Sunday, 7 October 2018

Fa' Inna Ma'al 'Usri Yusra : Memaknai Hijrah dalam Berhijab Syar'i

00:07 0 Comments


Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS Al-Ahzab 33/:59)

Kadang, sebuah inspirasi atau pun kebaikan datang dari hal-hal kecil yang tampak sepele di sekitar kita. Tetapi tak menutup kemungkinan, bahwa hal sepele itu lah yang dapat mengetuk hati lebih dalam. Karena itu berusaha untuk lebih membuka mata. Memasang telinga. Melembutkan hati agar lebih peka merasa.

Sebuah percakapan cukup panjang bersama seorang teman di Whatsapp malam ini. Tentang hijrah dan menyempurnakan hijab, membuatku ingin menuangnya langsung dalam tulisan.

"Kadang masih merasa canggung. Takutnya hanya dibilang sok shalehah padahal nggak bener-bener shalehah." tulisnya.

Tak sekali dua kali mendengar curhatan serupa. Hampir semua muslimah yang baru mulai berhijrah sepertinya akan melalui fase ini. Tahap di mana orang-orang akan lebih banyak berkomentar negatif ketimbang berkomentar tentang sisi baiknya terlebih dahulu.

Sudah lumrah agaknya, orang-orang lebih mudah melemparkan prasangka dari pada memupuk perkataan baik yang dapat mengukuhkan semangat orang lain yang masih pasang surut menapaki jalan hijrah. Mengapa? Salah satunya karena habbits.

Kebiasaan di masyarakat kita yang sudah mendarah daging. Dari ucapan satu orang, merambah ke mulut-mulut lain, hal yang berulang-ulang lantas menjadi doktrin di kepala mereka begitu saja. Belum lagi ulah oknum-oknum tak bertanggung jawab yang menyertakan Islam di dalamnya hanya sebagai atribut semata, alih-alih berkata jihad fisabilillah. Masyarakat dibuat trauma, hingga yang tak bersalah harus dipukul rata.

"Alah, jangan-jangan hijabnya cuma topeng."
"Buat apa berhijab syar'i kalau kelakuan masih gitu-gitu aja."
"Udahlah nggak usah sok shalehah, mending biasa saja. Yang penting shalat nggak tinggal, bisa ngaji Al-Qur'an, sedekah tetap jalan."

Celetukan seperti ini secuil dari sekian banyak yang lain. Yang lebih pedas dan sadis dari ini? Banyak. Aku sendiri satu dari muslimah yang pernah merasakan bagaimana rasanya dibully saat awal-awal berhijrah dulu.

Jangan kan dibully, dikucilkan keluarga, difitnah, dikira ikut aliran sesat, dan berbagai tuduhan lain juga ikut serta mewarnai perjalanan di awal hijrah. Karena itu, bersyukur jika sampai sekarang bisa kian kebal dengan orang-orang yang masih punya pemikiran seperti ini. Lebih siap mental untuk menghadapi tatapan aneh, kening berkerut, sampai bibir yang mendomble sinis ke arahku. Belum lagi komentarnya..

Jadi dalam hati cukup beristighfar, cukup doakan mereka agar dapat merasakan hidayah yang sama.

Tak ada manusia yang bisa sempurna bak malaikat sesaat setelah menasbihkan dirinya dalam langkah berhijrah. Justru ujian keimanan akan semakin gencar membersamai diri. Bermula dari sekedar niat sampai langkah-langkah yang terayun..

Siapa bilang setelah hijrah langkah akan adem ayem saja. Kita baru akan menapaki anak tangga yang pertama dari 100 anak tangga yang ada. Belum apa-apa, belum seberapa. Maka prasangka orang lain adalah ujian keistiqomahan diri.

Tetapi haruskah menyerah? Mengapa pula harus takut pada prasangka orang lain, jika niat di hati landasannnya adalah Allah. Hanya Lillah.

Terlepas dari apa yang orang lain pikirkan tentangmu, itu urusan mereka. Kamu hanya bertanggung jawab atas apa yang kamu perbuat atau pada pilihan yang kamu tentukan. Urusan kita langsung pada Allah. Allah yang lebih tahu bagaimana kita luar dan dalam. Allah yang lebih berhak menilai sebaik apa kualitas dalam diri..

PR kita adalah memerangi kelemahan dan hawa nafsu sendiri. Mengubah yang buruk menjadi baik. Mengubah jahiliyah menjadi mulia. Mengubah segala apa yang sebelumnya salah agar menjadi benar. Kita belajar sedikit demi sedikit, berproses, bertahap, untuk semakin baik setiap saat.

Ingat, kita menjadi baik bukan untuk mengungguli siapapun. Melainkan untuk menjadi lebih baik dari kita yang dulu. Kita yang sebelumnya. Kita yang tak tahu apa-apa, menjadi mengerti lebih banyak. Kita yang ilmunya miskin papa, kemudian Allah limpahkan kekayaan dalam pemahaman. Tak hanya fasih melainkan faqih.

