dengan Aidan yang menyimak. Usai membaca satu buku, tetangga tersebut bertanya padaku ".. memangnya anak usia segitu sudah paham, mbak? Kok dibacakan buku cerita?"

Waktu itu Aidan baru berusia tiga tahun. Melihat ananda yang berwajah antusias karena baru saja dibacakan buku cerita, aku menimpali pertanyaan tetangga dengan tersenyum. Aku mengajaknya duduk serta dan memberikan satu buku. Anaknya yang juga sepantaran Aidan bahkan terlihat lebih antusias bertanya pada sang ibu mengenai benda di tangan ibunya.

Baca: Melebihi Apapun, Anak Hanya Butuh Kehadiran Orang Tuanya

Nah, sebenarnya anak-anak punya kebiasaan tertarik pada hal-hal yang menurutnya baru dan terlihat unik. Soal apakah anak itu tipe pembosan atau tidak, kembali pada seberapa tinggi kreatifitas orangtuanya dalam mengemas itu. Karenanya, di akhir postingan aku juga akan memberikan beberapa tips membaca cerita sesuai dengan apa yang telah kami terapkan selama ini.

Kalau dipikir-pikir, tak hanya di lingkup desa atau pun kota besar, masih banyak orangtua yang belum teredukasi mengenai ini. Sebagian masih beranggapan bahwa membacakan buku cerita pada anak sejak dini, bukan bagian yang diperlukan pada tumbuh kembang anak. Padahal ada banyak sekali manfaat positif yang akan diperoleh baik itu bagi orangtuanya maupun anandanya.

Terbiasa membacakan buku cerita terbukti tak hanya membantu mengembangkan kemampuan kognitif pada anak, melainkan pula meningkatkan perkembangan linguistik dan literasi. Secara tak langsung, kita juga membiasakan ananda untuk akrab dengan buku fisik tatkala membacakan buku cerita.

Aku dapat melihat ketertarikan Aidan pada beberapa buku yang kami beli untuknya. Bagi Aidan buku bergambar itu menyenangkan.

Sejak Aidan masih di dalam kandungan, aku menstimulusnya dengan kebiasaan serupa. Kebiasaan membaca ketika sedang hamil. Begitu pula setelah Aidan lahir, di antara banyak tempat yang kami singgahi saat traveling, toko buku selalu menjadi tempat utama yang rutin kami kunjungi setiap bulannya. Awalnya ananda tak tahu menahu, merasa asing dengan tempat ramai yang dikelilingi rak berisi buku-buku. Tetapi niat kami adalah memperkenalkan toko buku yang kelak juga akan menjadi tempat yang familiar dengannya.

Ada satu tempat lagi yang menjadi alternatif selain toko buku, tentunya perpustakaan daerah. Di Magelang, ada ruang khusus bayi atau pun balita di perpus. Di ruangan tersebut ada pojok bermain, pojok baca dengan buku bacaan khusus anak, atribut-atribut yang memang didesain ramah anak.

Saat ini, jika kami berkunjung ke toko buku. Aidan paham bahwa yang kami cari adalah buku bacaan. Ada rak khusus buku-buku anak di lantai dua toko buku langganan kami, Aidan akan senang berkeliling rak dan mengumpulkan apa saja yang ia sukai ke dalam keranjang belanja.

Bermula dari pengenalan sederhana tentang benda bernama buku yang memiliki gambar penuh warna. Membacakan buku cerita. Dan mengajak ananda ke tempat-tempat di mana lautan buku berada. Pelan-pelan ananda mencintai buku dengan caranya sendiri. Ia paham apa itu buku, apa fungsi buku. Dengan sendirinya justru minta dibacakan buku.


Hal yang membuatku takjub tatkala kami meminta ananda untuk membacakan cerita, ia mampu menceritakan ulang cerita yang didengarnya meski dengan versinya sendiri. Ananda menerjemahkan gambar visual yang ada di buku dengan cerita versi imajinasinya.

Aneh jika sampai saat ini masih banyak yang berseloroh betapa minat baca di Indonesia masih sangat kurang. Tetapi sedikit orangtua yang mau menanamkan cinta baca sejak dini pada diri ananda. Ada pepatah Jawa yang mengatakan "witing tresno jalaran soko kulino.." ketika kecintaan datang karena pembiasaan.

