Sunday, 27 May 2018

Ramadhan day11 : (Ketika) Anak Mau Jadi Hafidz Qur'an

21:02 0 Comments

Cerita hari ini saat kami menemani Aidan menonton acara "Hafidz Indonesia" di RCTI. Aidan tampak begitu serius. Sesekali seperti ingin mengikuti bacaan yang ia dengar walau yang fasih baru bacaan basmallah, karena ayat yang dibaca oleh peserta hafidz belum sampai dijangkauan Aidan. Sedang Aidan sendiri baru bisa hafal Al-Fatihah dan beberapa doa pendek. Saat acara kesayangannya disela iklan sponsor, Aidan ribut sendiri mengira bahwa kami mengganti saluran TV. Masyaa Allah, barakallah.

Jadi usai mandi sore, sambil memijat-mijit Aidan dengan baluran minyak kayu putih, aku bertanya serius. "Aidan mau jadi hafidz Qur'an ya, Nak?" tanyaku. Aidan seperti berpikir sebentar, wajahnya serius bahkan untuk anak seusianya yang biasa ceria dan begitu ekspresif.

Tak lama Aidan menjawab dengan nada yang antusias sekali. "Hafidz Qur'an .." jawab Aidan tersenyum, karena memang anaknya murah senyum. Kata 'hafidz Qur'an' meluncur dengan jelas sekali tanpa terdengar cedal. Dalam hati aku mengaminkan ini. Berharap semoga kelak jika Allah berkehendak demikian, Aidan benar-benar menjadi hafidz Qur'an. Yang tak hanya menghafalkannya, melainkan juga mentadabburi isinya, mengaplikasikannya langsung dalam akhlak sehari-hari, selain itu juga mengajarkannya. Aamiin.

Kemudian, ketika aku baru saja usai mengerjakan shalat ashar. Aidan datang dan memperagakan shalat di sampingku sambil mengucap takbir kemudian aamiin. Setelahnya Aidan meraba tanganku, barangkali Aidan ingin memastikan seperti apa posisi tanganku yang saat itu tertutup mukena.

Masyaa Allah, Aidan ikut komat-kamit seolah sedang berdoa dengan kedua tangan ke atas. Tak jelas doa apa yang tengah dilantunkannya ketika berkata 'Aamiin' untuk doanya sendiri. Yang jelas, fokusku pecah begitu saja. Dzikir yang tadinya sedang kubaca juga menguar begitu saja. Terharu? Jelas iya. Anak seusia Aidan memang mudah sekali merekam segala sesuatu. Bahkan dengan gampang menirunya. Hal ini yang jadi cambuk setiap saat, bagaimana caranya agar bisa lebih banyak lagi mengajarkan hal baik pada Aidan. Memanfaatkan masa golden age yang tak datang dua kali.

Aku lantas memangku Aidan, menuntunnya berdoa, agar malaikat juga mengaminkan doa kami di waktu ashar. "Aidan ikuti ibuk ya. Ya Allah, jadikan Aidan anak shaleh. Hafidz Qur'an. Orang yang berilmu. Berbakti pada orangtua. Sukses di dunia juga di akhirat. Aamiin."

Aidan mengikutiku pelan-pelan meski doa kali ini terdengar cedal dari mulutnya. Doa yang terucap dari mulut bocah berusia 3 tahun. Hati orangtua mana yang tak gerimis? Semoga Aidan tumbuh menjadi anak dengan sebaik-baik doa yang senantiasa orangtuanya langitkan. Pun sebaik-baik doa yang terkandung di namanya, Aidan Fayyadh Al-Fatih. Tak sekedar nama, tak sekedar ingin memberinya sebuah nama yang keren. Tetapi sungguh ada jutaan doa baik yang mengiringinya sejak masih di dalam rahim bahkan hingga nanti ketika ibunya ini menutup mata di penghujung usia.

Selain itu, salah satu hak anak adalah beroleh nama yang baik. Nama yang mengandung arti di dalam Islam.

Doa ibu, nak. Akan terus mengetuk arsy-Nya. Semoga malaikat turut serta mengamini. Semoga doa ini menjadi benteng sekaligus payung yang akan senantiasa memayungimu kapanpun dan di manapun. Hingga kelak, saat engkau melangkah jauh dari ibu dan ayahmu demi cita-cita dan amanah yang teremban di pundakmu sebagai pemimpin bagi kehidupanmu. Pemimpin bagi amanah yang Allah beri untukmu suatu hari nanti. Doaku masih akan memelukmu.

Sampai di Ramadhan day 11, mari memohon ampun untuk setiap dosa-dosa yang pernah kita lakukan baik sengaja atau pun tidak. Mari memohon ampun untuk pasangan kita, orangtua kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita. Untuk siapapun yang menyayangi kita dan yang kita sayangi, semoga di 10 pertengahan yang penuh maghfirah ini Allah ampuni setiap dosa dan khilaf kita yang pernah berlaku.

10 pertengahan di bulan Ramadhan, Allah janjikan ampunan bagi mereka yang bertaubat. Perbanyak dzikir, doa, shalat malam. Semoga tiap ibadah, kebaikan yang kita lakukan di setiap detik pada bulan Ramadhan ini, Allah ganti dengan dosa-dosa yang terampuni. Dengan kehidupan yang lebih berkah. Dengan pribadi yang jauh lebih baik. Aamiin insyaa Allah.

Cerita hari ini, tentang Aidan yang ingin jadi hafidz insyaa Allah. Sebagai penutup semoga ini menambah ilmu kita semua :)

"Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengamalkannya."  (Muttafaq 'Alaih)

Sebuah kutipan dari buku "Parenting; Mengasuh Anak dengan Energi dan Emosi Positif" :

- Anak itu amanah, anak itu hiasan mata alias harapan dunia-akhirat, anak itu bekal keselamatan kita alias investasi dunia-akhirat. Setiap anak lahir dalam kondisi putih bersih laksana meja lilin yang akan ditulisi apa saja, bergantung pada kemauan orangtua. Jadi tugas orang dewasa adalah menyiapkan lingkungan yang memungkinkan potensi-potensi yang dimiliki anak bisa berkembang optimal. Perlu diketahui, pada masa golden age moment atau USIA 0-5 tahun adalah masa peka belajar seorang anak. 50% kecenderungan belajar disemai pada masa ini."

Masyaa Allah, alhamdulillah. Mari ajarkan Al-Qur'an sejak dini kepada anak. Agar anak tumbuh menjadi generasi berakhlak Al-Qur'an insyaa Allah. Bekal terbaik yang orangtua miliki di dunia-akhirat adalah doa dari anak-anak shaleh saat terputuslah semua perkara setelah kematian kecuali tiga. Sedang dua yang lainnya adalah pahala jariyah juga ilmu yang bermanfaat. Mari bekali anak-anak kita dengan ilmu, sebab sepeninggal kita yang bisa menyelamatkan mereka bukan harta benda warisan orangtuanya melainkan ilmu yang bermanfaat di jalan Allah. Aamiin yaa mujibassailin. Semoga bermanfaat 😇🙏


Magelang, 27 Mei 2018
© @bianglalahijrah
#RamadhanBerbagiInspirasi #day11 #FLPGresik #WritingChallenge 

Saturday, 26 May 2018

Ramadhan day10 : Mendidik Anak Sejak Dini atau Nanti?

