Monday, 2 December 2019

Tak Mengapa, Gelar Sarjana Tetapi Memilih Berkhidmat Sebagai Ibu Rumah Tangga

10:52 6 Comments
Image source : Suara Muslim

Hidup ini memang selalu dipenuhi pertanyaan sekaligus pernyataan, baik yang absurd sampai paling menohok sekalipun. Jika belum menikah, pertanyaan "Kapan menikah" kadang pula jadi ajang perundungan. Setelah menikah, "Kapan punya anak?" semacam ronrongan untuk segera punya momongan kendati tak lepas dari faktor lain-lain yang sebenarnya sangat 'ranah pribadi' kalau harus dicampuri orang lain.

Ya.. karena ada beberapa yang memang sengaja menunda memiliki anak, secepat kilat usai berbulan madu. Adapula yang karena faktor kesuburan atau memang belum wayahe dipercayakan keturunan oleh-Nya. Setelah beranak satu pun, masih muncul pertanyaan "Kapan nambah anak?" padahal rasa sakit di ruang bersalin masih membekas di benak ibu.

Eh sekalinya nambah anak beneran, ndilalah kok rapat dengan jarak terpaut dekat, maka berakhir lah pada sindiran "Nambah anak muluk, kasihan kasih sayang ke anak jadi nggak maksimal karena kesundulan terus."

Duuhh, kalau mau mengikuti apa kata orang seolah hidup kita ada saja plus minusnya walau yang paling sering disorot tentu saja minusnya. Untuk membedakan komentar julid dan peduli pun seperti setipis benang ya. Ada yang terlihat peduli padahal aslinya cuma pengen kepo doang.

Intinya, memang mau bagaimanapun kita.. di mata manusia akan selalu saja ada kurangnya.

Jadi woles saja lah, jangan biarkan orang lain mengeruhkan kejernihan niat dan keikhlasan yang sudah terpatri di dalam dada untuk orang-orang yang dicintai. Termasuk pula ketika pertanyaan "Udah sarjana kok masih di rumah? Nggak mau kerja?"

Padahal pertanyaan yang mereka layangkan jelas bersifat prinsipil ya. Hak setiap perempuan yang ketika setelah menikah tetap menyisihkan waktu belajar di bangku perguruan tinggi. Haknya pula jika setelah gelar sarjana diperoleh, tetapi berkhidmat di rumah menjadi pilihan demi bisa ngabdi ke suami dan full time nandur manfaat di dalam keluarga sendiri.

Bagiku, kuliah adalah ajang mengasah diri untuk terus berkecimpung dalam ruang belajar. Niatnya murni bertholibul 'ilmi. Sejak awal pun, tak ada keraguan atau kebimbangan untuk urusan berkarier di luar rumah setelahnya. Karena memang azam sedari awal sudah jelas dan kuat, anak-anak dan suami jauh lebih membutuhkan peran diri.

Paling tidak, anak-anakku langsung dibimbing dan dididik oleh ibu mereka yang telah sarjana. Bukan dari tangan baby sitter atau pembantu yang rata-rata berpendidikan di bawah itu. Tentu saja ini bukan dalam maksud mengecilkan peran orang lain, sama sekali tidak. Tetapi semacam perenungan bagi para ibu. Penting untuk tetap menempa diri dalam ruang ilmu. Baik formal maupun informal. Entah itu di bangku perkuliahan atau dengan rutin menghadiri kajian.

Dan adil kah? Tatkala kita mendidik anak orang lain, sibuk berkhidmat bagi ummat, tetapi anak sendiri tidak dalam pengawasan kita sebagai ibu. Tak sadar ketika waktu tersebut sebenarnya lebih banyak mengurangi kehadiran diri di tengah-tengah keluarga. Apalagi jika merepotkan orangtua yang di usia senja masih sibuk momong putu (cucu).

Aku anak yang besar dari pengawasan nenek karena Emma juga termasuk wanita karier. Etta lebih banyak menghabiskan waktu di kebun kelapa. Tahu betul bagaimana rasanya ketika peran orangtua yang dibutuhkan terasa begitu langka ada di rumah. Karenanya keputusan menjadi ibu rumah tangga bukan sesuatu yang patut disesalkan bagiku.

Justru terasa sekali manfaat dan kepuasannya.

Tatkala bisa melihat langsung lelah suami sepulang bekerja dan menjadi teman berbagi. Ketika menjadi orang yang pertama kali menyaksikan pertumbuhan si kecil yang memberikan banyak kejutan-kejutan luar biasa setiap harinya. Dari awal mula bisa mengoceh, merangkak, bertepuk tangan, duduk, belajar jalan, memanggil nama orangtuanya dengan panggilan "ayah atau ibu" dan masih banyak lagi.

Jelasnya, gelar sarjana diperoleh berangkat dari motivasi "Sebab mendidik anak memerlukan ilmu yang tak sedikit."

Soal karier, aku meyakini bahwa tetap akan ada masanya nanti. Ketika anak-anak sudah besar, sudah mandiri, waktu mereka juga lebih banyak terforsir di sekolah maupun aktivitas lain di luar rumah. Saat itu, barangkali memiliki kesibukan lain selain berkutat di rumah akan menjadi alternatif untuk keluar.

Saat itu lah, ilmu yang ditempa ketika belajar tak hanya menjadi bekal dalam mendidik anak. Tetapi bermanfaat pula bagi ummat. Siapa bilang jadi ibu rumah tangga berarti tak berdaya sama sekali bagi kemaslahatan ummat? Salah besar. Ada banyak ranah dan wadah untuk menyalurkan kebermanfaatan diri yang tetap bisa diberikan bagi ummat dan bermula dari rumah. Terutama lingkup masyarakat sekitar.

Lah wong mendidik satu anak laki-laki sama dengan mendidik calon pemimpin di kemudian hari. Mendidik satu anak perempuan sama dengan membangun pilar peradaban yang jika bisa dibilang, segala sudut aspek kehidupan ini tak lepas dari peran perempuan terlebih seorang ibu.

Apalagi, sudah menjadi fitrah muslimah untuk diam di rumah, tetapi bukan pula hambatan untuk bisa mengejar mimpi di luar sana. Jadi berkarier atau ngabdi di rumah, seharusnya bukan semacam tolok ukur apalagi pacuan kuda untuk siapa yang harus menjadi lebih dari sesiapa. Kita semua berjuang dengan ladang jariyah masing-masing.

Setiap orang hebat dengan ranahnya sendiri.

So, semua memang ada waktunya. Ditempatkan sesuai porsi semestinya.

Ketika memilih karier di luar rumah berarti harus rela melepas banyak waktu membersamai keluarga dan melihat tumbuh kembang anak-anak. Ngabdi di rumah berarti harus legowo dengan kehendak diri untuk melebarkan sayap di luar rumah. Tetapi bukan menjadi hal mustahil bagi seorang ibu untuk tetap berperan lebih bagi ummat kendati berprofesi sebagai full time mom at home.

Tinggal pikirkan ranah dan wadahnya, hal positif apa yang bisa kita upayakan untuk menebar kebermanfaatan diri tanpa melepas fitrah maupun peran di rumah. Kalau soal bermanfaat bagi ummat, insyaa Allah tetap bisa terhandel kok walau katanya cuma ibu rumah tangga. Kalau alasan menambah penghasilan, bukan kewajiban seorang istri untuk mencari nafkah. Nrimo ing pandum, maka apa yang dibawa pulang suami pun insyaa Allah mencukupi.

Terlebih, ada banyak ibu rumah tangga yang bisa membuktikan diri dengan tetap memiliki penghasilan tambahan dan semua dimulai dari rumah :)

Kalau ditanya mengapa lebih memilih full time di rumah, ya karena saat ini, waktu yang paling tepat adalah fokus di keluarga. Ngabdi ke suami, membersamai balita dan batita nantinya. Tak ada istilah eman-eman untuk gelar begitupun ijazah karena hanya berkutat sebagai ibu rumah tangga. Lah, kalau niatnya memang murni untuk menunjang karier dan beroleh pekerjaan mapan, tentu saja lain cerita. Jelas berkiprah di rumah bukan alternatif utama, sekalipun setelah berkeluarga.

Jadi balik lagi ke individu masing-masing.

Toh, tiap orang punya alasan dan tujuan tersendiri yang tak bisa dihakimi oleh siapapun.

Sabtu lalu, seorang teman liqo bercerita tentang keputusannya untuk resign sementara dari profesi sebagai dosen. Tak ada gurat sesal untuk gelar S2-nya dan profesi budos yang tentu saja membesarkan namanya. Disusul pula teman lain yang juga sudah ancang-ancang dalam pengunduran diri sebagai guru taman kanak-kanak menjelang kelahiran anak pertamanya. Alasan mereka sama; sementara ini lebih memilih untuk full time mom at home dan membersamai buah hati.

Tetapi tak menutup kemungkinan jika nanti, tatkala masanya tiba, kami tetap berkhidmat di luar rumah dan mentransfer ilmu yang dimiliki.

Terpenting, suami ridho [rida]. Diri sendiri ridho dengan segala sesuatu yang dijalani saat ini. Semata Lillah.

Berkiprah di rumah atau di luar, semua hanya persoalan waktu dan keputusan untuk memilih mana yang lebih harus didahulukan dalam skala prioritas dan kewajiban diri sebagai istri sekaligus ibu. Kita lah yang lebih tahu, mana yang benar-benar sesuai dan mana yang sungguh-sungguh lebih diperlukan saat ini. Bukan semata mengikut ego atau semacam pembenaran untuk diri sendiri.

Entah akan berkarier atau menjadi ibu rumah tangga seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak cerdas. - Dian Sastrowardoyo

Pada akhirnya.. setiap ibu luar biasa kok, istimewa dengan cara masing-masing. Semoga bermanfaat :)
______________________________

Magelang, 2 Desember 2019
Copyright : @bianglalahijrah

Thursday, 28 November 2019

Traveling Ke Australia Bersama Cheria Halal Holiday : Halal, Nyaman dan Ceria

14:34 4 Comments
Potret Keindahan Australia di Malam Hari
Image Source : CC Search

Punya mimpi untuk jalan-jalan ke luar negeri? Siapa pula yang tak mau jika beroleh kesempatan bisa plesiran ke negara dambaan, apalagi gratis! Hari gini mewujudkan mimpi untuk bisa traveling ke luar negeri seperti gayung bersambut, sebab mulai bermunculan kompetisi blog dengan hadiah berupa trip gratis ke negara tertentu dengan tambahan uang sangu pula.

Nah, kali ini Cheria Holiday mengadakan lomba blog bertema Australia.

[Wisata Halal Australia]

Waaahhh, salah satu negara yang begitu + sangat + ingin dikunjungi sedari dulu. Siapa yang tak asing dengan negara Australia? Negara yang namanya berasal dari bahasa latin "Australis" yang berarti Selatan dan beribu kota di Canberra.

