Wednesday, 28 November 2018

5 Blogger Muslimah yang Menginspirasi

15:36 0 Comments

Bismillah, hari ke-sembilan untuk BPN 30 Day Blog Challenge. Masih semangat? Yap, masih! Walau digandrungi kesibukan lain-lain dan keharusan belajar untuk persiapan ujian. Nah di hari ini, tantangan yang diberikan adalah menulis 5  blogger favorit versi diri sendiri beserta alasannya. Langsung saja yaa. Berikut 5 blogger favoritku:

1. Jihan Davincka

Kamu sudah kenal blogger muslimah yang satu ini? Ibu dari tiga orang anak yang tetap eksis menulis blog di sela-sela waktunya. Tulisannya pun selalu berbobot menurutku. Dengan bahasa penulisan yang membuat pembacanya tak bosan untuk membaca semua yang ia tulis. Dari blog sampai ke buku karyanya yang telah terbit, selalu menarik untuk diikuti. Meski berisi memoar tentang pengalamannya tinggal di beberapa negara. Dari buku Memoar of Jeddah sampai ke The Davincka Code, aku suka.

Jadi, Mbak Jihan sangat menginspirasi sekali untukku. Sama-sama suka nulis, sama-sama emak berdaya, sama-sama suka travelling. Perbedaannya, Mbak Jihan Davincka sudah menginjakkan kakinya ke beberapa negara besar di seberang sana. Lah daku? Masih traveller lokal yang berharap beroleh kesempatan untuk terbang ke negara impian dengan 4 musim itu yang salah satunya adalah musim dingin bersalju. Aamiin. Didoakan ya, semoga secepatnya :)

2. Dian Pelangi

Bisa dikatakan kalau blogger muslimah pertama yang aku follow adalah Mbak Dian Pelangi. Dulu ketika baru saja mulai aktif ngeblog dan pakaian pun belum se-syar'i saat ini. Designer muslimah ini jadi insirasi dengan karya-karyanya yang mengagumkan. Dian Pelangi berhasil membuktikan bahwa muslimah juga tetap bisa berhijab dan tampil menarik, tak selamanya terkungkung dengan busana yang ketinggalan mode. Dulu sih Mbak Dian Pelangi masih muda banget ya ketika awal namanya dikenal sebagai designer muslimah kondang hingga saat ini. Kalau nggak salah waktu itu beliau berusia 20 atau 21 tahun.

Sayangnya nih, blog yang Mbak Dian kelola sudah tak lagi ada postingan teranyar. Sebelum nulis postingan ini aku juga sudah memastikan bahwa tulisan terakhir yang Mbak Dian post terhitung dua tahun yang lalu. Cukup lama juga yaa?

3. Fitri Aulia

Masih blogger muslimah yang merambah sebagai muslim fashion designer dan owner di Kivitz. Percaya nggak? Kalau aku sangat-sangat tertarik dengan dunia fashion designer. Bahkan dulu pernah bercita-cita pengen jadi designer muslimah juga. Sayangnya minat itu nggak berkembang dan terasah dengan baik. Tetapi yang pasti, design busana yang dirancang oleh Mbak Fitri Aulia memberikan hawa segar untuk semua muslimah yang tetap ingin tampil stylish, modis, tetapi tetap mengedepankan syarat syar'i. Kamu bisa kepoin blognya atau akun Instagramnya. Postingan blognya pasti menginspirasi kamu.

4. Dewi Nur Aisyah

Blogger muslimah yang satu ini benar-benar paket lengkap. Shalehah, cantik, cerdas, berhijab syar'i, sekaligus ibu muda dari dua anak. Kenal sama Mbak Dewi lewat Instagram. Terus nggak sengaja lihat bukunya pas berkunjung ke toko buku. Pada akhirnya, nggak nyesel sudah beli bukunya. Awe Inspiring Me benar-benar memberikan banyak pengetahuan baru.

Memotivasimu untuk terus berbenah dan memperpantas diri. Bahwasanya muslimah bisa kok jadi apa yang ia inginkan selama tidak melewati ambang batas wajar dan menyalahi kodratnya sendiri.

Mbak Dewi menyelesaikan S1-nya hanya dengan waktu 3,5 tahun di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dengan IPK cumlaude lohh. Kemudian melanjutkan studi S2-nya di Imperial College London berbekal beasiswa unggulan dari DIKTI. Dan saat ini menempuh studi S3 di University College London dengan fokus infectious disease informatics lewat Beasiswa Presiden Republik Indonesia [BPRI]. Prestasinya pun sudah bejibun ya. Pokoknya benar-benar wajib jadi satu dari sekian muslimah menginpirasi yang bisa kamu ikuti jejaknya.

5. Akihiko Yuuri dikenal juga sebagai Amanda

Blogger muslimah yang baru-baru ini menarik perhatianku. Hijabers, seorang traveller juga. Cerita dari perjalananya ke beberapa negara dia kemas dengan cerita yang apik melalui akun blognya. Selalu suka sama muslimah berhijab yang tetap eksis tetapi tidak menanggalkan identitasnya sebagai muslimah. Mbak Aiko ini juga menginspirasi banget loh. Coba deh kunjungi laman blognya :)

____

Sudah ada lima ya? Semoga mereka yang namanya tertulis di sini juga bisa menginspirasi kamu dalam hal kebaikan, karya, prestasi, dan kamu juga bisa membuktikan bahwa muslimah tetap bisa melebarkan sayap ke kancah apa saja dengan identitas kemuslimahan yang tetap melekat erat. Tabarakallah.

Semoga bermanfaat yaa ^_^

**************

Copyright : @bianglalahijrah
Magelang, 28 November 2018

Tuesday, 27 November 2018

5 Benda Wajib yang Harus Ada di Tas Muslimah Ketika Travelling

18:32 0 Comments

Bismillah, hari ke-delapan BPN 30 Day Blog Challenge dengan tema yang semakin bikin greget. Tema hari ini untuk mengulas 5 barang yang selalu ada di tas pribadi. Langsung senyum-senyum sendiri. Membayangkan seperti apa isi tasku sebenarnya. Baik tas punggung yang kukenakan ketika kuliah maupun backpack untuk bepergian. Isinya sih bisa dipastikan berbeda. Yang satu alat tempur untuk mengerup ilmu. Yang satunya lagi alat tempur untuk mendulang capture dan ide sepanjang travelling. Meski begitu, tetap ada kesamaan karena beberapa diantaranya menjadi barang wajib bawa.

Penasaran apa saja yang jadi barang wajib bawa di ranselku? Let's check it out!!!

1. Buku [Baik Buku Bacaan, Maupun Buku Tulis]

Nah ini harus kutaruh di deretan paling teratas. Mengapa? Di postingan ini 5 Fakta Paling Rahasia Tentang Diri Sendiri aku sudah menjelaskan bahwa buku bagai separuh jiwaku. Saking wajibnya, dulu pernah digelar kutu buku yang di mana ada aku di situ ada buku. Sepertinya status setelah menikah dan menjadi seorang ibu tak juga melengser kedudukan barang yang satu ini.

Meski setelah menjadi ibu, tadinya sempat berisi printilan perlengkapan anak ketika Aidan masih bayi. Seperti pampers, minyak telon, tisu basah, dll. Tetapi buku tetap ada di antara mereka sebagai satu yang tak tergantikan.

Begitu pun saat travelling. Pede saja bawa buku bacaan maupun buku catatan saku, yang bertujuan untuk mencatat hal-hal penting yang jadi brainstorming ketika menulis nantinya. Buku bacaan? Meski kadang malah nggak sempat baca kalau pas lagi dolan ke mana, tetapi bukan berarti nggak bermanfaat. Sesekali foto sama buku juga menarik loh. Ala-ala muslimah yang sedang serius membaca dan tetiba seorang fotografer tampan *bacasuami sedang diam-diam mengabadikan potret muslimah tersebut :D Hahaha, lambaikan senyum ke kamera.

Pokoknya ini jadi satu barang wajib yang selalu ada di dalam tas, ke manapun dan kapan pun.

2. Minyak Kayu Putih, Freshcare, Obat-Obatan dan sejenisnya

Mengapa ini jadi barang wajib? Aku mudah sekali sakit kepala ketika berada di suatu tempat yang terlalu terik atau dingin. Setidaknya barang yang satu ini bisa meredakan perasaan tak nyaman yang ada di kepala, pundak, maupun leher ketika sedang bepergian. Kuliah pun demikian. Kalau seharian keforsir untuk fokus ke dosen di depan kelas, pulangnya nggak jarang disapa migrain.

So, ini jadi barang wajib bawa dan selalu ada di tas.

3. Face Mist dan Bedak Tabur

Sebagai seorang wanitahh, muslimah yang tetap peduli dengan penampilan diri, ini juga jadi barang wajib bawa. Terlebih kalau lagi bepergian dan stok bedak yang menempel di wajah sudah terkikis debu dan keringat. Setelah wudhu bisa touch up lagi meski cuma nepukin bedak tabur ke muka yang sebelumnya disemprot face mist biar nggak kusam. Belakangan aku suka pakai face mist yang kebetulan dikasih gretongan hasil endorse di Instagram @bianglalahirah_yang beraroma therapy. Terbukti kalau pas panas-panasan, lagi gerah, kulit mulai merah, semprotin face mist bisa sedikit lebih fresh dan mereda.