20:25 0 Comments

Ramadhan tahun ini jadi puasa perdana bagi Aidan. Sebagai ibu tentu saja merasa senang ketika sang anak bisa diajak kerjasama. Untuk kedua Mbahnya alhamdulillah mendukung, kendati suami sempat menolak. Ia beranggapan bahwa anak seusia Aidan belum waktunya untuk disuruh berpuasa dengan dalih kasihan. Jadi aku menjelaskan bahwa puasa ini hanya sebagai latihan sejak dini. Ini bentuk dari didikan yang ingin kuberikan pada anak. Agar semakin mereka tumbuh besar, tugasku dalam mengarahkan sekaligus mendidik akan menjadi lebih mudah insyaa Allah.

Mengapa lebih mudah? Sebab anak yang sudah terbiasa dididik dengan pengajaran dan pemahaman baik sejak dini, pada akhirnya hal itu pula yang akan membentuk habits baik pada diri sang anak. Meski saat ini ia belum mengerti apa hakekat berpuasa, setidaknya anak mau belajar untuk mengendalikan kemauannya. Yang biasanya jadwal makan jam segini tetapi harus menunggu waktu berbuka yang telah ditentukan.

Hari pertama hingga hari kedua berpuasa, Aidan berhasil menahan lapar dan haus hingga waktu dzuhur tiba. Setelah lewat jam dua karena Aidan tak lagi minta makan dan minum, puasa lanjut dan buka untuk kedua kalinya saat adzan maghrib tiba. Rewel nggak sih? Alhamdulillah Aidan justru antusias dan lebih tangguh dari perkiraanku. Yang hari biasanya selalu teriak-teriak tiap kali minta makan, tetapi saat minta makan di tengah jam puasanya, Aidan jadi lebih tenang.

Hari pertama, jam setengah sepuluh Aidan sudah minta makan. Begitu ibunya menjelaskan bahwa waktu berbuka puasa belum tiba, Aidan hanya mengangguk sembari mengiyakan penjelasan ibunya. Dari sehari sebelum Ramadhan aku sudah menjelaskan pada Aidan bahwa ayah dan ibunya akan berpuasa, "Besok ayah sama ibuk, akan berpuasa. Aidan ikut puasa nggih. Sebagai latihan puasanya sampai siang saja. Nggak harus sampai maghrib, kan Aidan masih kecil." jelasku. Aidan hanya tersenyum.

Lagi-lagi menjawab 'iya' untuk keterangan ibunya yang entah dia pahami atau tidak 😅 ini tahap, setidaknya sebagai orangtua kita sudah menanamkan nilai akidah sejak dini. Bahwasanya berpuasa di bulan Ramadhan adalah kewajiban umat muslim. Kendati saat itu aku hanya menjelaskan bahwa berpuasa berarti menahan lapar dan haus dari sahur hingga waktu berbuka yang kami sepakati.

Aslinya sih hanya sampai jam sepuluh, tetapi alhamdulillah bisa sampai dzuhur. Menu bukanya juga nggak neko-neko. Segelas susu dan sepiring nasi. Hari selanjutnya plus buah-buahan. Anehnya, Aidan nggak suka kurma. Jadi aku hanya memberinya ekstrak madu dan kurma yang harus dipujuk dulu, baru mau minum. Bagi Aidan segelas susu coklat tetap minuman paling enak dalam kondisi apapun. Tabarakallah..

Besok sudah puasa hari ke-sebelas ya, Aidan sempat goyah di hari keempat karena tetangga yang juga merasa tak lazim dengan anak kecil yang berpuasa justru gemas ingin memberi Aidan makanan. Malah, waktu Aidan kuajak ke pasar bedug, ibu-ibu penjual kue justru memberikan Aidan kue donat berukuran cukup besar. Padahal waktu maghrib tinggal setengah jam lagi, batal deh buka kedua nunggu adzan maghrib 😂

Kadang, sebagai ibu sudah mantap banget untuk mendidik dan mengajarkan pada anak hal-hal baik yang kelak akan membentuk karakternya setelah dewasa. Tetapi ya itu, ujiannya kadang pula datang dari partner/pasangan, keluarga dekat, tetangga, sampai ke omongan orang-orang yang tidak begitu dekat dengan kita namun ikut-ikutan nyinyir 😅

Aku yakin tiap pasangan, orangtua, tentu memiliki cara berbeda dalam hal mendidik anak. Ada yang mendidik berdasarkan pengalaman yang ia dapat sejak kecil. Rantai pola asuh yang bergilir dari ibunya ke dirinya, dari dirinya turun ke anaknya. Namun ada pula orangtua yang mau membuka diri terhadap kemajuan zaman yang berkembang saat ini. Mereka sadar bahwa anak-anak yang tumbuh di abad millenial ini tak bisa disamakan dengan cara didik anak di zaman mereka.

Tipe orangtua seperti ini adalah tipe orangtua pembelajar, mereka tak bosan untuk terus belajar dan berbenah lebih baik setiap saat. Karena anak shaleh atau shalehah tak serta merta lahir dari doa dan keinginan semata. Melainkan pantulan dari keshalehan orangtuanya pula. Maka jika menginginkan anak shaleh, juga wajib shalehkan diri terlebih dahulu. Sebab itu, berproses untuk terus memantaskan diri dalam menuntut ilmu takkan pernah ada kata cukup apalagi sudah.

Karena ilmu itu sendiri butuh waktu seumur hidup untuk bisa senantiasa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai kebaikan. Lagi-lagi ini jadi PR besar untukku dalam mendidik anak di zaman ini. Sebab anak yang shaleh bukan sekedar wacana tetapi sebuah cita-cita. Semoga Aidan Fayyadh Al-Fatih tumbuh menjadi jundullah terbaik di muka bumi, penerus dakwah Nabi, abdullah shaleh, hafidz Qur'an, pecinta ilmu, bermanfaat bagi sesama, berbakti pada kedua orangtuanya. Kelak, orang yang bisa merengkuh dunia dengan kedua tangannya tetapi akhirat senantiasa ada di hatinya. Allah senantiasa menjadi orientasinya, Rasulallah adalah teladannya. Aamiin yaa mujibassailin.

Aku bersyukur pengalaman yang kudapat dari pola asuh yang kuterima membuatku bisa belajar lebih baik. Untuk menelaah dan memilah sebaiknya pola asuh seperti apa yang baik untuk diberikan kepada anak. Aku juga terus belajar dengan menambah literatur bacaan yang berkaitan dengan dunia anak atau positive parenting. Sebab sekali lagi, mendidik anak itu dengan ilmu. Perlu ilmu yang tak sedikit. Jadi sebagai orangtua kita tak boleh lengah apalagi merasa puas. Merasa cukup padahal ilmu yang dipunya belumlah seberapa.

Sebagai penutup mengutip perkataan Imam Al-Ghazali,  "Ketika anak diabaikan pada masa pertumbuhan awal, umumnya ia akan jadi orang berakhlak buruk seperti pendusta, pendengki, pencuri, suka mengadu domba, suka meminta, suka melakukan hal-hal tiada guna, suka tertawa, dan bertindak gila. Semua ini bisa dihindari dengan pendidikan yang baik."

Aku percaya bahwasanya pendidikan sejak dini, menanamkan nilai-nilai aqidah sejak dini, mengajari anak untuk turut serta berproses sejak dini berarti kita sedang sungguh-sungguh mempersiapkan anak-anak yang berakhlakul karimah di kemudian hari. Anak-anak yang diharapkan dapat menjadi insan kamil. Aamiin insyaa Allah.

