Monday, 23 October 2017

Diskusi : Bukan Ruang untuk Saling Menjatuhkan

19:31 0 Comments

Mendengarkan musik, sembari blogwalking di beberapa website yang selalu bisa memberi pengetahuan baru. Bahkan saat duduk di depan laptop, rutinitas membaca tak pernah lepas. Kendati yang dibaca bukan tulisan berbentuk buku. Bukan modul, kitab tebal, maupun novel. Melainkan apa yang terpapar di layar laptop. Baik itu artikel, atau membaca tulisan-tulisan berbobot yang sarat ilmu dan informatif.

Teringat dengan tugas-tugas kuliah yang minggu ini, alhamdulillah bertambah. Mengingat sulitnya menyatukan waktu bersama teman satu kelompok demi menggarap tugas yang sama. Mengingat tiap diskusi yang sudah berjalan di presentasi tugas kelompok maupun individu, pada beberapa minggu ini.

Terlebih, mengingat omongan salah seorang teman yang barangkali merasa terganggu tanpa sepengetahuanku. Sejauh ini, pikirku, aku hanya menambah/melengkapi jawaban dari kelompok yang sedang mempresentasikan tugas mereka. Pun dalam hal ini bukan bertujuan untuk merasa bahwa 'saya yang paling tahu' bukan pula merasa sok pintar.

Karena pada saat sebuah ruang diskusi dibuka, maka siapapun berhak memberikan pendapat maupun pertanyaan mereka. Selama, masih berada dalam topik yang tengah dibahas. Tidak berusaha merambah pada hal lain yang mungkin sama sekali tak penting.

Karena itu, aku jarang bertanya di tugas presentasi kelompok lain saat aku merasa memang tak perlu bertanya atau menambahi apapun. Toh pada akhirnya, ada omongan yang mampir ke telinga, dengan ungkapan yang tak mengenakkan hati. Kendati itu berasal dari dua teman terdekatku.

Jujur, jika aku bahkan tahu apa yang sedang kupertanyakan.. maka untuk apa bertanya? Mengapa tak menjadi peserta yang mungkin bisa menambahi atau melengkapi pernyataan yang sudah ada sebelumnya.

Jika kemudian pertanyaan itu menjadi hal yang sulit dijawab, apa lantas orang yang bertanya dan yang dipertanyakan kemudian menjadi [salah]?

Bertanya, karena bagiku.. aku memang tidak cukup tahu dan paham. Bertanya, karena aku memang butuh penjelasan lebih dari apa yang masih tak kumengerti pada makalah yang ada di atas meja. Jadi, lantas apa yang salah? Bukankah tujuan presentasi makalah dengan cara berdiskusi, adalah satu tahapan pembelajaran? Di mana pesertanya semua adalah orang-orang yang tengah belajar.

Pun karena aku tidak merasa sedang berdebat. Lalu bagian mana yang aku perdebatkan? Hal mana saja yang aku perdebatkan? Kelompok atau individu mana yang aku beratkan dengan pertanyaan, pernyataan, atau mereka yang merasa didebat?

Kuliah itu, seperti ucapan dosen di kampusku sebelumnya.. adalah ruang kompetisi di mana kita dapat atau pun boleh bersaing sehat tanpa perlu menjatuhkan orang lain. Kuliah adalah ruang di mana tujuan pertama adalah belajar dan menuntut ilmu. Tak sekedar untuk mendapatkan pengakuan, terlebih nilai, maupun gelar akademik semata.

Dan di dalam ruang diskusi, setiap orang diperkenankan untuk bertanya dengan jujur. Setiap orang diperkenankan untuk menyanggah dengan benar. Setiap orang diperkenankan untuk memberi masukan atau tambahan yang baik. Setiap orang boleh berpendapat, bebas berpendapat. Namun tidak untuk merasa/menganggap dirilah yang paling tahu atau pun pintar. Tetapi karena setiap orang yang ada di ruang diskusi tersebut adalah peserta yang boleh mengajukan pendapat, masukan, maupun pertanyaan mereka.

Mengapa tak sama-sama memposisikan diri sebagai orang-orang yang memang baru belajar kendati sudah mengkhatamkan banyak buku. Kendati mungkin sudah pernah belajar di kampus lain sebelumnya. Karena memang bukan untuk mendapat pengakuan sebagai seseorang yang lebih dari yang lain.

Tetapi sekali lagi, kita sedang sama-sama belajar.

Aneh mungkin jika aku menulis ini sebagai curcolan di blog? Tetapi jika pun ada yang membacanya, semoga mereka paham. Semoga mereka bisa mulai menanam prasangka positif. Semoga mereka bisa menjadi pribadi dengan open mind yang baik, termasuk aku sendiri.

Diskusi dalam lingkup perkuliahan bukan ajang untuk saling menjatuhkan satu sama lain demi naik satu tingkat lebih tinggi dari yang lainnya. Aku sendiri juga tak merasa perlu untuk mempersulit orang lain yang sama-sama sedang belajar bersamaku. Aku sendiri tidak sedang ingin membuat siapapun merasa sulit atau terbebani. Bagiku, ruang itu adalah wadah di mana aku bisa berkembang lebih baik. Bersama mereka tentu, insyaa Allah.

Menjadi mahasiswi aktif, banyak belajar, banyak membaca, banyak-banyak berdiskusi, lahap semua ilmu yang tersuguh di hadapanmu. Kelak, implementasikan langsung dalam kehidupan nyata. Ini selalu menjadi motto maupun motivasiku dalam belajar. Di manapun itu.

Setidaknya ada hal-hal baik yang aku pelajari dari pengalaman ini. Sebuah motivasi untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Lebih baik dalam banyak hal. Jika pun nanti ada yang tak suka, atau masih saja tak suka, itu masalah hati mereka yang barangkali tengah berpenyakit.