Aslinya aku bukan tipikal perempuan yang suka dandan, yang wajib banget kudu pakai printilan make up di wajah. Dari pada harus pakai make up, aku lebih memilih untuk rutin dan telaten ke skincare. Selain jaminan kulit sehat, bersih dan terawat.. nggak harus juga menghabiskan waktu lebih lama di depan cermin :)

Biar nggak polos-polos banget, langganan bedak dari masih bocah ke gadis sampai setelah menikah yaitu bedak tabur Baby. Tahu kan produk yang satu ini? Setelah punya anak pun bedaknya samaan sama anak. Untuk pelembab, sunblock, dan nutrisi kulit aku percayakan pada skincare yang aku pakai. Selebihnya cukup cuma olesin lipstik matte ke bibir tipis-tipis. Karena cantik nggak harus menor kan ya? Cantik nggak harus pakai make up. Kembali ke pilihan masing-masing. Karena pada dasarnya perempuan suka yang indah-indah dan suka berpenampilan cantik. So keep beauty, Muslimah. But say no to tabarruj, right? ;-)

4. Dompet, Charger, Kamera

Kalau dompet sudah tahu kan ya isinya apa saja? Selain uang, kartu ATM, e-KTP, struk belanja atau bill rumah makan tertentu.. pasti nggak jauh-jauh lah dengan benda familiar yang mengisi dompet setiap orang pada umumnya.

Charger handphone maupun kamera juga jadi bawaan wajib. Supaya bisa antisipasi kalau sewaktu-waktu kita perlu mencharge ulang kapasitas baterai yang melemah. Sebenarnya bisa pakai power bank, tetapi untukku benda yang satu ini jadi jarang berguna karena seringnya lupa ngisi. Nggak jarang nyempil di suatu tempat yang tak diketahui begitu sedang akan digunakan. Jadi charger tetap jadi hal wajib yang efisien :)

Kamera oh camera. Tanpamu bagaimana bisa perjalanan ini terekam sedemikian indah dalam capture-capture yang diambil di setiap sudut tempat yang dikunjungi. Selain suka nulis dan travelling, photography menjadi dunia yang begitu asyik kutekuni. Lensa kamera membantuku untuk menangkap angle tak biasa yang kadang tak tampak jika hanya dilihat melalui mata telanjang manusia. Ada banyak hal menakjubkan yang bisa kamu abadikan lewat lensa kamera. Nggak harus kamera mahal kok, karena seni photography tergantung siapa yang mengambil gambar bukan semahal apa kameranya.

So, ini juga jadi barang wajib bawa untukku ^_^

5. Al-Qur'an dan Mukena Praktis untuk Shalat

Yang terakhir ini menjadi  sangat perlu untuk dibawa, kenapa? Di setiap jengkal perjalanan kita muara akhirnya tetap yang Maha Kuasa. Ada 5 waktu khusus yang tak boleh terlupa meski seasyik apapun kita saat bepergian. Sisihkan waktu berkualitas pula dengan Allah.

Self reminder juga nih sebenarnya. Membawa dua barang ini sebenarnya jadi barang pokok dari semua bawaan ya. Jadi bisa sebagai pengingat setiap saat ketika membuka tas, bahwa ada kewajiban yang tak kalah penting yang tetap harus ditunaikan sebagai seorang muslim.

Mengapa bawa mukena? Apa nggak ribet? Sekarang kan sudah banyak beredar mukena lipat yang kemasannya simpel dan ringan untuk dibawa ke mana-mana. Juga tidak menghabiskan banyak ruang di dalam backpack. Dari harga yang cukup terjangkau sampai masuk ke kategori mahal. Walau mungkin tiap masjid dan mushola saat ini menyediakan mukena khusus di dalamnya untuk dikenakan siapa saja yang hendak menunaikan sholat.

Tetapi tak bisa dipungkiri bahwa tak sedikit dari mukena-mukena tersebut yang kurang terawat, kurang bersih, bahkan bau. Demi kenyamanan diri sendiri dan tetap khusyuk ketika shalat, nggak ada salahnya kita membawa mukena sendiri yang terjamin kebersihannya. Bisa jadi pengingat lagi nih, mungkin mukena-mukena itu butuh relawan yang siap mencuci bersih atau menggantikan mukena yang mulai tak layak pakai dengan mukena baru. Khusus untuk masjid maupun mushola di tempat-tempat yang dikunjungi maupun yang ada di sekitar kita. Tertarik? :)

__

Nah, dear muslimah. Ini jadi 5 point wajib yang berhasil aku list dan bagikan di sini. Semoga bermanfaat untukmu ya. Selain ini pasti tetap ada barang lain yang wajib bawa terlebih untuk seorang perempuan yang punya siklus haid setiap bulannya. Pembalut juga bisa jadi satu diantaranya, untuk berjaga kalau tiba-tiba tamu itu datang di waktu tak terduga. Selain itu, kamu juga bisa bawa baju ganti kalau berniat untuk menginap dan tinggal di tempat tujuanmu selama beberapa hari.

Dari sini, sudah punya gambaran barang-barang penting apa saja yang bisa kamu bawa ketika travelling atau mungkin bepergian ke suatu tempat dalam rangka lain? Semoga bermanfaat yaa dear muslimah.


#30DayBlogChallenge
#BloggerPerempuan
#Day8

***************************

Copyright : @bianglalahijrah
Magelang, 27 November 2018
picture by : Google Search

Monday, 26 November 2018

5 Tempat Kuliner Paling Favorit di Magelang

17:20 0 Comments

Bismillah, tantangan di hari ketujuh BPN 30 Day Blog Challenge adalah menulis tentang 5 warung makan atau restoran terfavorit versi diri sendiri. Emm, muter otak dulu untuk mengingat rumah makan atau resto mana saja yang pernah disambangi. Meski aku dan suami sama-sama suka jajan, suka makan, seringnya ide untuk makan di luar pun membuat kami seperti mengocok dadu harus terdampar di rumah makan yang mana.

Yapp, nggak jarang setelah muter-muter akhirnya asal mampir karena keburu lapar. Kalau sudah begini nggak kepikiran lagi untuk mengingat nama warung makan atau resto yang baru dimasuki. Jika berjodoh kami akan kembali hanya dengan modal mengingat denah lokasi dan jalan menuju tempat makan tersebut. Bagi kami, makan nggak harus di suatu tempat mewah dengan lokasi ala-ala cafe atau restoran mahal. Di kucingan juga oke selama rasanya benar-benar bisa menggugah selera plus memanjakan lidah. Paling penting, nggak bikin kantong bolong dan terhitung boros hanya untuk makan di luar rumah. Kalau sesekali boleh lah, di moment anniversary misalnya.

So untuk tidak memperpanjang mukadimah, berikut 5 tempat makan paling favorit di Magelang. Jika masuk ke daftar sudah bisa dipastikan karena rasa tak pernah berbohong:

1. d'orange Resto, Trio Plaza Magelang

Lokasi : Jl. Alun-Alun Utara No.6, Magelang, Jawa Tengah, 56117
Buka : Dari jam 09.00 pagi sampai pukul 21.00 malam

Menurutku ini tempat makan yang menunya tak hanya bersahabat di lidah tetapi juga di kantong. Ada satu menu yang sangat kugemari di sini, dari awal rilis sampai sekarang. Kalau mampir ke resto ini selalu jadi menu favorit, yaitu Ayam Geprek. Tahu kan kuliner yang satu ini? Meski masih terhitung baru naik daun, tetapi Ayam Geprek sudah bisa ditemukan di daerah mana pun sepertinya. Tak jarang ada resto atau rumah makan tertentu yang juga turut serta menyediakan menu olahan daging ayam yang satu ini.

Tak hanya Ayam Geprek dengan cita rasa khas yang pedasnya bisa kamu tentukan sendiri sesuai level pedas yang kamu sanggupi. Ada banyak menu-menu lainnya yang bisa memanjakan lidah. Diantaranya ada aneka nasi goreng dari seafood hingga Magelangan, aneka olahan ikan dan daging ayam serta sapi, soto, bakso dan masih banyak lagi menu yang disediakan. Oh iya, menu minumnya juga banyak yang menggugah selera lho. Kamu dapat memesan aneka jus, hingga minuman ala-ala kekinian di sini. Dari rasa dan tampilan sajiannya, tak perlu diragukan ya. Ini jadi satu resto favorit semua keluarga yang ada di Magelang, karena tepat berada di utara Alun-Alun Kota Magelang. Lokasi yang strategis dengan tempat yang sejuk, pelayanan yang nggak begitu buruk, ramah anak, jadi alternatif banyak keluarga untuk hunting di akhir pekan.

Kamu sudah pernah ke sini atau baru berencana ke sini? :)

2.  Sailendra Food Court, Artos Mall Magelang

Lokasi : Artos Mall Lt. UG, Kedungdowo, Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah 56172
Buka : 08.00 pagi sampai pukul 21.00 malam

Satu lagi tempat makan favorit untuk banyak orang yang ada di Magelang : D
Tepatnya Sailendra Food Court. Untuk menunya beragam, ada smoking area, charge station free, dan dekat dengan mushola. Kalau kebetulan makan di sini, jangan khawatir bakal ketinggalan waktu untuk menunaikan ibadah shalat karena ruang mushola tersedia dekat food court ini :)

Ada banyak sekali makanan dari berbagai macam gerai yang menyediakan menu-menu yang bisa kamu pilih sesuai selera dan isi dompet. Seperti Bugis Kuliner Makassar, Java Steak, Ayam Kosek Panjiwo, Bebek Peking Oye, Miasari Express, Rooster, Pempek 77, dan masih banyak lagi.

