Tuesday, 17 July 2018

Kita Hebat, Tak Ada yang Saling Melebihi Satu Sama Lain

23:37 0 Comments
Tak ada yang lebih dari siapapun. Entah itu bahagia, senang, sedih, sakit, sulit, apapun. Karena setiap kita Allah sudah berikan porsi masing-masing. Setiap kita sedang berjuang di ranah masing-masing. Perlu diingat, segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Jangan mempertanyakan mengapa orang lain harus begini dan begitu saat kita merasa mampu melewatinya. Atau merasa jauh lebih baik darinya. Ingat, Allah bahkan menakar kemampuan seseorang sesuai tingkat ujian yang diberi. Engkau, aku, tak ada yang melebihi sesiapa. Kita sama-sama kuat insyaa Allah. Kuat dan hebat di ranah masing-masing. #copas dari status Watshapp pribadi.

Sebuah renungan, pengingat, untuk diri sendiri.


Kadangkala kita akan duduk berdiskusi dengan seseorang yang ternyata mengalami kisah yang hampir serupa dengan apa yang sudah dialami. Sepanjang bercerita tak jarang ada yang merasa atau menganggap bahwa kisahnya jauh lebih pilu dari lawan bicaranya. Merasa bahwa mungkin dialah orang yang lebih kuat untuk mampu melewati ujian yang datang padanya, saat di sisi lain ada orang yang memilih jalan lain. Ketika beranjak menjadi pilihan selain bertahan.

Aku yakin, Allah tak pernah salah memilih siapa orang yang akan menjalani skenario tertentu yang sudah Ia tulis dalam kitab kehidupan setiap hamba. Di buku itu, masing-masing kita sudah diberikan garis hidup yang berisi takdir hidup maupun mati. Kita masing-masing beroleh peran tersendiri. Allah menempatkan kita di ranah masing-masing. Jika pun serupa kisahnya, tetapi nyaris tak ada yang menyerupai persis sama. Baik waktu, tempat, maupun cara kejadiannya. Terlebih pelakunya jelas berbeda.

Kita tak bisa merasa diri adalah orang-orang pilihan yang Allah khususkan untuk ujian tertentu hingga mampu melewatinya. Sebab, kekuatan itu pun datangnya dari Allah. Bukan kita yang hebat, tetapi Allah yang memampukan kita untuk melewati setiap inci demi inci ujian tersebut.

Kita juga tak bisa menganggap orang lain lebih lemah, tatkala ia melalui kisahnya tidaklah sebaik kita melalui kisah diri sendiri. Kita tak bisa menghakimi orang lain untuk keputusan-keputusan yang telah ia ambil, ketika kita sendiri tak pernah ada di saat ia benar-benar jatuh dan kesulitan. Di masa sewaktu ia benar-benar membutuhkan uluran tangan orang lain.

Tak ada yang melebihi sesiapa. Kau tak sedang melebihiku. Aku tak sedang melebihimu. Tak ada yang lebih melampaui batas apapun untuk hal-hal yang memang sudah Allah tetapkan. Kita sama-sama pelakon. Hanya tokoh yang berperan, sekali lagi, di ranah masing-masing. Kita sama-sama sedang berjuang. Berjuang dengan kehidupan diri sendiri. Berjuang dengan apapun kesulitan yang pasang surut hadir begitu saja. Berjuang untuk meraih keridhoan Allah untuk dapat mencicipi nikmat surga.

Bagaimana mungkin kenikmatan hakiki itu dapat teraih jika masih ada secuil kesombongan di dalam dada? Merasa diri sendirilah yang paling mampu. Paling bisa. Paling hebat.

Allah memberi kita permasalahan untuk dipecahkan. Ujian untuk naik ke tingkat selanjutnya. Masalah untuk menjadi dewasa. Dan yang tak kalah penting, hal-hal itu yang dapat menghapus kesalahan-kesalahan diri yang disengaja atau tidak. Hal-hal itu yang akan menambah derajat ketakwaan diri. Tanpa harus membumbui perasaan merasa 'lebih' dari sesiapa untuk soal apapun itu.

Self reminder. Di setiap apa yang kutulis ini tetap menjadi pengingat bagi diri sendiri. Termasuk kali ini. Jika barangkali, ada perasaan lemah. Terendahkan. Atau bahkan ingin mencoba untuk meninggi. Semoga Allah ampuni setiap apa yang terbersit di dalam hati maupun dari ucapan juga prilaku.

Kadang hal-hal sepele begitu mudah mengotori hati. Mudah sekali.

Jadi, mari tetap saling menghargai peran atau kisah juga pilihan masing-masing. Tanpa perlu merasa lebih dari yang lain. Allah beri kita porsi yang takkan mungkin dimiliki orang lain begitupun sebaliknya. Jika pun dalam kesulitan dan kesakitan, kita pada akhirnya mampu melewatinya, itu karena Allah yang memampukan. Bukan karena kita hebat. Ingat, Allah kuasa hamba tak kuasa. Segala sesuatu hanya jika Allah telah memberi ketetapan untuk itu.

Kita hebat. Kita kuat. Kita sama-sama luar biasa. Tetapi di ranah masing-masing. Dengannya Allah tinggikan derajat, namun bukan untuk merendahkan orang lain. Bukan untuk memandang orang lain tak lebih baik dari diri sendiri.

"Your wanting people to know your specialness is a proof for your lack of truthfulness in your slavehood." [Al-Hikam]

Semoga bermanfaat πŸ™

© @bianglalahijrah_
Magelang, 17 Juli 2018.

Monday, 2 July 2018

Resep : "Ayam Geprek" yang Praktis, Mudah dan Lezat

20:50 0 Comments
Assalamualaikum, welcome Juli!!! Postingan kali ini mau bagi-bagi resep masakan, salah satu kuliner yang lagi hits banget saat ini. Aku dan suami juga pecinta berat sama kuliner ini, tiap ngetrip ke mana pasti yang dicari resto atau rumah makan yang ada menu "Ayam Geprek"-nya. Sampai-sampai Aidan nyebut semua masakan ayam dengan sebutan ayam geprek sekalipun yang dimakan adalah ayam rendang 😁

Tapi yaa, dari semua tempat yang kami kunjungi sebagian masih di luar ekspektasi. Baik penyajian sampai di level kelezatannya. Sejauh ini, ada satu resto yang penyajian dan rasanya masih cukup konsisten, kebetulan pertama kali kenal "Ayam Geprek" juga di resto ini. Andalan tempat belanja keluarga, itu tuh yang nggak jauh dari Gardena. Tepatnya di alun-alun Utara, bernama Trio Plaza.