Karena perkuliahan ini, sungguh bukan masa di mana seragam merah putih yang melekat di tubuh. Saat kita harus bersikap, berkomentar, atau berpikir kekanak-kanakan lagi. Tetapi masa di mana kita bisa mendewasakan ilmu (bertambah ilmu yang bermanfaat dan barokah) sekaligus diri sendiri (dalam kepribadian).

Terutama, saat kita bisa mengikis setipis mungkin rasa iri dan dengki di dalam diri. Bisa senantiasa melemparkan prasangka baik sebelum lebih dulu berprasangka buruk pada orang lain. Bisa memupuk sebanyak mungkin kebaikan, manfaat, maupun ilmu sebagai muslimah sebaik-baiknya.

Ini sebenarnya self reminder. Tetapi rasanya lapang saat bisa menuang hal ini di sini. Semoga siapapun yang membaca, kendati mungkin tak paham dengan permasalahan si penulis sebenarnya, tetap bisa beroleh manfaat atau hal baik lainnya dari postingan ini.

Pun, tetap bersyukur Allah pertemukanku dengan teman-teman yang luar biasa. Baik di perkuliahan, liqo', dan lingkup yang lain. Kendati ada waktu di mana selisih paham menjadi sekat bagi satu sama lain. Selama maaf masih terbuka lapang. Maka tak masalah. Sebab dalam ukhuwah, tidak untuk berusaha lebih unggul atau sempurna dari yang lain.

Melainkan perlombaan yang sebenarnya, saat keshalehahan bertambah ketika bersama-sama. Saat ilmu yang ada pada diri juga bermanfaat bagi orang lain.

Kita tak bisa shalehah seorang diri. Setiap kita memerlukan teman. Jika pun kadang ditengahi oleh perselisihan sebab perbedaan yang datang, tak masalah selama kita tak memutus silaturahmi. Selama kita tetap kembali dan saling membersamai. Selama kita tetap berusaha untuk saling memahami satu sama lain. Karena kita sama-sama tak sempurna. Jadi mari saling melengkapi.

 Untuk mereka yang bernama 'teman'. Barakallah.


engkau, aku, yang tak sempurna.. mengapa kemudian Allah pertemukan dalam ukhuwah? sebab kita, seumpama serumpun lidi yang takkan bisa memberi manfaat banyak jika hanya berdiri sebatang kara. kita adalah kebaikan yang akan semakin besar dengan eratkan tangan bersama. [by @bianglalahijrah]
 
Copyright : @bianglalahijrah_
Magelang, 23 Oktober 2017

Tuesday, 17 October 2017

Semangat Menuntut Ilmu, Barakallah ..

16:31 0 Comments

Postingan pertama di bulan Oktober. Berhubung beberapa waktu lalu sudah ditanya-tanya mengapa tak menulis postingan baru lagi, jadi hari ini mencoba untuk menepati janji. Kenapa lama nggak nulis? Jawab : disibukkan dengan modul dan tugas kuliah yang menumpuk plus rutinitas emak-emak setiap harinya :D

Kesibukan kuliah cukup menguras tenaga, kendati masuknya hanya setiap hari Sabtu dan Minggu dari pukul 07.00-16.30 sore. Berangkat dari rumah selalu pukul enam pagi, sampai di rumah juga bertepatan dengan waktu maghrib. Jadi untuk dua hari ini aku memang tidak di rumah.

Selain itu, Senin-Jum'at seperti jadi waktu padat untuk menunaikan kewajiban sebagai ibu rumah tangga yang baik. Ditambah beberapa bulan ini ada agenda sore untuk dua kali dalam sepekan, yaitu senam aerobik bersama crew senam lainnya. Walau bagaimana pun olahraga tetap penting di tengah padatnya kesibukan. Jadi, mau sesibuk apapun sebisa mungkin ada waktu untuk memanjakan diri dengan aerobik atau berolahraga ringan :)

Seringnya, satu minggu seperti tak cukup walau sudah memanage waktu habis-habisan. Puncaknya di hari Jum'at. Aku harus memastikan semua pekerjaaan rumah, cucian, keperluan anak dan suami, sudah terselesaikan dengan benar. Jadi selama kutinggal kuliah, aku bisa tenang meninggalkan anak-suami dengan kondisi rumah yang sudah bersih dan rapi. Membiarkan suami menikmati weekend berdua bersama buah hati, saat sang istri sibuk belajar.

Terlebih karena kami mau tak mau harus kerja sama soal momong anak, sabtu Aidan harus ikut ayahnya ke kantor. Minggu, seharian bersama si ayah juga. Selagi bisa dihadapi berdua, ya dijalani, tanpa harus merepotkan orangtua.

Biasanya saat ibunya berangkat kuliah, Aidan masih terlelap tidur. Jadi ketemunya juga sepulang kuliah. Meski aku lagi-lagi tak bisa diajak berkompromi dengan keadaan tubuh yang sudah penat luar biasa. Sampai di rumah hawanya ingin makan banyak dan tidur selelap mungkin, recharge tenaga yang terkuras sebelumnya.

Selain karena belajar seharian dari pagi sampai sore. Perjalanan pulang-pergi dari rumah ke kampus hingga kembali ke rumah lagi, juga menghabiskan waktu yang cukup lama. Belum lagi karena jam pulang selalu bertepatan dengan arus macet yang luar biasa. Capek, ngantuk, ditambah lapar. Jika pun bisa melewati arah lain, maka jarak tempuh juga akan lebih jauh. Sembari menjaga fokus, istighfar sebanyak mungkin. Semoga Allah jaga dari segala kemungkinan di perjalanan baik pergi dan pulangnya.

Alhamdulillah, Aidan mulai mengerti. Jika ibunya sudah duduk di depan laptop. Atau jika ibunya sedang membaca buku, ia diam-diam menarik diri. Sikap pengertiannya terlihat saat ia memilih tetap bermain walau berada tak jauh dari tempat duduk ibunya. Meski ada pula, waktu di mana Aidan mulai merasa ingin diperhatikan. Mendekat ke ibunya sambil merengek minta dibuatin pesawat kertas, atau lain-lain.