Berangkat dari catatan perjalanan Ve Handojo dan Oki Setiana Dewi ketika berada di Australia, rasanya ingin menengok langsung negara asal Kanguru tersebut. Dan menikmati keindahan Australia yang ikonik dari pasir merah Uluru, warna-warni Great Barrier Reef hingga hamparan pesisir pantai Sydney.

Apalagi kalau bisa berbaur dan mengenal lebih dekat Pribumi Australia. Kesempatan yang luar biasa berharga ketika dapat mengetahui lebih jauh mengenai kisah suku Aborigin dan Penduduk Torres Strait Islands. Wah jadi ingat film Tracks yang memuat cerita perjalanan Robyn Davidson tatkala menyusuri padang pasir Australia dan bertemu suku Aborigin.

Hunting suvenir di The Rocks Markets yang dijajakan langsung oleh para seniman lokal. Tour The Rocks dengan berjalan kaki sambil menyelami budaya Aborigin. Mendengar kisah-kisah Dreamtime (penciptaan), mengunjungi situs penting suku Aborigin dan mempelajari bentang alam.

Tepatnya di Circular Quay dari The Rocks kita bisa menjelajah ke Museum of Contemporary Art. Bisa pula tour budaya ke Royal Botanic Gardens tepat di belakang Sydney Opera House. Ada pula Manly sambil menikmati kehidupan Sydney yang santai. Bisa-bisa betah nih.

Dance Rites @ Sydney Opera House, New South Wales
Image source : https://www.australia.com/

Khusus buatmu para pecinta seni, tak lengkap rasanya jika ke Australia tanpa sempat menikmati wisata seni Pribumi. Dalam hal ini Australia dikenal memiliki konsentrasi pada seni cadas yang memiliki ciri khas unik di seluruh negeri. Untuk menikmati seni Pribumi dan memanjakan mata, kita akan langsung ke Australian Museum, First Australians Galleries yang bertempat di Sydney.

Tambah seru ketika tur dipimpin langsung oleh pemandu Aborigin. Sambil membayangkan gimana serunya. Nggak usah bingung bagaimana cara berkomunikasi di sana, karena Australia sendiri tak memiliki bahasa resmi. Oleh karena itu bahasa Inggris digunakan sebagai de facto Nasional.

Lanjut yukk, kita ke festival seni dengan pengalaman ajib karena langsung bersinggungan dengan budaya Aborigin dan Penduduk Torres Strait Islands.

Dari Yabun yang berarti "Musik yang Berdenyut" yang diadakan pada tanggal 26 Januari sebagai (Hari Australia), festival Garma yang diadakan di Goce, Arnhem Land pada setiap bulan Agustus, hingga pameran seni dan pertunjukan Tarnanthi di Adelaide.

Untuk menyaksikan 20 komunitas Aborigin yang berkumpul dan menari bersama, kita bisa berkunjung di Cape York tepatnya di perayaan Laura Dance Festival. Bayangin deh, kalau kamu bisa ikut menari bersama para Pribumi. Ada banyak jejak moment yang bisa kamu abadikan dengan kamera saku atau SLR, pun beroleh banyak hal baru untuk dituang dalam bentuk tulisan.

Pengalaman yang didapat dari perjalanan seperti teramat sayang untuk disimpan sendiri, bukan? Bagikan pada dunia, menulis adalah salah satu cara untuk mengemas pengalaman membekas itu. Barangkali akan ada banyak orang yang terinspirasi di luar sana dan melakukan hal sama.

Karena katanya bahagia itu diciptakan, dengan kamu keluar dari zona nyaman. Menikmati apa yang tersuguh di belahan-belahan lain selain dari tempatmu terlahir. Jika Imam Syafi'i saja menyarankan seorang muslim untuk melakukan perjalanan, merantau, melangkah keluar, sebab ada banyak sekali yang akan kita dapatkan. Pengalaman, teman, pengetahuan, hal-hal baru yang tak akan didapat hanya dengan mengukur langkah di depan pintu rumah.

Aahhhh, tak puas rasanya jika tak mengulas semua keindahan yang terdapat di berbagai sudut Australia yang detik ini betul-betul memenuhi rongga dadaku. Rasanya sudah bungah hanya dengan membayangkannya saja. 

Karena itu, dalam rangka menjemput mimpi berkunjung ke negara tetangga bersama Cheria Holiday. Aku ingin memperkenalkan biro perjalanan sekaligus travel umroh ini yang telah berdiri sejak tahun 2012 lalu. Usai berkunjung ke website resminya, aku semakin yakin untuk mempercayakan kenyamanan perjalanan ke dalam maupun luar negeri, termasuk saat ibadah / wisata religi ke Baitullah lewat jasa Cheria Holiday. Apalagi sudah banyak testimoni real-nya.

Tak hanya pelayanan terbaik dengan garansi kepuasan loh, tetapi harga juga bersaing. Dan yang lebih penting, seperti namanya.. bersama Cheria Travel maka perjalanan pun menjadi lebih ceria dan menyenangkan. Masyaa Allah :)


Paket wisata halal yang mereka berikan juga tak akan menghadirkan rasa khawatir lagi mengenai makanan atau pun tempat ibadah yang ada di tujuan kita nantinya. Namanya juga wisata halal, sudah pasti menjanjikan kenyamanan yang memenuhi standar syar'i dan sesuai kebutuhan kita sebagai traveller muslim.

Cheria Travel sendiri memberikan Paket Tour Muslim tidak hanya untuk kebutuhan Personal, melainkan pula corporate atau grup. Baik di dalam negeri atau pun luar negeri yang mencakup Tiket, Hotel, Visa, dan kenyamanan lainnya. Dengan pelayanan yang ramah dan efisien, kita tak perlu bingung mengenai apa saja yang harus dipersiapkan sebelum melakukan perjalanan tersebut.

Sudah banyak tour halal populer yang telah dipercayakan bersama Cheria Travel di antaranya :

- Tour Rusia
- Tour Eropa
- Tour Aqso
- Tour Turqi
- Tour Maroko Spanyol
- Tour Hainan China
- Tour Beijing China
- Tour Bangkok Pattaya
- Tour Balkan
- Tour Korea Selatan
- Tour Hongkong
- Tour Australia
- Tour New Zealand (Selandia Baru)
- Tour Uzbekistan Rusia
- Tour India
- Tour Dubai
- Tour Amerika
- Tour Eropa Barat
- Tour Eropa Timur
- Tour Inner Mongolia
- Tour Jepang
- Tour Spanyol

Adapun paket umroh plus Cheria Travel, meliputi :

- Umroh Plus Aqso
- Umroh Plus Turki
- Umroh Plus Mesir
- Umroh Plus Dubai
- Umroh Plus Maroko Spanyol
- Umroh Bintang 5

Tinggal tentukan tujuan, paket tour yang diinginkan, waktu keberangkatan, beserta budget-nya. Cheria Travel siap membersamai perjalanan kita dengan berbagai kenyamanan dan pelayanan terbaik.

BTW, bucketlist apa saja sih yang ada di agenda perjalanan tour Australia bareng Ceria Halal Holiday?


Yuk disimak ^_^

Langsung di hari pertama, sesuai jadwal yang telah ditentukan adalah hari keberangkatan menuju Sydney dengan penerbangan dari Jakarta. Keesokan harinya, euforia perjalanan membuat diri bersemangat untuk langsung mengelilingi kota Sydney. Apalagi bisa hunting foto dengan latar Opera House, Mrs Macquarie Chair, The Rock, lalu ke ikon negara Australia yaitu Sydney Opera House.

Tour Australia with Cheria Holiday

Kemudian menikmati keindahan panorama kota Sydney dengan naik Captain Cook Cruise. Belum cukup sampai di situ? Kita masih akan makan malam romantis, dinner di atas kapal Ferry sebelum akhirnya menutup hari dengan beristirahat di kamar hotel. Huaaa, nyamannyaaa :D

Sydney Opera House. Image source : CC Search

Hari ketiga, dengan rute Sydney-Brisbane-Tangalooma kita langsung terbang menuju Brisbane setelah sebelumnya sarapan pagi bersama crew perjalanan. Setibanya di Brisbane dengan menggunakan kapal Ferry kita akan melanjutkan perjalanan menuju pulau Moreton. Untuk kemudian menikmati Dessert Safari Tour With Sand Tobogganing dan Wild Dholpin Feeding Program.

Hari keempat, dari Tangalooma ke Gold Coast untuk mengunjungi Dreamworld Theme Park dan makan malamnya di Hard Rock Cafe Goald Coast.

Dreamworld - Tour Australia

Berlanjut di hari kelima, masih di Goald Coast kita diajak ke Movie World By Fire4hire One Way Theme Park Transfer. Ada banyak pertunjukkan serta permainan yang bertemakan movie seperti Hollywood Stunt Driver, dll. Dengan tokoh berjalan seperti Batman, Superman, Looney Tunes, Scooby-Doo (kartun favorit zamanku cilik) dan masih banyak lagi.

Image source : https://1.bp.blogspot.com/

Hari keenam nih, mau ke mana lagi ya? Ternyata kita bakal ke Melbourne terbang dari Brisbane untuk mengunjungi Fitzroy Garden dengan lanscape bertema era Victoria. Wah, menakjubkan yaa. Setelah puas berkeliling kota Melbourne dan menikmati keindahan taman Fitzroy.. waktunya hunting belanjaan dan shoping di Queen Victoria Market.

Image Source : CC Search

Ini pasar tradisional yang paling terkenal di Melbourne loh.

Image source : CC Search

Pada hari ketujuh, sepekan sudah menikmati hari-hari yang berseri di kota Australi :D Aaaahhh, membayangkan free time di Melbourne. Naik fasilitas trem gratis, tour tambahan ke Philip Island, Puffing Billy, Sofereign Hill. Dari parade pinguin sampai suguhan view pegunungan, hutan pakis hingga lembah yang akan membuat kita enggan berkedip dan sayang jika melewatkan satu moment pun. Berasa liburan ini cetaaarr membahanaa, ceria war biasaaa :D

Cheria Travel Holiday benar-benar memanjakan perjalanan kita dengan bucketlist yang memberikan pengalaman travel tak terlupakan. Jadi pengen plesiran terus, apalagi kalau sama Cheria Holiday. Tiap perjalanan selalu menyisakan jejak manis tersendiri.

