Friday, 21 July 2017

Life Story : Tak Ada Pengalaman Buruk yang Harus Kau Kutuk Seumur Hidup

21:27 0 Comments

Banyak pepatah menjelaskan tentang kasih sayang dan cinta dari orangtua yang takkan pernah habis untuk anaknya, walau sepanjang masa. Lalu aku mengingat lagi mozaik kenangan saat masih bersama orangtua. Sayangnya di antara semua kenangan yang bisa kuingat, aku hanya mengingat sebagian yang memang masih sangat lekat di ingatan.

Tentang masa kecil singkat yang kuhabiskan di tiga tempat berbeda. Dari Sungai Simbar, lalu sekeluarga pindah ke Jambi, lalu pindah lagi ke Sungai Guntung yang katanya di sanalah aku terlahir. Aku tak mengingat banyak hal dari serpihan kenangan itu. Mungkin karena ada beberapa pengalaman pahit di sana. Otakku seperti memblokir sendiri ingatan itu agar aku tak lagi mengingatnya.

Yang kuingat sejak awal, bagaimana kasih sayang bapak memang tak pernah pilih kasih untukku. Kendati kemudian ada adik-adik yang lahir dari buah pernikahan bapak dan mamak.

Tentang bapak, yang dalam ingatanku adalah sosok bapak terbaik yang tak pernah kehabisan porsi kasih sayang untuk anaknya. Bapak orang yang pendiam, tak terlalu banyak cakap. Ia seperti memendam semuanya sendiri. Meski begitu.. seumur hidup menjadi anaknya, bisa dihitung jari tangan beliau melayang untuk memukul kesalahan anaknya. Sebab hanya saat anaknya berbuat kesalahan fatal, baru ia akan mengangkat tangan lalu menepuk pantat kami. Tak sakit, tetapi kami akan menangis karena sudah menyimpan rasa takut untuknya. Terlebih bapak bukanlah sosok pemarah. Jika bapak sudah memukul kendati pelan, berarti ia benar-benar marah.

Bapak laki-laki sederhana yang mengajariku tentang cinta pertama kalinya. Cinta pada sosok orangtua yang tak bisa dijabarkan. Dulu saat kecil, jika bapak harus berangkat bekerja selama beberapa hari dan tak pulang, sudah dipastikan aku akan demam panas. Lalu mamak akan menyelimutiku dengan pakaian yang sudah dikenakan bapak agar panasku mereda. Panas rindu. Sebab aku begitu dimanjakan oleh bapak. Kasih sayang dan cara bapak memperlakukanku seperti membuat ikatan batin di dalam diriku untuknya.

Lalu tentang mamak, ia sama seperti bapak. Mamak juga pekerja keras dengan segala kemampuan yang ia miliki seperti berbeda dari saudara mamak yang lain. Mamak pintar memasak. Pandai bersolek baik itu menata pakaian yang melekat di tubuhnya atau membubuhkan make up di wajah cantiknya. Banyak orang berkata bahwa mamak adalah perempuan modern, modis, dan cantik. Beliau memang sosok perempuan multitalent. 

Aku ingat saat bapak jatuh sakit sedang tak ada tulang punggung yang lain.

Masa terberat sebab keluarga pun seperti menjauh satu persatu. Aku pernah menemani mamak entah itu untuk meminjam uang atau mengambil upah pekerjaan bapak yang belum dibayar. Pulangnya aku hanya bisa menahan airmata sembari mengimbangi langkah kakinya yang berjalan gontai.  Sebab apa yang diterima tak seperti yang diharapkan. Masa-masa sulit saat mamak harus mengambil alih tugas bapak untuk mencari nafkah, mengurus anak-anak, pekerjaan rumah, sekaligus menguatkan jiwanya sendiri.

Mamak wanita tangguh yang sangat kucintai. Meski cintaku belum bisa berwujud bakti untuknya hingga kini. Tetapi doaku sebagai anak akan terus memayungi mamak di manapun beliau berada. Mungkin begitu pula dengan mamak, doa beliau selalu memeluk kami anak-anaknya.

Di ingatanku mamak memang sosok dengan tempramen keras. Ia tak segan-segan memukul anak-anaknya dengan apapun atau dengan cara apapun hingga ia merasa cukup. Tak terhitung luka lebam berwarna biru maupun merah yang selalu rajin bertengger di kulit tubuhku. Mungkin ada banyak absen yang tak kuhadiri di sekolah saat tak bisa bangun dari tempat tidur setelah menerima pukulan mamak.