Eh tapi, ada satu lagi tempat di Magelang yang memang rekomendet dengan menu Ayam Geprek yang lebih bervariasi. Ada di Prekju, dengan menu ayam geprek yang dikasih lumeran keju di atasnya. Ada pilihan prekjudar juga kalau nggak salah, ayam geprek dengan tambahan telor dadar. Dulu pas ke tempat ini bareng duo teman, sepulang kuliah. Di sini kamu bisa minta tingkat kepedasan sesuai level lidah kamu. Aku level 8 saja sudah mrebes mili hahaha.

BTW, berikut resep olahan "Ayam Geprek" yang mudah, praktis, ekonomis. Tetapi rasa dijamin lezaaatt, made by me πŸ˜‰ Baru saja aku eksekusi tadi siang karena tetiba suami dan anak minta menu ayam goreng dan ayam geprek, jadilah belanja ke pasar dan diolah sepenuh cinta eaa πŸ’“πŸ’“πŸ’“


RESEP AYAM GEPREK :

* Pertama-tama beli daging ayam, 1 kilo bisa. Tapi di sini aku cuma pakai setengah kilo daging ayam. Udah lumayan banyak untuk 2/3 porsi.

Bumbu halus (buat ngungkep daging ayam)  :
- 2 cm Kunir
- Garam 1 sdm
- Bawang Putih 3 Siung

* Daging ayam yang telah dibersihkan kemudian dilumeri bumbu yang telah dihaluskan tadi. Tepuk-tepuk sedikit agar meresap. Kemudian ungkep di atas panci penggorengan sampai bumbu meresap sempurna dan daging mulai matang (bisa tambahkan merica bubuk sedikit jika suka, tadi pas lagi ngungkep aku tambahin merica bubuk).

Lalu angkat, tiriskan.

* Siapkan satu bungkus tepung bumbu (di sini aku pakai Sajiku, Golden Crispy). 3 sendok makan untuk adonan basah, air bisa dikira-kira, jangan sampai encer banget πŸ˜‰πŸ™ Nah, sisa tepung Sajiku jadikan adonan kering (boleh kalau mau tambah sedikit tepung terigu dan garam juga)

Langkah selanjutnya :

* Celup potongan ayam yang sudah diungkep ke dalam adonan basah hingga rata, kemudian tiriskan. Lalu gulingkan ke dalam adonan kering sambil ditepuk-tepuk. Kemudian goreng di penggorengan sampai berwarna kuning kecoklatan. Setelahnya angkat dan tiriskan.

Bumbu ulek untuk ayam geprek :
- 3 biji cabe merah
- 5 biji cabe galak/rawit merah
- 3 siung bawang putih
• Nb : goreng semua cabe hingga setengah matang, angkat sebelum berubah warna. Kalau semua mau diulek mentah juga boleh. Tetapi hasil eksekusiku tadi, enakan digoreng dulu hehe. Sesuai selera yaa, ini mah ideku saja karena terbiasa bikin sambal goreng. Tapi lebih endess pokokmen πŸ˜‰πŸ™

* Terakhir, ulek bumbu geprek setengah halus, tambahkan ayamnya, ulek lagi sampai tercampur rata kurang lebih seperti gambar di bawah ini πŸ˜‡


* Hidangkan dengan nasi hangat, ayam geprek siap disantap bersama keluarga tercinta πŸ€—
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Nah, sekian catatan resep made by me. Koki andalan keluarga sendiri, resep ala mommud hihihi.
Insyaa Allah dijamin endess dan kata pak su nggak kalah sama yang ada di resto (bisa nih bisa) πŸ˜„πŸ’ƒ meski eksekusinya berbeda, tapi rasa bersaing πŸ˜‰πŸ‘
Semoga bermanfaat dan bisa langsung kamu eksekusi juga di dapur kesayangan untuk menu santap bersama keluarga tercinta πŸ’“

Biasanya aku nulis resep di Cookpad, so kamu juga bisa intip resep masakan yang lain di sana. Alhamdulillah. Terbukti bikin sendiri itu jauh lebih nikmat, enakkk, hemat dan bisa makan puas. Kadang beli jadi hasil nggak sesuai ekspektasi, kurang pedeslah, hambarlah, kurang asinlah, pernah berasa zonk karena rasa mengecewakan. Masak sendiri lebih sipp bukan? Buktinya suami makan lahap meski sambil kibas-kibas, dimakan plus sayur soup juga. Buat penyuka pedes, cocok dah 🌢🌢

Happy cooking πŸ˜‡πŸ™

_______
Magelang, 2 Juli 2018.
©@bianglalahijrah

Saturday, 30 June 2018

Ibu, Berjuta Cinta Kendati Tak Sempurna

10:50 0 Comments

Pernah ketika duduk bergerombol dengan sekumpulan ibu-ibu yang tengah ngerumpi asyik tentang topik terbaru yang sedang beredar di sekitar mereka. Tak jarang, mereka ngerumpiin si A yang kebetulan sedang tak ada di antara mereka. Tak jarang ngerumpiin si B yang kemarin baru saja meluncurkan topik rumpi tentang si C. Mereka diam-diam saling membicarakan satu sama lain, tentunya tidak di hadapan yang terkait secara langsung.

Itu mengapa begitu jadi menantu yang memang bukan asli Jawa. Aku memilih untuk lebih banyak di dalam rumah. Karena praktek di atas seperti sudah menjadi tradisi turun temurun dan tak bisa diputus begitu saja. Takutnya orang lain yang berghibah kita yang dapat tempias dosanya. Karena kita juga ikutan nimbrung sekalipun hanya jadi pendengar.

Di dunia ini sulit sekali untuk melepaskan diri dari penilaian orang lain. Bahkan tak satu orang pun yang pernah luput dari mulut-mulut yang senang membicarakan kejelekan saudaranya. Termasuk ketika aku hanya memilih untuk lebih banyak di dalam rumah dan bergaul dengan tetangga seperlunya, ada komentar tak menyedapkan yang tetap mampir ke telinga.