Sampai pada hari kedelapan, kita rasanya masih susah move on karena hari ini bakal balik ke Jakarta. Eiittsss, saking gamov (gagal move on) kita diam-diam sudah mencanangkan trip selanjutnya akan ke negara mana dengan tetap bersama Cheria Travel Halal Holiday. Apalagi kaaaann, harga yang dipatok sudah termasuk akomodasi hotel, acara selama perjalanan, makan tiga kali sehari (Muslim Friendly Meals) jadi nggak perlu khawatir untuk urusan halal atau tidaknya. Ada tour leader, domestik flight dan internasional flight. Sebuah travel bag plus travel kit juga loh. Terkecuali hal-hal yang tidak berkaitan dengan Itinerary tersebut. Misal kayak optional tour atau kelebihan bagasi, ya tanggung sendiri deh hehe :)

Untuk lebih jelasnya bisa langsung cek n ricek di tautan bawah ini :

[Tour Australia Muslim Friendly Bersama Cheria Holiday]

Download pula aplikasi androidnya [Halal Traveler] via play store untuk lebih memudahkan. Karena ada banyak fitur-fitur yang akan sangat membantu seperti Petunjuk Arah Kiblat, Waktu Sholat, Masjid, Cari Restoran Halal dan Paket Wisata Muslim dari Cheria Holiday, Doa Harian, Pengingat Adzan, serta masih banyak lagi kelebihan lainnya. Buruan instal aplikasinya di android kesayanganmu :)


Ini baru halal trip ke Australia loh! Nggak mau ngintip ke negara-negara lainnya? Nggak perlu bingung lagi ya. Karena tim Cheria Holiday akan memudahkan kita sebelum dan sesudahnya, masyaa Allah alhamdulillah :D

Kalau masih bingung dan pengen tahu banyak buruan samperin stafnya di kantor pusat :



Gedung Twink Lt.2, Jl Kapten P.Tendean, No. 82 Mampang Prapatan,
Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12790

Atau bisa juga menghubungi kontak :

Telepon : 021 - 7900 201 / 021 700 216 (Hunting)
Fax : 021 7918 2408
WA : +62 878 8521 7393
Email : info@cheria-travel.com
Web : https://www.cheria-travel.com/
Instagram : @cheriaholiday [https://www.instagram.com/cheriaholiday/]
Twitter : @cheria_wisata [https://twitter.com/cheria_wisata]
Fanpage : Cheria Holiday [https://web.facebook.com/cheriaholiday/?ref=br_rs]

***

Ini nih para tokoh masyarakat yang telah mempercayakan kenyamanan perjalanan mereka bersama Cheria Halal Holiday :)

Oki Setiana Dewi bersama Ria Ricis

Arie Untung dan istrinya Fenita Arie beserta Founder Cheria Wisata Tour Travel
Bapak Cheriatna dan Ibu Farida, sepasang suami istri yang menggerakkan Cheria Travel

Di antaranya, KH. Abdullah Gymnastiar (AA Gym) dan Bachtiar Nasir
saat Widya Wisata Halal ke Beijing Shanghai bersama Cheria Holiday

Alhamdulillah, PT Cheria Tour and Travel telah memiliki legalitas di antaranya :

- TDA 36/2014 dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta pada tanggal 7 Januari 2013
- Member IATA (International Air Transport Association) dengan nomor 15314132
- Izin resmi dari Kementerian Agama Republik Indonesia pada 20 Juli 2016 sebagai Agen Barokah Madinah Tour & Travel dengan nomor 368 tahun 2016
- Izin Biro Perjalanan Wisata (BPW)/SIUP : 2365/2012
- Izin Umroh Departemen Agama Republik Indonesia No. D/816-2012
- Izin Ibadah Haji Khusus Departemen Agama Republik Indonesia nomor D/355

Semoga impian untuk bisa ke negara dambaan dapat segera terwujud bersama Cheria Halal Holiday. Aamiin yaa mujibassailin :D Semoga postingan ini juga bermanfaat bagi kalian yang ingin mencari biro perjalanan atau travel umroh yang amanah, nyaman dan halal. Jaminan kuliner halal selama di negara tujuan, pun tanpa takut ketinggalan waktu sholat. Masyaa Allah :)

Cheria Holiday? Halal, nyaman, ceriaaaaaaaaa ^_^

#CheriaAustralia #WisataHalalAustralia


TESTIMONI





Artikel ini ditulis dalam rangka mengikuti Lomba Blog Cheria Holiday #9
Lomba Blog Cheria Holiday #9 2019
_________________________

Beberapa foto dan video terkait dinukil langsung dari website resmi dan akun fanpage Cheria Holiday, maupun beberapa picture lain dengan sumber yang telah disertakan langsung pada gambar terlampir.

Magelang, 28 November 2019

Wednesday, 20 November 2019

Fenomena Ngidam Pada Ibu Hamil dan Suami serta Hal Penting Terkait Kehamilan

16:41 1 Comments

Ketika hasrat ngidam terpenuhi, ada sensasi bahagia yang menyeruak. Itu pula yang kurasakan beberapa waktu lalu ketika fase mengidam menghampiri saat diri masih sibuk wara-wiri penelitian dan penulisan skripsi. Tetapi kalau diingat lagi, hasrat ngidam waktu itu memang lebih dari biasanya. Bahkan saking inginnya, menu yang kumasak pun ludes dimakan sendiri. Barangkali tubuh sudah memberi pertanda hanya saja belum disadari waktu itu :D

Ngomong-ngomong soal ngidam, ada yang menganggap fenomena ini sebagai alibi yang diciptakan oleh seseorang untuk beroleh sesuatu yang diinginkan. Benarkah? Padahal dalam sudut pandang medis, ini hal normal dan bisa saja terjadi pada diri tiap individu. Terlebih bagi seorang ibu hamil. Perubahan lonjakan hormon di dalam tubuh dan kondisi fluktuatif itu menyebabkan indra perasa maupun penciuman juga berubah. Menjadi lebih peka dan sensitif.

Dalam mengidam, ada makanan yang tadinya begitu digemari tiba-tiba menjadi tidak kita gemari. Ada pula makanan yang tak pernah masuk ke kategori kesukaan tiba-tiba menjadi menu wajib yang begitu ingin dimakan.

Ternyata, ngidam sendiri tak hanya bisa dialami oleh ibu hamil. Seorang suami yang tengah mendampingi kehamilan sang istri juga bisa mengalami fase ngidam karena kondisi psikologis. Penyebab utamanya lebih dikenal sebagai sindrom couvade (sindrom kehamilan simpatik). Tak dipungkiri, bahwa sebagian besar para suami akan panik sekaligus cemas ketika mendampingi tahap kehamilan sang istri pada trimester awal maupun akhir. Terlebih jika yang dinanti adalah kehadiran anak pertama.

Suamiku sendiri melalui fase ngidam dalam bentuk gejala fisik yakni sakit gigi sepanjang kehamilan berlangsung. Mengapa bisa dikatakan ngidam? Beliau tak memiliki riwayat sakit gigi sebelum itu dan gejala tersebut juga hanya berlangsung selama aku mengandung. Terbilang aneh sekaligus unik. Di luar sana barangkali ada sebagian suami yang ikut-ikutan mendambakan jenis makanan tertentu. Sakit punggung ataupun pinggang. Gangguan tidur dan lain sebagainya. Karena ngidam yang ikut dirasakan.

Dari pengalamanku, ini normal. Dengan sendirinya akan berlalu seiring waktu, terutama ketika buah hati telah lahir. Kendati mengidam seolah masih menjadi misteri tersendiri, ada alasan ilmiah mengapa ngidam dirasakan oleh seseorang. Bagi ibu hamil, erat hubungannya antara asupan makanan dengan meningkatnya Peptida Opiod Endogen (POE). Bisa jadi tubuh tengah memberi alarm karena adanya nutrisi yang sedang dibutuhkan, dan itu memberikan dorongan untuk mengidamkan jenis makanan tertentu.

Kalau diingat-ingat, pada masa kehamilan Aidan, anak pertama kami. Tak semua jenis makanan bisa masuk ke perut. Justru makanan yang tadinya begitu digemari seperti nasi padang dan bakso, nyaris tak tersentuh selama hamil. Anehnya, suatu pagi ketika suami meluangkan waktu menghantar Soto Kwali.. kali pertama setelah kehamilan sekian minggu dan di fase mabuk berat, aku bisa menikmati makan enak tanpa sensasi mabuk sama sekali.

Tak hanya soto kwali tetapi juga empek-empek Palembang. Suami bahkan harus keliling kompleks perumahan kota demi mengejar penjual empek-empek yang diminati. Namanya ngidam ya kan? Harus sesuai dengan apa yang diinginkan. Padahal berseliweran penjual empek-empek di seantero sudut Magelang, untungnya yang dimintai selegowo itu direpotin demi si jabang bayi :D

Pengalaman ngidam di tiap kehamilan tak melulu sama. Saat kembali hamil anak kedua setahun yang lalu, aku sama sekali tak mengalami fase mual muntah atau mengidam jenis makanan tertentu. Qadarullah, memasuki trimester dua vonis blighted ovum mendatangkan kesedihan luar biasa.

Berangkat dari pengalaman itu pula, aku belajar satu hal penting. Ada atau tidak gejala mengidam, seorang ibu wajib memperhatikan gizi sekaligus nutrisi yang masuk ke tubuhnya. Jangan sampai tubuh sendiri kekurangan nutrisi yang dibutuhkan, padahal calon janin yang sedang berkembang memerlukan asupan nutrisi yang baik dari ibunya, beserta tubuh yang sehat untuk menopang kehamilan berlangsung tanpa kendala hingga masa persalinan tiba.

Karena itu untuk kali ini, kendati ngidam lebih dominan pada makanan pedas dan asam. Sayur dan buah-buahan menjadi hal wajib untuk setiap harinya. Bukan soal makan untuk dua orang, seperti yang banyak orang gembar-gemborkan pada ibu hamil. Karena pada kehamilan anggapan tersebut justru akan salah jika disikapi dengan pemahaman keliru. Yang terbaik adalah tetap perhatikan asupan kalori yang masuk bersama gizi dan nutrisi yang seimbang.

Pada trimester awal, kita sebenarnya tak butuh kalori tambahan yang melebihi TDEE perhari. Karena janin yang berkembang juga masih teramat kecil untuk menghabiskan banyak asupan kalori maupun nutrisi yang masuk ke dalam tubuh ibunya. Baru di kehamilan trimester kedua dan ketiga kalori tambahan dibutuhkan, itu pun hanya kisaran 200-400 kalori dari kalori awal. Misal saat sebelum hamil dan hamil di trimester awal kalori perhari adalah 2200. Nah pada trimester kedua menjadi 2400, kemudian pada trimester ketiga menjadi 2600 kalori.

Makan berlebihan justru membuat tubuh mengalami kelebihan berat badan yang tentu akan berdampak pada kemudahan saat melangsungkan persalinan. Dampaknya dari obesitas, hipertensi sampai resiko pre-eklampsia. Bisa pula dengan bayi yang lahir dengan berat badan melebihi. Sangat disayangkan jika kalori berlebih yang masuk justru sama sekali tak memenuhi asupan nutrisi, dan sebaliknya, hanya menjadi timbunan lemak pada tubuh sang ibu.