Sayangnya untuk makan di sini bagiku lumayan menguras isi kantong, karena biaya pajak yang tinggi mungkin? Untuk rasa sih, relatif lidah masing-masing ya. Nggak terlalu buruk. Termasuk enak dengan tempat yang bersih, pelayanan yang baik, dan ramah anak juga.

3. Warung SS "Serba Sambal" Borobudur

Lokasi : Jl. Balaputradewa No. 5, Dusun 1, Wanurejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah 56553
Buka : 09.00 pagi sampai 22.00 malam

Kalau ini sih jadi favorit banget ya. Secara aku pecinta sambal dan makanan pedas. Pertama kali ke sini bareng teman kuliah sepulang dari hunting foto untuk produk hijab di salah satu destinasi yang ada di area Borobudur. Nah untuk menjangkau warung makan ini pun sangat mudah, karena letaknya yang strategis di pinggir jalan. Selain itu SS sudah buka cabang di banyak tempat.

Untuk tempatnya aku kasih bintang tiga. Untuk rasa jelas bintang lima. Selain murah dan sangat terjangkau sekali, rasanya pun enak banget. Pilihan menu sambal dan sayur bisa kamu pesan sesuai selera. Dijamin nggak bakal nyesel terdampar di warung makan yang satu ini. Karena benar-benar memanjakan lidah dan nggak bikin kantong kamu bolong.

Sebelum mengunjungi candi Borobudur, atau mungkin sepulangnya, kamu bisa rencanakan untuk makan di tempat ini ya. Ini satu yang aku rekomendasikan untuk kalian yang baru berkunjung ke Magelang dan lagi nyari warung makan ala-ala ndeso yang enak tapi murah. Terpenting asal kamu pecinta sambel, tempat ini jelas reccommended :)

4. Ayam Penyet Surabaya

Lokasi : Jl. Mayjen Bambang Soegeng No.57, Salakan, Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah 56172
Buka : 08.00 pagi sampai 22.00 malam

Mampir ke sini kalau kebetulan pulang ngetrip dari Jogja. Menunya no koment deh menurutku. Cocok juga untuk pecinta sambal, buat yang suka pedas. Selain ada ayam bakar dan ayam goreng yang terkenal enak. Masih ada menu lainya yang bisa kamu pilih. Soal harga masih terjangkau, bersahabat di kantong. Bisa makan enak, mengenyangkan, tapi nggak kemahalan.

Sayangnya tempat makan ini sering banget penuh. Tiap kali ke sini jarang banget pas sepi.

Untuk pelayanannya termasuk oke, ramah dan fast juga kalau nggak lagi padat ya. Rating buat tempatnya nyaman-nyaman saja sih menurutku. Kalau punya baby dan pengen duduk lesehan sambil makan, bisa naik ke lantai dua. So, ini juga termasuk warung makan yang bisa kamu kunjungi ketika berada di Magelang dan dalam kondisi lapar :D

5. Sentra Kuliner Tuin Van Java di Alun-Alun Kota Magelang

Lokasi : Jalan Alun-Alun Utara, Kemirirejo, Magelang Tengah, Kota Magelang, Jawa Tengah, 56117
Buka : 07.00 pagi sampai 23.00 malam

Tempat ke-lima yang jadi tempat favorit untukku sekeluarga. Ini sangat aku rekomendasikan buat kalian yang sedang berkunjung ke Magelang. Ada banyak sekali jajanan dan pilihan kuliner dengan harga relatif bersahabat. Soal rasa menurutku sih oke. Tinggal pilih kamu mau duduk dan makan di counter kuliner yang mana.

Masih ada pengamen sesekali, jadi siap-siap saja uang recehnya ya. Mau ngasih lebih juga boleh :)

Lokasi tepat di bagian utara alun-alun kota Magelang. Pokoknya wajib mampir ke sini juga kalau kamu main ke Magelang. Tempatnya berseberangan nih dengan d'orange Resto Trio Plaza yang aku sebutin pertama.

Parkir luas, dekat toilet dan katanya sih sekarang tersedia free wifi. Dekat sama masjid agung kota Magelang. Kalau di bulan Ramadhan, nuansanya selalu bikin kangen. Ramai dan selalu asyik untuk jadi tempat singgah, meski cuma dolan sebentar. Sekalipun cuma lesehan di kucingan yang ada di pinggir alun-alun setiap sore menjelang sampai malam.
__

Nah, sudah ada lima tempat favorit yang aku bagi di sini. Sepertinya bukan hanya tempat favorit untukku pribadi ya. Melainkan banyak keluarga yang lain. Kamu tertarik ke Magelang? Bingung nyari makan di mana? Mungkin salah satu tempat makan yang aku sebutkan di sini bisa jadi referensi yang cocok buatmu.

Aslinya, Magelang punya banyaaaaakkk sekali tempat kuliner untuk memanjakan lidah. Dari yang murah sampai yang relatif mahal. Kembali ke pilihan masing-masing ya :)

Selamatttt makan :D

#Day7
#BPN30DayChallenge2018
#BloggerPerempuan

********************

copyright : @bianglalahijrah
Magelang, 26 November 2018
picture by : bloguettes.com

Sunday, 25 November 2018

5 Fakta Paling Rahasia Tentang Diri Sendiri [About My Self]

17:30 0 Comments

Bismillah, tema hari ke-enam di BPN 30 Day Blog Challenge adalah mengungkap 5 fakta tentang diri sendiri. Jujur aku sempat bingung harus menulis fakta apa tentang "about my self". Takutnya malah pencitraan kalau hasilnya bagus semua. Hahaha. Tapi melalui tantangan kali ini di Blogger Perempuan, aku harus rela berbagi tentang fakta-fakta yang mungkin tak semua orang ketahui tentangku.

Terlebih bagi mereka yang hanya membaca tulisanku saja atau mungkin hanya sekedar melihat sosokku dari galeri album di akun Instagram @bianglalahijrah_. Nah, agar nggak banyak yang salah paham, salah prasangka, atau jadi jatuh cinta sama sosok yang ada di balik semua postingan-postingan itu.. baiklah berikut tentang hal-hal yang tak bisa ditampik dari diriku yang sebenarnya. Ditulis dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan maupun ancaman dari pihak mana pun.

Sudah mulai penasaran? Berikut penjelasannya.. :)

1. Perfeksionis

Katanya sih orang yang perfeksionis itu cenderung sangat rasional dan idealis. Dalam kehidupan sehari-hari termasuk ketika mengerjakan pekerjaan rumah. Hal kecil yang kalau sudah dikerjakan maka tak boleh ada kesalahan. Semisal nggak rapi, kurang bersih, nggak berjalan sesuai keinginan. Tak jarang hanya sekedar menyapu rumah, bisa diulang berkali-kali karena saking wajibnya bersih dan rapi sesuai level kepuasan. Meski belum se-jam akan kotor lagi karena bolak-balik dilewati. Bisa juga dari remah-remah makanan Aidan yang jatuh ke lantai. Yakin deh, jadi orang perfeksionis itu enak nggak enak. Kadang juga melelahkan. Kesannya, ada waktu-waktu di mana kamu seperti merepotkan diri sendiri. Tetapi jika hal itu tidak dilakukan dengan paripurna maka justru level stres akan meningkat signifikan. Apalagi ibu rumah tangga yang digandrungi banyak pekerjaan dari bangun tidur hingga mau tidur lagi. Kebayang kan bagaimana riweuhnya orang yang perfeksionis itu? Semua harus berjalan sesuai harapan yang dipatok.

Tapi memang ini menjadi satu dari fakta yang ada padaku. Mengapa aku tempatkan pada posisi teratas nomor satu? Karena hal ini yang seringkali aku dengar dari suami, "Kamu perfeksionis banget."

Yeah, i am perfecsionist. Tetapi bukan berarti tak pernah salah :)

2. Ekstrovert yang Meng-Introvert

Fakta kedua :D

Aku jelas lebih cocok ke Ekstrovert ketimbang Introvert. Tapi tak jarang orang yang ekstrovert pun bisa jadi introvert. Aku orang yang mudah bergaul dengan siapa saja, menyukai hal-hal berbau tantangan yang memacu adrenalin, mungkin. Menyukai aktivitas di luar rumah yang berhubungan dengan alam. Di samping itu aku juga memiliki kebiasaan orang dengan karakter introvert yang menyukai kesendirian meski bukan berarti individualis. Aku juga lebih senang menulis segala apa yang ada di pikiranku entah itu di blog, buku diary, dll. Ketimbang harus mengutarakannya langsung melalui lisan. Pokoknya, aku manusia dengan kombinasi ekstrovert dan introvert dalam dirinya. Mungkin nggak sih? :D

3. Book Lover, Rela Puasa Demi Beli Buku

Satu lagi fakta soal diri inih, aku sangat-sangat mencintai buku. Dari kecil memang sudah suka baca. Dulu bisanya meminjam majalah Bobo dan koleksi komik Petruk punya tetangga. Terlebih keluargaku bukanlah tipe orang yang suka menghabiskan waktu untuk membaca. Apalagi membeli buku. Masih ingat banget zaman dulu waktu masih ikut orangtua, tiap habis beli buku bakal diumpetin di bawah tempat tidur. Begitu sudah bisa menghasilkan uang sendiri, minat untuk membeli buku tak pernah lekang. Dimulai dari tahun 2010 aku mulai menyisihkan uang untuk membeli buku dan mulai mengkoleksi bacaan demi melampiaskan hasrat membaca. Aseeliikkk, rela puasa demi beli buku :'D