Kesibukan dengan tugas-tugas kuliah juga membuatku memiliki waktu keluar yang lebih, karena harus sering ke perpustakaan dan menyambangi toko-toko buku yang ada di Magelang demi menambah referensi buku kuliah. Namun Allah seperti memudahkan. Saat teman-teman yang lain masih mencari, aku secara tidak sengaja menemukan buku referensi yang sesuai dengan mata kuliah maupun tugas yang akan digarap. Malah kadang, justru menemukan materi tugas teman-teman ^^'

Pun ikhtiar lainnya, mencoba menghemat anggaran pengeluaran dengan meminjam buku-buku kuliah dari mahasiswi 'Manajemen Pendidikan Islam' yang sudah lebih dulu wisuda kendati kami berbeda kampus.

Menyenangkan rasanya, walau terkadang terasa lelah dan membingungkan.

Tetapi sejauh ini aku menikmati peran dan kesibukan sebagai ibu rumah tangga sekaligus mahasiswi "S1 Manajemen Pendidikan Islam". Euforia yang terasa juga berbeda dengan dua kampus yang pernah kumasuki sebelumnya, saat kuliah di Sistem Informasi dan Pendidikan Agama Islam.

Sebab, kendati fakultas yang dipilih sudah sesuai dengan basic namun ada lagi kendala dari hal lain. Meski sebenarnya sederhana, yang dicari adalah universitas yang tak hanya sesuai dengan jurusan yang aku inginkan, tetapi dosen, teman-teman kuliah, lingkungan kampus, juga bisa membuatku lebih baik dan lebih baik lagi. Karena tak mudah mencari teman yang sefikroh denganmu. Yang satu pemikiran, teman-teman yang bisa mengerti jalanmu sekaligus mengokohkan langkah hijrahmu.

Alhamdulillah Allah seperti telah menjawab doaku. Dua kuliah yang tadinya kandas di tengah jalan Allah pertemukan dengan solusi sekaligus ganti yang jauh lebih baik, insyaa Allah. Aku seperti menemukan kembali apa itu semangat sekaligus tantangan dalam belajar. Apa itu kesungguhan. Apa itu kenikmatan pada saat menuntut ilmu. Dan yang terpenting, bagaimana rasa percaya diri itu kembali tumbuh bahkan lebih besar dari sebelumnya. Alhamdulillah.

Baik kampus, dosen, mata kuliah beserta teman-teman yang membersamai saat ini. Insyaa Allah sudah yang terbaik menurut Allah. Semoga istiqomah di tempat ini sampai akhir, sampai wisuda bareng-bareng bersama semua teman satu angkatan tanpa satu pun yang tertinggal. Bisa selesai tepat waktu dengan hasil terbaik. Aamiin yaa Rabb. Man Jadda Wajada!

Semoga tholibul 'ilmi selalu bernaungkan keridhoan dan keberkahan Allah. Bukankah sayap malaikat-Nya menaungi para penuntut ilmu yang melangkah ke luar rumah dalam rangka menuntut ilmu? Maka semoga Allah sertakan pula kemudahan demi kemudahan untuk awal, pertengahan, maupun akhirnya. Dengan kesudahan, pencapaian yang terbaik pula. Aamiin Aamiin yaa mujiibassailin.

Sejauh ini, semangat yang ada di dalam diri justru meletup-letup saat masuk ke toko buku atau pun perpustakaan. Terlebih saat mengikuti mata kuliah di kelas. Kecintaan untuk membaca demikian bertambah dari hari ke hari. Karena tuntutan kuliah pula, bertambah sekian buku-buku bermanfaat yang sarat ilmu di lemari perpustakaan rumah. Kelak, insyaa Allah akan tetap bermanfaat bagi orang lain terutama anak-anakku. Kendati mungkin si pemilik buku sudah menyelesaikan studinya sampai ke jenjang tertinggi yaitu S3, hehehe aamiin.

Toh menumpuk buku tidak ada ruginya, bagiku.. harta yang paling layak dan berharga untuk diwariskan kepada anak-anak adalah ilmu. Selebihnya, semua dengan sendirinya akan mengiringi keberhasilan si penuntut ilmu insyaa Allah.

Jadi, mau sesibuk apapun.. selelah apapun.. belajar, belajar, dan belajar. Tak ada kata capek. Tak boleh ada kata bosan. Pokoknya belajar! Barakallah :)


Karena seseorang yang kaya bukan mereka yang digelimpangi kilau materi dan pundi-pundi duniawi, melainkan mereka yang senantiasa giat bertholibul 'ilmi hingga tercecap nikmat syurgawi beserta ridho Illahi. Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim, siapapun dia.
~ quote : bianglala hijrah ~

Copyright : @bianglalahijrah_

Monday, 4 September 2017

Beasiswa Writing Workshop : 'Cara Mudah Bikin Novel' dari Asma Nadia

00:41 0 Comments

Aku memaksa diri untuk menulis. Tiga hari ini banyak hal yang berseliweran di dalam kepala. Sesuatu yang menakjubkan seakan mudah terjadi. Tetapi yang sulit adalah bergegas untuk memulai suatu proses. Tak hanya berleha-leha membayangkan puncak pencapaian tanpa usaha yang maksimal. Aku sadar betul bahwa untuk meraih impian tak cukup hanya dengan berharap dan berdoa, agar Allah dapat mengabulkan semua itu dalam sekali jentik.

Sepertinya aku lupa berbagi. Tanggal 27 Agustus lalu aku tiba di Jakarta setelah beroleh beasiswa untuk mengikuti writing workshop 'Cara Mudah Bikin Novel' dari Asma Nadia. Sebuah beasiswa yang aku rasa bukan tanpa sengaja aku dapatkan, melainkan karena Allah jua yang punya rencana.

Allah menggerakkan tanganku untuk ikut berkomentar di sebuah postingan yang Asma Nadia share di grup KBM. Dan Allah pula yang membuat hati bunda Asma Nadia berkenan untuk memilihku sebagai satu di antara mereka yang beroleh kesempatan ini.