Tak jarang muncul kasus, berat badan ibu berlebih tetapi berat janin tidak mencukupi. Jadi soal "makan untuk dua orang" selama hamil harus betul-betul disikapi dengan bijak dan logis. Jangan asal manut. Karena yang repot nantinya diri sendiri. Iya kalau lebih mudah mengembalikan BB paska bersalin, jangan sampai akan menjadi momok tersendiri setelah melahirkan nanti. Self reminder juga nih buatku.

Jadi pada intinya, tetap harus memperhatikan menu seimbang dan kalori kebutuhan perhari. Memang benar, ibu hamil tidak punya pantangan. Makan apa saja boleh, asal kan porsinya pas. Tidak berlebihan. Terlepas apapun ngidam yang sedang diinginkan, usahakan memenuhi kebutuhan tubuh dan calon janin selama masa kehamilan. Jangan hanya mementingkan kuantitas, tetapi pikirkan pula kualitas makanannya.

Balik lagi ke ngidam, salah seorang temanku pernah menceritakan pengalaman ngidamnya. Selama kehamilan beliau, yang diidamkan justru makanan-makanan yang pernah menjadi kesukaan saat kecil.

Akhir-akhir ini, aku kerap membayangkan empek-empek di Jambi. Dulu sewaktu kecil, bersama Etta.. kami selalu menunggu penjualnya lewat di depan rumah. Ukurannya sebesar dua jempol dewasa yang digabungkan. Harganya saat itu masih berkisar 100 rupiah untuk perbiji. Hanya saja rasanya tak lekang, seolah masih membekas dalam ingatan.

Kalau soal rindu masakan Ibu, dari hamil Aidan juga sudah dirasakan. Menu-menu yang dulu akrab di lidah seperti menari-nari dalam benak.

Memang, hormonal bisa mempengaruhi banyak hal. Setidaknya, kita tetap berusaha logis dan ngidam yang diinginkan tidak lah mempersulit diri sendiri maupun orang lain. Semoga bermanfaat. Happy Pregnancy! :)

____________________________

Magelang, 20 November 2019
copyright : @bianglalahijrah

Sunday, 17 November 2019

Perjalanan Wisuda 2019 : Lebih Baik Tertinggal Sedikit, Daripada Tidak Mencoba Sama Sekali

22:37 0 Comments

12 November 2019, hari di mana toga melekat dan gelar S.Pd pun menuntaskan prosesi wisuda yang mengharu biru. Tak hanya aku sendiri, setiap mata yang menyaksikan kesakralan acara spontan berkaca-kaca. Melangitkan rasa syukur, berbahagia dengan segenap pencapaian yang diraih dari jerih payah, pun alasan-alasan lain yang menjadi motivasi dari awal berjuang hingga kami semua bisa duduk di satu ruangan sebagai seorang sarjana.

Tak hanya hati yang bergetar, bahkan langkah kaki pun demikian. Aku nyaris tak bisa menjaga keseimbangan tubuh tatkala menunggu giliran, nama disebut berikut gelar yang diperoleh menggema dalam ruangan. Aku di antara 246 wisudawan/ti beserta ratusan para tamu undangan yang hadir. Rasanya takjub, luar biasa, gerimis, bahagia tak terkira.

Kubayangkan perasaan suami yang turut serta membersamai perjalanan wisuda ke Bandung. Terbayang wajah Emma yang sehari sebelumnya begitu haru, menelepon hanya untuk mendoakan kelancaran wisuda anaknya. Dalam dada untaian puji dan syukur terus melambung, berharap seluruh keluarga juga turut merasakan serta terhimpun rasa bangga dan bahagia.

Ini bukan hanya tentang mimpiku. Ada harapan suami, doa dan keinginan orangtua untuk melihat anak-anaknya berhasil. Sebuah langkah yang kelak semoga dapat memotivasi anak-anak kami untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik dari kedua orangtuanya. Pencapaian yang takkan kuraih tanpa peran berarti dari orang-orang terdekat. Doa, support moril dan materiil. Bahkan ketika semangat merampungkan studi sempat beberapa kali mengendur.

Jika bukan karena Allah, sekuat apapun kehendak belum tentu tertunaikan. Karena-Nya lah diri kembali memeluk mimpi yang terealisasi. Alhamdulillah.

Teringat ucapan seorang teman beberapa tahun yang lalu, "Kamu betulan jadi penulis? Kan kamu tak sekolah tinggi. Biodatanya mau diisi apa?"

Jleb! Kata-kata yang ringan namun menohok.

Aku hanya bisa menelan ludah getir. Mematut diri bahwa yang ia ucapkan hari itu memang benar adanya. Ketika teman-teman lain melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.. aku masih bukan apa-apa. Bahkan gelar yang kuperoleh pun masih sebatas penulis picisan. Melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang tertinggi saat itu hanya sekedar list yang tertulis di daftar planning.

Ditambah dengan ucapan dan sikap seorang guru yang merendahkan, hanya karena aku berasal dari keluarga yang broken home. Ah iya, barangkali beliau lupa. Di dunia ini tak ada manusia yang bisa memilih sendiri takdir dan kehidupan seperti apa yang akan dilalui. Semua yang terjadi, semua yang dijalani, mutlak tersebab ketetapan Allah menyertai di dalamnya.

Bahkan 50 ribu tahun sebelum anak manusia terlahir ke muka bumi, seluruh catatan hidupnya sudah Allah tulis secara rinci dalam kitab lauhul mahfudz.

Jika orang lain mengecilkan anak broken home, alhamdulillah aku bisa menyebut semua itu sebagai hikmah. Jalan hidup yang Allah pilih tetapi kemudian membuka pintu-pintu lain untuk menjemput impian.

Butuh waktu, perjuangan, airmata, kesulitan yang tak sedikit demi mengejar ketertinggalan di usia seperempat abad. Usia yang barangkali di mana orang lain justru tengah menempuh jenjang strata duanya dan menikmati karier. Bagiku, tertinggal sedikit jauh lebih baik ketimbang tidak mencoba sama sekali dan tak merengkuh kemajuan apa-apa. Apalagi jika hanya bisa menyawang pencapaian orang lain.

Dalam belajar, untungnya tak ada kata terlambat. Ustadzah Kokom yang berusia lanjut saja tetap antusias menuntaskan kuliahnya, meski beliau bisa disebut sebagai mahasiswi tertua di antara kami. Belajar dari orang-orang seperti beliau lah, diri jadi lebih tertampar untuk terus belajar. Yang usia lanjut saja masih semangat, tak malu, apalagi sungkan menuntut ilmu. Bagaimana dengan yang muda ini? Masyaa Allah.

Kuucapkan terima kasih untuk seorang teman, seorang guru, yang pernah mengecilkan diri. Karena berkat ucapan dan perlakuan mereka lah, ada motivasi untuk maju kendati saat peluang terasa sempit sekalipun.

Terima kasih untuk pihak-pihak yang tanpa dukungan mereka, aku tak bisa bertahan dan menjadi pejuang tangguh. Teruntuk suami yang sudah menyekolahkan istrinya. Ketika aku sendiri hampir menyerah karena terbentur biaya pun merasa insecure, beliau lah yang terus mendorong untuk maju dan menyelesaikan semuanya.

Bersama-sama mencari jalan keluar dan menghadirkan solusi. Syukran, Zauj. Tanpamu aku belum tentu bisa.

Semoga Allah gantikan setiap butir keringat yang jatuh pada saat mencari nafkah, Allah lipat gandakan ganti dari pundi uang yang mengalir demi membiayai istrimu dalam menempuh pendidikan yang layak dan bisa terus belajar.

Aamiin.

Terima kasih pada murabbi yang berlaku sebagai pengganti orangtua nun jauh di sana. Pada Emma, Etta, dan adik-adik. Alasan untuk terus berjuang dan membuktikan pada banyak orang, setiap kita boleh bermimpi, tak ada larangan. Selama ada kemauan, tekad yang sungguh-sungguh, usaha tak kenal lelah, maka akan Allah sertai jalan keluar baginya.

Mudah bagi Allah merubah apa yang mustahil di mata manusia menjadi sangat mungkin terjadi. Sekali 'Kun' maka 'Faya Kun'. Biidznillah.

Aku tak lagi takut untuk bermimpi lebih dari ini. Bersama Allah, setiap mimpi menjadi pasti.

Semoga barokah ilmu beserta gelar yang diperoleh. Ini bukan hanya soal predikat sarjana apa yang yang tersandang di belakang nama, tetapi kontribusi apa yang bisa diri bagikan pada ummat setelah ini. Kebermanfaatan macam apa yang bisa diri sumbangsihkan pada orang lain. Maka semoga Allah mudahkan diri dalam menunaikan amanah ilmu yang diperoleh.

Mengutip perkataan yang menjadi filosofi terkenal dari Eyang BJ. Habibie :

Keberhasilan bukanlah milik orang yang pintar. Keberhasilan adalah kepunyaan mereka yang senantiasa berusaha. 

Lantas, setelah wisuda mau ngapain?

Insyaa Allah, kendati masih berkiprah di rumah membersamai balita dan menjalankan peran sebagai istri sekaligus ibu. Gelar, ilmu, termasuk pula ijazah perguruan tinggi yang diperoleh takkan pernah menjadi sia-sia. Karena itu ilmu yang ada harus lah disampaikan. Ada banyak wadah untuk menyalurkan aspirasi sekaligus inspirasi.

Menulis adalah salah satunya.

Bersama ridho suami, untuk sementara aku masih akan fokus di rumah dengan amanah yang kembali Allah berikan saat ini. Sembari tetap produktif menulis. Insyaa Allah pada Desember mendatang menjadi agenda untuk launching buku terbaru bersama 11 penulis lainnya. 2020 adalah target produktif untuk menelurkan buku solo selanjutnya.

Dari rumah, jangan berhenti berkarya. Dari rumah, teruslah jadi emak yang berdaya. Emak yang berkarya, emak berdaya, emak yang luar biasa heheu ..

Alhamdulillah alladzi bini'matihi tatimmush shalihat :)

Sesuatu yang telah Allah gariskan menjadi milikmu akan tetap menjadi milikmu. Seberat apapun prosesnya. Sesulit apapun jalannya. Jika sudah ditakdirkan menjadi rezeki kita di dunia, niscaya akan tetap tergenggam. - Bianglala Hijrah

Alhamdulillah sah S.Pd :)

Karena-Nya, jangan takut bermimpi besar. Namun jangan lupa, sertakan Allah dalam setiap niat beserta langkah. Maka kebaikan dan keberkahan pun akan mengiringi perjalanan. Barakallah.