Dan kelak, apa yang didapatkannya hari ini, seluruh kejadian masa kecil itu akan membentuk sebagian besar kepribadian dan orientasi pada diri sang anak. Mendidik anak sejak dini atau nanti? Tentu saja sejak dini. Bahkan bermula sejak anak masih berada di dalam rahim ibunya. Anak-anak kita berhak lahir maupun tumbuh dari didikan orangtua yang shaleh/ah. Mari berbenah, terus belajar, semoga Allah mudahkan semua. Aamiin.

Bismillah, rabbi habli minash shalihin. Aamiin yaa mujibassailin.

Magelang, 26 Mei 2018
© @bianglalahijrah
#RamadhanBerbagiInspirasi #day10 #FLPGresik #WritingChallenge 

Friday, 25 May 2018

Ramadhan day9 : (Jika) Masih Ada Waktu untuk Berbenah

21:30 0 Comments

Assalamualaikum. Ramadhan kareem untuk teman-teman semua. Masih sering ngintip dan nunggu postingan terbaruku? Alhamdulillah, semoga tulisanku tetap menjadi rindu yang hadirkan candu bagi kalian. Candu untuk membaca lagi dan lagi kendati belum pernah bertemu langsung. Rasanya menyenangkan saat ada sahabat yang mengirim pesan pribadi. Mereka berkata bahwa begitu mengagumi tulisan-tulisan yang ada di blog bianglalahijrah. Mereka juga terinspirasi, ada motivasi baru yang didapat tiap kali usai membaca.

Aku sendiri tak pernah tahu siapa saja tangan-tangan yang telah Allah gerakkan untuk terdampar di blog ini. Barangkali kamu yang saat ini tengah membaca. Terima kasih untuk mau berkunjung, tersesat di belantara kata yang lahir dari alam rasa maupun pikirku. Yang kutahu, menulis adalah cinta. Kecintaan untuk berbagi manfaat lewat tulisan, kecintaan untuk terus mengetuk hati siapa saja dengan pesan cinta yang kusiratkan dalam tulisan. Ciyee, dalem tuh 😄🤗

Alhamdulillah, ini jadi catatan di Ramadhan hari ke-sembilan. Seakan bulan yang mulia ini begitu cepat menggulung waktu. Tahu-tahu kita akan segera berpisah dengan bulan yang penuh rahmat dan magfirah ini. Hanya ada dua kemungkinan, Ramadhan berlalu dengan banyak kebaikan yang menyertai atau justru sebaliknya?

Maka, semoga kualitas iman dan ketakwaan di dalam diri kian bertambah. Semakin baik shalatnya, mengajinya, sedekahnya, silaturahminya, dhuha dan tahajudnya, dan lain-lain. Dari sebelas bulan yang barangkali berlalu tanpa banyak kebaikan maupun keberkahan yang menyertai, semoga satu bulan ini, kita bisa tancap gas untuk mengejar ketertinggalan masing-masing. Khusus muslimah, jika yang tadinya belum berhijab tergerak untuk segera berhijab. Yang tadinya berhijab namun belum mendekati syar'i maka semoga terketuk untuk lekas menyempurnakan hijab yang sudah melekat.

Bagiku, pakaian bukan sekedar pembungkus badan. Tetapi ada nilai sekaligus kualitas seseorang di balik itu. Meski memang cover tak selamanya menjamin isi, maka menjadi tugas kita agar tak hanya memperindah tampilan luarnya tetapi juga kualitas ruhiyahnya. Ini PR seumur hidup, tentu juga untukku. Jadi semoga tak ada lagi alasan klise untuk menunda-nunda dalam taat hanya karena alasan, "nunggu hati baik dulu, baru perbaiki luarnya."

Iya kalau kesempatan itu masih ada di esok hari, atau mungkin satu jam ke depan? Sebab kita tak memiliki jaminan apapun ketika terus menunda-nunda waktu untuk merealisasikan taat. Jika pun belum sempurna baik, setidaknya kita berproses terus menerus untuk memperbaiki apa yang masih harus diperbaiki. Allah tak menuntut kita untuk sempurna kok, karena kesempurnaan hanya milik-Nya. Tetapi Allah hanya inginkan kita taat dan jadikan Dia sebagai satu-satunya orientasi dalam hidup.

3 bulan blog ini kosong karena terkendala laptop yang sedang koma. Ada banyak sekali hal yang ingin aku tuang. Hingga kerinduan itu sempat menghabiskan berlembar-lembar kertas di buku harian. Aku ingin berbagi tentang hasil diskusi yang kemudian memberiku pemahaman baru. Atau pembelajaran baik apa yang aku dapat dari tiap buku yang kubaca, maupun hasil dari mengamati apa yang ada di sekeliling termasuk pula aktivitas di sosial media.

Semua adalah lahan untuk mendapatkan ilmu. Kendati ada beberapa orang yang kemudian bertolak belakang denganmu, lagi-lagi itu masih akan jadi pembelajaran berharga. Ada hal baik yang bisa dipetik dari tiap perbedaan sudut pandang maupun pendapat. Sampai hari ini aku masih belajar. Pun di satu titik aku bisa memahami dengan hati yang tak diselimuti benci, bahwa memang tak semua kebaikan kita bisa diterima baik-baik oleh orang lain. Pun tak selalu yang menurut kita benar sudah baik bagi orang lain, dan yang menurut kita baik akan benar bagi orang lain.

Dalam menyeru kebaikan akan selalu ada orang-orang yang pro maupun kontra. Ada orang yang akan sependapat denganmu, ada orang yang akan habis-habisan menentangmu. Semoga di Ramadhan yang sudah memasuki 10 pertengahan ini ada banyak lagi refleksi yang bisa menjadi renungan bagi diri untuk berbenah lebih baik. Masih ada waktu untuk mengejar ketertinggalan-ketertinggalan yang pernah menjadikan 11 bulan lainnya berlalu sia-sia.

Marhaban yaa Ramadhan, semoga pesan baik dari seorang ustadzah yang akan kusampaikan di sini menjadi pahala jariyah baginya pun bagiku untuk berbagi kebaikan tersebut. Pesan dari ustadzah Nurjannah, ".. berkali-kali kita mendekati Al-Qur'an. Mentadabburi Al-Qur'an. Untuk membayar berkali-kali kita melakukan dosa dan membuang waktu dengan perkara sia-sia."

Masih tersisa 20 hari lagi, masih ada waktu untuk mengikis dosa dengan khusyuk membaca Al-Qur'an. Sebab Ramadhan, bulan diturunkannya Al-Qur'an. Semoga waktu dapat berlalu dengan lebih banyak bercengkerama dengannya. Agar Allah ridho, agar Allah kikis dosa-dosa dengan pahala dari membaca Al-Qur'an. Hingga ibadah yang lainnya juga akan semakin khusyuk dan menambah tingkat ruhiyah di dalam diri. Aamiin aamiin yaa mujibassailin. Semoga bermanfaat :)

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya),  dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal." (QS Al-Anfal  8:2)

Magelang, 25 Mei 2018.
© @bianglalahijrah
#RamadhanBerbagiInspirasi #Day9 #FLPGresik #WritingChallenge

Monday, 19 February 2018

S.A.H.A.B.A.T [Sepenggal Kisah Remaja]

22:26 0 Comments
Dalam hidup ini beberapa orang terlahir dengan jaminan kemudahan. Baik itu kekayaan atau status tinggi yang ia dapat dari keluarganya. Ia tak perlu berjuang keras untuk meraih banyak hal, ia tak perlu memerah keringat bahkan airmata hanya untuk bekerja keras. Ia barangkali tak tahu tentang malam-malam panjang ketika ada mata yang sulit terpejam, demi memperhitungkan esok hari akan seperti apa.