Memilih untuk nimbrung atau tidak, konsekuensinya sama. Kita yang akan menjadi pembicaranya atau kita yang justru dibicarakan mereka.

Satu waktu saat berkunjung ke rumah mertua, Aidan masih beberapa bulan waktu itu. Masih menetek dan lengket di gendongan ibunya. Beberapa tetangga mendekat hanya untuk mengorek apa yang bisa mereka komentari. Tentang beginilah atau begitulah. Alih-alih mereka juga membicarakan orang lain yang kebetulan kukenal, intinya betapa mereka seakan lebih tahu apa yang seorang ibu rasakan saat menangani anaknya.

Mereka menganggap bahwa pengalaman mereka jauh lebih baik dari siapapun dalam soal menangani anak maupun cucu-cucu mereka, barangkali.

Dulu ketika awal hamil, aku dan suami memutuskan untuk mengambil jarak dari lingkungan yang memang tak kondusif. Tetapi setelah menjadi ibu, mau tak mau aku harus terbiasa dengan celetukan-celetukan asal dari beberapa orang yang begitu senang berkomentar tanpa menimbang isi perasaan orang lain. Bagi mereka, apa yang ingin mereka katakan adalah mutlak kebenaran. Sekalipun fakta yang ada tak lagi mendukung argument mereka.

Tak jarang aku memilih menarik diri dan menangis sendiri saat kata-kata mereka begitu tajam menusuk hati. Ucapan yang seharusnya tak terlontar bagi mereka yang benar-benar tahu. Jadi, ada kala aku harus membesarkan hati. Bukankah seseorang berbicara atas dasar ilmu yang ada padanya? Barangkali sebatas itulah pengetahuan yang mereka miliki. Lagi pula, semakin orang berilmu ia akan semakin minim kata untuk berbicara hal yang tak perlu.

Memaklumi. Untuk bisa memberi maaf kendati hati masih sakit.

Bagiku, menjadi ibu adalah hadiah terbesar dari Allah. Meski dari sejak hamil hingga detik ini, semua benar-benar dirasakan sendiri. Hanya dikerjakan berdua dengan suami. Dari persiapan menyambut buah hati, persalinan, hingga setelah Aidan lahir. Semua kami persiapkan sendiri tanpa bantuan orangtua. Tak sedikit kesulitan yang sudah kami lalui dan tak siapapun tahu.

Jika beberapa pasangan atau orangtua baru menerima banyak bantuan dari orangtua maupun mertua mereka, maka lain halnya dengan kami.

Orangtuaku jauh di seberang pulau sana, jarak rumah mertua juga tak bisa ditempuh dengan jalan kaki dalam hitungan menit. Ditambah ada beberapa hal yang membuat keadaan tak berjalan seperti yang kami harapkan.

Sedih sekali jika ada mulut-mulut tajam yang begitu senang menikam. Mereka tak tahu, kesulitan seperti apa yang sudah kulalui hingga sejauh ini. Tatkala orang lain melalui persalinan dengan dampingan orangtua, maka aku berbeda, suara mamak hanya bisa menemani sebentar lewat sambungan telepon genggam.

Jika kemudian ada orangtua yang mau bergantian momong cucunya ketika kondisi sang ibu benar-benar letih dan lelah, maka berbeda denganku. Sejak pagi hingga sore mengurus bayi sendirian dengan rentetan pekerjaan rumah tangga, sambil menunggu suami pulang kantor di sore hari.

Ada saat di mana aku menangis sambil mencuci pakaian karena lelah bercampur perasaan yang sulit dijelaskan. Sempat mengalami sindrom baby blues saat harus beradaptasi mati-matian setelah menjadi ibu. Kaget, lelah, stress, dan banyak faktor yang menjadi pemicu saat itu.

Kadang,  aku hanya bisa menggodok satu bungkus Indomie dan memakannya dalam keadaan dingin sambil memangku Aidan yang masih menyusu tanpa mau lepas dari gendongan. Barangkali, di waktu yang sama ada ibu yang bisa makan dengan lahap sebab orangtua/mertuanya bersedia berganti peran sesekali.

Atau ketika Aidan jatuh sakit dan hanya kami berdua dengan perasaan panik bercampur aduk. Setelah menjadi ibu, banyak hal yang berubah termasuk daya tahan tubuh yang mudah sekali masuk angin dan mengalami demam. Tetapi jika masih bisa bangun, maka pilihannya tetap memaksa tubuh untuk berdiri dan mengerjakan pekerjaan rumah.

Dan hal yang menjadi pengalaman seumur hidup, ketika baru saja melahirkan Aidan. Jika seorang ibu bersalin seharusnya banyak beristirahat dan cukup tidur. Aku justru tak tidur sama sekali terhitung dari malam ketika berjuang melahirkan Aidan berlanjut di malam berikutnya. Sebab harus membersihkan rumah setelah semua orang pamit pulang.

Aku bahkan baru bisa merebahkan tubuh tepat jam 3 dini hari ketika memastikan rumah dalam keadaan rapi dan besih. Mengingat besoknya, kami akan menerima kunjungan tamu yang tak sedikit.

Apa saja yang kukerjakan? Merapikan barang-barang, menyapu, mengepel lantai, bahkan membersihkan kamar mandi juga sisa piring kotor. Jika bukan bantuan Allah aku takkan bergerak sekuat itu, sekalipun bekas jahitan terasa linu. Sekalipun letih di sekujur badan usai persalinan masih begitu terasa. Nyatanya, Allah yang memampukanku untuk mengerjakan semua pekerjaan itu hingga selesai.

Disusul malam-malam lainnya tatkala jam tidur berkurang karena harus bangun setiap 2-3 jam untuk menyusui Aidan. Ini pengalaman tak terlupakan. Sekalipun kadang terasa sedih karena mungkin tak seperti orang lain. Tapi prinsipku, tak ada yang berubah hanya dengan membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain.

Aku percaya bahwa setiap pasangan yang baru saja beroleh amanah anak memiliki ujian dan airmatanya tersendiri. Dari pengalaman yang aku bagi di sini, di luar sana pasti ada pasangan yang telah mengalami perjuangan lebih dari apa yang pernah kami lalui.

Yang terpenting saat ini adalah terus belajar dan belajar bagaimana cara menjadi orangtua yang baik. Orangtua yang dapat mendidik anak-anaknya menjadi jundullah terbaik di muka bumi. Belajar untuk menjadi madrasatul ula yang bisa menyematkan kebaikan sejak dini pada diri anak-anak.