Aku tak membencimu, Mak. Sungguh. Bagiku kau tetaplah wanita berjasa yang telah mengandung serta melahirkanku ke dunia ini. Aku hari ini adalah wujud dari kasih sayang dan cintamu. Aku anggap begitulah caramu mencintaiku. Mencintai anak-anakmu. Sifat keras dan kasar yang ada padamu adalah kekurangan yang harus kami maklumi sepertimu yang akan memaklumi kekurangan kami. Bagiku saat ini, tak ada yang lebih penting dari doa dan ridho ibu-bapak. Doa yang akan selalu menjagaku, memastikanku untuk tetap berada di koridor kebaikan. Memastikanku untuk berhasil di dunia dan di akhirat.

Hingga hari ini, mungkin semua orang menunjuk-nunjuk kesalahan mamak yang katanya begini dan begitu hingga perceraian itu harus terjadi. Aku tahu kebenaran yang sebenarnya. Mata dan telingaku saat itu tidaklah buta dan tuli. Aku tahu semua. Tetapi biarlah itu menjadi rahasiaku. Aku sangat ingin menjelaskan kepada mereka, apa ada satu manusia pun di dunia ini yang dapat menentang takdir? Tentu saja tak ada.

Mungkin itu pula yang terjadi pada orangtuaku dan pernikahan mereka. Pernikahan yang hanya bisa bertahan hingga aku berusia tigabelas tahun. Apapun yang orang lain katakan sedikitpun takkan merubah kebenaran yang ada di dalam diriku. Semua yang terjadi adalah takdir bagi kami.

Hidup ini bahkan terus berlanjut. Apa yang ada di belakang sana hanyalah masa lalu kendati pahit. Masa lalu yang bagiku adalah pembelajaran hidup paling bermakna. Apa yang bisa membuatku seperti ini andai takdir itu tak pernah berlaku? Mungkin aku takkan bisa meneruskan mimpi. Mungkin aku hanya tinggal di satu tempat tanpa bisa mengembangkan diri. Mungkin aku takkan bisa menjadi aku yang sekarang, aku dengan kebebasan yang aku inginkan. Tanpa kekangan dan tradisi kolot keluarga.

Kemudian tentang masa remaja yang teramat singkat yang harus aku lewati seorang diri tanpa keluarga dan orangtua di sisi. Apa aku harus membenci itu semua? Tidak! Karena itulah yang dimaksud takdir. Saat aku sendiri tak berkuasa menolak apa-apa yang sudah terjadi atau akan terjadi. Allah yang Maha Adil tentu sudah membuat rencana yang jauh lebih baik dari rencanaku sendiri. Maka di sinilah aku saat ini. Terpisah jarak dari orangtua dan keluarga.

Banyak orang bertanya apa aku tidak sedih? Apa aku tak rindu? Bodoh jika tidak. Tetapi haruskah semua perasaan itu ditunjukkan di hadapan semua orang? Rasanya cukup menikmati semua itu sendiri di dalam hati. Bahkan saat ini pun aku juga merindui mereka. Rindu pada dekap hangat kedua orangtua. Rindu waktu kecil dulu saat naik ke pundak bapak dan kami berjalan-jalan di pasar. Rindu saat mamak memasakkan makanan yang terasa lebih nikmat saat aku jatuh sakit, kemudian ia menjadi begitu perhatian. Rindu pada adik-adik yang selalu mampu membuatku berteriak marah. Marah saat seisi lemariku selalu porak-poranda. Marah jika lembaran dari halaman yang ada di buku pelajaranku telah disobek untuk dijadikan pesawat terbang.

Aku rindu pada kemarahanku sendiri. Rindu pada kesedihanku sendiri. Rindu pada omelan itu. Rindu bercengkrama dengan bapak tanpa rasa canggung. Rindu masa-masa sempit yang membuat kami saling merangkul satu sama lain. Berkata, "kita bisa melalui semua ini."

Aku rindu. Semuanya.

Lantas masih adakah yang tega mempertanyakan rasa sedih dan kerinduanku? Engkau mungkin tak memahami. Tak ada yang lebih mengerti arti cinta, kasih sayang, kerinduan, bahkan penderitaan.. jika kau tak pernah kehilangan sesuatu yang berharga di dalam hidupmu. Jika kau tak pernah kehilangan orang-orang terdekatmu dalam sekejap mata. Hanya dalam satu malam, saat insiden itu mengubah segalanya.