Di sisi lain, ada orang yang terlahir dengan cucuran airmata beserta keringat. Di dalam hidupnya tak selalu ada kemudahan. Ia ditempa untuk jatuh bangun seorang diri. Untuk berlari sekuat tenaga menuju mimpi-mimpi di tengah orang-orang yang kerap mencaci. Ia harus berjuang mati-matian untuk bertahan, agar dapat terus bangkit lagi dan lagi.

Beberapa orang berjalan begitu mudah menuju mimpinya, sebagian lain berjuang keras tanpa henti. Namun satu hal, orang-orang terpilih yang Allah uji terus menerus tak melangit lewat kemudahan sejak awal. Mereka ditempa dengan kesulitan jauh sebelum mereka mampu melangkah tegak. Mereka lahir bersama kesulitan dan keterbatasan yang ada. Tetapi merekalah orang yang paling berbahagia ketika mimpi mampu digenggam tangan. Mereka lah yang paling berbahagia atas pencapaian sekecil apapun. Bersyukurlah jika kita orang-orang pilihan itu. [Caption Instagram : @bianglalahijrah_]

 
Sore ini saat berkunjung ke rumah seorang teman. Dua jam pembicaraan kami seperti ragam kendaraan yang hiruk pikuk di sebuah jalan raya. Ada yang mengarah ke Barat, ke Selatan, ke Utara, bahkan ke Timur. Pembicaraan kami merambah ke banyak hal. Seolah tanpa spasi, semua mengalir begitu saja. Dua jam untuk duduk berdua dan mencerna semuanya bersama.

Namun saat menulis ini, entah mengapa teringat dengan seorang sahabat yang akrab denganku sejak kecil. Sahabat yang dulu, bersamanya, kami pernah berbaring di bawah langit sembari menghitung berapa banyak pijar bintang yang berkerlap-kerlip. Sahabat yang barangkali di hatinya masih ada jejak kisah dan tetap utuh di sana.

Tentang sesabit senyum yang kami titipkan di masa depan. Berharap ketika kami tiba di sana, waktu akan membawa ingatan kami pada hari itu. Hari di mana dua remaja berbagi tentang mimpi-mimpi besar.

Aku tak menyebut namanya. Tetapi ia yang bernama sahabat, tetap mengakar di dalam hati. Ia turut bernafas bersama puzzle-puzzle ingatan pun dalam pita rekaman bernama kenangan.

Juga untuk wajah-wajah yang pernah membersamai di masa sekolah. Untuk geng Kutu Buku, kuharap di mana pun kalian berada.. semoga Allah lapangkan serta mudahkan jalan kalian dalam menuju mimpi demi mimpi yang pernah kita eja bersama.

Untuk Syarif, bocah ingusan yang hari ini menjelma sebagai fotografer tampan (please jangan senyum ge-er ketika membaca ini). Aku meneropongmu dari bawah langit Magelang. Mengingat bagaimana sulitnya kondisimu dulu, percayalah.. kamu teman lelaki kecilku yang mengajariku kebijaksanaan ketika semua orang menyingkir satu persatu. Terima kasih untuk bertahan denganku hari itu. Pun berbahagialah dengan setiap pencapaian hidupmu hari ini. Kau jauh lebih baik :)

Teruntuk semua teman yang dulu pernah memelukku kala sedih, atau menghapus airmata. Sepertinya rinduku menarikku pada kenangan-kenangan itu. Ia tampil serupa slide, ada pelangi di setiap cerita.

Hari ini, aku tiba-tiba ingin menulis tentang kalian.

Ingat kah? Gelak tawa yang selalu mampu mengusir gundah di masa remaja? Atau problematika yang berujung dengan cerita panjang penuh energi saat kita saling berbagi secuil kekuatan di dalamnya. Atau tentang persaingan-persaingan yang membuat kita saling terpacu untuk lari mendahului yang lain, kendati kita takkan meninggalkan satu sama lain.

Pun ketika fase demi fase perubahan siklus masa puber, kadang kala membuat kita berbolak-balik. Ada saat kita berlari mendekat. Ada saat kita mencari ruang lain untuk menguji diri sendiri.

Untuk Winda, kudengar ia menjadi seorang ibu rumahtangga. Percayalah, setiap anak berharap ia bisa tumbuh dewasa.. meraih cita-cita.. mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Hanya saja, beberapa anak ada yang tumbuh dan melesat begitu saja menuju mimpinya, tanpa ada hambatan. Dan ada pula anak-anak yang harus menyimpan impian itu sebagai bagian dari dirinya. Walau tak pernah tahu kapan akan terwujud atau tidak sama sekali.

Untuk Winda, semoga kelak anak-anakmu lah yang akan melebarkan sayap dan mewujudkan mimpi-mimpi besarmu yang harus terpenggal kenyataan. Jadilah ibu terhebat bagi mereka, tangga bagi mimpi anak-anakmu :)

Untuk Angga, Randy, Yulian, Ira, Nika, Romi, Aina, siapapun teman yang dulu pernah ada di masa itu sekalipun nama kalian tak tertulis di sini.. percayalah, kalian adalah bagian dari kepingan puzzle itu. Kalian berkontribusi memberikan kenangan masa puber yang selalu menghadirkan cerita unik saat terangkat ke permukaan.

Sebelumnya, teruntuk sahabat spesialku Wahda. Kamu ingat waktu-waktu tersulitku dulu, dan kau ada di sana? Kamu ingat, saat menyeka airmataku, dan memberiku buku bersampul Cinderella yang kau lukis dengan tanganmu sendiri. Katamu, itu kado ulang tahun untukku. Karena aku begitu menyukai karakter Cinderella di antara deretan film kartun yang selalu kita tonton di hari minggu.

Aku belajar dari perbedaan yang membuat kita tumbuh seperti langit dan bumi. Tetapi dari situ lah aku memahami bahwa setiap anak lahir, tumbuh, dan membawa keberuntungannya masing-masing. Saat kau begitu mudah meraih sesuatu dengan limpahan kasih sayang, aku di sisi lain berjuang untuk bertahan demi impian walau hanya sedikit dukungan.

Tetapi nyatanya, kau sahabat yang dulu tak sekedar datang kemudian pergi hanya untuk mengeruk keuntungan. Itu mengapa seorang sahabat terasa jauh lebih membekas di dalam ingatan.

Hari ini, barangkali mimpi-mimpi besar yang dulu kita rangkai bersama telah kita raih satu persatu. Aku dengan jalanku, kau dengan jalanmu. Kutahu kita sama-sama berjuang di dalamnya. Tetapi percayalah, bahwa mimpi remaja ingusan kala itu, yang kita haturkan di bawah langit bersama hamparan bintang.. seolah-olah saling menggema satu sama lain. Kita pada akhirnya berjalan menuju semua itu.

Aku berbahagia untukmu, untuk setiap pencapaian baik di dalam hidupmu.

Seiring waktu kita semakin tumbuh dewasa dan juga akan menua. Bersamanya, lalu lalang wajah-wajah bernama teman. Ada yang bertahan meninggalkan kesan, ada yang singgah dan berlalu tanpa arti. Kelak, hari di mana waktu itu benar-benar tiba. Bawa diri kita dengan cerita masing-masing, habiskan satu malam untuk kembali menghaturkan kisah pada bintang.