_________________

Ihdinashshirathal mustaqim [Man Jadda Wajada] ...

Magelang, 17 November 2019
Copyright : @bianglalahijrah

Tuesday, 5 November 2019

Dear Suami, Sebab Istri Adalah Pakaian Bagimu Begitupun Sebaliknya

15:00 2 Comments

Ketika kita memberikan segenap hati untuk mempercayai seseorang, itu berarti kita juga telah mempersiapkan ruang lain untuk terisi dengan kekecewaan. Luka, tersakiti, air mata, kekecewaan, bukan saja terjadi karena unsur kesengajaan.

Tetapi karena orang-orang terdekat lah yang paling berpotensi untuk membuatmu tersakiti. Hanya orang terdekat yang memiliki peluang besar untuk menancapkan luka lebih dalam pada dirimu. Kita tak memilih untuk terluka, tetapi sedikit saja ekspektasi atau bahkan sikap yang bertolak belakang dengan harapan kita, akan mudah menimbulkan rasa sakit.

Bentakan dengan nada tinggi terasa tak nyaman didengar, lebih-lebih lagi jika yang mengalir adalah ucapan dengan kalimat intimidasi. Menjatuhkan, merendahkan, seolah-olah perlakuan itu adalah sesuatu yang layak. Terlepas apakah kamu bersalah, atau hanya sebagai pelampiasan masalah.

Kadang, dalam hubungan suami istri selalu ada saja ketidaksesuaian yang bertolak belakang dengan keinginan pribadi. Tak semua dapat berjalan persis mengikuti kehendak. Karena pernikahan mengharuskan dua orang bekerja sama untuk mencapai biduk yang sakinah. Harus ada kerendahan hati untuk mengenyampingkan ego sendiri.

Beberapa alasan bertahan mampu menjadi solusi selama satu sama lain memiliki kesamaan visi untuk berbenah dan menjadi lebih baik. Sebab tak bisa hanya menuntut satu pihak untuk terus menerus mengalah, memaklumi, mengerti lebih banyak, sedang kemauan hatinya terabaikan begitu saja. Menikah nyatanya tak hanya tentang mengisi satu sama lain, sebab tak juga sesederhana itu. Ada tuntutan pemenuhan yang harus disadari masing-masing.

Apa kebutuhan suami. Apa kebutuhan istri. Bukan hanya tentang ego; siapa yang harus mengikuti siapa. Sesekali kita perlu merundukkan hati untuk mendengar aspirasi maupun ekspektasi yang lain. Permasalahan meruncing dengan mudah ketika dua kepala saling menggenggam ego masing-masing tanpa keinginan mengalah.

Seperti yang kita tahu, bahwa menjadi suami bukan perkara mudah. Saat tuntutan mencari nafkah seolah mencekik leher di antara rongrongan kebutuhan hidup.. belum lagi ditambah tanggungan lain-lain. Tetapi bukan berarti mengabaikan peran istri di rumah, menekankan rasa lelah seolah hanya didominasi diri sendiri sebagai pencari nafkah tunggal, menjadi pembenaran untuk menunjuk siapa yang salah dan harus bertanggung jawab.

Apalagi sampai menuding istri yang tak tahu diri karena hanya bisa bernaung dari gaji suami. Padahal, ada hak istri yang Allah jamin darinya. Di antara penghasilan suami ada rezeki anggota keluarganya. Sudah menjadi kewajiban suami untuk menafkahi istri, bukan?

Sedih, ketika seorang suami mampu meninggikan volume suara. Menggertak. Mencaci maki. Merendahkan istri di hadapan anak-anaknya. Hanya untuk mencari pelampiasan, kambing hitam, atas ketidakmampuannya sendiri.

Menikah memang tidak sesederhana saat ekspektasi di awal. Berharap, bidadari yang dinikahi mampu menyuguhkan keindahan mutlak seperti yang diinginkan. Seolah menikah hanya akan berisi kesenangan semata, begitu dihadapkan dengan kesulitan ini dan itu, uring-uringan adalah tabiat. 

Ketika seorang lelaki berani mengajak menikah, seharusnya ia tahu, konsekuensi bahwa menikahi wanita yang ia pilih sama dengan mengambil alih peran orangtua si wanita yang jelas akan berpindah ke pundaknya.

Seharusnya setiap suami sadar betul, bahwa istri yang dinikahi adalah tanggung jawab penuh yang ada padanya. Bukan lagi pada kedua orangtua sang istri. Bukan pula pihak luar yang harus tahu persis apa kebutuhan sang istri yang tidak terpenuhi.

Menikah memang tak cukup hanya bermodal cinta dan rasa suka satu sama lain. Kehidupan berlimpah materi tanpa didasari ilmu juga riskan dengan ketimpangan dalam keluarga. Jika mapan saja kadang kala tak cukup menjadi kapal untuk menghantar sebuah keluarga dalam mengarungi biduk pernikahan. Apalagi yang jelas-jelas belum mapan dan tak berilmu. Tak berkeinginan untuk belajar dan memahami apa saja yang harus diperankan seorang suami selain dari mencari nafkah.

Ada kewajiban mendidik istri, mengajarkan ilmu agama. Memenuhi hak istri untuk dikasihi, disayangi, diperhatikan, dicintai, sama halnya seperti apa yang diperoleh ketika masih berada di pelukan orangtua.

Tak ada manusia yang sempurna, kita pun tak sedang menuntut pasangan untuk menjadi sempurna.

Hanya saja penyesalan menjadi lebih menyesakkan ketika seorang perempuan menyadari kekeliruan dalam hidupnya. Tatkala menyadari bahwa laki-laki yang dinikahi tak memiliki adab maupun akhlak yang baik dalam memperlakukan istri.

Ada suami yang memperlakukan istri hanya sebagai pakaian yang dikenakan saat ingin. Tak ada pemahaman bahwa fungsi pakaian itu adalah untuk terjaganya aib bagi satu sama lain. Tak sedikit suami yang gagal membina dirinya sendiri sehingga tak bisa memimpin dengan baik dalam rumah tangganya.

Istri-istri kalian itu adalah pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka. [QS. al-Baqarah 2:187]

Menikah tak sebercanda itu.. penuh cinta, banyak anak, dan hidup berbahagia, mati masuk surga. Tak sesederhana itu.

Banyak yang mapan, tetapi mapan saja bukan jaminan sebuah pernikahan akan berlangsung baik-baik saja. Banyak yang berilmu tetapi ternyata tak memiliki adab, hingga akhlaknya pun jauh dari tuntunan Nabi sebab Rasulullah adalah sebaik-baik teladan dalam potret rumah tangga yang dijalani. Adab dan ilmu, pondasi dari akhlak yang shalih. Diperlukan bagi suami untuk bisa memperlakukan istrinya sebagai teman sehidup se-surga, ibu dari anak-anaknya, murid yang harus dituntun menuju keridhaan-Nya, bukan sebagai beban karena ketidakmampuan.

Dear suami yang tak sempurna, dari istri yang juga tak sempurna.

Mitsaqan qhalitza adalah janji untuk menjadikan rumah tangga sebagai tangga menuju ridha dan jannah-Nya. Semoga aku tetap menjadi pakaian yang menutupi aib dan kurangmu, begitupun kamu yang menjadi pakaian untuk melengkapi lebih dan menutupi celaku.

Sakinah, mawaddah, warahmah, tak diperoleh hanya dalam sehari. Harus ada jam terbang yang teruji. Kita satu sama lain akan tertempa. Kadang pula berbeda suara, berbeda sudut pandang, berbeda cara, tetapi bukan untuk dipecah belah, melainkan tetap seiring sejalan dalam mengarungi bahtera. Mengutip perkataan Salim A Fillah dalam bukunya, saat pasangan adalah pakaian bagimu;

Mesra dalam kesetaraan, mesra dalam memberi dan menerima. Seperti dua pakaian. Saling menyentuh, saling melingkup, saling menjaga, dan saling menutup celah.


Jika ingin menyorot kekurangan maka memerlukan banyak sekali tambalan, sebab kekurangan itu sedemikian banyak. Tetapi jika hendak membangun komitmen, maka yang diperlukan hanya kehendak untuk terus belajar dan saling memahami. Memahami bahwa rumah tangga adalah ranah yang tak pernah sepi dari permasalahan, tetapi menjadi pengecut dan lari dari masalah takkan pernah menjadi solusi atau menyelesaikan masalah bahkan sesederhana apapun tampaknya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Saling menjaga, saling merawat, saling bersabar dalam lebih dan kurang.

Magelang, 5 November 2019
Copyright : @bianglalahijrah_

Sunday, 20 October 2019

Dari Stres Hingga Baby Blues: Dampak Buruk dan Cara Tepat Menghadapi Perlakuan Mom Shaming

13:37 5 Comments

Dampak Buruk dan Cara Tepat Menghadapi Mom Shaming-

"Anaknya jangan dikurung terus. Begitu keluar rumah jadi kayak burung yang lupa sangkar." | "Usia PAUD kenapa belum dimasukin sekolah?" | "Badannya kok kecil ya." | Pernah mendapat ujaran serupa? Itu hanya kalimat pembuka, sebab setelahnya akan ada kalimat menghamiki yang sengaja dilontarkan sehingga seorang ibu merasa disudutkan. Merasa disalahkan atas pilihan pengasuhan yang selama ini diterapkan.

Dalam realnya, masih banyak lagi komentar lain bernada negatif. Kalau dikumpulkan, rasa-rasanya tak ada kapasitas lebih untuk bisa menata hati tetap legowo menghadapi komentar julid dari orang-orang sekitar. Dari yang merasa dirinya paling tahu, mereka yang tak sadar telah berlaku mom shaming.

Mom shaming adalah tindakan mempermalukan seorang ibu karena merasa posisi dirinya lebih benar dalam perihal pola asuh. Beberapa orang tak segan-segan melontarkan ucapan yang bersifat perundungan (bullying), sinis, alih-alih memberi sebuah masukan justru terkesan lebih merendahkan.

Imbasnya? Seorang ibu hilang kepercayaan diri dalam mendidik buah hati. Tak sedikit yang stress, merasa tak becus, menyalahkan diri sendiri, sampai pada kemarahan yang tak terlampiaskan. Tentu saja akan berdampak pada waktu ia menghadapi buah hatinya.

Kemarin, ketika sedang menyusul ananda bermain. Kalimat serupa yang ada di paragraf pembuka melayang dari seorang bapak dengan anak satu seusia Aidan. Didukung  pula oleh ibu beranak 5 yang dengan jelas membuat perbandingan antara Aidan dan anak si bapak tersebut.