Btw, postingan apa memangnya? "Sebuah postingan di mana Asma Nadia memberi kesempatan kepada teman-teman penulis baik pemula untuk membagi kisah perjuangan mereka dalam menulis. Apa saja yang sudah dilakukan untuk bisa sampai pada semua impian itu. Nah, komentar atau kisah yang bisa membuat Asma Nadia jatuh cinta akan beroleh 50-100% beasiswa untuk mengikuti writing workshop di Jakarta pada 27 Agustus 2017."

Saat ikut berkomentar, sebenarnya murni karena aku hanya ingin berbagi. Tak berharap besar bisa terpilih, mengingat ada banyak sekali anggota grup yang ikut berkomentar. Jadi bahagia tak terkira saat Asma Nadia membalas komentarku. Dimulai dari menanyakan asal domisili. Besok paginya seorang teman Facebook mencolekku via mention, beberapa menit setelah Asma Nadia mereply bahwa aku juga beroleh beasiswa.


Bahagia rasanya. Rasa syukur yang membuncah membuatku berkali-kali memuji kebesaran Allah. Karena bagiku, tak ada yang kebetulan di dunia ini kecuali Allah yang berkehendak demikian. Maka ini adalah satu dari jutaan rencana baik Allah untuk menjawab doaku. Untuk memberiku kemudahan menuju mimpi-mimpi. Allah membukakan jalan lewat beasiswa writing workshop nasional ini.

Masih dibilang kebetulan? Tadinya aku bahkan tak tahu menahu mengenai workshop tersebut. Aku baru tahu saat pertama kali ikut berkomentar di postingan bunda Asma Nadia. Membayangkan harus bayar HTM sebesar 600 ribu saja barangkali aku takkan berpikir untuk berangkat ke Jakarta. Dan sepertinya Allah memberiku jalan lain. Allah mengetuk hatiku, menggerakkan jemariku, menulislah.. lalu berangkatlah ke Jakarta. Barangkali begitulah Allah berkehendak.



Secara tiba-tiba. Rasanya luar biasa.

Kalian tahu? Jum'at pagi aku beroleh kabar bahagia tersebut. Sabtu sore langsung berangkat dengan bus menuju Jakarta ditemani suami. Katanya tak tenang jika membiarkanku berangkat seorang diri ke ibu kota yang tidaklah sama dengan tanah Jawa. Bagaimana jika aku kesasar? Bagaimana jika aku justru ditipu oleh orang-orang yang suka memanfaatkan orang baru?

Jadilah, kami berangkat berdua. Sebenarnya waktu itu masih area tanggal tua, tetapi alhamdulillah ada jalan untuk bisa berangkat walau dengan uang pas-pasan. Bahkan di perjalanan pulang kami sama sekali tak berpikir memakai uang untuk membeli makan di perjalanan. Sisa bekal saat berangkat ke Jakarta-lah yang menemani perjalanan pulang. Bahkan bekal makan siang saat mengikuti workshop menjadi makan malam suami di bus, sementara aku mabuk perjalanan dan hampir tak mengisi perut dengan makanan apapun.

Ceritanya, karena telat shalat dzuhur. Waktu makan siang ternyata acara sudah akan dimulai lagi. Jadi nasinya terpaksa aku berikan pada suami sampai kami bawa di perjalanan pulang. Mubazir kan kalau harus dibuang. Kalau dipikir-pikir satu harian itu aku hanya makan satu mangkuk mie ayam yang kami beli di depan JDC dengan harga tak bersahabat tetapi rasa cukup menyiksa.


Itu karena kami datang terlalu pagi dan tak menemukan sarapan yang pas dengan lidah kami. Barangkali karena lidahku sudah kental dengan kuliner Jawa Tengah. Husnudzhon saja.

Waktu itu, kami tiba di Jakarta pukul tiga dini hari. Tidur di terminal sebentar sambil menunggu taxi pesanan datang. Sekitar pukul 4.30 kami langsung menuju ke gedung Jakarta Desain Center. Karena masih gelap, pagar gedung juga masih tutup. Kami minta supir taxi untuk mengantar ke POM bensin terdekat agar kami bisa membersihkan diri sekaligus sholat subuh.

Lalu, jam setengah enam kami memutuskan jalan kaki karena telah memperhitungkan jarak dari pom bensin menuju JDC. Hitung-hitung pemanasan sekaligus olahraga. Tetapi siapa sangka kalau kami lupa jalan dan justru tersesat, dua kali berputar dan kembali ke pom bensin yang sama. Setelah tanya-tanya dan berunding sengit dengan suami, kami lalu memutar arah sambil masih bertanya dengan orang sekitar, salah satunya tukang sapu jalan.

Kurang dari jam tujuh pagi kalau tak salah, kami akhirnya sampai di depan gedung JDC dengan upah keringat dan nafas memburu karena jalan ngebut :D


Setelah sampai di JDC pun masih harus menunggu karena acara mulai pukul delapan. Untuk mengisi waktu kami membeli sarapan seperti yang aku ceritakan di atas. Aku juga sempat mengabadikan beberapa foto dengan DSLR di depan gedung. Untungnya ada teman-teman dari Majalengka yang senasib karena datang kepagian.

Meski begitu, Allah seperti memberi banyak sekali kemudahan bagi kami. Walau setelah pulang dari Jakarta jadi harus berhemat. Rasanya tak masalah, agar aku bisa menjadikan ini sebagai motivasi. Bahwa untuk berangkat ke sana ada perjuangan di baliknya. Maka semoga ilmu yang kudapat dari workshop tersebut tak sekedar masuk ke kepala dengan sia-sia. Namun segera dapat aku realisasikan. Dan setiap kali down untuk menulis, aku akan mengingat lagi perjuangan-perjuangan yang tak semua orang tahu dan memang tidak aku ceritakan di sini, cukuplah sebagai motivasiku dalam menulis.