Hari itu akan tiba, percayalah.. ada cerita menarik yang menunggu kita di ujung sana :) sukses selalu untuk kalian semua. Jangan pernah membuang wajah, kehilangan tutur kata, bahkan hangus begitu saja keramahan pada diri, sekalipun tangan sudah mampu mencapai ketinggian langit. Semoga hati dan kaki kita tetap berpijak di bumi dan selayaknya padi yang berisi. Aamiin insyaa Allah. Rindu untuk kalian semoga terwakilkan di sini.

Juga untuk ejekan-ejekan yang hingga hari ini masih menjadi motivasiku, itu juga berkat kalian. Terima kasih.

Magelang, 19 Februari 2018
bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu, rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya.. janganlah berganti #Ipang #Sahabatkecil
copyright @bianglalahijrah

Wednesday, 31 January 2018

Pesona Bangka Belitung : Negeri Serumpun Sebalai

19:29 0 Comments
(c) original picture by @bianglalahijrah [Pantai Parai Tenggiri, Bangka Belitung]

Bismillah :D akhirnya bisa duduk santai di depan laptop. Sejak beberapa hari yang lalu hanya berangan-angan untuk menulis di blog namun terkendala hal lain. Btw, kami baru pulang dari Bangka Belitung. Negeri yang disebut Bumi Serumpun Sebalai, tetapi aku lebih suka menyebutnya sebagai negeri Laskar Pelangi. Kampungnya Om Andrea Hirata. Meski Bangka Belitung sendiri nyatanya bukan pulau sekaligus provinsi kecil. Selain itu, aku baru tahu kalau pulau Bangka dan pulau Belitung itu sebenarnya terpisah. Ke mana saja aku? Kelihatan banget jarang buka peta :'D

Eh, ke Bangka Belitung mau ngapain?

Kami mau silaturahmi ke mamak dan keluarga yang ada di sini. Kebetulan terhitung sejak 7 tahun yang lalu ibuku tinggal di negeri laskar pelangi ini.

Menyambut langit senja di Alun-alun Taman Merdeka
Kalau dipikir-pikir, rasanya bukan sebuah kebetulan. Dulu, ada banyak list yang aku masukkan ke daftar mimpi. Dua di antaranya aku ingin menginjakkan kaki ke Candi Borobudur dan Bangka Belitung. Tak disangka saat ini aku justru menetap di kota yang sama dengan Candi Borobudur, situs peninggalan sejarah yang dulu pernah diakui UNESCO sebagai bagian dari tujuh keajaiban dunia. Yang kedua, tahu-tahu ibuku memilih tinggal di Bangka Belitung bersama keluarga yang ada di sini. Sebab mengapa akhirnya aku bisa berkunjung ke Babel.

Tadinya aku hampir lupa bahwa dulu pernah punya keinginan untuk menginjakkan kaki di pulau ini. Alhamdulillah, Allah beri kesempatan. Kami bertiga berangkat ke Babel pada Selasa tanggal 23 Januari lalu. Sampai kembali di Magelang kemarin minggu.

Pantai Karang Mas Air Anyir :) yang berhasil kefoto cuma plangnya karena kami hanya mampir sebentar


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dari perjalanan menuju Bangka hingga pulang, aku memanfaatkan setiap moment dengan sebaik-baiknya. Selain itu Bangka Belitung adalah pulau dengan destinasi yang indah dan sangat cocok untuk menyalurkan minat fotografi. Hampir setiap tempat yang kami datangi kuabadikan lewat kamera DSLR dan handphone. Hingga memori overload karena kelebihan muatan.

Ada satu info penting nih, destinasi di Babel itu rata-rata gratis. Iya pun berbayar paling cuma 2000-an dan kami sendiri hanya bermodal motor plus bensin. Ngetrip hemat banget pokoknya. Ditambah penduduk setempat juga ramah-tamah. Kamu akan sangat sering mendengar kata "Aok.." di setiap pembicaraan mereka. Dan kata "Aok" ini sebenarnya bukan kali pertama aku dengar. Orang-orang Melayu yang ada di Riau juga sering mengucapkannya. Aok bisa juga berarti (iya). Kalau menurut pendengaranku sih, karena dulu aku juga pernah tinggal di Jambi. Bahasa mereka terdengar seperti bahasa Melayu tetapi ada aksen Palembangnya juga. Tetapi berhubung aku pernah punya teman orang Lampung, bahasanya juga hampir sama :D dan yang jelas, aku tak tahu pasti apa arti setiap kali mereka berbicara hahaha.

Selama di Bangka aku lebih banyak mengambil gambar sembari belajar mengambil foto dengan angle yang pas, pun agar lebih mengerti tentang seluk beluk fotografi. Katanya fotografi itu juga didominasi oleh kemauan untuk belajar dan mencoba, selain karena memang ada skill khusus di bidang ini. Intinya jangan takut salah. Jangan takut kalau-kalau foto yang kita ambil mungkin jelek atau tak bernilai seni sama sekali. Sebab, sama halnya seperti menulis yang butuh keterampilan terus menerus. Fotografi pun demikian, jangan bosan berlatih dan terus mencoba. Karena tak pernah ada kata cukup dalam belajar.

Senyum mereka :) masyaa Allah, alhamdulillah. Loc : Alun-Alun Taman Merdeka

Bersyukur karena suami mensupport minat istrinya. Jadilah dia dan Aidan yang terbalik menjadi model. Lebih banyak foto-foto anak dan suami yang terekam kamera. Eh tapi fotoku juga banyak sih, ngambilnya gantian. Sayang kalau disia-siakan. Untuk foto-foto hasil trip bisa teman-teman nikmati di akun Instagramku @bianglalahijrah_

Jadi ceritanya, hari pertama di Bangka kami tiba pukul setengah empat sore. Dari bandara langsung menuju tempat mamak. Hari pertama adalah reuni bagi kami dan mamak setelah berapa tahun tak bertemu. Pertemuan yang mengharukan karena hampir semua orang yang ada menangis melihat kami. Iya, sejak berpisah dari mamak aku sendiri bahkan tak tahu kapan akan bertemu beliau lagi. Dan hikmah dari sakitnya mamak, begitu banyak kemudahan yang menyertai langkah kami untuk sampai di Bangka Belitung menemui beliau.

Jadi tujuan utama ke Babel memang bukan sekedar untuk mengunjungi destinasi setempat. Travelingnya hanya nyambi selama di sini.

Alhamdulillah, di hari kedua kami baru bisa menyempatkan waktu untuk berkunjung ke destinasi setempat setelah paginya mengantar mamak kontrol ke dokter.

Sisi lain dari pantai Temberan :) ikuti keindahannya di My Instagram @bianglalahijrah_

Di hari kedua ini kami mendarat di Pantai Pukan, pantainya masyaa Allah bagus banget. Pasir putih, ada gubuk-gubuk kayu di sepanjang pesisir pantai. Pantai ini juga bisa dibilang terawat karena tak banyak sampah yang kami temui ketika mengeksplore. Tiba di sini pas banget air laut sedang surut, jadi kami bisa berjalan kaki menyusuri pantai yang tergolong landai. Bisa mengabadikan gambar di atas gundukan pasir yang terbentuk karena air surut. Sangat-sangat menakjubkan menikmati keindahan pantai Pukan bersama keluarga.

Berkat papan petunjuk ini kami menemukan pesona keindahan Pantai Pukan

Pantai kedua di hari yang sama yaitu pantai Karang Mas Air Anyir. Tempatnya kurang sreg di kami. Jadi cuma mutar sebentar setelah itu memutuskan untuk pergi ke pantai lain, karena masih ada pantai di jalur yang sama dan hanya selisih beberapa kilometer saja.