Bapak, mamak, adik-adik. Postingan ini untuk kalian dengan segenap rasa cinta, sayang dan kerinduanku yang mendalam. Apa kalian pikir jarak jauh membuatku tak peduli? Tidak, aku justru selalu menyapa kalian lewat doa di setiap sujud. Aku memastikan kalian berada pada jalan kebaikan lewat doa. Doa dari seorang anak yang berusaha shalehah. Doa dari seorang anak yang saat ini sudah menjadi istri sekaligus ibu.

Aku tahu benar seperti apa kejahatan orangtua itu. Kendati berbekas di tubuh, nyatanya tak berbekas di hati. Kendati marah, nyatanya tak menghilangkan wajah ramah. Kendati berteriak dengan caci maki, nyatanya selalu ada doa yang melangit memeluk satu sama lain.

Kau tahu, teman? Tak ada satu pun pengalaman buruk yang harus dikutuk seumur hidup. Ada waktu di mana kita akan berdiri lalu menatap ke belakang sana. Tersenyum pada semua rasa sakit. Pada kekecewaan, penderitaan, airmata, yang telah menegarkanmu selama ini. Yang telah membuatmu tumbuh sebagai manusia tangguh. Semua kisah kelam yang mungkin tanpa kau sadari justru menjadi cambuk yang menemanimu berjuang hingga semua mimpi dapat terwujud.

Sebab, setiap kita harus hidup lebih baik dari masa lalu. Sekelam apapun kenangan yang ada di belakang sana. Jika ia masih terekam jelas.. simpanlah. Simpan saja sebagai pembelajaran hidup paling bermakna. Anggap dirimu sebagai sosok pilihan yang Allah pilih untuk ditempa menjadi sekuat baja. Ditempa seperti sebuah pedang di pemandai besi. Ditempa untuk menjadi pribadi yang tak mudah kalah pada kesulitan apapun.

Kau tahu? Aku selalu akan menyadari satu hal saat hidup yang tadinya terasa tak adil, tetapi justru menjadi sebab yang menghantarku pada perjalanan hidup paling menakjubkan. Perjalanan, pengalaman, sebuah cerita, yang tak ada bandingnya dengan materi di dunia ini. Sebab kau hanya akan tahu sebaik apa kualitas dirimu jika telah berhasil melewati masa-masa sulit di dalam kehidupanmu.

Satu waktu di mana tak ada lagi airmata kesedihan yang mengalir melainkan sebab rasa syukur di dalam dada.

Jadi jangan menyerah, sesulit apapun jalan yang kau lalui saat ini. Jangan menyerah meski kau sangat ingin jatuh di kedalaman rasa putus asa. Jangan biarkan masa depanmu tergadai begitu saja dengan rasa pahit yang kau ratapi saat ini.

Karena setiap kita, berjalan di muka bumi dengan takdir yang membentang seperti sayap. Merekalah yang akan menuntunmu melesat sejauh mungkin, selama kau tak pernah berpikir untuk berhenti maju dan terus bangkit setiap kali jatuh. Untukku dan untukmu, yang memeluk kesedihan sebagai penguat hati :)

Magelang, 21 Juli
Copyright : @bianglalahijrah_

Thursday, 20 July 2017

Teruntuk : Hati yang Tak [bisa] Memendam Benci

18:42 0 Comments

Aku tak pernah bisa lama-lama menyimpan kesal pada seseorang. Lebih sering mengemukakannya langsung pada orang yang bersangkutan. Sebab aku baru akan beroleh ketenangan hati dan pikiran, setelah mengutarakan apa yang mengganjal di sana.

Sulit hanya mendiamkan orang yang kuanggap salah kendati kesalahannya sudah sangat terlalu. Aku juga tak bisa cuma diam memendam kekesalan itu, sedang di depannya tetap tersenyum ramah. Rasanya lebih mudah berkata langsung, mengutarakan tentangnya, ketimbang berpura-pura di depan semua orang.

Barangkali hanya orang yang benar-benar paham karakterku yang bisa memaklumi. Hanya orang yang tahu bagaimana hatiku sebenarnya yang akan tetap berjalan di sampingku seperti biasa. Sebagai teman atau keluarga.