27 Agustus 2017 seperti menjadi hari bersejarah di dalam hidupku. Berangkat ke Jakarta bertemu Asma Nadia, penulis muslimah yang aku idolakan sejak lama. Dan keberangkatan ini bukan keberangkatan biasa, melainkan karena beasiswa yang langsung diberikan oleh beliau.

Bertemu teman-teman penulis yang luar biasa. Bahkan di antara kami ada yang berkebutuhan khusus. Ada pula seorang pengidap kanker stadium lanjut yang hingga kini masih menjalani kemo. Pun ada seorang gadis tuna netra yang semangat menulisnya patut membuat diri ini malu. Terlebih kepada Rachel gadis cantik penyandang disabilitas yang bahkan sudah menelurkan tiga buku. Tiga buku?!!! Iya, 3 buku. Hebat bukan? Aku jadi berkaca pada diri sendiri. Malu, malu sekali rasanya.


Ke mana saja aku selama ini yang selalu sibuk dengan keinginan menulis dan ingin jadi penulis beken tetapi masih saja bergerak di tempat yang sama. Sebab itu, bersyukur sekali Allah beri kesempatan untuk bisa bergabung di acara ini.

Untuk bisa belajar langsung dari yang lebih ahli dan berpengalaman. Allah menyentilku dengan lembut. Lihatlah, adik-adik yang dalam keterbatasan saja tetap berkarya. Kamu? (_ _')

Ngomong-ngomong, Asma Nadia juga tak se-ekslusif yang ada di bayangan selama ini. Beliau jauh lebih anggun, ramah, jenaka, baik, super mom, istri yang manis terlihat dari cara beliau bersikap pada suaminya di depan semua peserta. Kagum. Rasanya aku semakin kagum pada beliau. Ingin sekali seperti beliau. Semoga Allah mudahkan jalanku untuk mengikuti jejaknya. Jejak mereka yang sudah menoreh karya bermanfaat untuk ummat dan meluaskan kebaikan sebanyak mungkin. Aamiin Aamiin Aamiin. Insyaa Allah.


Tak lupa, terima kasih pada suami yang sudah mau menunggu seharian di luar ruangan dengan rasa kantuk, lelah, sekaligus lapar mungkin. Terima kasih sudah bela-belain ambil cuti dari kantor demi mengantar istrinya untuk sampai ke Jakarta. Terima kasih sudah sabar mendampingi istri yang mabuk perjalanan di mulai saat turun dari taxi yang membawa kami dari gedung Jakarta Desain Center ke terminal. Bahkan selama di bus perjalanan pulang sampai ke Magelang.

Suami yang terus memberi motivasi meski saat turun di terminal Yogyakarta, tubuh sudah lemas tak bertenaga karena memang belum makan apapun. Mau tak mau suami menemaniku beristirahat selama satu jam di ruang tunggu terminal sambil memulihkan tubuh meski masih muntah beberapa kali.

Sungguh menjaga motivasi tak hanya saat kita berangkat saja, tetapi juga saat pulang. Jadi begitu sampai di Magelang, pulang ke rumah, usai makan dan membersihkan diri aku langsung berangkat untuk mengikuti liqo mingguan. Dengan semangat tinggi untuk bisa segera membagi cerita bersama teman-teman yang sudah menyemangatiku baik sebelum bahkan setelah pulangnya. Lalu sorenya, bertemu buah hati yang sangat dirindukan. Ini pertama kali pergi jauh tanpa membawa serta Aidan. Semoga perjuangan-perjuangan ini kelak membawaku pada keberhasilan terbaik. Aamiin.

Sampai detik ini.. bertemu Asma Nadia, bisa mengabadikan foto bersama beliau dan suami, seperti mimpi yang Allah ijabah dalam sekejap mata. Tahu-tahu sampai ke Jakarta, bertemu Asma Nadia, lalu pulang ke rumah dengan selamat, maka nikmat Tuhan mana lagi yang akan didustakan?

Selain itu ada ilmu dan pengalaman yang begitu berharga menjadi oleh-oleh yang kubawa pulang ke Magelang. Oleh-oleh untuk diriku sendiri maupun orang lain yang mungkin mau mendengarnya.

Syukran, Allah. Terima kasih sudah memberiku kesempatan berharga seperti ini. Andai saja bapak dan mamak ada di sini. Aku ingin mereka menjadi orang pertama yang mendengar cerita bahagia ini. Sayangnya, bahkan sampai hari ini aku tak bisa berbagi kabar dengan mereka. Tetapi semoga Allah senantiasa menjaga orangtua dan adik-adikku di mana pun  mereka berada.

Kelak, dengan menulis.. walau seberapa jauh pun jarak yang memisahkanku dengan keluarga, aku ingin semua orang yang kusayangi tahu bahwa tak sedetik pun mereka luput dari ingatan dan doaku. Aku ingin bapak dan mamak tahu bahwa setiap langkah yang kubawa ada nama, harapan dan doa mereka yang membersamaiku. Aku ingin adik-adikku bisa mengambil sedikit saja contoh baik dari seorang kakak untuk mereka.

Sepertiku yang yakin, melangkahlah sejauh yang kau ingin. Bermimpilah setinggi yang engkau ingin. Sebab ada Allah. Yang bagi-Nya tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Ada Allah, yang bekerja jauh lebih baik dari rencana yang kita rancang. Ada Allah, yang selalu bersama orang-orang yang di hatinya tak pernah putus dari keyakinan terhadap kebesaran Allah. Bahwa saat Allah berkata Kun maka Faya Kun. Tak ada yang mustahil.

Teruslah menjadi berarti bagi diri sendiri maupun orang lain di manapun tempat engkau berdiri. 

Doakan aku, agar bisa segera menuntaskan novel yang ditulis. Dimudahkan dalam segala sesuatunya. Aamiin yaa mujiibu.

Sungguh, jika engkau yakin bahwa sesuatu bisa terjadi maka besar kemungkinan akan terjadi. Doamu, impianmu, juga tergantung dari seberapa baik engkau berprasangka terhadap Allah dan sekeras apa USAHAmu. Bukankah Allah sesuai prasangka hamba?