Geram? Iya. Bahkan sampai detik ini pun masih terasa mangkel. Dari kemarin aku menahan diri untuk tidak menangis. Betapa mom shaming kerap kali dilontarkan dari mereka yang merasa lebih tahu tentang apa yang benar dan apa yang mereka anggap belum benar. Padahal, mereka hanya membuat penilaian secara mentah tanpa mengetahui persis alasan maupun kesulitan seseorang di balik itu semua.

Hanya karena anak orang lain tidak serupa anak kita, bukan berarti orangtuanya telah salah menerapkan kedisiplinan. Hanya karena praktik yang kita terapkan berbeda cara dengan orangtua lainnya, bukan berarti kita lah yang paling benar dalam soal mendidik.

Setiap anak berbeda, memiliki keistimewaan tersendiri. Memiliki karakter hingga pola kebiasaan yang berbeda. Tentu saja menuntut penanganan yang berbeda pula. Antara satu anak dan anak yang lain tak bisa disamakan, apalagi dijadikan perbandingan. Saudara sedarah saja berbeda watak bukan? Meskipun lahir dari rahim yang sama.

Ada anak yang meski dilepas oleh orangtuanya, hanya akan anteng-anteng saja. Tetapi ada pula anak yang sedikit saja lepas pemantauan, sudah berpindah ke ujung jalan. Orangtua tentu lebih memilih menjaga keamanan ketimbang anaknya cedera.

Ini dilema bagi orangtua yang memiliki anak super aktif. Hal ini pun bukan perundungan pertama yang aku alami setelah menjadi ibu. Hingga berdampak pada baby blues dan benci melihat anak sendiri. Mengapa? Karena perlakuan mom shaming yang didapat dari orang-orang sekitar justru tak membangun sama sekali. Sikap dan cara mereka hanya mendatangkan perasaan terintimidasi. Disalahkan, dijatuhkan, diremehkan, sama sekali tak beroleh dukungan.

Pernah di satu waktu aku menangis sejadi mungkin, berhari-hari, marah pada bayiku, marah pada suami, marah pada diri sendiri. Fase dua tahun pertama setelah menjadi ibu dan berjuang mati-matian melawan syndrome baby blues. Komentar julid orang lain sukses menghempasku ke dasar paling menyakitkan sebagai seorang ibu yang tak bahagia dengan peran keibuan-nya.

Karena itu, ketimbang melontarkan komentar yang barangkali akan melukai orang lain.. lebih baik diam dan tahan untuk diri sendiri.

Kita tak pernah tahu kesulitan macam apa yang orang lain hadapi. Kita tak pernah tahu alasan apapun di balik keputusan yang orang lain ambil. Kita tak tahu persis, tantangan bagaimana yang ia lalui dalam keseharian ketika mendidik buah hati.

Tak adil jika hanya melihat sepintas, kita membuat penilaian dengan garis keras. Seolah-olah, orang lain tak berbuat lebih atas dirinya maupun anaknya.

Mirisnya, mom shaming sampai saat ini masih menjadi tradisi yang tak bisa lepas dari keseharian orang-orang. Tak hanya bersumber dari orang yang tak dikenal dekat atau pun tetangga. Orangtua, ipar, suami, bahkan mertua juga berpotensi sebagai pelaku mom shamers yang menuding seorang ibu tak pernah becus atas perannya.


Padahal, menjadi ibu adalah pekerjaan terberat sepanjang masa. Perlu digaris bawahi, tak pernah ada ibu yang sempurna dalam perannya, kecuali ibu yang sepenuh jiwa raga mendedikasikan hidupnya teruntuk keluarga. Memerlukan waktu dan proses belajar tanpa henti. Tak ada ibu hebat yang serta merta menguasai segala hal hanya dalam sehari.

Ibu yang beranak lima bisa saja merasa lebih paham ketimbang ibu yang beranak satu, tetapi kondisi di lapangan mungkin berbeda. Situasi serta kondisi yang dihadapi juga tak sama. Sebaiknya berhenti membuat penghakiman atas orang lain dan mengangkat diri sendiri dengan jalan menjatuhkan seseorang.

Jadi, hanya karena orang lain tak sesuai dengan prinsip yang kita lakoni. Bukan kita yang berhak menentukan arah orang lain jika kita sendiri tak bisa bertanggung jawab atas kesulitan-kesulitannya. Bahkan tak sedikitpun peran yang kita ambil dalam hidup orang tersebut. Lantas, hak apa yang membuat kita berhak menghamiki orang lain?

Ini self reminder pula untukku. Menjadi ibu yang kerap beroleh perlakuan mom shaming mengajariku satu hal penting, ketimbang mencecar keputusan orang lain, lebih baik posisikan diri sebagai pendengar. Kadang, orang lain tak butuh masukan jenis apapun. Didengar saja sudah cukup. Tak perlu berkomentar lebih jika tak tahu menahu, sebab bisa saja anggapan tersebut salah.

Setiap ibu berhak berbahagia, setiap ibu berharga, setiap ibu istimewa dan berjuang untuk anaknya.

Jaga lisan, dari kebiasaan menyakiti orang lain.

Karena orang lain punya hak atas bagaimana akan menjalani hidupnya.

Orang lain berhak berbahagia atas apapun keputusan yang diambil, maka tak perlu menghakimi.

Aku pernah berjuang sembuh dari baby blues, aku juga berada di posisi sebagai ibu yang menerima perlakuan mom shaming. Karena itu pula beberapa upaya hadir untuk mejaga diri tetap legawa dalam menjalani peran, terlepas banyak penilaian yang tak sejalan.

1. Jawab atau Tinggalkan

Ada situasi ketika kita perlu menjawab semua dugaan yang mereka lempar. Jawab kalem, sesuai apa yang memang terjadi di dalam keseharian. Alasan apa saja yang memaksa kita untuk menerapkan pilihan. Jika mereka masih mengolok-ngolok, nge-gas dengan dalih seolah-seolah cara kita lah yang keliru, senyum kemudian tinggalkan.

Kita tak perlu berlarut-larut berada di antara orang-orang yang jelas berusaha menyudutkan. Sebelum suasana hati bertambah tak enak, tarik diri untuk keluar dari lingkaran. Kamu berhak untuk menjaga perasaan sendiri ketika orang lain berusaha menyakiti.

2. Ambil sebagai refleksi diri

Ada jenis komentar yang harus kita ambil sebagai pertimbangan. Tetapi ada pula yang harus masuk telinga kiri lalu keluar telinga kanan. Ada komentar yang bersifat membangun, ada pula komentar yang bersifat menjatuhkan.

Pilah dan pilih mana yang harus didengar mana yang harus diabaikan. Ambil sebagai koreksi untuk perbaikan diri. Buktikan pada mereka bahwa anggapan mereka tidak lah benar.

3. Menyadari keterbatasan diri

Ketika orang lain beranggapan begini dan begitu, seolah-olah menjadi seorang ibu diwajibkan sempurna tanpa cela. Sadari bahwa tak ada ibu yang sempurna sekeras apapun kita berusaha. Karena manusia memang sebatas berikhtiar. Setidaknya kita tak melemah hanya karena dijatuhkan orang lain. Kita tetap berupaya dengan segenap jiwa raga untuk terus memberikan yang terbaik.

Ibu yang sempurna hanya ada dalam patokan masing-masing orang, tetapi dalam kenyataanya, tak ada yang betul-betul sampai ke tahap itu. Ya, karena kita bukan malaikat. Ibu juga manusia biasa. Kadang kala berlaku salah. Tetap semangat :)

4. Lihat sisi baiknya dan mulai lah memilih lingkungan

Kita berhak memilih lingkungan pertemanan yang sehat. Sekiranya tak mendatangkan manfaat, menarik diri akan jauh lebih baik. Salah satu tanda pertemanan sehat baik itu antara ibu-ibu, ketika tak ada sikap saling melemahkan peran orang lain apalagi terbiasa membuat perbandingan.

Aku juga membuat keputusan untuk tidak sering-sering berinteraksi dengan orang yang terbiasa melakukan mom shaming. Sekali, dua kali, masih bisa dimaklumi. Tetapi kali ketiga, barangkali memang demikian lah karakter individunya. Jaga jarak, jaga aman, dari pada kisruh dan hilang kewarasan. Kita berhak bahagia kok, jika niat silaturahmi tak lagi jadi sesuatu yang sehat, memilih circle lain yang lebih positif tak ada salahnya.

5. Jangan lakukan hal serupa pada ibu lainnya

Berangkat dari pengalaman pribadi, tak nyaman bukan ketika kita disudutkan oleh orang yang tak tahu menahu? Paling tidak, dari mengalami sendiri kemudian muncul rasa empati. Kita jadi lebih tahu bagaimana perasaan orang lain jika kita yang berlaku demikian.

Belajar dari pengalaman, mom shaming itu tak sama sekali mendatangkan manfaat bagi orang lain. Dengan memutus rantai buruk itu, kita berkontribusi untuk mengurangi potensi mom shaming antar sesama ibu. Dari pada saling menjatuhkan, lebih baik saling memberi dukungan.

6. Bersyukur dan berpikir positif

Seperti apapun komentar orang lain terdengar menyakitkan, kita tetap akan bersyukur dengan apa yang dimiliki. Seorang buah hati yang dinanti kehadirannya. Pasangan yang tetap memberi dukungan. Hal-hal positif lain yang dapat kita lakukan bersama buah hati. Tak perlu menilik isi piring orang lain jika hanya mendatangkan dengki dan mengikis rasa syukur dalam diri.

Yakini, bahwa apa yang kita miliki tak kalah baik dengan apa yang orang lain punya. Apa yang orang lain punya, adalah rezekinya. Rezeki kita pun sudah menjadi milik kita dan tak mungkin tertukar.

7. Ambil andil jika melihat mom shaming di depan mata

Dengan guyon dan bahasa yang tak terkesan menggurui, ambil posisi tengah. Beri edukasi pada orang-orang tersebut, bahwa apa yang mereka lakukan adalah tindakan mom shaming. Banyak orang yang tetap mengulangi perlakuan serupa karena tak tahu potensi apa yang didatangkan akibat ucapan mereka.

Jelaskan bahwa setiap ibu tetap luar biasa, setiap ibu berjuang di ranah masing-masing, tanpa harus merendahkan satu sama lain.

8. Recharge pengetahuan dan belajar lebih banyak tentang parenting

Jalan paling bijak untuk mematahkan argumentasi mereka dengan menjadikan diri sendiri lebih baik, dengan terus belajar. Kita melawan anggapan mereka dengan bukti dan pengetahuan. Bahwa apa yang kita terapkan sudah berlandaskan ilmu, bukan asal jalan.

9. Antara orangtua dan mertua

Banyak orang yang akan terlibat atau berusaha terlibat dengan pengasuhan yang kita ambil. Sebagian di antaranya bersikap senioritas dan terkesan meremehkan sebab menganggap kita tak tahu lebih banyak dari pengalaman yang telah mereka alami. Tetap terima kendati bertentangan dengan apa yang kita pelajari.