Terkadang, aku juga kehilangan nyali untuk bicara. Tapi aku juga tak bisa memendam semuanya siang-malam hingga sulit tidur. Aku mungkin tipe orang pemikir selain melankolis dan perasa. Aku akui itu. Karena itu aku lebih suka jujur mengutarakan segalanya ketimbang sok kuat. Dari pada senyum yang tampak di wajahku hanya topeng sebab tak sesuai dengan isi hati.

Pernah saat mengalami problem dengan salah seorang teman. Masalahnya sepele bahkan bisa dibilang salah paham. Meski yang dimaki-maki waktu itu adalah aku, tetap saja aku tak bisa membuang wajah saat bertemu. Apalagi menunjukkan rasa benci dengan sangat jelas. Aku tak pernah bisa membalas orang yang sudah berbuat tak adil padaku. Aku tak bisa membalas kejahatan mereka minimal dengan cara yang sama.

Kadang menyayangkan diri sendiri. Cukup melelahkan menjadi orang yang seolah mudah melupakan kesalahan orang lain. Tetapi sebenarnya tidaklah seperti itu. Sebab nyatanya tak mudah untuk melupakan kesalahan orang lain meski mengaku telah memaafkannya.

Melelahkan menjadi orang baik yang sering kali dimanfaatkan kebaikannya. Acap kali orang yang kuanggap melebihi keluarga justru beralih menjadi lawan. Saat ada konflik, kesalahannya justru dilempar pada orang lain.

Mungkin orang yang selalu bisa disalahkan itu ketika ia berbuat tulus pada orang lain dan orang lain mulai memanfaatkannya. Kemudian suatu waktu kebaikan itu juga bisa menjadi boomerang untuknya. Terlalu sering bertemu dengan wajah-wajah yang memiliki lidah sulit ditebak. Mereka yang suka memutar balikkan fakta dan kebenaran. Yang kadang datang hanya saat ia memerlukan sesuatu, kemudian pergi seolah kau tak berarti lagi. Menjauhimu seolah tak pernah menjadi kawan.

Kembali, kadang merasa tak enak hati. Meski saat itu aku sendirilah yang menjadi korban, tetapi selalu merasa bersalah saat sudah berkata jujur. Apa salah mengutarakan kebenaran? Semata agar orang itu bisa mengerti masalah yang sebenarnya, agar ia bisa menyadari kesalahannya. Point terpenting agar diri sendiri beroleh ketenangan.

Anehnya lagi, mengapa pula harus aku yang merasa bersalah saat aku sendiri yang meminta maaf terlebih dulu?

Entah ini bisa disebut apa, sulit sekali mengejamkan diri pada orang yang nyata-nyata sudah berbuat kejam padamu. Sulit sekali menjadi orang munafik untuk bisa membalas perlakuan buruk yang sama ke orang lain. Sulit sekali.

Mengapa ada orang yang terlahir untuk mudah menyakiti, di sisi lain ada pula yang terlahir untuk menampung semua perlakuan itu tanpa memiliki keberanian untuk melawan. Atau barangkali dunia hanya akan berjalan seimbang jika dua sisi yang berlawanan saling berkontribusi di dalamnya? Entahlah.

Hanya saja, mungkin aku harus bersyukur akan satu hal. Jika Allah menciptakanku dengan kelemahan seperti ini, barangkali agar tak ada dendam yang sanggup bertahan lama di dalam hidupku. Karena ia dengan sendirinya akan mencari jalan untuk menenangkan diri sendiri. Memberi maaf. Lalu belajar melupakan.

Kemudian, biar saja tangan Tuhan yang bekerja untuk orang-orang seperti mereka. Toh, di sisi lain aku bisa belajar untuk tak melakukan hal sama ke orang lain. Aku juga akan mendapatkan rasa lapang di dalam dada sebab tak ada kerugian apapun dari dicaci seorang penghianat selain keberuntungan. Karena Allah menyelamatkanmu dari orang-orang yang demikian.

Juga dari sosok-sosok mereka kita lantas menjadi kuat. Memiliki jiwa yang tangguh. Perlakuan mereka anggap saja sebagai kritik untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Membuktikan bahwa kau taklah seburuk apa yang mereka katakan saat mengkambing-hitamkan orang lain. Bukan orang-orang seperti mereka yang pantas mencuri perhatianmu untuk bersedih dan kecewa terlalu lama. Sebab mereka takkan pernah mau tahu apa yang sudah kau alami setelahnya selain memupuk kebenciannya sendiri.