Nah di pantai ketiga, tempatnya nggak kalah asyik. Rasanya nggak mau cepat-cepat pulang, apalagi kalau kamu ke sini sekitar jam 3 sampai jam 5 sore. Pantai Temberan ini sama ramahnya dengan Pantai Pukan. Cuaca sore yang sangat mendukung membuat suasana terasa damai, sejuk, betah berlama-lama.

Begitu turun dari kendaraan aku sudah siap dengan kamera yang sejak awal memang tergantung di leher. Agar di sepanjang jalan bisa mengabadikan lebih banyak gambar. Meski ternyata di pantai ketiga ini airnya juga pas surut sama seperti pantai-pantai sebelumnya. Tetapi keindahan pantai Temberan tak berkurang sama sekali.

Hitam putih Jembatan Emas

Setelah dari pantai Temberan yang terletak di desa Air Anyir kecamatan Merawang, kami langsung ke Jembatan Emas yang katanya sekarang jadi ikonnya Bangka. Lagi-lagi merasa beruntung karena sewaktu kami tiba di sana, jembatannya pas banget baru mau diangkat karena ada kapal besar yang akan lewat. Jadilah, momentum itu tidak aku lewatkan untuk mengabadikan gambar. Sayangnya beberapa gambar masih tersisa di kamera dan belum bisa aku bagi di sini. Mungkin next post.

Jembatan Emas dari depan :)

Sebelum pulang kami juga sempat mendarat di Gramedia Babel. Toko buku yang keren. Rapi dan cukup lengkap. Gedungnya lumayan luas karena hanya dijadikan khusus untuk toko buku saja. Kalau di Magelang mah, Gramedia Expo gabung di Mall Gardena. Nah di Babel justru enggak. Sayangnya, nggak boleh foto-foto di tokbuk ini. Aneh juga sih, sebanyak-banyak toko buku yang aku masuki baru ini nggak dibolehin ambil foto :(

Gramedia Babel, karena terlanjur difoto dan boleh dibawa pulang [by husband] :D

Aku sempat nanya ke satpamnya, dan dia beralasan takut kalau ada yang berniat kurang baik. Lah, dikata mau ngapain coba? Ampun, kesan yang sedikit mengecewakan. Padahal ke Gramedia cuma pengen belikan mamak Al-Qur'an dan beberapa keperluan lain sambil foto penampakan Gramednya. Tapi mood kadung nggak enak gara-gara insiden ini. Meski setelah itu saling balas senyum saja ke karyawan dan satpamnya :'D

Lanjut di hari ketiga dan keempat kami kembali mengeksplore Bangka. Destinasi pertama yang kami ingin tuju di hari ketiga adalah Danau Kaolin. Sayangnya akses internet terputus di tengah jalan. Selalu begitu kalau sudah memasuki kecamatan Merawang dan menuju ke arah Sungailiat. Padahal kami mengandalkan peta dari Google Maps. Alhasil bukannya sampai di tempat yang dituju kami justru nyasar ke pemukiman warga etnis konghucu. Setelah beberapa kali bertanya di penduduk setempat kami memutuskan untuk mencari sendiri lokasinya.

Anak dan bapak lagi mojok :D emaknya ambil foto doang. Loc : Kolong Biru

Masuk jalur yang satu dan keluar ke jalur yang lain. Sampai akhirnya kami menemukan papan petunjuk arah bertuliskan Kolong Biru. Suami tak pikir panjang, langsung tancap gas mengikuti petunjuk arah yang menempel di salah satu pohon.

Akhirnya, fiuh!! :D kami tiba di Kolong Biru disambut pemandangan yang sangat-sangat indah. Tadinya sempat mikir kalau Kolong Biru ini yang dinamakan Danau Kaolin, tapi ternyata bukan. Karena seingatku Danau Kaolin memiliki dua bekas galian timah yang airnya berwarna biru dan hijau, dan lokasinya ada di satu tempat. Sedang Kolong Biru hanya ada satu ini saja.

Di sini aku sempat ngevlog singkat, kendati nongkrongnya cukup lama. Sampai nggak sadar kalau kulit semakin berwarna kecoklatan. Kalau sudah bertemu dengan keindahan yang menghipnotis begini, jadi nggak pikir seribu sekalipun kulit harus menggelap. Tak masalah, toh pengalaman yang didapat takkan luntur semudah kulit yang balik ke sedia kala begitu kembali jadi emak rumahan :)

Dari Kolong Biru kami kembali lagi ke Jembatan Emas tapi ke pantai yang terletak persis di bawahnya. Sambil menemani Aidan nyemplung dan menikmati keindahan langit sore di tempat itu. Pantai di bawah Jembatan Emas ada sarana bermain anak juga loh. Ada pedagang-pedagang kecil yang menjajakan dagangannya.

Yeay!!! Asal tahu berangkat ke Bangka putih pulang-pulangnya gosong :D tahu kan penyebabnya?

Dan di hari ketiga pula, meski menikmati tetapi capek sudah mulai terasa. Terlebih karena menghitung hari untuk kembali ke Magelang. Pikiranku terbagi-bagi ke banyak hal. Masih banyak destinasi yang belum sempat kami kunjungi. Masih ingin berlama-lama di Bangka dan menemani mamak. Masih ingin mengeksplore kebudayaan setempat yang penuh ragam dan keunikan, tentang masyarakat melayu dan etnis konghucu yang hidup rukun berdampingan. Masih penasaran dengan otak-otak dan makanan khas Bangka. Masih banyak hal yang ingin kupelajari selama di tempat ini.

Tetapi hari kelima kami sudah harus kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Magelang. Dan hari keempat menjadi moment menyedihkan bersama mamak saat kami ingin foto bersama. Setelah bertahun-tahun baru bertemu lagi namun harus berpisah dalam hitungan hari. Hari keempat semangat untuk menjelajah keindahan Bangka pun tiba-tiba mengendur. Kendati perjalanan kami lanjutkan ke Pantai Parai Tenggiri yang kata masyarakat setempat adalah replika dari Pantai di Bali. Walau setelah itu kami juga masih sempat singgah di alun-alun Taman Merdeka, Pangkalpinang, ibukota Provinsi Bangka Belitung. Tetapi tetap saja pikiranku seperti bermain-main, antara pulang atau bertahan sebentar lagi.

Aku perkenalkan ibu yang sangat kucintai. Dia berharga bagi kami [by husband] :)

And then, tak ada pilihan lain. Hari keempat, malamnya kami berkeliling Pangkalpinang untuk membeli apa saja yang mamak butuhkan sesuai pesanan yang sudah kucatat di dalam list. Kami tak mau ada satu pun yang terlupa, sebisa mungkin dipenuhi sebelum kepulangan kami. Sebisa mungkin mamak benar-benar merasa lapang dengan kami berada di sana sampai kami pulang kembali ke Magelang.

Mengintip keindahan sisi lain dari pantai Parai Tenggiri

Alhamdulillah, pembelajaran sekaligus pengalaman berharga dalam waktu yang singkat. Lima hari rasanya tak cukup untuk menikmati semuanya. Tetapi terima kasih untuk mamak, lewat beliau ada mimpi yang terpenuhi secara tak sengaja, tapi Allah pula yang berkehendak. Terima kasih pada Bangka Belitung yang telah memberiku banyak pembelajaran baik selama berada di sana. Membuka kaca mataku lebih lebar untuk melihat, mendengar dan merasakan lebih banyak hal lagi di dunia luar. Syukran Allah, untuk kemudahan demi kemudahan. Pun kesempatan berharga.