Tak peduli seberapa banyak komentar yang sanggup mematahkan hati dan semangat kita, tugas kita adalah berbenah dan menjadi lebih baik. Bukan menurut barometer penilaian orang lain, tetapi menurut kesanggupan kita dan apa yang membuat Allah ridha terhadap kita.

Tak ada orangtua yang bisa sempurna dalam banyak hal terutama soal mendidik atau mengasuh anak-anak mereka, tetapi juga tak ada yang berkurang dari itu. Cinta, kasih sayang, perjuangan, ketulusan, setiap orang memiliki paket perjuangannya masing-masing. Setiap pasangan, orangtua, memiliki ladang kebaikannya masing-masing.

Self remind untukku, untuk airmata yang jatuh di lebaran hari ke sekian beberapa waktu lalu. Maafkan orang-orang yang berkomentar sesuka hati,  mereka hanya tidak mengerti apa-apa yang sudah kau lalui sejauh ini. Tetap, jadikan Allah landasan dan sandaran untuk setiap niat dalam hati. Untuk tuju dalam langkah, hanya Allah. Lillah,  Lillah, Lillah, agar senantiasa berkah insyaa Allah.

Tak harus seluruh orang tahu tiap jengkal rasa lelah yang telah kita geluti, biarkan itu menjadi rahasia manis yang justru memberatkan timbangan kebaikan kita di sisi Allah. Sebab ada Allah. Allah tidak tidur. Allah yang tahu pasti apa yang sudah kita kerahkan selama ini. Sekalipun masih ada yang berkomentar, mengatai engkau tak becus sebagai ibu, atau engkau tak telaten mengurus anak.

Allah tahu usahamu. Dan komentar buruk mereka terhadapmu, takkan mengurangi takaran pahalamu di sisi-Nya.

Teruntuk setiap ibu yang berjuang menjadi sebaik-baik pendidik bagi anak-anaknya.

Semoga bermanfaat :')

Magelang, Sabtu, di penghujung Juni 2018.
© @bianglalahijrah_

Friday, 29 June 2018

Dream, Pray, Action : Tak Ada yang Menjadi Sia-Sia

09:45 0 Comments

Assalamualaikum, mungkin sedikit terlambat untuk mengucapkan "Taqobbalallahu minna wa minkum, selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin". Ramadhan benar-benar sudah berlalu dengan cepat. Selain itu, semarak berlebaran juga semakin redup. Barangkali di beberapa tempat bahkan sudah usai.

Terlebih dengan rutinitas yang kembali ke sedia kala. Kantor-kantor sudah mulai beroperasi. Salah satunya kantor suami yang mulai masuk Senin lalu. Aku sendiri kembali dengan baju dinas ala ibu rumah tangga, walau tak identik dengan daster. Karena seumur hidup memang belum pernah punya daster πŸ˜… ah lupakan daster

Kayaknya cukup lama nggak nulis di blog. Kisaran satu bulan mungkin. Kesibukan di bulan puasa memang menyita banyak waktu. Dari berbuka ke sahur sampai berbuka lagi. Pun menjelang persiapan mudik ke mertua. Kesempatan untuk ngelirik blog, instagram, wadah yang selama ini jadi ruang untuk menulis juga teralihkan.

Banyak ide yang menguap begitu saja. Meski beberapa ada yang sempat aku tulis di note pad. Buku saku. Bahkan di grup WA yang anggotanya hanya aku sendiri. Jadi grup ini memang sengaja aku buat di whatsapp untuk menampung catatan-catatan yang kuanggap penting. Baik itu quote motivasi. Sinopsis pendek untuk ide tulisan. Barangkali catatan bond juga hahaha. Emak-emak mah gitu..

Sayangnya, meski ide yang tadinya muncul tiba-tiba dan sudah kuamankan lewat catatan. Tetap saja untuk mulai menulis seperti butuh mood khusus. Jadi, tak jarang catatan itu hanya menjadi draf yang kemudian terbengkalai. Kebiasaan buruk nih. Tapi pelajaran baiknya, jangan menunda-nunda untuk menulis. Jika masih bisa diusahakan, segera tulis sebelum ide raib.

Tapi kalau memang keadaan tidak memungkinkan, simpan ide dalam catatan yang kapan waktu bisa kita kembangkan menjadi tulisan utuh. Hanya saja, jangan kelamaan disimpan sementara tak juga diolah. Karena takutnya, begitu mau nulis kita kehilangan momentum dari draf yang sudah kita buat tadinya. Apa itu momentum? Kalau nggak salah ingat, seperti penjelasan pak Isa Alamsyah. Momentum itu adalah ruh dari tulisan kita nantinya. Yang membuat tulisan kita tak sekedar bisa dibaca, tetapi benar-benar meninggalkan bekas di hati pembaca.

Feel yang sulit terlupa. Kamu tentunya pernah membaca sebuah cerita dan kamu masih saja ingat meski sudah lama sekali. Kamu masih ingat dengan alur bahkan ending kisahnya. Kamu masih ingat sama karakter yang ada di dalam cerita tersebut. Jadi, kalau memang nggak punya waktu buat nulis. Simpan di draft dan segera tulis begitu ada kesempatan untuk menulis. Karena memang kesempatan itu kayaknya kita yang menciptakan sendiri. Sebab ada kesempatan pun tak jarang dijeda karena rasa malas. Iya kan? πŸ˜…

Ini cubitan untuk diri sendiri, semoga saja bermanfaat buat teman-teman.

Dan, sebelum Juni berganti Juli. Ada baiknya memperbaharui tekad yang ada di dalam diri :)

Dua hari yang lalu, aku membuat catatan penting di buku saku milikku. Ada beberapa daftar mimpi, target, dari planning yang kubuat untuk jangka 2018-2019 mendatang. Aku merasa resolusi impian ini seperti menuntunku dengan sendirinya untuk menemukan jalan. Satu persatu yang dulunya hanya berupa keinginan yang tertulis, Allah mudahkan untuk terijabah.