Berdoa saja semoga orang-orang seperti mereka Allah bukakan hatinya untuk sadar dan mulai memperbaiki diri. Aamiin.

tak ada kerugian dari orang-orang yang tulus
tak ada kesusahan dari orang yang berbuat baik
kecuali bagi mereka yang tak tahu cara
menghargai kebaikan orang lain

kau mungkin akan kecewa untuk beberapa saat
tetapi kerugian yang sebenarnya justru ada pada diri mereka
yang pernah datang kemudian pergi
membawa kebencian dan tanpa rasa terima kasih

merekalah yang rugi sebab melepas sosok sepertimu
untuk semua hati yang tak pernah bisa memendam benci

-note for me-

Magelang, 20 Juli 
Copyright : @bianglalahijrah_ 

Wednesday, 19 July 2017

#BeYourSelf : Ikuti Kata Hati dan Tak Perlu Seperti Orang Lain

09:52 0 Comments

Aku mulai sadar akan satu hal. Tentang waktu yang kuhabiskan untuk berjalan di tempat yang sama. Tanpa tahu apa yang benar-benar harus aku lakukan. Tanpa sadar aku seperti kehilangan identitas diri. Lebih tepatnya ciri khas pada diri sendiri. Bukankah setiap orang memilikinya? Entah dalam bentuk sifat, karakter, maupun benda.

Ciri khas itu kulupakan saat berjibaku dengan sesuatu yang sebenarnya tak memberiku ruang berarti di dalamnya. Itu yang kurasakan begitu tersadar. Waktu yang cukup lama telah menguras perhatianku. Membuatku lupa bahwa ada banyak hal di dunia ini yang bisa kau lakukan, tanpa harus terpaku pada bayangan orang lain yang mungkin kau ikuti. Sebab itu memang bukan duniamu. Kau barangkali tak sadar sedang berada di belakang bayangan orang lain.

Sungguh ada dunia yang tak dimengerti oleh siapapun. Tetapi aku merasa sangat hidup di dalamnya. Aku menikmati ritme waktu yang berjalan. Memeluk setiap moment dengan hati bahagia, sesederhana apapun itu. Sebuah dunia yang sempat aku lupakan.

Seperti halnya pagi ini, duduk dan menulis ditemani satu lagu yang sejak tadi kudengar berulang-ulang. Namun sesuatu yang manis juga diam-diam merayap ke dalam hatiku. Barangkali ada wajah yang tengah tersenyum di sana. Berkata pada diri sendiri.. lihat? bukankah dunia ini yang membuatmu sangat hidup?

Ah iya.. apa gunanya berjalan di jalan orang lain? Kau bahkan tak tahu menahu bagaimana rute dan penghujungnya. Jika memang semua bermula dari niat, maka ada banyak kebaikan yang bisa kau lakukan. Di manapun dan kapan pun. Jadi tak perlu fokus pada satu kebaikan saja.

Jika kebaikan itu berwadah bagi orang lain, maka kau juga bisa memiliki wadah untuk menyalurkan kebaikan apa yang bisa kau beri. Dan bagiku menulis adalah salah satunya. Paling tidak jika bukan untuk orang lain, setidaknya untuk diri sendiri.

Anggap saja orang lain memiliki wadah untuk menyalurkan kebaikan mereka. Hanya orang-orang yang sungguh bisa hidup di dalamnya yang bertahan lama tanpa persaingan apapun. Namun pastikan bahwa jiwamu sungguh hidup di sana. Pastikan bahwa semua itu sudah sesuai dengan isi hatimu. Agar tak ada kekecewaan pada akhirnya.

Sayangnya aku tak menyadari sejak awal. Bahwa aku juga memiliki wadah yang sesuai dengan jiwaku. Yaitu menulis dan blog ini adalah wadahnya. Wadah bagi kebaikan dan kebahagiaanku. Semua yang bisa mengalir bersamaan sebab ada harapan yang bernafas.

Terkadang, kita sibuk ingin seperti apa yang bisa orang lain lakukan. Sampai-sampai lupa, apakah kita sungguh-sungguh bisa? Benarkah sudah sesuai dengan kemauan yang ada di dalam diri? Bisakah mereka menerima sosokmu untuk sungguh-sungguh berbaur? Karena satu waktu, kau akan berhenti di tengah jalan saat menyadari sesuatu yang keliru.