Beach Resort and Spa, Parai Tenggiri :) bisa nih ajak keluarga besar ke sini

Insyaa Allah khusus untuk tiap destinasi akan kubahas detil sendiri-sendiri di postingan selanjutnya. Termasuk masjid-masjid paling menawan yang ada di Babel, berikut foto-foto hasil ngetrip. Semoga bermanfaat, semoga tak hanya kami yang bisa menikmati keindahan alam Bangka Belitung. Tak hanya kami yang bisa mengetahui setitik mengenai negeri Serumpun Sebalai ini, melainkan juga teman-teman yang barangkali belum pernah ke sana, tetapi ingin menginjakkan kaki di sana. Aamiin insyaa Allah.. semoga kelak kalian juga bisa menginjakkan kaki di sini.

Sampai jumpa lagi Bangka Belitung :) teruslah semakin indah. Loc : Alun-alun Taman Merdeka

 
di dunia ini tak ada yang kebetulan melainkan qadarullah, kehendak dan ketetapan Allah :)
salam rindu untuk mamak dan Bangka Belitung, kelak kami akan kembali lagi.. alhamdulillah
31 Januari 2018

copyright : @bianglalahijrah_
*original picture taken by me* 

Tuesday, 16 January 2018

Doa Orangtua : Doa yang Tak Mengenal Jarak

00:18 0 Comments

Selamat malam :) Nulis di sela ngerjain tugas. Pelarian terbaik ketika otak terasa penuh dan harus segera dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Alhamdulillah sebab minggu ini bisa kembali menghubungi mamak dan bapak di seberang pulau sana, setelah sempat lost kontak karena handphone sebelumnya rusak.

Ada banyak agenda di tahun ini. Keinginan, target, planning yang menjadi lebih berwarna. Doa mamak dan bapak tentu saja bagian terpenting dari itu semua. Selain itu, bagi seorang istri ridho suami yang paling utama. Jadi di antara semua planning itu dari jauh hari sudah kudiskusikan kepada suami. Asal suami ridho, insyaa Allah jalan hehe

Termasuk rencana untuk silaturahmi, mengunjungi mamak di negeri Laskar Pelangi, yaitu Bangka Belitung. Semoga dalam waktu dekat Allah mudahkan dan beri kemurahan rezeki untuk segera memberangkatkan diri ke sana. Rasanya sudah bertahun-tahun tak bertemu mamak. Bahkan ketika beliau mengangkat telepon dan mendengar suaraku, beliau menangis rindu sekaligus bahagia, karena baru saja dihubungi kembali oleh anaknya.

Sedih? Iya. Rindu? Jelas. Tak ada anak yang bisa lupa pada orangtuanya sejauh apapun kaki melangkah. Bahkan dalam kondisi bagaimanapun wajah orangtualah yang selalu hadir di pelupuk mata. Meski sudah bersuami, bagiku doa orangtua seumpama pelindung sekaligus pelukan yang memastikanku untuk tetap berada di koridor kebaikan.

Meski aku tak meminta doa-doa mereka secara langsung, bapak dan mamak sudah pasti mendoakan kebaikanku tanpa henti. Berharap semua anak-anak mereka menjadi orang yang berguna, berhasil dunia dan akhirat, serta tetap berbakti kepada kedua orangtua. Aamiin insyaa Allah.

Tadi sore setelah pulang dari pertemuan liqo, aku sempatkan untuk menghubungi bapak. Menyenangkan saat berbicara lama dengan bapak dan meminta beliau untuk mengaminkan pengharapan terbaikku hingga bapak benar-benar jelas mengeja kata aamiin.

Rasanya plong! Lapang sekali. Setiap kali usai menghubungi orangtua dan lagi-lagi meminta doa mereka. Apa yang lebih berharga dari ini? Ketika doa orangtua selalu menjembatani langkah diri ke manapun pergi, insyaa Allah.

Terima kasih pula pada bu Dokter Muda di negeri horas sana. Yang beberapa waktu lalu sudah memberikan masukan berharga. Bagiku, salah satu nikmat terbesar dari Allah. Ketika kamu dikelilingi oleh orang-orang baik yang ringan hati memberikanmu nasehat emas demi kebaikanmu sendiri. Bonus besar dari Allah saat dipertemukan dengan orang-orang shaleh, alhamdulillah

Dan, menuju semester baru dengan tugas yang semakin mendekati deadline. Mendengar suara bapak malam ini, aku seperti menerima transferan energi yang tak terkira. Bapak, bagaimanapun, dulu aku adalah anak yang selalu beliau manja. Bapak begitu penyayang. Meski setelah beberapa tahun berpisah dan bertemu lagi justru saat aku beranjak dewasa, kami mungkin tak lagi bisa sedekat dulu, tetapi tak ada yang berubah dari beliau.

Bapak masih sama. Diamnya. Senyumnya. Tawa bapak. Sudut pandang beliau dalam menilai sesuatu. Dunia yang bagi beberapa orang sempit, tetapi aku menemukan muara kehidupan di sana. Seorang bapak yang tangguh kendati tanpa gelar tertinggi di belakang namanya. Ia setidaknya mampu menjadi sosok terbaik di ingatan anak-anaknya meski kadang anak-anaknyalah yang kerap lupa.

Dan, seperti ucapan suami.. jika setiap kali semangat itu melemah. Harapan itu meredup. Ingat lagi wajah orangtua. Ingat wajah mamak, bapak, adik-adik, siapapun yang berarti di dalam hidupmu.

Ingatlah, sesuatu yang baik tidak hanya engkau perjuangkan untuk dirimu sendiri melainkan juga orang-orang yang kau sayangi dan sayang kepadamu. Perjuanganmu tak hanya semata demi mimpi-mimpi besar yang ingin kau raih, tetapi ada harapan dan doa-doa yang menyertai langkahmu.

Aku bersyukur, hingga kini Allah seperti menuntunku untuk menuju mimpi demi mimpi satu persatu. Banyak hal yang dulunya terasa mustahil Allah jadikan mungkin seketika. Allah mengizinkanku untuk melihat langsung bukti kebesaran-Nya.

Sebab itu, ke manapun kaki mampu menapak pada akhirnya. Ada tanda kebesaran Allah di dalamnya. Allah yang telah menjadikan apa yang mustahil menjadi sangat mungkin terjadi. Meski rencana manusia selamanya takkan bisa melebihi kuasa Allah. Tetapi rencana Allah jelas lebih baik.

Alhamdulillah untuk kesempatan demi kesempatan baik yang Allah beri untukku hingga detik ini. Banyak hal yang bahkan masih luput dari rasa syukur, tetapi nikmat Allah bahkan tak pernah putus sama sekali. Salah satunya? Nafas yang masih berhembus ini. Hidup yang Allah karuniakan untuk terus belajar, belajar, dan belajar lagi.

Ah, terkhusus untuk bapak dan mamak. Untuk suami, untuk little boy Aidan. Untuk adik-adik, untuk semua orang yang membuatku berarti di dalam kehidupan mereka. Terima kasih sudah membuatku belajar dan mengerti akan banyak hal.

Semoga setelah ini, Allah lapangkan sabar dan ikhlas di dalam diri tanpa mengenal batas untuk berjuang lagi dan lagi. Sebab nyatanya, perjuangan tak cukup hanya dengan satu pencapaian saja. Selagi masih ada waktu dan kesempatan, tangkap setiap peluang yang ada. Tebarkan lebih banyak lagi kebaikan di muka bumi. Aamiin aamiin yaa mujibassailin.