Setelah menikah dan pindah menetap di Jawa, buku-buku yang ada di Riau aku boyong ke sini. Sampai sekarang alhamdulillah, terhitung ratusan judul buku dari berbagai genre yang menghiasi lemari buku perpustakaan mini di rumah. Cita-cita sejak dulu sampai sekarang, pengen punya perpustakaan lengkap di rumah yang bisa bermanfaat untuk masyarakat terlebih anak-anak sekitar. Agar bisa memfasilitasi mereka untuk lebih giat membaca. Cinta baca, cinta ilmu dong :)

Jadi buatmu yang punya inisiatif untuk ngasih hadiah, kasih buku saja deh. Seperti halnya suami ketika hari milad istrinya lebih memilih untuk menghadiahi koleksi buku. Karena kalau dibeliin sesuatu yang bersifat pakaian, bakal ketahuan kalau jarang dipakai akhirnya. Ujung-ujungnya malah nganggur di lemari. Tapi ya tetap kupakai lah, secara hadiah dari orang tercinta :-*

4. Terlihat Tegar, Tetapi Aslinya Cengeng

Aku bersyukur sepanjang hidup yang Allah berikan hingga kini, diwarnai dengan begitu banyak kejadian dan lika-liku penuh warna. Dari jatuh sampai ke proses bangkit. Dari 0 sampai satu persatu mimpi tergenggam tangan. Karena semua pengalaman hidup yang Allah beri tersebut, aku menjadi lebih kuat dan tegar. Meski usia remaja kuhabiskan dengan konflik keluarga hingga harus dewasa dini. Ketika broken home menjadi satu-satunya mimpi buruk, tetapi lantas mengubah jalan hidupku hingga bisa seperti saat ini. Semua tak lepas dari skenario Allah yang Maha Besar.

Yakin deh, semua ada hikmahnya. Pun meski aku terlihat tegar dan kuat, tetap saja ada sisi lembut, lemah, cengeng, manja, yang masih tersimpan rapat-rapat di dalam diri. Hanya saja, keadaan lah yang telah memenggal itu. Aku hanya harus tampak kuat dan tegar meski diterpa ujian yang bertubi-tubi sekalipun. Meski pada saat merasa lemah, selalu ada alasan untuk menguatkan diri sendiri. Jadi kalau orang-orang melihatku tetap supel, tenang, ceria, bukan berarti di balik itu tidak ada beban atau masalah. Seringnya orang mungkin tak bisa menafsirkan rasa yang ada di balik raut wajah :)

Tetapi memang begitulah harusnya, seberapa lemah pun kamu.. jangan biarkan orang lain melihatnya. Seberapa manja pun kamu, pada akhirnya toh kamu tetap harus berdiri sendiri dan mandiri dalam persoalan apapun di dalam hidup. Lepas dari kebergantungan pada orang lain, selama kamu bisa melakukannya sendiri. Kamu hanya harus tetap kuat dan tegar.

5. Melankolis, Moody dan Sensitif

Tipe melankolis sebab ada hal-hal yang menurutku sederhana, tetapi bagi orang lain rumit. Begitupun sebaliknya. Agak susah membuat orang lain bisa memahami betul apa yang diinginkan si tipe melankolis ini. Moody, apapun kondisinya kalau lagi senang atau sedih ya sudah ikuti saja alurnya. Kadang tiba-tiba penuh semangat, kadang tiba-tiba melemah. Pokoknya moodyan banget. Satu lagi, sensitif :'D

Mau bagaimana lagi, kadang kalau jiwa dan raga sudah lelah akan mudah sekali merasa sentiment dengan perkataan maupun perbuatan orang lain yang tak mengenakkan hati. Jadi memang nggak begitu senang bercanda sekiranya nggak penting, yang menurutku memang nggak lucu. Tak heran kalau teman-teman merasa bahwa kadang-kadang aku juga tipe serius, lelucon mereka jarang ada yang bisa kupahami sebagai isyarat dari bahasa stand up. Hanya lelucon untuk menghibur bukan untuk menyindir pihak mana pun. :'D
__

Fiuh, sudah sampai di fakta kelima. Masih banyak lagi fakta-fakta yang ada di dalam diri. Tapi lima fakta ini kutulis karena benar-benar bersinggungan denganku di kehidupan sehari-hari.

Kalau orang lain nggak kenal dekat sama aku mereka bakal mengira kalau aku orang yang pendiam, ketus mungkin? Aslinya kalau sudah kenal, justru aku jadi orang yang paling banyak bicara. Cerita atau berita apa saja bisa jadi bahan obrolan kalau sudah duduk bersama.

Di antara semua fakta-fakta itu. Tentunya bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang yang tahu persis bagaimana aku. Orang-orang yang mau memaklumi dan menerima apa adanya diri ini tanpa banyak menuntut. Bersyukur sebab di antara mereka, masih ada yang peduli untuk memberikan nasehat berharga ketika salah dengan cara yang baik. Meluruskan yang keliru entah itu tindakan, ucapan maupun tulisan.

5 fakta yang kutulis di sini mungkin belum menceritakan detil bagaimana aku sebenarnya. Setidaknya cukup jelas ya teman-teman, besok kalau berpapasan jangan sungkan menyapa. Ngajak foto juga boleh *pedeeee. Sebab itu, tak kenal maka tak sayang. Pada dasarnya aku senang dikelilingi oleh banyak orang yang hangat dan bersahabat. Senang setiap kali bertambah kenalan. Senang ketika kembali beroleh sahabat atau teman baru di setiap tempat atau destinasi yang dikunjungi saat travelling.

Jadi, semoga 5 fakta ini bisa memberikan sedikit gambaran pada kalian tentang bagaimana aku.

Cukup sekian dan semoga bermanfaat perkenalan ini, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

#BPN30dayChallenge2018
#bloggerperempuan
#day6
******************

copyright : @bianglalahijrah
Magelang, 25 November 2018
picture by weheartit.com

Friday, 16 November 2018

Membangun Prasangka Baik di Balik Ujian yang Menimpa

21:07 0 Comments

Bismillah. Banyak hal yang terlampaui akhir-akhir ini. Begitu pula dengan keputusan untuk pulang dan kembali berjibaku dengan hal-hal yang ada di tempat ini. Dengan suasana yang tak banyak berubah. Orang-orang yang sama. Kekepoan yang sama. Kenyinyiran yang sama. Dinamika yang juga sama. Perbedaannya, setidaknya aku merasa lebih siap mental untuk menghadapi ini sekarang. Untuk membangun prasangka baik, untuk memaknai hikmah dari ujian yang menimpa.

Komitmen demi berbirrul walidain. Serta harapan bahwa pengalaman yang sudah-sudah cukup memberiku kekuatan untuk bertahan lebih baik dan lebih kuat dari sebelumnya.

Ketika berkata say goodbye pada kediaman terakhir kami, aku benar-benar menata hati bahwa tak ada lagi yang tersisa untuk rumah itu. Sebab rumah yang kini menjadi tujuan kami pulang adalah muara untuk semua hal yang patut diperjuangkan sekaligus disyukuri, akhirnya memang akan seperti ini. Terlepas apakah kembali menggoreskan trauma yang sama tentang pengalaman yang dulu dilalui, atau mungkin menjadi jauh lebih baik dan semakin baik lagi.

Apa yang bisa menjadi pilihan lain seorang menantu sekaligus istri selain taat? Jika pulang adalah satu-satunya solusi demi kebaikan semua orang terutama bakti pada orangtua suami, maka mengalah adalah kewajiban. Tak ada ruang untuk mencipta dunia sendiri di luar sana. Yang baik lingkungan maupun suasananya takkan memberimu rasa pengap untuk leluasa bernafas.

Maka, semoga yang kusemogakan. Teriring doa dari mereka yang menyematkan namaku di dalam munajatnya. Bagiku, kembali ke rumah ini adalah perjuangan. Entah layak atau tidak jika ini kusebut sebagai pengorbanan pula. Sebab bagaimana rasanya jika harus kembali berbaur dengan orang-orang di lingkungan yang dulu pernah membuatmu menguras airmata setiap hari?

Bagaimana rasanya ketika harus membangun prasangka baik lagi dan lagi demi untuk menjalani kehidupan normal kendati di waktu bersamaan hatimu juga menyimpan kecurigaan. Karena berkaca dari kejadian pun pengalaman yang sudah-sudah, masih ada luka yang tersingkap begitu saja.

Barangkali kehidupan pernikahan yang kubangun dalam ekspektasiku dulu begitu muluk. Bahwa cukup dengan cinta kau mampu membangun istana dalam wujud rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah dengan suka cita. Tanpa pernah terpikir bahwa di dalam realitanya setiap orang akan terbentur dengan masalah dan mungkin pula terluka.

Menginjak tahun ketujuh, betapa aku mendewasa dengan semua ini. Masa muda yang kuhabiskan untuk membuka mata lebih lebar pada realita kehidupan yang ada. Masa muda yang dihabiskan untuk belajar menyelami berbagai permasalahan yang datang, untuk lebih bijaksana dan kian dewasa. Insyaa Allah.

Untuk usia yang beranjak di angka 25 tahun. Terima kasih untuk airmata atau tawa. Untuk suka dan duka yang telah mengiringi langkah.

Di sini, jauh dari keluarga dan sanak saudara dekat. Jauh dari orangtua kandung. Ketika menangis dan menyeka sendiri airmata adalah pilihan terbaik ketimbang harus mengadu pada sesiapa di seberang sana. Rasanya jauh lebih tenang, jika mereka hanya mendengar kabar yang baik-baik saja.