Aku percaya setiap orang memiliki kebaikan dan keberanian di dalam dirinya. Maka sudah tentu setiap orang juga bisa melakukan kebaikan apapun sesuai kapasitas yang ada padanya. Jadi jangan lagi terkunci pada apa yang bisa orang lain lakukan. Tetapi lakukan apa yang bisa kau kerjakan hingga bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Kau hanya perlu menyadari kebaikan apa yang bisa kau kerahkan, minimal untuk diri sendiri. Mulailah dari diri sendiri.

Hanya perlu keberanian untuk mulai mencoba. Berani bertindak. Berani melakukan hal yang menurutmu baik dan berjalan sesuai kehendak hatimu. Tak ada lagi bayangan orang lain di hadapanmu. Kecuali semangat dan kebahagiaanmu sendiri.

Selain itu, takkan ada yang bisa membuat hatimu mengecil karena kau melakukan apa yang sesuai dengan isi hatimu. Karena kamu adalah apa yang kau inginkan. Apa yang kau pikirkan dan apa yang kau lakukan.

tolong, tetaplah melangkah kendati kenyataan di luar sana 
tak berjalan sesuai kehendakmu
 lakukan apapun yang menurutmu baik
ada atau tidak yang menyadarinya
sebab tujuanmu bukan sebuah pengakuan semata

Magelang, 19 Juli
Copyright : @bianglalahijrah_ 

Tuesday, 18 July 2017

Jangan Ciptakan Ruang untuk Menyerah Pada Diri Sendiri

17:11 0 Comments

Satu-satunya hal yang harus dilakukan ketika mood sedang berantakan, yaitu memutar lagu yang bisa menghentak perasaanmu untuk keluar dari semua pengap yang melanda. Aku sudah duduk di depan laptop sejak tadi. Tapi postingan sebelumnya harus kudelete karena tiba-tiba tak sesuai dengan keinginan hatiku. Ternyata ada banyak hal yang bisa menjadi sebab mengapa mood bisa berantakan seketika. Maka kau harus pintar untuk memancing semangatmu keluar lagi.

Mood booster! Mendapati hal yang bisa membuatmu bersemangat bahkan lebih dari sebelumnya. Begitu sadar, jemari bisa saja sudah menari sejak tadi. Ia mengikuti isi hati dan kepalamu. Menuang apa yang ingin engkau tuang dalam sekejap.

Bahagia itu, toh memang harus diciptakan sendiri. Seperti apapun keadaanmu, jangan pernah luangkan waktu untuk melemah seorang diri. Jangan pernah sisakan waktu untuk meratap sendirian. Terlebih, jangan pernah biarkan satu detik pun di dalam hatimu untuk cemburu pada nikmat orang lain. Saat keadaanmu memang tidak memungkinkan.

Cukup katakan pada diri sendiri, "bahwa masih ada banyak cara untuk merasa bahagia. ada banyak sebab yang bisa kau undang untuk tetap tersenyum kendati keadaanmu mendesak begitu sempit."

Sebab hanya ada rasa lelah yang akan kau dapati dari membiarkan diri untuk berlama-lama memendam rasa sedih atau kecewa. Hanya ada rasa sakit dan kebencian yang mengendap pelan, sekali saja kau biarkan hatimu cemburu pada nikmat orang lain. Hanya ada perasaan letih tak berkesudahan jika kau tak segera bangun dan lakukan apa saja yang bisa membuatmu kembali ceria.

Ingat, tak ada satu pun kesedihan yang harus membuatmu terpuruk jika kau sendiri tak ingin terpuruk dalam kesedihan. Tak satu pun kesulitan yang dapat menyulitkanmu jika kau percaya selalu ada jalan untuk melalui semua itu. Kadang segala sesuatu terasa berat karena kita mensugesti diri untuk larut dengan perasaan.

Saat masalah bertubi-tubi datang, kebanyakan kita memilih untuk menyendiri. Menangis sejadi mungkin hingga hati terasa lapang. Tetapi benarkah ada rasa lapang selain rasa lelah yang tersisa? Sedang masalah tak juga terselesaikan dengan segera.

Jadi kita sendiri yang harus selalu memupuk rasa optimis di dalam dada. Sebab tak mungkin Allah ciptakan ujian tanpa solusi di dalamnya. Terkadang masalah datang justru untuk menguji seberapa dewasa dan bijak kau dalam menyikapi semua itu. Pilihannya ada pada diri sendiri. Seperti apapun kita menjalaninya, menikmatinya, menyelesaikannya, kita sendirilah yang tahu. Kita sendirilah yang memiliki kendali penuh atas diri sendiri.