Tak sedikit cara dan keyakinan orangtua tak sejalan dengan fakta ilmiah saat ini. Salah satunya penggunaan bedong pada bayi. Dulu, ketika kami dikunjungi orang tua dan Aidan dibedong kencang.. kami tetap menerima itu demi menyenangkan orang tua dan menghargai masukan mereka. Baru setelah kepulangan orang tua atau pun sanak keluarga, bedong itu buru-buru kami longgarkan.

Pun ketika ada yang tiba-tiba memukulmu dengan komentar buruk, balas dan jelaskan bahwa kamu sudah berusaha yang terbaik dari apa yang sekilas tampak di permukaan :)

10. Peran dan kehadiran suami yang terpenting

Dari pengalamanku, baby blues seperti racun yang mencekik diri sendiri. Belum lagi jika suami tak mengerti sama sekali. Aku berjuang sembuh, kendati bukan perkara mudah untuk melawan diri sendiri. Alhamdulillah, semakin ke sini.. komunikasi menjadi jembatan paling penting antara suami dan istri untuk beroleh keseimbangan dalam hubungan dan titik temu untuk apapun permasalahan.

Sepelik apapun situasi, kehadiran pasangan ada kalanya menjadi kekuatan tersendiri. Apalagi suami yang siap pasang badan. Ini sangat berpengaruh pada kesehatan mental sebagai ibu. Pasti rasanya hancur, ketika banyak orang yang menudingkan telunjuk tetapi suami hanya diam menyaksikan istrinya menerima rongrongan.

Akan berbeda jika suami siap pasang badan dan menjelaskan keadaan sebenarnya. Biasanya, baik itu orang lain atau pun orang-orang terdekat, mereka akan lebih sungkan untuk berkomentar blak-blakan di hadapan suami. Apalagi jika suami memang orang yang tahu menempatkan diri. Orang akan berpikir ulang untuk menodong kita dengan prasangka buruk mereka.

Intinya, peran dan dukungan suami menjadi penguat bagi kita para istri sekaligus ibu. Jangan sungkan ceritakan pada suami pengalaman tak menyenangkan yang dialami, agar suami bisa jaga-jaga untuk melindungi.


______________________________

Semoga postingan ini bermanfaat. Putus rantai mom shaming dimulai dari diri sendiri. Setiap ibu berhak berbahagia untuk terus bisa mendidik dengan cinta dan sepenuh hati :)

....

Magelang, 20 Oktober 2019
Copyright : @bianglalahijrah

Saturday, 19 October 2019

Hidup Bercerita Tentang Luka

22:05 0 Comments
"Karena tidak seorang pun dapat melalui kehidupan tanpa membawa bekas luka di pintu keluar." [Mark Manson]


Di usia yang tak lagi muda, ia tetap menyongsong hari dengan rutinitas sama dari pagi ke malam, dari bangun ke tidur. Baginya, mengeluh takkan membasuh peluh atau mengganti rasa lelah. Maka bekerja lebih giat, pasang senyum ke seantero jagad, sampaikan pada dunia bahwa pundak dan hatimu takkan runtuh meski bertubi uji merusuh. Itu bukan apa-apa bagi wanita paruh baya tersebut. Sebab keyakinannya telah kokoh, "Gusti Allah niku mboten sare. Nrimo ing pandum, insyaa Allah uripe sae.."

Mataku berkaca, kusebut ia dengan panggilan Budhe. Wanita tangguh, lebih kokoh dari bebatuan karang di tepi laut. Ujian yang menampar hidupnya bukan lagi perkara remah semata. Namun tapaknya tak jua mengisyaratkan gentar. Sebab baginya, itu sudah iradah-Nya.

______________


Muda, belia. Menikah dengan lelaki pilihan yang ia cinta nyaris di sepuluh tahun berjalan, dari awal pernikahan bermula. Bukan hidup jika tak memberimu pilihan. Tetapi tak selalu pilihan itu memberikan kebenaran maupun konsekuensi baik. Manusia adalah tempat salah dan khilaf. Ia pun mengakui itu. Ketika jalan salah ditempuhnya sebagai bagian dari garis takdir yang akan dijalani. Ia pikir sesaknya akan lepas, tetapi justru kian menderanya dalam sesal.

Baginya terluka adalah hal biasa, meronta pun tak lagi upaya sebab akan percuma. Sejak lelaki yang ia sebut bapak kembali menoreh luka bagi sang ibu. Ia menimbang garis seperti apa yang akan ia hadapi di dalam pernikahannya. Tawa kah atau airmata?

"Abang minta maaf, Dik." | Kalimat yang seharusnya membuka simpul yang menyesakkan dada tetapi justru terasa getir. Lirih perempuan belia itu berujar, "Terima kasih sudah seperti bapak."

_______________


Dipandanginya foto anak-anak beserta istri yang tersenyum seolah menatapnya dalam wajah masygul. Jauh nian jarak yang memisahkan mereka. Di zaman itu, teknologi bukan sebuah kemewahan yang mampu dinikmati orang awam selain kaum-kaum bernasib bangsawan.

Selembar foto pun menjadi pelepas rindu, sembari membayangkan sapa lembut istrinya. Gelak tawa anak-anaknya. Matanya sayu berkaca. Rindu, ingin pulang. Tetapi jeruji besi yang mengungkung terasa kian menjauhkan jarak untuk pulang menuju rumah.

Ia dengar, empat bulan pasca mendekam.. istrinya melahirkan anak ketiga mereka.

Sebelum insiden penangkapan itu, sebuah pasar menjadi heboh dan tumpah ruah dengan jejalan manusia. Pasalnya seorang bapak mencuri satu karung beras dari sebuah toko klontong milik toke cina. Ada puluhan warga yang menyerang si bapak secara membabi buta. Tanpa mau tahu alasan di balik itu. Mereka terus melayangkan tendang beserta tinju.

Sedang si bapak pasrah, wajah anak beserta istri membayang. Air matanya merembes tanpa tahu berbuat apa. Tak ada uang lagi. Tak ada apa-apa lagi. Tak ada pula yang peduli. Si bapak terpaksa mencuri lantas mendekam di balik jeruji. Sungguh ironi.

________________

Entah mengapa konten tulisan yang sudah kupersiapkan sejak pagi justru kutepikan begitu saja. Pikiranku tergelitik untuk menulis ini. Teruntuk para sosok-sosok tangguh. Orang-orang yang sejatinya adalah pahlawan, pejuang yang tak kenal patah arang.

Seorang wanita yang menua dengan segenap cita-cita di penghujung usia, yakni ridha Rabb-nya.
Seorang istri yang mengiklaskan kesalahan suami meski hatinya dirajam luka bertubi-tubi.
Seorang bapak yang buntu mencari sangu, tetapi tak ada ladang yang bersedia digarap. Siapa yang sudi memberinya beberapa perak uang, untuk membawa pulang bingkisan penunda lapar bagi orang di rumah?

Tulisan ini lahir untuk para pejuang tangguh di luar sana, mungkin pula di sekitar kita.

Yang memilih untuk tetap bertahan dalam kondisi paling riskan sekalipun.

Yang memilih untuk tetap bergerak maju walau jalan berkerikil batu. Tajam, melukai.

Untuk siapapun yang memilih mendedikasikan jiwa raga, mengikhlaskan luka, dan tetap menapak jalan yang ada di depan sana.. bersama secebik asa bahwa Tuhan tidak mungkin salah memilih pundak. Bahwa ujian yang datang tak mungkin melebihi batas kemampuan hamba.

Apapun itu, sesulit bagaimanapun jalanmu, terima kasih untuk tidak menyerah. Terima kasih untuk menjadi sebaik-baik penebar hikmah beserta ibrah. Ketika banyak orang yang kemudian akan belajar, tanpa harus mencecap rasa serupa.

Dan, di waktu ketika jiwa sedemikian lemah.. menoleh lah pada mereka, yang menggenggam bara bersama cita kemudian terus melangkah. Tak ada alasan untuk berbalik ke belakang, satu-satunya arah tuju adalah bergerak maju.

Teruntuk siapapun yang tengah berjuang. Kalian hebat, kalian luar biasa.

Kita tidak memilih kehidupan yang seperti ini; kita tidak memilih kondisi yang sangat mengerikan ini. Namun kita harus memilih bagaimana untuk menghidupinya; kita harus memilih bagaimana cara untuk bisa hidup dengan semua keadaan ini.

_____________________________________

Kita pun memilih tetap berdiri kuat. Untuk sekali lagi memeluk diri sendiri, meyakini hari esok akan jauh lebih baik. Mudah; hanya ketika kita memilih percaya dan tetap berusaha.

Inspirasi yang lahir dari menyusuri tiap jengkal perjalanan pulang. Berpapasan pada wajah-wajah lelah tetapi tak kenal kata menyerah. Seorang ibu yang menggendong ananda, di ingatanku masih terekam jelas wajahnya. Mereka masih di pinggiran jalan yang sama, menunggu iba manusia.

Magelang, 19 Oktober 2019
Copyrigt : @bianglalahijrah

Friday, 18 October 2019

Sebelum Gawai Merenggut Banyak Hal : 8 Cara Mencegah Anak Kecanduan Gadget

20:10 2 Comments

Beberapa bulan yang lalu, sebuah video berseliweran di Instagram. Tak sedikit orang yang membagikan video serupa. Video ini menceritakan tentang fenomena manusia dengan gadgetnya di masa kini. Ketika banyak orang yang tanpa sadar melepaskan kehidupan yang jauh lebih berarti demi kemewahan yang ditawarkan oleh teknologi.

Banyak orang yang kemudian terobsesi dengan dunia kecilnya, yang dibangun lewat perantara gawai beserta akses data Internet. Tanpa sadar hilang kepedulian, muncul kecurigaan antara satu sama lain, memudarnya kebersamaan yang seharusnya terbentuk kian lekat. Baik itu antara suami ke istri, istri ke suami, maupun anak-anak dengan orangtuanya.

Video ini hanya berdurasi selama satu menit. Tetapi telak menampar kesadaran setiap individu yang telah meluangkan waktu meng-klik video tersebut. Era digital yang katanya memberi banyak kemudahan ternyata juga merenggut sisi lain yang seharusnya kita dekap dengan hangat.

Pemberitaan terkini seperti menambah fakta baru yang justru membuat miris, terutama aku sendiri sebagai seorang ibu. Diberitakan bahwa salah satu rumah sakit jiwa yang ada di Cisarua, Jawa Barat, saat ini tengah menampung banyak kasus ODMK (orang dengan masalah kejiwaan). Yang membuat sedih, pasien-pasien tersebut didominasi oleh anak-anak dari usia lima tahun hingga delapan tahun.