Tak terhitung berapa banyak keinginan yang Allah perkenankan. Dari keinginan kecil hingga keinginan besar. Walau masih ada beberapa mimpi besar yang belum bisa terpenuhi saat ini. Hanya belum. Sebab yang kuyakini, setiap doa, setiap mimpi, memiliki waktunya masing-masing. Jika kemarin belum, bisa jadi hari ini. Jika hari ini belum, bisa jadi besok. Bisa jadi juga lusa. Atau di waktu-waktu yang tak pernah kita tahu, namun yang terbaik menurut Allah.

Sebab jika setiap keinginan terwujud dengan mudah. Kita takkan tahu nikmat berjuang dan memperjuangkan sesuatu hal sebelum benar-benar bisa dimiliki. Barangkali kita juga akan kekurangan syukur dan mudah membuang nikmat tersebut. Mungkin juga kita takkan bisa menjadi pejuang tangguh yang bersungguh-sungguh dalam meraih mimpi itu bersama keyakinan terhadap ketetapan Allah.

Karena jika setiap keinginan terwujud sangat mudah. Setiap orang akan jadi pemalas dan semakin senang menunda-nunda segala sesuatu yang ada di hidupnya. Nggak percaya? Ada tantangan saja, dikasih kesulitan saja, seringnya kita tertahan di satu tempat yang sama karena kebiasaan malas dan menunda untuk bergerak cepat. Gimana kalau setiap keinginan kita selalu dipermudah?

Self remind, sekali lagi ini pengingat untuk diri sendiri yang kadangkala masih ditengarai rasa malas. Hanya saja, jika hari ini aku atau kamu masih bisa berdiri tegak dan menjadi sebaik-baik siapa kita hari ini.. itu tak lepas dari pertolongan dan kebaikan Allah untuk tiap-tiap doa juga harap yang terijabah.

Setidaknya, ada fase jatuh bangun yang pernah dilewati. Rasa sakit, sulit, tetapi dari sana kita akan belajar banyak hal yang tak akan diperoleh jika jalan yang kita lalui hanya mulus-mulus saja. Terkadang, kita tumbuh besar bukan karena kemudahan-kemudahan yang memang telah menjamin sejak awal.

Tetapi kita menjadi besar karena apa yang sudah menempa kita dengan airmata, rasa sakit, perjuangan yang tak sedikit. Hal-hal yang membuat kita semakin tegar. Semakin kuat. Bahkan lebih bijaksana. Ini tak sekedar jadi kata-kata yang barangkali indah dan ber-energi. Percayalah, aku pernah ada di fase-fase saat orang lain mungkin sedang menikmati hidup dengan mudah.

Hari ini, aku justru bersyukur dengan kesulitan juga rasa sakit yang pernah menempaku sejak awal. Dan ternyata benar, kesakitan kita terdahulu.. akan ada waktu di mana kita justru akan sangat mensyukurinya sebagai hikmah terbaik seumur hidup.

Intinya, setiap saat yang dilalui. Jangan bosan untuk berbenah. Perbaharui niat, memantapkan langkah, menetapkan tuju, selama tetap Allah yang menjadi sandaran di setiap keinginan dan ikhtiar yang dikerahkan.

*Believe in something that cannot be seen by eyes.*
Semoga bermanfaat :)

© @bianglalahijrah_
Magelang, Jumuah Mubaraq, 29 Juni 2018

Sunday, 27 May 2018

Ramadhan day11 : (Ketika) Anak Mau Jadi Hafidz Qur'an

21:02 0 Comments

Cerita hari ini saat kami menemani Aidan menonton acara "Hafidz Indonesia" di RCTI. Aidan tampak begitu serius. Sesekali seperti ingin mengikuti bacaan yang ia dengar walau yang fasih baru bacaan basmallah, karena ayat yang dibaca oleh peserta hafidz belum sampai dijangkauan Aidan. Sedang Aidan sendiri baru bisa hafal Al-Fatihah dan beberapa doa pendek. Saat acara kesayangannya disela iklan sponsor, Aidan ribut sendiri mengira bahwa kami mengganti saluran TV. Masyaa Allah, barakallah.

Jadi usai mandi sore, sambil memijat-mijit Aidan dengan baluran minyak kayu putih, aku bertanya serius. "Aidan mau jadi hafidz Qur'an ya, Nak?" tanyaku. Aidan seperti berpikir sebentar, wajahnya serius bahkan untuk anak seusianya yang biasa ceria dan begitu ekspresif.

Tak lama Aidan menjawab dengan nada yang antusias sekali. "Hafidz Qur'an .." jawab Aidan tersenyum, karena memang anaknya murah senyum. Kata 'hafidz Qur'an' meluncur dengan jelas sekali tanpa terdengar cedal. Dalam hati aku mengaminkan ini. Berharap semoga kelak jika Allah berkehendak demikian, Aidan benar-benar menjadi hafidz Qur'an. Yang tak hanya menghafalkannya, melainkan juga mentadabburi isinya, mengaplikasikannya langsung dalam akhlak sehari-hari, selain itu juga mengajarkannya. Aamiin.

Kemudian, ketika aku baru saja usai mengerjakan shalat ashar. Aidan datang dan memperagakan shalat di sampingku sambil mengucap takbir kemudian aamiin. Setelahnya Aidan meraba tanganku, barangkali Aidan ingin memastikan seperti apa posisi tanganku yang saat itu tertutup mukena.

Masyaa Allah, Aidan ikut komat-kamit seolah sedang berdoa dengan kedua tangan ke atas. Tak jelas doa apa yang tengah dilantunkannya ketika berkata 'Aamiin' untuk doanya sendiri. Yang jelas, fokusku pecah begitu saja. Dzikir yang tadinya sedang kubaca juga menguar begitu saja. Terharu? Jelas iya. Anak seusia Aidan memang mudah sekali merekam segala sesuatu. Bahkan dengan gampang menirunya. Hal ini yang jadi cambuk setiap saat, bagaimana caranya agar bisa lebih banyak lagi mengajarkan hal baik pada Aidan. Memanfaatkan masa golden age yang tak datang dua kali.

Aku lantas memangku Aidan, menuntunnya berdoa, agar malaikat juga mengaminkan doa kami di waktu ashar. "Aidan ikuti ibuk ya. Ya Allah, jadikan Aidan anak shaleh. Hafidz Qur'an. Orang yang berilmu. Berbakti pada orangtua. Sukses di dunia juga di akhirat. Aamiin."