Bukan orang lain yang akan memberimu tepukan di pundak agar kau segera bangun. Bukan orang lain yang akan membuat sebuah lelucon di hadapanmu hanya agar kau tersenyum lagi. Bukan orang lain pula yang bisa menciptakan solusi untuk tiap masalah yang tengah kau hadapi. Orang lain bisa menjadi pendengar. Orang lain bisa mengajukan solusi yang menurutnya tepat. Tetapi kita sendirilah yang tahu persis apa yang harus dilakukan.

Kesedihan itu hanya datang dan berlarut saat kau membuka hati selebar mungkin untuk membiarkannya masuk. Kesulitan itu hanya akan terasa begitu menghimpit jika kau tak segera bangun dan menyemangati diri sendiri. Ingat, ada Allah bukan?

Maka tak pernah ada kesedihan, kesulitan, kekecewaan yang bisa menetap lama. Dan hanya jiwa yang hebat yang bisa membangun semangat untuk dirinya sendiri, saat harapannya baru saja dirobohkan orang lain. Hanya hati yang kuat yang bisa memastikan senyum tetap menyabit di wajah maupun di dalam dadanya, seperti apapun kondisinya.

Tak ada kesedihan yang akan bertahan lama, karena kau tak pernah membiarkannya begitu saja. Angkat wajah, tersenyumlah kendati sulit. Peluk lagi harapan yang masih bisa dipupuk. Selamatkan semua harapan yang tersisa. Jangan biarkan hal apapun menghambat langkahmu untuk maju dan menjadi lebih baik. Jangan lagi berhenti melangkah walau sesaat, apalagi mempertanyakan nasib diri sendiri yang tak seperti orang lain.

Semangat, ada Allah bersamamu. Masih ada impian yang akan menemanimu berjuang hingga semua terwujud. Masih ada banyak hal baru menantimu di luar sana. Maka tak perlu terfokus pada satu kekecewaan saja. Oke! Bianglala Hijrah, mari kencangkan sabuk mulai saat ini. Fighting!!!

jangan pernah ciptakan ruang untuk menyerah pada diri sendiri
-note for me-

Magelang, 18 Juli
Copyright : @bianglalahijrah_ 

Monday, 17 July 2017

Sejatinya : 'Teman' Takkan Pernah Menjadi 'Lawan'

20:23 0 Comments

Perkara hati. Jika sulit meraba rasa sendiri. Maka lebih sulit lagi mengetahui apa isi hati orang lain. Teruntuk yang di hatinya menyimpan sesuatu mengenaiku. Entah itu amarah, benci, atau segala macam rasa tak suka yang tengah bersarang di hatimu.

Katakan saja terus terang, agar kau tak hanya salah paham tentangku. Sebab tentu lebih bijak jika menyampaikan langsung pada orang yang bersangkutan, ketimbang menceritakan keluhmu kepada orang lain. Bukan orang lain yang bisa menyelesaikan perkara itu. Tetapi aku sendiri. Jika akulah penyebab keresahanmu. Karena rasa tak senang itu sudah tentu menyiksa dirimu sendiri.

Sekian tahun bergabung dengan berbagai organisasi berbeda. Baik itu di komunitas kepenulisan, organisasi yang bergerak di bidang sosial, bahkan di lingkup majelis sekalipun. Tetap ada percik-percik konflik. Entah itu tampak atau terselubung. Kadang aku merasa bahwa beberapa sosok seperti menutup hadirku. Saat aku merasa beroleh kesempatan dan hak yang sama, lantas mereka seolah menganggapku sebagai pesaing bagi mereka.

Sungguh, tak seperti itu mauku. Tak bolehkah kita sama? Jika memang ada kelebihan yang sama padaku maupun padamu. Mengapa harus bersaing jika kita bisa saling berbagi?

Jujur, jika kesalahpahaman ini berlarut maka semua pertemanan yang dibentuk atas dasar apapun maka tak ada artinya. Sebab apa? Kita hanya akan menjadi munafik bagi satu sama lain. Kita menunjukkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di dalam hati. Engkau menyembunyikan rasa tak suka dengan wajah yang berhias senyum. Tetapi alangkah buruknya jika di belakang engkau tetap berusaha untuk menusuk orang lain.