Ini yang disebut konsekuensi dari pilihan yang kau ambil bertahun-tahun lalu. Setiap orang juga pasti berhadapan dengan konsekuensinya masing-masing untuk apapun keputusan yang ia ambil dan jalani saat ini. Paling tidak, kita beroleh pembelajaran dari itu. Suka atau tidak, pada akhirnya kita tetap akan bersyukur ketika mendapati hikmah apa yang ada di balik semua itu. Barangkali, suatu hari nanti kita akan lebih mensyukuri jalan berkelok yang Allah gariskan ketimbang jalan mulus yang kita rancang sendiri.

Dan di mana pun tempatnya, kita akan selalu bertemu dengan orang-orang yang tulus menyukai sekaligus orang-orang yang turut membenci. Seberapa banyak orang yang menyukai kita, sebanyak itu pula orang-orang yang akan membenci kita. Kita sendiri tak bisa mengatur diri untuk menjadi seseorang yang akan selalu disukai dan diterima oleh siapa saja di mana pun berada.

Kadang, sekalipun kita berusaha untuk menjaga attitude termasuk pula ucapan hingga tulisan.. tetap ada orang yang melayangkan ketidaksukaannya terlebih kebenciannya. Mengapa? Karena satu-satunya hal yang tak bisa kita saring adalah isi hati dan pikiran orang lain tentang kita. Kita tak bisa menangkis apalagi memangkas prasangka buruk apa yang orang lain bangun terhadap kita.

Hal mustahil untuk membuat semua orang tetap menyabitkan senyum dan sapa ketika berpapasan maupun hidup berdampingan. Hal mustahil untuk beroleh semua keridhaan manusia, sedang baik kita maupun mereka sama-sama tak sempurna. Hanya nilai yang kita bangun sendiri yang seringnya menjadi sekat perbedaan.

Bismillah, penting untuk tetap meluruskan niat. Menata kembali apa-apa yang sudah tersusun dalam azam. Bahwa ketika ridha manusia yang engkau cari, hatimu justru akan semakin kecil dan mengerdil. Tetapi jika ridha Allah yang menjadi orientasi, hatimu akan senantiasa lapang walau ujian menghimpit bertubi-tubi.

Laa hawla walaa quwaata Illa Billah ..

Positifnya, aku yakin kembali ke tempat ini adalah satu dari berjuta maksud baik yang ingin Allah buka dan tunjukkan padaku. Jika tak pernah ada beban tanpa pundak. Begitu pula dengan setiap ikhtiar yang terkerahkan, tak ada yang pernah terhempas jatuh ke dasar tanah kemudian hangus tak bermakna. Allah punya skenario. Allah punya rencana. Kita manusia hanya pelakon, hanya tinggal melakoni apa-apa yang telah dijatahkan.

Ishbir, innallaha ma'ana. Tulisan ini semata-mata untuk memotivasi diri sendiri. Catatan yang juga ditujukan pada diri sendiri untuk membangun kembali azam, mengokohkannya dengan doa sekaligus prasangka baik. Sebab segala sesuatu kembali kepada niatnya.


Teruntuk pula semua istri sekaligus ibu yang tengah menunaikan bakti kepada suami dan mertua. Setiap kita melewati ranah berbeda, ujian yang berbeda dengan awal dan akhir yang tak persis sama. Tetapi satu yang sama-sama kita miliki kemudian, kekayaan apa yang lahir dari sebuah hikmah maupun ibrah. Hari ini, besok, dan seterusnya. Semoga Allah teguh dan kokohkan langkah untuk terus menanam kebaikan dalam wujud apapun dan Dia sebagai orientasinya. Aamiin.

Let the pain of tribulation be lightened for you by knowing that it is He Most Glorious who is making trial of you; For Him from whom you are faced with the blows of fate is He who has accustomed you to His choosing well. Agar ujian terasa ringan, engkau harus mengetahui bahwa Allahlah yang memberimu ujian. Dzat yang menetapkan beragam takdir atasmu adalah Dzat yang selalu memberimu pilihan terbaik. #SelfRemind kata-kata yang mengalirkan energi positif dari Ibnu Atha'Illah As-Sakandari.

***********************

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. al-Baqarah [2] : 216)

Semoga bermanfaat :)

Magelang, 16 November 2018
copyright : @bianglalahijrah_

Wednesday, 14 November 2018

Fakta Dunia Perkuliahan : Keluar Masuk Kampus dengan Prodi yang Berbeda

13:30 0 Comments
 
Bismillah, sebuah refleksi lagi. Bahwasanya, hidup memang bukan tentang seberapa banyak orang yang bisa mengangguk setuju di hadapanmu lalu kemudian berkata tentang kebenaranmu. Melainkan seberapa bijak kita menghadapi kepala-kepala yang tak selalu satu frekuensi denganmu. Seberapa bijaksana kita menyikapi orang-orang yang tak selalu sejurus dan sejalan dengan kita.

Perbedaan itu akan senantiasa ada mewarnai. Baik antara anak dengan orangtua. Istri dengan suami. Menantu dengan mertua. Murabbi dengan mutarabbinya. Guru dengan siswanya. Hingga pada kasusku, dosen dengan mahasiswanya. Atau mahasiswa antar mahasiswa yang lain.

Sebelumnya, aku beberapa kali sempat masuk kemudian hengkang dari kampus maupun prodi yang kupilih. Ada banyak sebab dan alasan. Salah satunya adalah perbedaan fiqroh yang mewarnai. Lingkup kampus yang tak mensupport. Serta banyak lagi yang bertolak belakang dengan kata hati jika disandingkan pada realita yang dihadapi ketika di kampus.

Universitas pertama yang kumasuki selama berada di Magelang begitu terasa asing dan mengasingkan. Baik lingkupnya terlebih teman-temannya. Barangkali karena pemakai hijab syar'i masih terhitung jari. Sedang mahasiswanya datang dari keyakinan, profesi, dan latar belakang yang beragam. Jika pun muslimah lain mendominasi, tetapi hijab yang dikenakan nyatanya jadi pembeda. Karena perbedaan itu pula, rasa terdiskriminasi jauh lebih ketara. Merasa diasingkan, dikecualikan, tak beroleh ruang untuk ikut bersuara. Serta ketidaknyaman yang lain. Tiba-tiba keputusan untuk terdampar di S1 Sistem Informasi menjadi keputusan yang keliru.

Kondisi ibu muda yang masih melalui fase menyusui saat itu, membuatku lebih sentimentil dan melankolis dalam menyikapi atmosfer baru di kampus. Kerapnya aku menangis di hadapan suami. Meminta izin beliau untuk hengkang dari kampus yang juga jadi tempatnya untuk beroleh gelar S. Kom. Suami pula yang merekomendasikan kampus dan prodi ini. Dengan beberapa pertimbangan yang diharapkan mendatangkan kebaikan bagi kami bersama di masa mendatang.

Faktanya, aku lebih memilih untuk mangkir seterusnya. Harapan yang tadinya menjadi motivasi ketika memilih prodi ini hangus seketika.

Beberapa bulan kemudian, lagi-lagi lewat suami yang memberi info jika salah satu universitas ternama di Semarang membuka kelas di Magelang dan Prodi-nya pun sesuai dengan keinginanku. Aku kembali bersemangat untuk memasuki dunia perkuliahan dengan niat bertholibul 'ilmi. Prodi S1 Pendidikan Agama Islam menjadi solusi yang diharapkan.

Aku berprasangka baik karena akan bertemu teman-teman yang kuharap bisa sefikroh denganku, welcome dengan muslimah berbusana syar'i. Tetapi kemudian, lagi-lagi hanya tinggal harapan. Aku hanya bertahan di satu semester pertama. Masa-masa perkuliahan di atmosfer baru kali ini justru lebih mencengangkan.

Jika di kampus sebelumnya aku hanya merasa terasing oleh teman-teman yang notaben memang tak semuanya muslim. Tantangan di kelas ini ternyata tak kalah sengit. Dari cara mereka berinteraksi, memperlakukan mahasiswi baru yang katanya lebih nyar'i dari mereka yang mengasuh salah satu pondok pesantren. Sebab beberapa dari teman sekelasku saat itu adalah ustadz sekaligus ustadzah di sebuah ponpes yang latar belakangnya tak begitu kuketahui.

Lagi-lagi perasaan asing menyelinap begitu saja. Mereka semua muslim, tetapi penilaian akan hijab syar'i seperti sebuah sekat bahwa yang berbeda adalah sesat. Mereka mulai bertanya dari mana aku berasal, dan mengungkit se-fanatik apa orang-orang yang ada di tempat asalku. Meski aku sendiri tak merasa demikian. Pun fakta yang mereka beberkan hanya berdasarkan apa kata orang, menurut seseorang, tetapi melihat langsung jelas belum pernah. Belum lagi, interaksi antara laki-laki dan perempuan seperti tak memiliki pembatas. Ada hal-hal yang menjadi prinsip tetapi tak berlaku di sini ketika di antara mereka. Itu juga yang menjadi alasan dan sebab ketidaknyamanan lagi. Aneh ketika merasa bahwa hijab yang kukenakan, bagi mereka hanya simbol fanatisme.

Ternyata benar, yang sulit bukan berdiri sama di samping orang-orang yang berbeda keyakinan denganmu. Tetapi lebih sulit lagi, berjalan seiring bersama orang-orang yang meski memeluk keyakinan yang sama tetapi tak menjamin akan sefikroh. Satu akidah tetapi berbeda manhaj. Satu pemahaman tak menutup kemungkinan pula akan berbeda dalam melaksanakannya.