Magelang, 15 Januari 2018
sungguh, janji Allah itu pasti.. bersama kesulitan selalu ada kemudahan

copyright : @bianglalahijrah_ 

Thursday, 11 January 2018

Dilema Jadi Orang Nggak Enakan

20:37 0 Comments

Kadang, mudah bagi orang lain untuk berkata ikhlas dan sabar. Kendati merekalah penyebab luka itu. Mereka sendirilah yang menjadi pemantik dari kekisruhan yang ada di dalam hati dan pikiranmu. Meski begitu, nggak enaknya jadi orang yang 'nggak enakan', kadang kamu lebih memilih seperti menerima saja dengan ringan hati walau setelahnya kau justru menikmati kekecewaanmu sendiri.

Betapa banyak orang baik yang muncul di depan mata tetapi berlalu sebagai musuh. Tak sedikit pula lawan yang berwajah teman, mengelilingimu untuk memastikan, suatu saat mereka bisa menancapkan belati tepat di dalam hatimu. Tetapi, apa kita punya banyak waktu untuk menerka mana yang sebenarnya kawan dan mana yang bukan? Jelas tidak!

Kadang, kita tetap menaruh prasangka baik kendati orang lain bertubi-tubi melemparkan duri. Konsekuensi tak mengenakkan ketika menjadi orang baik.

Baiklah, jika berbicara soal ikhlas dan sabar. Perbedaannya apa? Sabar bisa jadi mungkin, ketika kamu memilih untuk menahan diri dan tak membalas mereka dengan perlakuan yang sama. Sedang ikhlas? Ikhlas belum tentu dapat berjalan seiring dengan kesabaran itu sendiri jika di hatimu masih tersimpan kekecewaan sekaligus rasa marah. Ah, kurang lebih begitu. Ini menurutku saja.

Sedikit pembahasan berat di minggu kedua setelah kuliah masuk kembali. Untungnya tugas di penghujung pekan minggu ini tak begitu mendesak untuk segera diselesaikan. Jadi mungkin hanya perlu membuka beberapa buku. Membaca dengan isi pikiran yang terpecah belah. Semoga Allah mudahkan.

Rasanya itu, seperti kehilangan beberapa potongan penting di dalam pikiran sendiri. Seperti terjebak pada kemelut yang membingungkan. Antara dua dunia yang saling bertolak belakang.

Masih tak habis pikir, apa yang dirasakan oleh orang-orang dengan mulut berbisa, ketika berbicara perihal orang lain yang sebenarnya ia tak tahu menahu? Bangga kah, jika berdiri lebih tinggi dengan merendahkan orang lain? Bahagia kah? Jika melihat orang lain menjadi kerdil sedang ia bersikap pongah.

Lagi-lagi nggak enaknya jadi orang yang nggak enakan, kamu harus menahan keringat dingin di sekujur tubuh saat jantungmu memompa darah lebih kencang. Saat tiba-tiba tubuhmu terasa lemas. Hanya untuk memikirkan kata apa yang tepat untuk mematahkan kepongahan orang-orang seperti mereka saat kita sendiri takut akan menyakiti perasaan orang lain.

Nggak enaknya jadi orang yang nggak enakan, kau bahkan harus ringan meminta maaf untuk kesalahan yang bahkan bukan kamu muaranya. Kau harus selalu memaklumi banyak hal saat orang lain justru mencari cela kesalahanmu.

Jadi orang yang 'nggak enakan' itu apa enak? Enggak!

Sering-seringnya, aku menyesali kata-kata yang terlanjur keluar dari mulutku ketika pada akhirnya terpancing untuk membalas. Walau hanya sekedar kalimat bantahan yang bertujuan untuk meluruskan ucapan mereka yang begitu gemar membicarakan kekurangan orang lain.

Yang paling menyebalkan, saat kau bahkan kesulitan untuk mengatur detak jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

Saat kamu terlalu memikirkan kata-kata apa yang pas, orang lain bahkan sudah menyelamu dengan banyak kalimat. Membuat hatimu mengecil sedemikian mudah. Baiklah, sekali lagi ini menjadi konsekuensi untuk orang dengan karakter 'nggak enakan'.

Tapi jujur, meski begitu aku sendiri memilih untuk sesekali angkat bicara dan tegas dalam bersikap. Satu kali? Oke lupakan. Dua kali? Maafkan, mungkin dia lagi khilaf. Tiga kali? Jangan cuma diam, waktunya berbicara dan buat mereka mengerti.

Sampai di sini, aku juga belajar banyak hal tentang menyampaikan sesuatu secara diplomatis. Agar aku sendiri bisa meluruskan kesalahan yang ada. Di sisi lain aku bisa membersihkan kemungkinan penyakit hati akan bersarang di hatiku tersebab prasangka. Sebab orang yang menyimpan prasangka juga nggak bisa hidup tenang. Kenapa? Mereka jelas tersiksa dengan prasangka mereka sendiri.

Senin lalu begitu selesai mengikuti kajian, salah satu akhwat bercerita tentang konflik yang menimpanya di sekolah bersama pendidik lain di satu lembaga yang sama. Tiba-tiba seorang ummahat memandangku sambil berseloroh, "Untung mbak putri nggak jadi masuk ke sana, kalau nggak bisa ramai terus. Mbak putri kan orangnya berani."

Tadinya aku nggak mudeng konotasi berani di sini maksudnya apa? Begitu bertabayyun barulah aku paham bahwa mereka yang memang bisa dibilang konco kental ini ternyata memahami karakterku yang satu itu.

Yang dimaksud berani di sini, ketika orang lain memilih untuk nrimo tanpa banyak komplain tetapi di belakang malah ngegrundel. Berbeda denganku yang mungkin akan menyampaikan langsung apa yang mengganjal kepada yang bersangkutan. Ketimbang hanya menyimpannya di dalam hati dan berlarut-larut dalam prasangka. Sungguh, ini nggak nyaman banget. Apalagi harus pasang wajah ramah dengan senyum termanis padahal dalam hati lagi sebel tingkat dewa, mending sekalian saja didiemin.

Suamiku juga paham benar. Meski aku tipikal orang yang nggak enakan, di lain sisi aku juga nggak bisa terlalu lama nyimpan uneg-uneg ke orang lain dan bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa. Beberapa orang mungkin bisa kaget, tetapi  untuk mereka yang bisa mencerna baik-baik dan mau memahami maksudku yang sebenarnya, justru bisa awet berjalan bersamaku tanpa harus berpura-pura apalagi bemuka dua.

Kembali tentang ikhlas dan sabar, jadi ingat petikan lirik lagu dangdut yang sering diplesetkan dengan banyak ragam. Tetapi aku lebih suka yang ini, "kuat dilakoni, yen ra kuat ditinggal ngaji."

Iya, ngaji! Semoga cukup Allah saja tempat berlabuhnya segala derap harap dan pinta sekaligus berbagai macam persoalan hidup, sebab hanya Allah sebaik-baik pemberi solusi yang tak pernah mengecewakan. Keep husnudzhon.

Lagi-lagi, aku kebablasan untuk menulis sepanjang ini.. padahal tadinya bingung mau mulai dari mana.

Nb: aku bukan dangdut's lover tapi secara kebetulan punya tetangga yang tiap hari dengerin lagu-lagu beginian makanya heran juga kok ya nyantel di otakku? :D

Btw, aku baru saja memperbaharui tampilan blog bianglala hijrah. Coba dilihat deh, ada yang beda kah dari tampilan sebelumnya? :) Hadiahnya?!! Postingan selanjutnya. Hehee

Assalamu'alaikum.

Magelang, 11 Januari 2018
mood booster menuju akhir pekan :) bismillah ...