Alhamdulillah, syukran Allah. Syukran bunda Asma Nadia & Pak Isa Alamsyah :)
Magelang, 03 September 2017
Copyright @bianglalahijrah_

Wednesday, 30 August 2017

Untukmu Para Suami : Istrimu Bukan ...

21:10 0 Comments

Aku rasa, impian setiap wanita kurang lebih sama saat ia memantapkan hati untuk melangkah menuju jenjang pernikahan. Ketika memilih satu orang yang ia rasa layak untuk menjadi pendamping seumur hidup, untuk menuntunnya menuju kebaikan beserta syurga.

Impian sederhana tentang rumah tangga bahagia, anak-anak yang shaleh dan shalehah. Dan yang terpenting adalah suami yang akan mencintaimu tanpa syarat. Yang akan menerima segala kekuranganmu seperti ia merasa bangga pada kelebihanmu.

Seorang suami yang takkan pernah melemparkan caci maki kendati ia begitu emosi. Suami yang takkan pernah melayangkan tangan pada tubuh perempuan yang telah melupakan rasa penat demi segenap kewajiban dan kata taat.

Impian sederhana untuk mencintai satu laki-laki yang sama, kendati ada waktu di mana cinta itu akan goyah diterpa rasa kecewa.

Hanya berharap bahwa bersamanya, bahagia sesederhana apapun dapat tercecapi dengan rasa syukur tak bertepi.

Kadang, seorang istri marah bukan karena ia tak menghargaimu sebagai kepala rumah tangga. Tetapi tak lebih sebab ada batin yang juga menuntut pemenuhan untuk perasaan lelah yang kerap terabaikan. Perasaan tak dihargai. Perasaan tak diperhatikan. Perasaan jenuh untuk posisi kedua yang harus selalu didapatkannya, setelah mengutamakan orang lain, segala hal di dalam hidupnya.

Andai setiap suami ingin berprasangka baik sebelum ikut terbawa emosi.

Bahwa perempuan yang ia nikahi adalah seseorang yang di antara kelebihannya juga disertai kekurangan. Ia sosok yang sama tak sempurna. Di dalam dirinya mungkin ada banyak keluhan yang terkadang harus begitu lama ia pendam, hingga tak jarang meledak dengan cara yang salah. Maka engkaulah yang seharusnya menjadi pendengar pertama untuk segala keluh kesahnya.

Andai setiap suami hendak memaklumi.

Bahwa marahnya seorang istri, hanya karena ia lelah. Hanya karena ia sedang ingin diperhatikan. Hanya karena ia sedang ingin dimanja. Hanya karena jiwanya sedang menuntut untuk lepas dari rasa penat yang mengikat. Maka perhatikan ia, sepertimu yang ingin beroleh perhatian lebih saat pulang usai mencari nafkah. Sepertimu yang selalu ingin dilayani.

Andai setiap suami ingin lebih banyak mengalah.

Agar tak perlu membalas marah dengan serapah. Agar tak perlu meninggalkan bekas luka di tubuh. Agar tak perlu ada rasa sakit yang menganga terus menerus di dalam dada.

Andai setiap suami mau mengerti, bahwa perempuan yang ia nikahi bukan sekedar untuk menjadi pekerja rumah tangga yang menyambi mengasuh anak. Yang setiap hari harus bergulat dengan banyak pekerjaan dalam satu waktu dalam 24 jam, lalu malam hari beralih profesi di bawah selimut sang suami.

Andai seorang suami mau memahami, bahwa kemarahan seorang istri takkan memuncak lama jika ia ingin memberi waktu agar amarah mereda dengan sendirinya. Jika ia ingin sedikit saja mengalah, memujuk hati istri yang tengah merajuk.

Andai seorang suami bisa mengekang ego untuk tak hanya merasa lelah sendiri, capek sendiri, pusing sendiri, hingga lupa bahwa ada seorang istri yang berjaga di rumah dengan segunung perasaan tak berupa tetapi kerap menyiksa.

Andai seorang suami bisa lebih menyelami perasaan seorang istri, kesederhanaan bahagia yang tak perlu banyak syarat, kecuali kebutuhan jiwa yang terpenuhi dengan baik.

Maka dengarkan istrimu, rangkul ia. Perhatikan istrimu, rengkuh ia. Jangan biarkan istrimu tergugu sendirian di sudut kamar dengan setumpuk penyesalannya. Menyesal karena merasa menikahi orang yang salah. Menyesal untuk lelah yang terbuang sia-sia dengan impian yang semakin jauh dari genggaman.

Engkau ingin istrimu seperti apa? Bercerminlah terlebih dahulu. Tanya dirimu, suami seperti apakah engkau selama ini? Sudah cukup baikkah untuknya? Sudah cukupkah perhatian, kasih sayang dan rasa cinta yang engkau curah? Sudah cukupkah rasa lapang yang engkau suguhkan padanya?

Engkau ingin istrimu bagaimana? Jika engkau sendiri tak menyadari engkau suami yang seperti apa.

Dan yang kutahu, suami istri ibarat pakaian bagi satu sama lain. Suami istri ibarat cermin bagi satu sama lain. Masing-masing saling memantulkan rupa yang sama. Bagaimana engkau, begitu pula istrimu.

Maka jangan pernah menuntut istrimu untuk lebih, lebih, dan lebih. Sedang engkau sendiri enggan untuk memberi lebih.

Jangan memaksa istri untuk bisa tunduk seperti bawahan jika engkau sendiri belum layak disebut imam yang baik baginya.

Dan yang lebih penting, suami yang baik seharusnya menghantar istrinya untuk mewujudkan mimpi demi mimpi dengan rasa percaya diri. Bukan justru mengurungnya dalam kehidupan pernikahan yang bahkan tak mendekati mimpi sederhananya saat sebelum berumah tangga.