Aidan mengikutiku pelan-pelan meski doa kali ini terdengar cedal dari mulutnya. Doa yang terucap dari mulut bocah berusia 3 tahun. Hati orangtua mana yang tak gerimis? Semoga Aidan tumbuh menjadi anak dengan sebaik-baik doa yang senantiasa orangtuanya langitkan. Pun sebaik-baik doa yang terkandung di namanya, Aidan Fayyadh Al-Fatih. Tak sekedar nama, tak sekedar ingin memberinya sebuah nama yang keren. Tetapi sungguh ada jutaan doa baik yang mengiringinya sejak masih di dalam rahim bahkan hingga nanti ketika ibunya ini menutup mata di penghujung usia.

Selain itu, salah satu hak anak adalah beroleh nama yang baik. Nama yang mengandung arti di dalam Islam.

Doa ibu, nak. Akan terus mengetuk arsy-Nya. Semoga malaikat turut serta mengamini. Semoga doa ini menjadi benteng sekaligus payung yang akan senantiasa memayungimu kapanpun dan di manapun. Hingga kelak, saat engkau melangkah jauh dari ibu dan ayahmu demi cita-cita dan amanah yang teremban di pundakmu sebagai pemimpin bagi kehidupanmu. Pemimpin bagi amanah yang Allah beri untukmu suatu hari nanti. Doaku masih akan memelukmu.

Sampai di Ramadhan day 11, mari memohon ampun untuk setiap dosa-dosa yang pernah kita lakukan baik sengaja atau pun tidak. Mari memohon ampun untuk pasangan kita, orangtua kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita. Untuk siapapun yang menyayangi kita dan yang kita sayangi, semoga di 10 pertengahan yang penuh maghfirah ini Allah ampuni setiap dosa dan khilaf kita yang pernah berlaku.

10 pertengahan di bulan Ramadhan, Allah janjikan ampunan bagi mereka yang bertaubat. Perbanyak dzikir, doa, shalat malam. Semoga tiap ibadah, kebaikan yang kita lakukan di setiap detik pada bulan Ramadhan ini, Allah ganti dengan dosa-dosa yang terampuni. Dengan kehidupan yang lebih berkah. Dengan pribadi yang jauh lebih baik. Aamiin insyaa Allah.

Cerita hari ini, tentang Aidan yang ingin jadi hafidz insyaa Allah. Sebagai penutup semoga ini menambah ilmu kita semua :)

"Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengamalkannya."  (Muttafaq 'Alaih)

Sebuah kutipan dari buku "Parenting; Mengasuh Anak dengan Energi dan Emosi Positif" :

- Anak itu amanah, anak itu hiasan mata alias harapan dunia-akhirat, anak itu bekal keselamatan kita alias investasi dunia-akhirat. Setiap anak lahir dalam kondisi putih bersih laksana meja lilin yang akan ditulisi apa saja, bergantung pada kemauan orangtua. Jadi tugas orang dewasa adalah menyiapkan lingkungan yang memungkinkan potensi-potensi yang dimiliki anak bisa berkembang optimal. Perlu diketahui, pada masa golden age moment atau USIA 0-5 tahun adalah masa peka belajar seorang anak. 50% kecenderungan belajar disemai pada masa ini."

Masyaa Allah, alhamdulillah. Mari ajarkan Al-Qur'an sejak dini kepada anak. Agar anak tumbuh menjadi generasi berakhlak Al-Qur'an insyaa Allah. Bekal terbaik yang orangtua miliki di dunia-akhirat adalah doa dari anak-anak shaleh saat terputuslah semua perkara setelah kematian kecuali tiga. Sedang dua yang lainnya adalah pahala jariyah juga ilmu yang bermanfaat. Mari bekali anak-anak kita dengan ilmu, sebab sepeninggal kita yang bisa menyelamatkan mereka bukan harta benda warisan orangtuanya melainkan ilmu yang bermanfaat di jalan Allah. Aamiin yaa mujibassailin. Semoga bermanfaat πŸ˜‡πŸ™


Magelang, 27 Mei 2018
© @bianglalahijrah
#RamadhanBerbagiInspirasi #day11 #FLPGresik #WritingChallenge 

Saturday, 26 May 2018

Ramadhan day10 : Mendidik Anak Sejak Dini atau Nanti?

20:25 0 Comments

Ramadhan tahun ini jadi puasa perdana bagi Aidan. Sebagai ibu tentu saja merasa senang ketika sang anak bisa diajak kerjasama. Untuk kedua Mbahnya alhamdulillah mendukung, kendati suami sempat menolak. Ia beranggapan bahwa anak seusia Aidan belum waktunya untuk disuruh berpuasa dengan dalih kasihan. Jadi aku menjelaskan bahwa puasa ini hanya sebagai latihan sejak dini. Ini bentuk dari didikan yang ingin kuberikan pada anak. Agar semakin mereka tumbuh besar, tugasku dalam mengarahkan sekaligus mendidik akan menjadi lebih mudah insyaa Allah.

Mengapa lebih mudah? Sebab anak yang sudah terbiasa dididik dengan pengajaran dan pemahaman baik sejak dini, pada akhirnya hal itu pula yang akan membentuk habits baik pada diri sang anak. Meski saat ini ia belum mengerti apa hakekat berpuasa, setidaknya anak mau belajar untuk mengendalikan kemauannya. Yang biasanya jadwal makan jam segini tetapi harus menunggu waktu berbuka yang telah ditentukan.

Hari pertama hingga hari kedua berpuasa, Aidan berhasil menahan lapar dan haus hingga waktu dzuhur tiba. Setelah lewat jam dua karena Aidan tak lagi minta makan dan minum, puasa lanjut dan buka untuk kedua kalinya saat adzan maghrib tiba. Rewel nggak sih? Alhamdulillah Aidan justru antusias dan lebih tangguh dari perkiraanku. Yang hari biasanya selalu teriak-teriak tiap kali minta makan, tetapi saat minta makan di tengah jam puasanya, Aidan jadi lebih tenang.

Hari pertama, jam setengah sepuluh Aidan sudah minta makan. Begitu ibunya menjelaskan bahwa waktu berbuka puasa belum tiba, Aidan hanya mengangguk sembari mengiyakan penjelasan ibunya. Dari sehari sebelum Ramadhan aku sudah menjelaskan pada Aidan bahwa ayah dan ibunya akan berpuasa, "Besok ayah sama ibuk, akan berpuasa. Aidan ikut puasa nggih. Sebagai latihan puasanya sampai siang saja. Nggak harus sampai maghrib, kan Aidan masih kecil." jelasku. Aidan hanya tersenyum.