Mencintai dunia baca tak serta merta hanya ketertarikan biasa. Ada pembiasaan yang terbentuk seiring waktu, tidak dalam waktu singkat, tetapi bertahap dan tercipta karena interaksi secara terus menerus. Orang dewasa yang terlihat masih memiliki waktu untuk membaca, sebagian besar dari mereka di masa kanak-kanaknya tentu sudah tak asing dengan buku, dan kebiasaan itu tetap berlanjut.

Ini menjadi pekerjaan rumah bagi setiap orangtua, bagaimana menciptakan kondisi yang kondusif bagi anak untuk bisa akrab dengan buku sejak usia dini. Dimulai dari kita orangtuanya. Kita lah yang memberi ruang dan melatih pembiasaan tersebut. Sekalipun ananda belum bisa membaca huruf demi huruf. Terkesan belum mengerti apa-apa. Bukan berarti ia tak merekam. Usia 0 hingga 6 tahun pertama adalah masa golden age anak. Masa keemasan di mana kemampuan otak anak berkembang pesat, anak merekam lebih banyak, menangkap apapun moment yang diterimanya sebagai bagian dari tahap pembelajaran tumbuh kembangnya.

Tak menghabiskan banyak waktu tentu, jika setiap hari kita bisa meluangkan waktu paling sedikit 10-15 menit menjelang tidur atau pun di waktu santai, demi membacakan sebuah buku cerita pada ananda.

Tiffany Munzer menjelaskan bahwa percakapan yang dipimpin oleh orangtua menjadi sangat penting bagi balita karena pembelajaran yang mereka peroleh akan jauh lebih maksimal ketimbang melalui perantara media digital seperti tablet atau gawai. Karena anak tentunya akan memusatkan perhatian langsung kepada orangtuanya, bukan pada gadget. Dan tentu saja hal ini akan lebih membangun kedekatan antara ananda dengan orangtuanya.

Beberapa tips yang kami terapkan selama membacakan buku cerita dan insyaa Allah dapat menumbuhkan kecintaan ananda terhadap buku bacaan :

1. Memilih waktu yang tepat untuk membacakan buku cerita

Hal yang harus dipahami adalah membaca mood anak dan tipe ananda. Ketika ananda sedang letih usai bermain, sedang rewel, atau bahkan tantrum barangkali, tentu akan menolak jika tiba-tiba bunda langsung membacakan buku cerita. Paling tidak pahami waktu yang sesuai dengan kondisi ananda sebelum membacakan buku cerita.

Atur waktu yang jika bisa terjadwal setiap harinya, sehingga anak pun akan paham jika jam tersebut adalah rutinitas membaca untuknya. Ciptakan suasana yang asyik dan menyenangkan.

2. Pilih buku dengan cover dan judul yang menarik

Sebelum membacakan buku cerita, ajak anak untuk melihat cover buku yang akan dibacakan. Jelaskan apa yang ada di cover beserta judul cerita yang akan dibacakan, "Nah kali ini, bunda akan membacakan buku ini. Sampul bukunya bagus ya dek, dan judulnya tentang ( ... ) adek pasti suka."

Tanamkan kalimat positif, menyenangkan, yang akan menggiring ananda untuk pelan-pelan tumbuh rasa lebih antusias dalam menyimak. Ini juga dapat melatih kemampuan fokus atau konsentrasi anak.

3. Bacakan pelan, jangan lupa sertakan mimik dan intonasi yang pas, jangan terlalu datar mengikuti teks pada buku

Saat membacakan cerita, imaginasi anak juga sedang bekerja loh membayangkan apa yang ia dengar dalam versi imaginasinya. Terlebih jika didukung oleh ilustrasi gambar pada buku yang dibaca. Menjadi penting jika intonasi suara juga menyesuaikan dengan tokoh-tokoh yang sedang dibacakan. Jangan semuanya datar. Ada saat kita harus menirukan suara karakter di dalam dialog dengan mimik yang akan mengundang antusias ananda lebih besar.