Endingnya, tak hanya lingkup dan teman-temannya saja yang menjadi pertimbangan untuk berhenti. Fakta bahwa embel-embel kuliah dengan biaya murah, semester pendek dan segera wisuda, hanya menjadi pintu bagi keuntungan beberapa oknum. Dunia perkuliahan yang diharapkan tak sepenuhnya kuperoleh di sini. Aku menyesal mengiyakan keputusan untuk melanjutkan kuliah ketika kembali memustuskan hengkang. Rasa-rasanya menjadi ibu rumah tangga jauh lebih membanggakan jika kenyataanya demikian.

Suami pasrah tak memaksakan keadaan maupun kehendak. Aku yang menjalani ini, baginya selama itu yang terbaik.

Kali kedua sewaktu memutuskan berhenti, keinginan untuk berkuliah juga menyusut drastis. Nyatanya dunia perkuliahan yang kumasuki tak seperti harapan. Aku ingin belajar dengan tenang. Berada di lingkup yang mensupport hijrahku. Bertemu teman-teman yang sefikroh. Iya pun tak sefikroh, setidaknya mereka tahu cara untuk menghargai perbedaan tanpa harus menjatuhkan yang lain. Tanpa harus membuat orang lain merasa terdiskriminasi. Diperlakukan tak adil.

Setelah keinginan untuk belajar di bangku kuliah meredup. Aku pasrah, seolah menjadi ibu rumah tangga adalah karier yang lebih cocok untukku. Di samping itu, aku memilih untuk terus aktif menulis dan travelling bersama keluarga di akhir pekan menjadi ruang kesenangan yang mendatangkan banyak hal baik dan manfaat di waktu bersamaan. Menulis, membaca, ngetrip, pun berkecimpung di dunia fotografi menjadi hal-hal yang saling berkesinambungan satu sama lain.

Aku membaca untuk menulis lebih baik sekaligus menyerap banyak ilmu. Travelling memberiku ide-ide baru ketika menulis yang bersumber dari mana saja. Dari apa yang kutemukan di sepanjang pergi dan pulangnya, atau ketika menyambangi tempat baru dan bertemu dengan orang-orang baru. Selalu ada cerita yang layak ditulis untuk disampaikan kepada banyak orang. Kemudian fotografi, bagiku tak hanya tulisan yang dapat menjelaskan banyak kata dan cerita. Tetapi gambar juga bersifat demikian. Lensa kamera membantuku untuk menangkap sudut tak biasa yang mungkin tampak sepele jika dilihat oleh mata telanjang manusia. Untuk menangkap angle-angle indah dari maha karya Tuhan, baik yang telah dibumbui oleh hasil tangan manusia.

Bagiku hal-hal ini bukan semata ajang eksistensi belaka. Dilakukan karena mendatangkan manfaat. Kebaikan bagi diri sendiri, minimal. Semua orang punya cara untuk berbahagia bukan? Kau berhak untuk itu.

Dan setelah memutuskan berkecimpung dengan semua itu. Selang setahun, aku kembali membangun motivasi untuk menjajaki dunia perkuliahan atas rekomendasi dari murabbiku sendiri. Kali ini, di kampus dan Prodi yang berbeda yaitu S1 Manajemen Pendidikan Islam. Alhamdulillah, meski semangat maupun motivasi dalam diri masih naik turun begitu saja. Setidaknya, sejauh ini aku berhasil melawan diri sendiri.

Teman-teman yang kutemui juga sedikit banyak membantuku untuk memperbaiki pemahaman diri dan membuka kaca mata lebih lebar. Terlebih interaksi antara ikhwan dan akhwat tetap terjaga. Baru di semester ini perkuliahan untuk akhwat dan ikhwan, kelasnya digabung. Jangan kan mendiskriminasi muslimah yang berhijab syar'i, justru busana ini menjadi satu hal yang wajib di sini. Aku tak lagi merasa asing dan sendirian. Ada banyak teman-teman yang berpenampilan sama denganku. Teman-teman yang terkadang juga menjadi alarm sebagai pengingat.

Jika bisa bertahan sampai di semester ini .. ketika skripsi sudah di depan mata, saat menuju podium kebanggaan di hari wisuda tinggal satu langkah lagi, jangan kira aku tak menemukan hal-hal yang tak menyenangkan. Hanya saja aku memilih untuk berhenti berpetualang di banyak kampus, karena sedikit banyak telah menemukan apa yang kuharap dalam dunia perkuliahan di sini. Selanjutnya, tugasku untuk menahan sekaligus menyaring ketidaknyamanan yang datang dalam bentuk apapun.

Sekalipun ada teman-teman yang berlaku tak adil dan membuatmu kecewa atau dosen yang menyampaikan materi dengan nada menyindir dan penyampaian kurang tepat. Lebih tepatnya, karena hati dan pemikiranmu sendiri menolak itu.

Namun seperti yang diucapkan suami. Ke manapun pergi, apapun wadah tempat kita berkontribusi, selalu saja ada hal yang tak menyenangkan. Selalu saja akan ada gesekan maupun permasalahan, yang terjadi dengan orang-orang di sekitar kita. Akan selalu ada sebab ketidaknyamanan yang hadir.

Jadi, aku belajar.. sungguh belajar keras untuk memanage diri sendiri. Terlebih memanagemen hati untuk tetap bening meski kondisi yang terjadi di sekitar sedang keruh. Karena pada dasarnya kita tak selamanya benar, begitu pula orang lain yang tak melulu akan benar. Ada hal yang bisa saja tidak kita terima dari orang lain, begitu pula orang lain terhadap kita.

Masing-masing kita berhadapan dengan ketidaknyamanan diri sendiri terhadap satu maupun banyak sebab. Tetapi setelah pengalaman sebelumnya, aku belajar satu hal bahwa menarik diri bukan satu-satunya solusi. Tak ada masalah atau selisih paham yang terjadi, dapat terselesaikan jika solusi yang dihadirkan adalah memilih mangkir atau hengkang.

Terpenting, sebelum memutuskan kuliah.. tak hanya Prodi saja yang menjadi pertimbangan. Melainkan lingkup kampus, circle pertemanan yang sesuai, kondisi psikis atau kemampuan kita sendiri. Ada hal-hal yang perlu ditakar sebelum terlanjur merasa salah dalam langkah. Merasa keliru untuk terdampar di jurusan atau kampus yang tak sesuai dengan basicly diri.

Bismillah, semoga bisa tetap bertahan di Prodi ini sampai akhir. Sampai semua energi, tenaga dan pikiran terkuras dengan baik untuk hasil akhir yang baik. Aamiin.

Ingat lagi wajah mamak dan bapak yang mendoakan sekaligus berharap untuk keberhasilanmu setiap saat. Ingat lagi wajah suami dan anak yang tetap mensupport apapun situasimu ketika bangun atau jatuh.

Ingat lagi orang-orang yang kerap meremehkan mimpimu. Membuatmu merasa kerdil, kecil, tak berarti. Jadikan perlakuan mereka sebagai motivasi untuk berhasil lebih baik. Berusaha lebih baik. Menjadi lebih baik.

Ingat lagi, kembali ke motivasi awal ketika ingin berhenti. Karena tak ada yang dirugikan dari keputusan kita kecuali diri sendiri. Orang lain mungkin hanya bisa mempersulit jalan kita, tetapi jangan pernah permudah mereka untuk itu. Oke, pejuang skripsiiiiiiiii. SEMANGAT!!!

Do not keep company with anyone whose state does not inspire you and whose speech does not lead you to God. #SelfRemind

*********************

Life has it's ups and downs. You will never fully appreciate the ups unless you have some downs. -Anonymous-
Semoga bermanfaat :)

Magelang, 14 November 2018
copyright : @bianglalahijrah

Tuesday, 6 November 2018

La Tahzan For Me : Ketika divonis Blighted Ovum (BO) di Kehamilan

22:02 0 Comments

Satu-satunya cara untuk lekas pulih dari trauma, kegagalan, atau rasa sakit apapun adalah menerima apa yang telah terjadi sebagai satu dari rencana baik Allah. Sekalipun saat ini kita belum mengerti benar apa maksud-Nya. Karena seringnya, hikmah dan ibrah itu merasuk ke hati ketika waktu justru telah berlalu cukup jauh. Setelah berminggu-minggu, bulan, atau mungkin hitungan tahun.

Termasuk dengan kondisiku saat ini. Qadarullah, dokter memvonis kehamilanku beberapa waktu lalu sebagai blighted ovum atau kehamilan tidak berkembang. Down? Iya. Sedih? Tentu saja. Terlebih ketika melangkah keluar dari ruang pemeriksaan dan beberapa pasang mata dari ibu hamil lainnya memperhatikanku yang sedang dipapah suami dalam kondisi lemah dan menahan rasa sakit.

Satu minggu sebelum pendarahan hebat menyerang. Flek pertama hadir, awalnya aku dan suami hanya memeriksakan kondisi tersebut ke bidan terdekat. Selain vitamin dan obat penguat kehamilan, saran untuk bedrest total juga diberikan oleh bidan. Tetapi isi pikiran yang meracau, terus saja menambah kekhawatiran. Besoknya, kami kembali ke salah satu rumah sakit yang sama saat memeriksakan diri pada kehamilan Aidan dulu.