Untukmu, para suami. Dari seorang istri yang sama tak sempurna.


kau tahu? apa yang lebih menyakitkan, saat air mata bahkan tak cukup untuk menterjemahkan rasa sakit. Allahu yahdih..
Magelang, 30 Agustus 2017
Copyright : @bianglalahijrah_

Thursday, 24 August 2017

Fabiayyi 'Alaa I Rabbikuma Tukadzhiban : Jangan Cemburui Nikmat Orang Lain

16:42 0 Comments

Kadang kita berpikir mengapa kehidupan orang lain tampak begitu mudah dari kehidupan yang kita jalani? Di sisi lain, mungkin ada banyak orang pula yang beranggapan bahwa hidup yang mereka lalui tidaklah seindah yang kita miliki.

Kita terus sibuk memikirkan perbedaan, tentang apa yang ada di kehidupan orang lain dengan apa yang ada di kehidupan kita. Tanpa sadar muncul kecemburuan di dalam diri. Tanpa sadar kita mulai lupa pada nikmat-nikmat yang telah Allah beri. Lama-kelamaan kita justru menjadi hamba yang tak pandai bersyukur.

Kita menjadi kufur karena terlalu sibuk membanding-bandingkan nikmat.

Sementara itu, di antara dua sisi yang saling sawang sinawang ini. Ada satu sisi lain di mana di dalamnya berisi orang-orang hebat yang begitu jarang mengeluh.

Bagi mereka bisa makan kenyang sekali dalam sehari saja sudah sangat bersyukur. Bisa makan enak dalam sekali seminggu atau mungkin sebulan, tetapi dzikir di dalam dada mereka tak pernah berjeda. Mereka tetap menjalani hidup apa adanya.

Mereka hanya percaya bahwa takdir ketetapan Allah takkan mungkin pernah salah. Bahwa kehidupan ini memang tak melulu tentang kesenangan dan kemudahan semata. Mereka memposisikan diri mereka sebagai satu dari jutaan rencana terbaik Allah bagi umat manusia.

Karena lewat mereka, kita beroleh jalan untuk menghapus dosa dan menambah catatan amal kebajikan di akhirat yaitu dengan bersedekah. Lewat mereka kita mendapat ganjaran pahala karena membantu saudara yang sedang dalam kesulitan. Lewat mereka kita dapat belajar, Allah mungkin ingin memberi gambaran yang begitu jelas di depan mata.

Bahwa apa yang kita hadapi, di tempat lain masih banyak yang mengalami kesulitan.. kesedihan.. lebih dari yang kita alami. Pun barangkali, penderitaan kita hari ini taklah sebanding dengan penderitaan Rasulullah saat menyerukan Islam.

Dan lewat para fakir miskin, kaum dhuafa, anak-anak yatim piatu, orang-orang yang tidaklah semampu kita.. Allah ingin kita lebih banyak memaknai apa itu arti syukur. Allah ingin kita melapangkan dada setiap kali kesusahan terasa sesak menghimpit. Bahwa ujian kita pasti belum ada apa-apanya. Kendati semua itu benar-benar mencekik leher.

Dan betapa sering kita mendamba kehidupan seperti apa yang orang lain jalani. Padahal kita tak tahu nikmat apa yang telah diambil darinya, pun kesulitan apa yang telah menderanya. Begitupun orang lain, mereka tak tahu persis perjuangan apa saja yang pernah kita lalui. Penderitaan apa saja yang pernah kita rasa.

Kita hanya sering membanding-bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Padahal tak ada yang perlu dicemburui. Jika dunia beserta kenikmatan yang ada di dalamnya hanya bersifat sementara. Tak ada yang harus dicemburui, sebab apa yang menjadi milik orang lain takkan pernah menjadi milik kita walau sekeras apapun kita berusaha mengejarnya.

Dan apa yang sudah Allah gariskan menjadi milik kita, takkan pernah tertukar kepada orang lain.

Hidup memang sawang sinawang, kita melihat tetapi tak pernah tahu yang sebenarnya. Kita menilai tetapi tak pernah melewati prosesnya.

Namun, semoga tak pernah ada satu pun rasa syukur yang tercabut di dalam diri untuk segala sesuatu yang telah Allah tetapkan.

Semoga Allah pangkas segala macam bentuk rasa iri dan dengki untuk perkara yang tak mendatangkan kebaikan selain kemudharatan.

Semoga setiap kita menjadi sebaik-baiknya hamba yang tetap bersyukur dalam kesulitan apapun. Dan semoga dalam kesulitan itu, kita juga tak kehabisan cara untuk selalu membantu kesulitan orang lain. Untuk senantiasa melapangkan orang lain.

Mengingat untuk beroleh syurga dan memasuki pintunya, Allah tak hanya sediakan satu pintu saja. Tetapi ada banyak pintu menurut keshalehahan apa yang telah kita perbuat. Maka kita sendirilah yang menentukan, pintu syurga manakah yang akan kita masuki?

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ نُودِىَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ ، هَذَا خَيْرٌ . فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِىَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ
“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Rayyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”
فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ – رضى الله عنه – بِأَبِى أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا عَلَى مَنْ دُعِىَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ « نَعَمْ . وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ »
Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus Anda wahai Rasulullah, kesulitan apa lagi yang perlu dikhawatirkan oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu. Mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari no. 1897, 3666 dan Muslim no. 1027)


Jadi, masih kah hendak cemburu? Masih ingin membanding-bandingkan? Ingatlah, kehidupan orang-orang yang tak lebih beruntung dari kita.

“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah dilakukannya.” [HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah]


Self reminder, dengan mata berkaca menulis ini. Alhamdulillah 'alaa kulli hal
Magelang, 24 Agustus 2017
Copyright : @bianglalahijrah_

Tuesday, 22 August 2017

Mulailah, Tak Pernah Ada Kata Terlambat

22:43 0 Comments

Mengapa aku menulis? Karena mungkin pengalaman hidup yang Allah beri untukku akan sangat berharga jika dapat dibagi pula ke orang lain. Sebab satu waktu di mana aku merasa lemah, berada di titik terendah dalam hidup, belajar dari kisah orang lain adalah motivasi terbaik yang hingga kini selalu bisa membuatku bangkit setiap kali jatuh.