Karena itu, beberapa kali aku memutuskan untuk left dari sebuah grup WA. Meski katanya grup itu terbentuk sebagai wadah silaturahmi sekaligus untuk mengetahui informasi terbaru mengenai apapun. Kadang kala aku juga menarik diri beberapa jenak untuk mengintrospeksi diri sendiri. Apa aku yang salah atau mereka yang keliru dalam prasangka.

Perkara hati. Sulit sekali mengetahui isi hati orang. Apakah orang itu senang atau mungkin benci. Sebab wajah seringnya tak selaras dengan ucapan dan isi hati. Saat kita sudah meluruskan tindakan, orang lain masih saja menganggap itu sebagai hal yang kurang menyenangkan baginya. Sedang saat kita diam-diam saja, mereka beranggapan bahwa engkau tak tahu apapun.

Lalu apa guna sebuah wadah jika orang-orang di dalamnya hanya bersaing untuk mendapatkan pengakuan maupun tempat yang lebih. Betapa jengah jika mendapati diri sendiri seperti larut di dalamnya. Dan pada akhirnya semua terasa tak lagi berjalan benar. Kau mulai takut untuk bertindak atau berujar apapun, karena bisa saja menimbulkan penafsiran salah di benak dan pikiran orang lain. Lebih canggung lagi jika orang yang tadinya dekat denganmu tiba-tiba menutup diri tetapi tak pernah mau berkompromi.

Terkadang kita bersikap biasa saja. Karena bagimu itu memang hal wajar tanpa motif apapun. Tetapi bagaimana dengan mereka yang di hatinya tersimpan sebuah prasangka yang tidak-tidak? Sudah tentu mereka hanya akan menilai dengan penilaian miring.

Jika sebuah organisasi hanya sebagai ajang untuk sindir menyindir, alih-alih mendengung-dengungkan arti riya', ujub, dan sebutan yang lainnya.. lalu apa tujuan organisasi yang tak lagi berjalan sehat? Mengapa tak sama-sama meluruskan niat masing-masing. Mengapa tak menanam prasangka baik saja di hati sendiri, seperti apapun orang lain. Mengapa tak coba untuk memberi kesempatan pada siapa saja untuk berkembang di wadah yang sama. Termasuk dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu, jika aku salah.. tegur aku. Jelaskan apa yang menjadi kekurangan sekaligus kesalahanku. Sebab sejatinya seorang teman takkan pernah menjadi lawan bagi satu sama lain. Saat salah saling mengarahkan, saat khilaf saling memberi maaf. Seorang teman akan berjalan di sampingmu seperti apapun engkau. Seperti apapun kekuranganmu. Ia memaklumi dengan caranya. Tetapi ia juga akan membantumu untuk berbenah lebih baik.

Tak ada keegoisan yang bisa mengikis arti pertemanan. Tak ada keangkuhan yang bisa menjatuhkan satu sama lain. Tak ada salah paham yang dapat memutus ukhuwah begitu saja.

Aku sedang belajar untuk berjalan di bawah langit yang sama denganmu. Tanpa berusaha untuk lebih tinggi dari siapapun. Tetapi jika kau merasa demikian? Tolong beri aku maaf. Kau mungkin tak mengenaliku dengan baik. Yang kau nilai hanya sifat luarku saja saat berbaur dengan semua wajah itu. Maka cobalah kenali aku, agar aku juga beroleh ruang untuk mengenalmu lebih baik.

Satu hal lagi, kelak di akhirat.. kita semua bisa saja jadi musuh bagi satu sama lain. Hanya pertemanan, persaudaraan yang berlandaskan ketaatan dan karena Allah saja-lah yang akan menyelamatkan kita. Semoga siapapun yang menjadi teman, teman dalam rangka ketaatan maupun kebaikan, kelak menjadi sebab Allah kumpulkan pula di dalam Jannah-Nya tersebab ukhuwah Islamiyah ini. Semoga tak satu pun rasa benci di hati yang menggelincirkan kita ke dalam neraka, sebab maaf selalu lebih luas dari kebencian itu. Aamiin insyaa Allah.

Tak ada keraguan tanpa jawaban dan tak ada kesalahpahaman tanpa bisa diselesaikan
Karena engkau, temanku 

Magelang, 17 Juli
Copyright : @bianglalahijrah_