Sebelum konsult ke obgyn dan melakukan USG, aku sudah membaca beberapa artikel mengenai kemungkinan buruknya. Aku bersiap benar untuk menerima kemungkinan terburuk dari hasil pemeriksaan. Terlebih setelah menyesuaikan gejala dari awal kehamilan sampai di tahap flek. Beberapa dari yang kurasakan selama hamil sama dengan apa yang tertera di artikel. Aku sama sekali tak mengalami mual muntah, padahal ketika hamil Aidan mual muntah bertahan hingga di usia kehamilan lima bulan. Pun ketika didoppler oleh bidan, detak jantung janin juga sama sekali tak terdengar untuk usia kehamilan yang seharusnya DJJ sudah bisa terdeteksi. Bidan hanya bertanya-tanya mengapa perutku lebih besar dari usia kehamilan.

Tetapi dokter yang sore itu bertemu dengan kami menanggapi sangat santai, ia meyakinkan bahwa aku lah yang salah hitung usia kehamilan. Ada kemungkinan pembuahan tidak terjadi ketika masa ovulasi sebelum aku terlambat haid. Tetapi justru setelah terlambat haid, di bulan selanjutnya. Dalam kata lain saat itu aku hanya belum beroleh haid setelah melepas kontrasepsi IUD. Karena usia kehamilan hasil USG terhitung 6 minggu 3 hari, setengah dari usia kehamilan seharusnya jika berdasarkan hitungan HPHT (hari pertama haid terakhir). Tetapi faktanya, tepat satu bulan setelah lepas kontrasepsi.. ketika waktu haid terlambat, aku sempat mengetes kehamilan dengan alat uji kehamilan dan hasilnya positif.

Dokter kemudian mengatakan bahwa janin memang belum terdeteksi, hanya ada kantung kehamilan saja. Dari ukurannya sudah sesuai dengan usia kehamilan berdasarkan hasil USG. Tapi kecurigaanku kian menguat meski separuh hati berusaha untuk yakin penuh dengan kemungkinan baik yang disampaikan oleh dokter. Lanjutnya, aku diberi asam folat dan obat penguat kandungan. Dokter Very menyuruh kami untuk kembali dua minggu lagi, dengan harapan janin sudah terlihat melalui alat Ultrasonografi itu.

Hari-hari selanjutnya berlalu dengan penuh was-was. Berharap kehamilan ini berlanjut. Berharap kemungkinan baik dari dokter adalah ketetapan terbaik dari Allah pula. Tak ingin kecewa, takut jika kemungkinan buruk yang ada di dalam pikiranku adalah kenyataan yang harus kami terima pada akhirnya. Sholat dan dzikir kukencangkan. Aku mencoba mengingat lagi kelalaian apa saja yang telah kuperbuat hingga beroleh teguran seperti ini. Tiap kali usai mengerjakan sholat, aku menangis lebih lama. Tasbih teruntai, satu-satunya senjata untuk membulirkan doa sekaligus merayu Allah. Tolong, biarkan janin ini tumbuh dan berkembang dengan baik. Harapku.

Tetapi tepat satu minggu kemudian, Jum'at sore darah merembes menembus pakaian yang kukenakan. Aku memberi tahu suami dengan perasaan tak keruan, sambil menangis. Prasangka baik yang kutancap, roboh begitu saja. Kami kembali lagi ke rumah sakit yang sama meski ditangani dokter sps kandungan berbeda. Puncaknya, aku positif  divonis BO. Kuretasi bukan satu-satunya solusi dari dokter, meski kondisi tengah pendarahan aktif dan wajah semakin pucat.

Dokter yang kami temui sore itu kemudian memberi dua jenis obat yang diharapkan mampu mengeluarkan sekaligus membersihkan jaringan yang ada di dalam rahim. Ada obat untuk diminum, juga obat yang dimasukkan ke jalan lahir.

Sepanjang perjalanan pulang, husnudzhon lagi-lagi kukuatkan dalam dada. Meski tak ada keluarga yang datang membersamai. Meski setelah malam itu, aku harus mengikhlaskan kehamilan ini berlalu dengan cara menyakitkan. Tepat di usia kehamilan 3 bulan 3 hari sesuai usia di buku KIA. Fakta bahwa Blighted Ovum memang hanya bisa bertahan sampai usia tiga bulan dan akan luruh dengan sendirinya. Pendarahan yang terjadi adalah satu dari proses yang mengarah pada keguguran, karena tubuh merespon kehamilan tersebut sebagai benda asing yang harus dikeluarkan.

Malam pertama setelah obat pelunak jaringan kuminum, aku dan suami sepakat untuk menunda memasukkan obat pervaginanya. Karena khawatir akan kemungkinan rasa sakit yang dirasa. Jam sepuluh malam aku bisa beranjak tidur usai menangis dan ditenangkan suami. Pukul satu dini hari kontraksi mulai terasa hingga subuh. Persis ketika menghadapi rasa sakit saat pembukaan demi pembukaan terjadi ketika hendak melahirkan Aidan dulu.

Pukul setengah lima subuh, jaringan pertama keluar berbentuk gumpalan darah sebesar kepalan tangan disertai rasa sakit yang begitu menusuk-nusuk. Sesuai prosedur dokter, aku harus tetap meminum obatnya tiga kali dalam sehari sampai habis. Walau suami yang menyaksikan perjuangan dan rasa sakitku jelas tak tega dan tadinya sempat ingin menunda waktu untuk minum obat setelah sakitnya mereda. Karena satu-satunya kemungkinan setelah meminum obat adalah menghadapi rasa sakit dari kontraksi perut yang untuk kali kedua dan ketiga, sampai saat kantung kehamilan keluar, menjadi jauh lebih sakit dari saat melahirkan Aidan. Laa hawla walaa quwwata illa billah.

Benar saja, bahwa rasa sakit ketika mengalami keguguran berlipat-lipat jauh lebih sakit dari melahirkan normal.

Teringat kembali, ketika berjuang melawan rasa sakit berdua dengan suami di rumah. Tanpa ada keluarga yang mendampingi. Tanpa ada tetangga yang tahu persis kondisi yang sedang dihadapi. Hanya Aidan, balita yang melihat langsung semua kejadian hari itu. Balita yang melihat perjuangan ibunya juga darah yang mengalir, seolah lebih deras dari cairan kemih yang keluar. Bersama suami dan Aidan, masa kritis itu dilalui di rumah. Jika bukan karena bantuan Allah, Allah yang memberi kekuatan, barangkali tak ada kekuatan lebih untuk merangkak ke kamar mandi. Hingga jaringan berupa kantung kehamilan berhasil keluar.

Kuanggap ini cubitan sekaligus ujian. Rasa sakit, lelah, kecewa, semoga jadi penggugur dosa-dosa. Insyaa Allah. Kuharap Allah segera gantikan dengan yang lebih baik. Semoga Allah angkat derajat kehidupan kami satu tingkat lebih baik dari sebelumnya. Terutama untuk kualitas takwa, sabar dan imannya. Aamiin.

Tak ada yang dapat menentang iradah Allah, apalagi menghindar dari kehendak takdir. Tak ada juga yang serta merta terjadi atas nama kebetulan. Segala sesuatu, sekecil apapun, sudah ada yang mengatur. Garis takdir tertulis rinci dalam kitab lauhul mahfuz milik masing-masing hamba. Maka, sudah pasti Allah yang berkehendak dan pemberi ketetapan terbaik. Segala sesuatu yang terjadi hanya atas izin dan kehendak dari Allah.

Allah lebih tahu yang terbaik..

Meski hari saat keguguran, kami juga dikecewakan oleh seorang teman. Meski terasa pilu untuk berjuang tanpa ada keluarga. Meski kecewa dan rasa sakit berbaur dalam waktu bersamaan baik lahir maupun batin.. semoga Allah jadikan penggugur dosa-dosa dan derajat kehidupan kami di dunia maupun di akhirat naik ke tingkat yang lebih baik lagi. Aamiin.

Hari ini, setelah menghabiskan waktu untuk sampai pada tahap menerima. Mengikhlaskan. Merelakan. Dari bedrest sebelum dan sesudah keguguran. Rasanya banyak agenda dan amanah yang terlewatkan begitu saja. Terhitung sudah berapa minggu meliburkan diri dari jadwal kuliah di akhir pekan. Kegiatan tarbiyah di awal pekan pun tak lagi sempat diikuti. Ada janji-janji yang tertangguhkan hingga kini..

Sudah waktunya kembali mengatur langkah. Menghela nafas lepas. Meluruskan niat dalam diri. Bangkit lagi, menata lagi apa yang tadinya berserak tak rapi. Sebab dunia pun takkan pernah peduli seberapa dalam bahkan jauh rasa terpurukmu. Senjatamu hanyalah doa. Doa, doa, dan doa. Penguat sejatimu hanyalah Allah. Jadi tak ada gunanya berlama-lama mengungkung diri dalam apapun rasa sakit maupun kecewa yang mendera. Sembuh, setiap kita harus sembuh dari semua luka. Besar atau kecil.

Baiklah, aku harus segera meminta maaf pada teman-teman terlebih dosen. Meminta maaf pada diriku sendiri yang sempat menghitung sekian banyak kegagalan dan kesulitan yang berujung futur, ketimbang menghitung sekian banyak nikmat yang telah Allah beri yang nyatanya jauh lebih banyak dari semua kesakitan itu.

Laa hawla walaa quwwata Illa billah. Laa Ilaaha Ilallah ..