Lagi-lagi menjawab 'iya' untuk keterangan ibunya yang entah dia pahami atau tidak πŸ˜… ini tahap, setidaknya sebagai orangtua kita sudah menanamkan nilai akidah sejak dini. Bahwasanya berpuasa di bulan Ramadhan adalah kewajiban umat muslim. Kendati saat itu aku hanya menjelaskan bahwa berpuasa berarti menahan lapar dan haus dari sahur hingga waktu berbuka yang kami sepakati.

Aslinya sih hanya sampai jam sepuluh, tetapi alhamdulillah bisa sampai dzuhur. Menu bukanya juga nggak neko-neko. Segelas susu dan sepiring nasi. Hari selanjutnya plus buah-buahan. Anehnya, Aidan nggak suka kurma. Jadi aku hanya memberinya ekstrak madu dan kurma yang harus dipujuk dulu, baru mau minum. Bagi Aidan segelas susu coklat tetap minuman paling enak dalam kondisi apapun. Tabarakallah..

Besok sudah puasa hari ke-sebelas ya, Aidan sempat goyah di hari keempat karena tetangga yang juga merasa tak lazim dengan anak kecil yang berpuasa justru gemas ingin memberi Aidan makanan. Malah, waktu Aidan kuajak ke pasar bedug, ibu-ibu penjual kue justru memberikan Aidan kue donat berukuran cukup besar. Padahal waktu maghrib tinggal setengah jam lagi, batal deh buka kedua nunggu adzan maghrib πŸ˜‚

Kadang, sebagai ibu sudah mantap banget untuk mendidik dan mengajarkan pada anak hal-hal baik yang kelak akan membentuk karakternya setelah dewasa. Tetapi ya itu, ujiannya kadang pula datang dari partner/pasangan, keluarga dekat, tetangga, sampai ke omongan orang-orang yang tidak begitu dekat dengan kita namun ikut-ikutan nyinyir πŸ˜…

Aku yakin tiap pasangan, orangtua, tentu memiliki cara berbeda dalam hal mendidik anak. Ada yang mendidik berdasarkan pengalaman yang ia dapat sejak kecil. Rantai pola asuh yang bergilir dari ibunya ke dirinya, dari dirinya turun ke anaknya. Namun ada pula orangtua yang mau membuka diri terhadap kemajuan zaman yang berkembang saat ini. Mereka sadar bahwa anak-anak yang tumbuh di abad millenial ini tak bisa disamakan dengan cara didik anak di zaman mereka.

Tipe orangtua seperti ini adalah tipe orangtua pembelajar, mereka tak bosan untuk terus belajar dan berbenah lebih baik setiap saat. Karena anak shaleh atau shalehah tak serta merta lahir dari doa dan keinginan semata. Melainkan pantulan dari keshalehan orangtuanya pula. Maka jika menginginkan anak shaleh, juga wajib shalehkan diri terlebih dahulu. Sebab itu, berproses untuk terus memantaskan diri dalam menuntut ilmu takkan pernah ada kata cukup apalagi sudah.

Karena ilmu itu sendiri butuh waktu seumur hidup untuk bisa senantiasa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai kebaikan. Lagi-lagi ini jadi PR besar untukku dalam mendidik anak di zaman ini. Sebab anak yang shaleh bukan sekedar wacana tetapi sebuah cita-cita. Semoga Aidan Fayyadh Al-Fatih tumbuh menjadi jundullah terbaik di muka bumi, penerus dakwah Nabi, abdullah shaleh, hafidz Qur'an, pecinta ilmu, bermanfaat bagi sesama, berbakti pada kedua orangtuanya. Kelak, orang yang bisa merengkuh dunia dengan kedua tangannya tetapi akhirat senantiasa ada di hatinya. Allah senantiasa menjadi orientasinya, Rasulallah adalah teladannya. Aamiin yaa mujibassailin.

Aku bersyukur pengalaman yang kudapat dari pola asuh yang kuterima membuatku bisa belajar lebih baik. Untuk menelaah dan memilah sebaiknya pola asuh seperti apa yang baik untuk diberikan kepada anak. Aku juga terus belajar dengan menambah literatur bacaan yang berkaitan dengan dunia anak atau positive parenting. Sebab sekali lagi, mendidik anak itu dengan ilmu. Perlu ilmu yang tak sedikit. Jadi sebagai orangtua kita tak boleh lengah apalagi merasa puas. Merasa cukup padahal ilmu yang dipunya belumlah seberapa.

Sebagai penutup mengutip perkataan Imam Al-Ghazali,  "Ketika anak diabaikan pada masa pertumbuhan awal, umumnya ia akan jadi orang berakhlak buruk seperti pendusta, pendengki, pencuri, suka mengadu domba, suka meminta, suka melakukan hal-hal tiada guna, suka tertawa, dan bertindak gila. Semua ini bisa dihindari dengan pendidikan yang baik."

Aku percaya bahwasanya pendidikan sejak dini, menanamkan nilai-nilai aqidah sejak dini, mengajari anak untuk turut serta berproses sejak dini berarti kita sedang sungguh-sungguh mempersiapkan anak-anak yang berakhlakul karimah di kemudian hari. Anak-anak yang diharapkan dapat menjadi insan kamil. Aamiin insyaa Allah.

Dan kelak, apa yang didapatkannya hari ini, seluruh kejadian masa kecil itu akan membentuk sebagian besar kepribadian dan orientasi pada diri sang anak. Mendidik anak sejak dini atau nanti? Tentu saja sejak dini. Bahkan bermula sejak anak masih berada di dalam rahim ibunya. Anak-anak kita berhak lahir maupun tumbuh dari didikan orangtua yang shaleh/ah. Mari berbenah, terus belajar, semoga Allah mudahkan semua. Aamiin.

Bismillah, rabbi habli minash shalihin. Aamiin yaa mujibassailin.