Itu menandakan bahwa di luar sana, mungkin tak hanya aku, tetapi ada banyak orang yang memerlukan kisah heroik orang lain. Pengalaman hidup orang lain, kebaikan siapapun, untuk diambil sebagai inspirasi hidup yang memotivasi diri untuk melangkah lebih baik.

Maka semoga apapun yang aku tulis di sini, dapat menambah timbangan amal kebaikanku, kelak di yaumil hisab. Dan semoga setiap tulisan yang kutulis, jika mendatangkan satu kebaikan bagi orang yang membacanya, dapat mengalirkan pahala jariyah yang tak putus-putus hingga nanti penulisnya tiada.

Aku berharap setiap apa yang kutulis menjadi kebaikan, bukan hanya untukku melainkan juga untuk orang lain. Sebab sangat disayangkan jika hikmah terbaik yang Allah beri padaku hanya berhenti di diriku saja. Mungkin di luar sana, ada yang mengalami hal serupa dengan apa yang pernah kualami, hanya ia belum beroleh jalan keluar. Maka semoga sepotong hikmah dari beranda kisah ini dapat menjadi secercah cahaya bagi mereka yang masih berjuang dalam gelap.

Aamiin insyaa Allah.

Tahun ini, aku anggap sebagai awal yang baik untuk memulai segala sesuatu yang tertunda. Baik itu list-list kebaikan kecil yang dapat dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Menulis lebih banyak. Maupun langkah-langkah besar yang harus aku tempuh untuk masa depan yang lebih baik. Minimal untuk kebaikan hari esok.

23 tahun semoga tak pernah menjadi kata terlambat untuk memulai apa yang mungkin telah diraih oleh orang-orang di usia ini pada umumnya. Semoga aku tak pernah lagi melewatkan satu pun kesempatan baik untuk terus mengasah potensi dan kemampuan yang ada di dalam diri, sebanyak apapun kewajiban yang mengandrungi di dalam rumah.

____________________

Mulai rajin ke toko buku, merapikan buku-buku yang ada di perpustakaan rumah. Dengan sendirinya mulai menyibukkan diri untuk membaca sebisa mungkin di setiap kesempatan yang ada. Lebih tepatnya menjadikan kegiatan membaca bukan hanya di sela waktu luang. Beberapa judul kitab yang pernah kubeli dan kemudian menganggur tanpa tersentuh, akan masuk ke daftar buku-buku yang harus tamat dibaca dalam tahun ini.

Betapa kebaikan itu sungguh bermula dari diri sendiri. Maka aku mencoba membenahi beberapa hal yang salah. Belajar untuk mencatut beberapa target yang harus terpenuhi tanpa tapi. Karena sudah terlalu lama aku diam di tempat. Sudah terlalu lama dengan rutinitas monoton yang kadang dengan terpaksa aku lakukan atas nama kewajiban.

Lupa, bahwa untuk mencapai beberapa hal besar. Kau harus memulainya dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Dan membahagiakan diri sendiri adalah satu di antaranya. Jangan terlalu sibuk mengejar kesempurnaan, dalam hal apapun itu. Karena ternyata, semakin kita sibuk untuk menjadi sempurna.. kita tak sadar telah melewatkan beberapa hal berharga. Kita lupa bahwa tak pernah ada yang sempurna di dunia ini kecuali Allah.

Saat kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang kita anggap berharga, hal yang paling berharga ternyata justru lepas dari genggaman. Kita bahkan tidak menyadarinya. Maka semoga tak pernah ada kata menyesal untuk menyadari itu semua.

Dan kita tak akan pernah bisa membahagiakan orang lain jika diri kita sendiri tak bahagia. Kita takkan bisa membuat orang menjadi sangat berarti saat kita sendiri hilang kepercayaan diri. Pun kita takkan bisa menemukan ketenangan apapun, saat lupa memberi ruang bagi diri sendiri untuk menikmati segala sesuatu dengan baik, bukan karena keterpaksaan.

Jadi, mengapa aku menulis? Lagi, karena memang menulis adalah passion yang pas untukku. Sebuah wadah pemenuhan jiwa. Sebuah hal yang ternyata bisa memberi rasa bahagia yang lebih besar dari sekedar jalan-jalan kemudian pulang dengan rasa penat.

Menulis karena aku butuh berbagi. Menuang segala hal yang ada di dalam kepala sebelum meledak dengan cara yang salah.

Sungguh, aku merasa bahagia. Lapang. Lega. Setiap kali usai menulis.

Ke depannya semoga bisa lebih baik lagi dalam banyak hal. Bisa menulis lebih baik. Membaca buku sebanyak mungkin yang menambah ilmu pengetahuan. Menjadi berarti bagi diri sendiri baru kemudian untuk orang lain.

Dan yang terakhir, seperti apapun dan bagaimanapun.. belajar di bangku kuliah dan lulus dengan hasil terbaik, dapat mengaplikasikan ilmu yang berkah, menjadi pribadi yang kian shalehah, semoga Allah ijabahi semua. Allah mudahkan diri dalam berproses lebih baik dan semakin baik. Allah bantu setiap kesulitan yang terasa buntu untuk terpecahkan. Allah rangkul setiap kali diri merasa rapuh.

Allah kuatkan setiap kali semangat tersungkur dalam lelah.

Bukankah janji Allah tak pernah ingkar? Barang siapa yang berjalan menuju-Nya, bahkan Allah akan berlari menujumu. Semoga setiap niat dan langkah semata-mata karena Allah, agar tercapai kebaikan di dunia hingga di akhirat. Agar diri tak pernah kehabisan motivasi untuk terus menjemput kebaikan-kebaikan lain. Aamiin yaa mujiibu. Insyaa Allah.

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Kalau dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)


Jangan lelah, jangan menyerah, terus menjadi baik dan raih setiap impian. aamiin
Magelang, 22 Agustus
Copyright : @bianglalahijrah_