Hati orangtua mana yang tak masygul melihat buah hatinya terkungkung dalam sepetak ruang di kamar rumah sakit jiwa? Tetapi tak ada yang perlu dituding untuk bertanggungjawab lebih soal ini. Orangtuanya lah yang tahu persis. Tindakan paling tepat adalah merelakan ananda untuk beroleh penanganan segera. Menyadari betul kekeliruan dalam bentuk apa yang sudah orangtua perbuat.

Kerap kita merasa telah memberikan hal yang mudah bagi anak. Sesuatu yang kita rasa akan baik-baik saja. Tetapi ternyata, hal itu lah yang pelan-pelan menjadi lumpur hidup dan menarik ananda pada jurang yang lebih dalam.

Sebelum bertambah korban baru, orangtua punya andil besar dalam fenomena ini. Kita tentu tak menyangka bahwa gadget akan menjadi candu yang merusak kejiwaan ananda. Apakah ananda kita yang salah? Mari ingat lagi, orangtua lah yang lebih dulu memperkenalkan gawai tersebut dengan niat memudahkan urusan ayah bunda. Lantas, apakah gadgetnya yang salah? Benda yang ketika kehabisan nyawa tak bisa merecharge baterainya sendiri kecuali kita yang memasang kabel charger pada colokan listrik, tentu tak tahu menahu jika ternyata dirinya adalah benalu.

Lagi dan lagi, menyadari posisi sebagai orangtua adalah kunci. Barangkali kita keliru. Barangkali kita terlalu pewe. Mungkin kita sendiri lah yang menjerumuskan ananda. Anak-anak yang seharusnya menikmati masa bermain, eksplorasi, tertawa dan bahagia. Tetapi justru mendarat di bawah atap rumah sakit jiwa.

Remaja yang seharusnya tekun belajar demi merajut mimpi di masa depan, harus direhabilitasi dini.

Kita sedih sebagai ibu. Pemberitaan yang tayang di layar kaca menjadi bukti. Gadget bukan lagi perkara sepele dengan dalih "yang penting bocahe anteng..".

Lantas, ketimbang merundung diri dan merasa gagal. Apa yang harus kita perbuat?

1. Introspeksi diri

Mengingat lagi moment pertama ketika ananda mengenal gadget untuk pertama kali. Jika kita yang berkontribusi untuk itu, minta maaf pada diri sendiri dan renungkan kembali. Kita selaku orangtua bukan malaikat, sebatas manusia yang memiliki kekurangan di sana-sini. Sebelum menjadi orangtua, tak ada sekolah khusus untuk menjadi orangtua yang baik.

Kita akan melakukan beberapa hal salah atau keliru. Sebab itu kita dituntut untuk belajar terus menerus. Anak-anak lah yang kemudian mengajarkan banyak hal, bahwasanya kita tertempa dan menjadi lebih baik karena ananda sendiri yang menjadi guru di balik itu. Kita lah yang beroleh banyak dari ananda. Kita lah yang sungguh-sungguh belajar setelah kehadiran ananda.

Maafkan diri, kemudian benahi.

2. Minta maaf pada ananda

Sejak hamil Aidan, aku banyak membaca buku-buku parenting. Dari buku yang kubaca itu lah, aku tahu bahwa ketika anak berbuat salah. Saat anak menjadi sulit diatur. Barangkali itu adalah alarm dari Allah teruntuk kita orangtuanya. Waktunya meminta maaf kepada ananda. Barangkali ada kekhilafan yang luput dari kesadaran kita selaku orangtua. Minta maaf pula pada Dzat yang menitipkan ananda sebagai amanah. Tersebab kelalaian kita, anak-anak berbanding terbalik dari apa yang diharapkan.

3. Bangun ruang untuk kembali merekatkan kedekatan antara anak dan orangtua

Jika anak sudah terlalu adiktif pada penggunaan gadget, mulailah dengan membuka komunikasi yang terbuka. Baik antar pasangan. Maupun kepada anak-anak. Ciptakan waktu kebersamaan yang lebih memaksimalkan bonding terbangun dengan baik. Pada saat itu, beri anak pemahaman jika penggunaan gadget yang tak baik hanya akan berakibat buruk baginya. Sampaikan dengan bahasa halus agar anak merasa dirangkul, bukan dengan digertak apalagi dihukum keras.

Cara yang salah hanya akan menjadikan anak semakin stress, marah pada orangtuanya, berimbas pada anak yang semakin sulit diatur. Sebab mereka merasa haknya dicabut paksa, orangtuanya adalah benteng yang harus dilawan. Ingat, semakin kencang kita melempar bola ke dinding maka semakin kencang pula ia berbalik memantul.

Rangkul ananda, tunjukkan bahwa yang ia butuhkan saat itu adalah kehadiran orangtuanya sehingga ananda pun merasa nyaman dan manut saat diberi wejangan. Rangkul dan bonding pada anak.

4. Beri alternatif lain dan alihkan perhatian anak dari gadget

Jika ayah atau bunda langsung menarik paksa gadget dari genggaman anak, yang terjadi justru perlawanan. Anak menangis, bahkan tantrum. Ingat kejadian saat Agustus lalu? Ada anak yang mengamuk dan merusak pintu hanya karena pemadaman serentak dan gadget kesayangannya mati.

Sebegitu candu hingga mempengaruhi emosional sang anak.

Kembali lagi, seberapa sibukkah kita hingga tak sempat memantau waktu anak-anak?

Beri alternatif untuk mengalihkan perhatiannya. Seperti kisah seorang ayah di Tiongkok yang menciptakan berbagai jenis permainan kreatif dari bahan kardus bekas. Ia tak ingin masa kecil anaknya terenggut teknologi lebih dini. Karena itu ia menciptakan berbagai permainan handmade mulai dari tetris, maze game, marble run, papan labirin hingga ke track mobil-mobilan.

Kalau ingat zaman kecilku dulu, begitu ceria dengan permainan anak-anak tradisional yang saat ini justru kian memudar. Sedikit anak yang masih mengenal permainan tradisional, sekalipun itu yang berasal dari daerah sendiri. Anak-anak justru berbalik pada game online maupun aplikasi game yang ada di gadget.

Bagaimana jika orangtua mengajak anak bermain ala permainan tradisional yang dulu pernah dimainkan saat kecil? Seperti bola bekel, gundu, petak umpet, congklak, lompat tali, gobak sodor, panggalan, dan lain-lain. Apa yang masih terekam dalam ingatan ayah bunda?

Sembari melestarikan kembali permainan tradisional khas anak-anak daerah, kita juga meminimalisir penggunaan gadget dengan mengalihkan fokus anak ke hal lain.

Untuk kami sendiri, membaca buku cerita adalah trik jitu untuk membuat anak tak melulu beralih ke gadget. Dan itu berhasil, secara tak langsung kita juga menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku dan literasi. Cerita selangkapnya bisa di baca di sini : [Manfaat Baik Membacakan Anak Buku Cerita Sejak Dini].

5. Arahkan talenta dan pahami minat anak

Contoh konkrit dari Om dan Tante di Batam, sejak kecil mereka tahu ananda pertama mereka gemar pada permainan sepak bola. Karenanya, minat dan talenta itu mereka asah dengan memberi dukungan, apresiasi, termasuk sarana yang memadai.

Hingga kini, ketika anak mereka remaja. Rizky berhasil mengikuti perlombaan sepak bola mewakili kota Batam hingga ke tingkat provinsi. Baru-baru ini mereka bertolak ke Jakarta.

Membanggakan bukan? Dari hobby ternyata juga bisa menghasilkan.

Tak ada salahnya menengok apa yang menarik minat anak dan kecenderungannya saat ini. Tak melulu anak-anak harus lahir dan mengikuti obsesi orangtuanya.

6. Jadilah pedoman sekaligus idaman bagi anak

Anak sekarang pintar loh. Ada anak yang menjawab ketika dilarang bermain handphone. Jawabannya ringan, "Ayah sama bunda aja mainan hp kok, kenapa kakak nggak dibolehin?"

Jleb! Barangkali benar, anak adalah pantulan dari orangtuanya. Apa yang kita contohkan, itu yang akan dia lakukan. Apa yang anak lihat, itu yang akan ia tiru. Anak itu peniru paling ulung.

Mulailah dengan bersahabat dengan anak. Mendidik dengan cinta, sebab yang anak butuhkan adalah kasih sayang serta perhatian dari orangtuanya.

7. Sapih gadget

Mengurangi durasi secara perlahan, sembari terus memahamkan anak. Lakukan secara konsisten hingga anak benar-benar dapat terlepas dari pengaruh adiktif pada gadget.

8. Konsultasikan pada psikolog anak

Sampai di tahap ketika candu gadget yang terjadi pada anak sudah melewati batas wajar, segera bawa ananda untuk dikonsultasikan pada orang yang berpengalaman soal ini. Satu upaya yang bisa orangtua lakukan untuk menyelamatkan anak, sebelum keadaan menjadi lebih tidak terkendali. Tetap berpikiran positif, berkata baik, dan langitkan doa-doa yang baik.

Tahan gerutu agar tidak melompat keluar, karena ucapan ibu adalah doa bagi anak-anaknya.

.................

Postingan ini tak lebih sebagai pengingat bagi diri. Dalam realnya, aku juga belajar terus menerus untuk membersamai balita kami di rumah. Aidan Fayyadh Al-Fatih yang saat ini berusia empat setengah tahun. Alhamdulillah, ketergantungan pada gadget bisa berkurang. Bukan berarti Aidan tak lagi menyentuh smartphone milik orangtuanya, hanya intensitasnya lah yang berkurang. Dalam seminggu, maksimal dua sampai tiga kali sesuai waktu yang kami sepakati bersama.

Saat ini, justru ketika Aidan minta izin menyentuh gadget.. begitu kami bilang tidak, biasanya Aidan akan langsung mengurungkan niat. Jadi memang bertahap, tak serta merta dipisahkan begitu saja. Karena tadinya ananda kami juga sempat kecanduan pada video kartun yang ada di youtube. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa kebiasaan menonton youtube seharusnya tidak diberikan saat ini.

Tak ada orangtua yang sempurna, pasti ada saja kekurangannya. Sekalipun kita merasa sudah melakukan yang terbaik bagi anak, baik menurut kita belum tentu baik untuk anak. Jadi yang dapat dilakukan adalah terus belajar. Berbenah lagi, jangan berpuas diri. Sebab peran ini lah yang kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Semoga anak-anak kita menjadi anak yang shalih dan mushlih, kelak sebaik juga setinggi doa yang dilangitkan orangtuanya. Aamiin.


Semoga bermanfaat :)

_______________________________

a remind my self

Magelang, 18 Oktober 2019
Copyright : @bianglalahijrah
");