Syukran untuk ananda dan suami yang setia mendampingi, yang ikut menangis bersamaku. Juga doa-doa siapapun yang mendoakan kebaikanku. Semoga Allah gantikan dengan yang lebih baik. Semoga setelah ini, kami lebih bisa menjadi pribadi yang semakin baik dalam banyak hal. Terutama dalam peningkatan kualitas ruhiyahnya. Aamiin insyaa Allah.

Bismillah tawaqqaltu ..
Teruntuk sesosok ruh yang masih tertahan di lauhul mahfuz, hadirlah kembali ke dalam rahimku. Hingga waktu engkau akan terlahir. Tumbuhlah, untuk menjadi anak-anak terbaik yang Allah amanahkan untukku di dunia. Sebagai jundullah terbaik di muka bumi. Penerus dakwah Nabi. Pembela agama Allah di mana pun berada.

Engkau yang tertahan di lauhul mahfuz, hadirlah di waktu terbaik menurut Allah untuk kami.. kedua orangtuamu. Sejatinya Allah yang kuasa menentukan waktu. Baik waktu kelahiran hingga waktu kematian tiap-tiap yang bernyawa.

Umma menunggumu untuk banyak hal baik di dunia ini .. dan kita akan mengisinya.

Picture from Danielle Green. For the beautiful of  IVF journey. I agree, difficult roads often lead to beautiful destinations. Barakallah :)

*************
Remind my self. Semoga bermanfaat 🙏😇

Magelang, 06 November 2018
copyright @bianglalahijrah_

Sunday, 7 October 2018

Fa' Inna Ma'al 'Usri Yusra : Memaknai Hijrah dalam Berhijab Syar'i

00:07 0 Comments


Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS Al-Ahzab 33/:59)

Kadang, sebuah inspirasi atau pun kebaikan datang dari hal-hal kecil yang tampak sepele di sekitar kita. Tetapi tak menutup kemungkinan, bahwa hal sepele itu lah yang dapat mengetuk hati lebih dalam. Karena itu berusaha untuk lebih membuka mata. Memasang telinga. Melembutkan hati agar lebih peka merasa.

Sebuah percakapan cukup panjang bersama seorang teman di Whatsapp malam ini. Tentang hijrah dan menyempurnakan hijab, membuatku ingin menuangnya langsung dalam tulisan.

"Kadang masih merasa canggung. Takutnya hanya dibilang sok shalehah padahal nggak bener-bener shalehah." tulisnya.

Tak sekali dua kali mendengar curhatan serupa. Hampir semua muslimah yang baru mulai berhijrah sepertinya akan melalui fase ini. Tahap di mana orang-orang akan lebih banyak berkomentar negatif ketimbang berkomentar tentang sisi baiknya terlebih dahulu.

Sudah lumrah agaknya, orang-orang lebih mudah melemparkan prasangka dari pada memupuk perkataan baik yang dapat mengukuhkan semangat orang lain yang masih pasang surut menapaki jalan hijrah. Mengapa? Salah satunya karena habbits.

Kebiasaan di masyarakat kita yang sudah mendarah daging. Dari ucapan satu orang, merambah ke mulut-mulut lain, hal yang berulang-ulang lantas menjadi doktrin di kepala mereka begitu saja. Belum lagi ulah oknum-oknum tak bertanggung jawab yang menyertakan Islam di dalamnya hanya sebagai atribut semata, alih-alih berkata jihad fisabilillah. Masyarakat dibuat trauma, hingga yang tak bersalah harus dipukul rata.

"Alah, jangan-jangan hijabnya cuma topeng."
"Buat apa berhijab syar'i kalau kelakuan masih gitu-gitu aja."
"Udahlah nggak usah sok shalehah, mending biasa saja. Yang penting shalat nggak tinggal, bisa ngaji Al-Qur'an, sedekah tetap jalan."

Celetukan seperti ini secuil dari sekian banyak yang lain. Yang lebih pedas dan sadis dari ini? Banyak. Aku sendiri satu dari muslimah yang pernah merasakan bagaimana rasanya dibully saat awal-awal berhijrah dulu.

Jangan kan dibully, dikucilkan keluarga, difitnah, dikira ikut aliran sesat, dan berbagai tuduhan lain juga ikut serta mewarnai perjalanan di awal hijrah. Karena itu, bersyukur jika sampai sekarang bisa kian kebal dengan orang-orang yang masih punya pemikiran seperti ini. Lebih siap mental untuk menghadapi tatapan aneh, kening berkerut, sampai bibir yang mendomble sinis ke arahku. Belum lagi komentarnya..

Jadi dalam hati cukup beristighfar, cukup doakan mereka agar dapat merasakan hidayah yang sama.

Tak ada manusia yang bisa sempurna bak malaikat sesaat setelah menasbihkan dirinya dalam langkah berhijrah. Justru ujian keimanan akan semakin gencar membersamai diri. Bermula dari sekedar niat sampai langkah-langkah yang terayun..

Siapa bilang setelah hijrah langkah akan adem ayem saja. Kita baru akan menapaki anak tangga yang pertama dari 100 anak tangga yang ada. Belum apa-apa, belum seberapa. Maka prasangka orang lain adalah ujian keistiqomahan diri.

Tetapi haruskah menyerah? Mengapa pula harus takut pada prasangka orang lain, jika niat di hati landasannnya adalah Allah. Hanya Lillah.

Terlepas dari apa yang orang lain pikirkan tentangmu, itu urusan mereka. Kamu hanya bertanggung jawab atas apa yang kamu perbuat atau pada pilihan yang kamu tentukan. Urusan kita langsung pada Allah. Allah yang lebih tahu bagaimana kita luar dan dalam. Allah yang lebih berhak menilai sebaik apa kualitas dalam diri..

PR kita adalah memerangi kelemahan dan hawa nafsu sendiri. Mengubah yang buruk menjadi baik. Mengubah jahiliyah menjadi mulia. Mengubah segala apa yang sebelumnya salah agar menjadi benar. Kita belajar sedikit demi sedikit, berproses, bertahap, untuk semakin baik setiap saat.

Ingat, kita menjadi baik bukan untuk mengungguli siapapun. Melainkan untuk menjadi lebih baik dari kita yang dulu. Kita yang sebelumnya. Kita yang tak tahu apa-apa, menjadi mengerti lebih banyak. Kita yang ilmunya miskin papa, kemudian Allah limpahkan kekayaan dalam pemahaman. Tak hanya fasih melainkan faqih.

Kita adalah hamba yang sedang menuju Allah. Tak sempurna, bagaimana mungkin kita bisa mencuri kesempurnaan milik-Nya? Menandingi-Nya pun mustahil. Maka tugas kita adalah berbenah. Terus memperbaiki diri. Termasuk, keputusan berhijab syar'i bukan karena kita sudah baik. Justru karena kita merasa belum baik, hijab tersebut adalah permulaan dalam menyempurnakan taat. Langkah besar untuk menjemput kebaikan yang lain.

Prasangka orang? Selamanya akan tetap ada. Mari kembali pada zaman Nabi, di mana Rasulullah yang diutus oleh Allah sebagai penyeru kebaikan dan kebenaran di muka bumi, tetapi tetap dihujani prasangka buruk. Difitnah dengan keji, dianiaya oleh kaumnya sendiri.

Jauh sebelum kita melewati tahap hijrah ini, Rasulullah telah lebih dulu melaluinya. Barangkali apa yang kita lalui hari ini, belumlah seberapa jika dibandingkan perjuangan Rasulullah.

Malu sudah tentu, siapa lah kita? Hamba yang sebelum berhijrah bahkan telah berkubang dosa. Maka semoga kesulitan dan prasangka yang terarah padamu, tak cukup untuk membuatmu mundur teratur. Sebab niatmu adalah Allah. Landasan tiap langkah yang terayun, orientasinya adalah Allah. Maka rasa sakit itu pun akan dikembalikan pada Allah.

Self reminder dari apapun yang kutulis, ini juga sebagai pengingat bagi diri sendiri.

Setidaknya muslimah, kita tidak menjadi wadah yang bolong. Ada amaliah yang berjalan, tetapi pahalanya mengalir keluar tersebab kewajiban yang belum sempurna ditegakkan. Setidaknya upaya dalam menjaga diri juga menyelamatkan mereka yaitu pandangan lelaki ajnabi yang tak halal dan jelas mengundang dosa.

Setidaknya, kita berusaha untuk terus mendekat. Menyempurnakan kewajiban. Bahkan setelah sempurnanya hijab yang dikenakan. Kita juga tak berhenti di situ. Masih banyak kebaikan yang harus ditunaikan.

Jika usai meniti tarbiyah, maka ada tugas dakwah yang harus diemban pada pundak.

Karena itu kita tak berhenti hanya pada satu kebaikan saja. Melainkan untuk berjuta kebaikan lainnya. Semoga kebaikan yang menghampirimu atau pun yang menghampiriku tak berhenti pada diri sendiri, melainkan sampai pula pada orang lain. Aamiin insyaa Allah.

Barang siapa mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Surah An-Nahl 16/:97)

Tulisan ini barangkali belum mencakup keseluruhan makna yang ingin kusampaikan, tetapi setidaknya secuil dari itu telah tersampaikan. Untukmu pun untukku, tetap istiqomah kendati tak mudah. Seperti janji-Nya, bersama kesulitan ada kemudahan.


*******x*******

Terkhusus untuk teman-teman yang Allah hadirkan dan membersamai hijrah ini. Syukran.
Magelang, 6 Oktober 2018
copyright : @bianglalahijrah