Magelang, 26 Mei 2018
© @bianglalahijrah
#RamadhanBerbagiInspirasi #day10 #FLPGresik #WritingChallenge 

Friday, 25 May 2018

Ramadhan day9 : (Jika) Masih Ada Waktu untuk Berbenah

21:30 0 Comments

Assalamualaikum. Ramadhan kareem untuk teman-teman semua. Masih sering ngintip dan nunggu postingan terbaruku? Alhamdulillah, semoga tulisanku tetap menjadi rindu yang hadirkan candu bagi kalian. Candu untuk membaca lagi dan lagi kendati belum pernah bertemu langsung. Rasanya menyenangkan saat ada sahabat yang mengirim pesan pribadi. Mereka berkata bahwa begitu mengagumi tulisan-tulisan yang ada di blog bianglalahijrah. Mereka juga terinspirasi, ada motivasi baru yang didapat tiap kali usai membaca.

Aku sendiri tak pernah tahu siapa saja tangan-tangan yang telah Allah gerakkan untuk terdampar di blog ini. Barangkali kamu yang saat ini tengah membaca. Terima kasih untuk mau berkunjung, tersesat di belantara kata yang lahir dari alam rasa maupun pikirku. Yang kutahu, menulis adalah cinta. Kecintaan untuk berbagi manfaat lewat tulisan, kecintaan untuk terus mengetuk hati siapa saja dengan pesan cinta yang kusiratkan dalam tulisan. Ciyee, dalem tuh πŸ˜„πŸ€—

Alhamdulillah, ini jadi catatan di Ramadhan hari ke-sembilan. Seakan bulan yang mulia ini begitu cepat menggulung waktu. Tahu-tahu kita akan segera berpisah dengan bulan yang penuh rahmat dan magfirah ini. Hanya ada dua kemungkinan, Ramadhan berlalu dengan banyak kebaikan yang menyertai atau justru sebaliknya?

Maka, semoga kualitas iman dan ketakwaan di dalam diri kian bertambah. Semakin baik shalatnya, mengajinya, sedekahnya, silaturahminya, dhuha dan tahajudnya, dan lain-lain. Dari sebelas bulan yang barangkali berlalu tanpa banyak kebaikan maupun keberkahan yang menyertai, semoga satu bulan ini, kita bisa tancap gas untuk mengejar ketertinggalan masing-masing. Khusus muslimah, jika yang tadinya belum berhijab tergerak untuk segera berhijab. Yang tadinya berhijab namun belum mendekati syar'i maka semoga terketuk untuk lekas menyempurnakan hijab yang sudah melekat.

Bagiku, pakaian bukan sekedar pembungkus badan. Tetapi ada nilai sekaligus kualitas seseorang di balik itu. Meski memang cover tak selamanya menjamin isi, maka menjadi tugas kita agar tak hanya memperindah tampilan luarnya tetapi juga kualitas ruhiyahnya. Ini PR seumur hidup, tentu juga untukku. Jadi semoga tak ada lagi alasan klise untuk menunda-nunda dalam taat hanya karena alasan, "nunggu hati baik dulu, baru perbaiki luarnya."

Iya kalau kesempatan itu masih ada di esok hari, atau mungkin satu jam ke depan? Sebab kita tak memiliki jaminan apapun ketika terus menunda-nunda waktu untuk merealisasikan taat. Jika pun belum sempurna baik, setidaknya kita berproses terus menerus untuk memperbaiki apa yang masih harus diperbaiki. Allah tak menuntut kita untuk sempurna kok, karena kesempurnaan hanya milik-Nya. Tetapi Allah hanya inginkan kita taat dan jadikan Dia sebagai satu-satunya orientasi dalam hidup.

3 bulan blog ini kosong karena terkendala laptop yang sedang koma. Ada banyak sekali hal yang ingin aku tuang. Hingga kerinduan itu sempat menghabiskan berlembar-lembar kertas di buku harian. Aku ingin berbagi tentang hasil diskusi yang kemudian memberiku pemahaman baru. Atau pembelajaran baik apa yang aku dapat dari tiap buku yang kubaca, maupun hasil dari mengamati apa yang ada di sekeliling termasuk pula aktivitas di sosial media.

Semua adalah lahan untuk mendapatkan ilmu. Kendati ada beberapa orang yang kemudian bertolak belakang denganmu, lagi-lagi itu masih akan jadi pembelajaran berharga. Ada hal baik yang bisa dipetik dari tiap perbedaan sudut pandang maupun pendapat. Sampai hari ini aku masih belajar. Pun di satu titik aku bisa memahami dengan hati yang tak diselimuti benci, bahwa memang tak semua kebaikan kita bisa diterima baik-baik oleh orang lain. Pun tak selalu yang menurut kita benar sudah baik bagi orang lain, dan yang menurut kita baik akan benar bagi orang lain.

Dalam menyeru kebaikan akan selalu ada orang-orang yang pro maupun kontra. Ada orang yang akan sependapat denganmu, ada orang yang akan habis-habisan menentangmu. Semoga di Ramadhan yang sudah memasuki 10 pertengahan ini ada banyak lagi refleksi yang bisa menjadi renungan bagi diri untuk berbenah lebih baik. Masih ada waktu untuk mengejar ketertinggalan-ketertinggalan yang pernah menjadikan 11 bulan lainnya berlalu sia-sia.

Marhaban yaa Ramadhan, semoga pesan baik dari seorang ustadzah yang akan kusampaikan di sini menjadi pahala jariyah baginya pun bagiku untuk berbagi kebaikan tersebut. Pesan dari ustadzah Nurjannah, ".. berkali-kali kita mendekati Al-Qur'an. Mentadabburi Al-Qur'an. Untuk membayar berkali-kali kita melakukan dosa dan membuang waktu dengan perkara sia-sia."

Masih tersisa 20 hari lagi, masih ada waktu untuk mengikis dosa dengan khusyuk membaca Al-Qur'an. Sebab Ramadhan, bulan diturunkannya Al-Qur'an. Semoga waktu dapat berlalu dengan lebih banyak bercengkerama dengannya. Agar Allah ridho, agar Allah kikis dosa-dosa dengan pahala dari membaca Al-Qur'an. Hingga ibadah yang lainnya juga akan semakin khusyuk dan menambah tingkat ruhiyah di dalam diri. Aamiin aamiin yaa mujibassailin. Semoga bermanfaat :)

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya),  dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal." (QS Al-Anfal  8:2)

Magelang, 25 Mei 2018.
© @bianglalahijrah
#RamadhanBerbagiInspirasi #Day9 #FLPGresik #WritingChallenge