Apalagi jika ananda tertawa lepas begitu bunda memperagakan apa yang ada di buku tersebut. Membahagiakan bukan? Anak juga belajar untuk lebih ekspresif mengikuti orangtuanya.

4. Usai membacakan buku, jangan tutup begitu saja.

"Yaaaahh, ceritanya sudah tamat nih dek. Adek suka nggak sama ceritanya? Jadi yang bunda bacakan ini tentang si (jelaskan kembali tokoh/karakter dalam cerita) jadi begitu ya dek (beri pemahaman pada ananda mengenai apa yang baru dibaca, hal positif apa yang bunda dan ananda ambil)." Jika perlu tanyakan pada ananda apa yang ia rasakan setelah mendengarkan cerita tersebut.

Kadang, kita akan takjub bahwa ternyata ananda merekam dengan baik dan bisa diajak berdiskusi ringan mengenai bacaan itu :)

5. Bacakan cerita serupa berulang-ulang, tetapi dengan urutan buku yang berbeda

Kemarin sudah baca buku yang dari judul A sampai D, gimana kalau dibalik? Buku D dulu sampai kemudian buku ke A. Dengan begitu ananda akan tetap akrab dengan cerita yang dibacakan, tak menutup kemungkinan jika ananda justru bisa hafal di luar kepala, tetapi tak bosan dengan cerita yang sama. Boleh loh bund jika sesekali kita bercerita dengan versi sendiri tanpa berpatok pada teks yang ada di buku. Bunda jadi kreatif nih ^_^

6. Ajak anak meletakkan buku kembali pada tempatnya

Kami memiliki perpustakaan mini yang memang berisi koleksi buku bacaan. Bacaan bunda, bacaan ayah, dan bacaan ananda memiliki space sendiri. Salah satu cara menumbuhkan minat dan kecintaan anak terhadap dunia baca tentu saja membiasakannya dengan buku-buku.

Beri tahu ananda bahwa space yang tersedia adalah ruang untuk buku-bukunya sendiri.

Ketika Aidan minta dibacakan buku cerita, dengan sigap ia akan berlari ke bagian buku-bukunya. Ia tahu di mana buku-bukunya berada, mana saja yang termasuk miliknya. Jadi yang ia sentuh pun benar-benar hanya bukunya.

Aidan tidak lagi mengutak-atik rak lain karena tahu itu bukan buku miliknya. Meminimalisir gawean ibunya ketika harus merapikan semua rak buku yang berantakan :D
Aidan belajar untuk segera mengembalikan buku pada tempatnya.

7. Besok beli buku baru yukk

Selama satu bulan ada berapa judul yang akan sering bunda bacakan? Kami minimal 5-7 buku/cerita. Bulan besoknya bisa berganti lagi. Kecuali jika ananda sendiri yang meminta judul sama untuk dibacakan kembali.

Ada buku anak yang berisi puluhan/ratusan judul cerita fabel, kisah sahabat nabi, maupun cerita anak lainnya yang mengandung unsur pendidikan karakter bagi anak. Jadi beli satu buku bisa dapat banyak tema cerita. Tanpa harus membeli buku terus. Kita bisa memanfaatkan buku yang memang telah berisi banyak cerita untuk dimaksimalkan terlebih dulu. Jika memang sudah waktunya beli buku baru, ajak ananda untuk bersama-sama ke toko buku dan memilih bukunya.

"Besok beli buku baru yuk, adek/kakak mau buku apa?" tak ada salahnya bunda bertanya.

Mungkin ananda belum bisa mendeskripsikan jelas buku yang ia inginkan, tetapi setidaknya ia akan berantusias saat diberi tahu. Bisa jadi hingga seterusnya, moment ke toko buku adalah hal menyenangkan bagi ananda bersama ayah bunda yang paling ditunggu-tunggu. Karena kecintaan itu telah ditumbuhkan sejak dini.


...............

Alhamdulillah, semoga postingan kali ini bermanfaat dan bisa menginspirasi ya. Bunda boleh berbagi pengalaman pribadi soal ini di kolom komentar, agar yang lain juga bisa membacanya dan mengambil manfaat :)
_____________________________

Magelang, 13 Oktober 2019
Copyright : @bianglalahijrah
");