Kita adalah hamba yang sedang menuju Allah. Tak sempurna, bagaimana mungkin kita bisa mencuri kesempurnaan milik-Nya? Menandingi-Nya pun mustahil. Maka tugas kita adalah berbenah. Terus memperbaiki diri. Termasuk, keputusan berhijab syar'i bukan karena kita sudah baik. Justru karena kita merasa belum baik, hijab tersebut adalah permulaan dalam menyempurnakan taat. Langkah besar untuk menjemput kebaikan yang lain.

Prasangka orang? Selamanya akan tetap ada. Mari kembali pada zaman Nabi, di mana Rasulullah yang diutus oleh Allah sebagai penyeru kebaikan dan kebenaran di muka bumi, tetapi tetap dihujani prasangka buruk. Difitnah dengan keji, dianiaya oleh kaumnya sendiri.

Jauh sebelum kita melewati tahap hijrah ini, Rasulullah telah lebih dulu melaluinya. Barangkali apa yang kita lalui hari ini, belumlah seberapa jika dibandingkan perjuangan Rasulullah.

Malu sudah tentu, siapa lah kita? Hamba yang sebelum berhijrah bahkan telah berkubang dosa. Maka semoga kesulitan dan prasangka yang terarah padamu, tak cukup untuk membuatmu mundur teratur. Sebab niatmu adalah Allah. Landasan tiap langkah yang terayun, orientasinya adalah Allah. Maka rasa sakit itu pun akan dikembalikan pada Allah.

Self reminder dari apapun yang kutulis, ini juga sebagai pengingat bagi diri sendiri.

Setidaknya muslimah, kita tidak menjadi wadah yang bolong. Ada amaliah yang berjalan, tetapi pahalanya mengalir keluar tersebab kewajiban yang belum sempurna ditegakkan. Setidaknya upaya dalam menjaga diri juga menyelamatkan mereka yaitu pandangan lelaki ajnabi yang tak halal dan jelas mengundang dosa.

Setidaknya, kita berusaha untuk terus mendekat. Menyempurnakan kewajiban. Bahkan setelah sempurnanya hijab yang dikenakan. Kita juga tak berhenti di situ. Masih banyak kebaikan yang harus ditunaikan.

Jika usai meniti tarbiyah, maka ada tugas dakwah yang harus diemban pada pundak.

Karena itu kita tak berhenti hanya pada satu kebaikan saja. Melainkan untuk berjuta kebaikan lainnya. Semoga kebaikan yang menghampirimu atau pun yang menghampiriku tak berhenti pada diri sendiri, melainkan sampai pula pada orang lain. Aamiin insyaa Allah.

Barang siapa mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Surah An-Nahl 16/:97)

Tulisan ini barangkali belum mencakup keseluruhan makna yang ingin kusampaikan, tetapi setidaknya secuil dari itu telah tersampaikan. Untukmu pun untukku, tetap istiqomah kendati tak mudah. Seperti janji-Nya, bersama kesulitan ada kemudahan.


*******x*******

Terkhusus untuk teman-teman yang Allah hadirkan dan membersamai hijrah ini. Syukran.
Magelang, 6 Oktober 2018
copyright : @bianglalahijrah

Tuesday, 2 October 2018

Menikah : Mendewasa dan Tumbuh Bersama

12:14 0 Comments

"Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu merasa nyaman kepadanya (sakinah), dan dijadikan-Nya di antaramu mawaddah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." [QS. ar-Rum: 21]

Siang itu tepat saat adzan dzuhur berkumandang, kami menepi di sebuah masjid yang terdapat di tengah-tengah komplek perumahan. Aidan tertidur lelah dan sedikitpun tak bergeming saat digendong turun dari kendaraan.

Angin yang bertiup sejuk mengundang rasa kantuk seketika. Jelas saja, sebab ada tubuh yang juga merasa lelah usai menantang terik. Kami bertiga, memilih duduk leyeh di teras masjid sambil menunggu gantian untuk mengerjakan shalat.

Mataku memandang sekitar masjid yang dikelilingi oleh rumah-rumah elit lantai dua dengan eksterior apik. Membayangkan bagaimana rasanya tinggal di rumah gedung sebesar itu. Rasanya jauh sekali dari harapan. Sebab untuk memimpikan rumah sebagus itu, sedikitpun tak pernah terbersit dalam hati maupun pikiran.

Pernah, suatu malam saat kami berdiskusi menjelang tidur. Kubilang pada suami, bahwa aku tak menginginkan rumah mewah atau kendaraan mahal. Cukup rumah sederhana, layak, nyaman dan aman sebagai tempat menetap. Yang terpenting, rumah itu adalah tujuan pulang bagi semua penghuni yang ada di dalamnya.

Tujuan yang akan selalu menjadi arah sejauh apapun kaki melangkah. Rumah yang di dalamnya takkan sepi ketika penghuninya saling memilih untuk pergi. Rumah yang 99 nama-Nya bernafas di dalamnya. Rumah sederhana, tetapi melapangkan hati pemiliknya.

Inginku pun sederhana, sebuah rumah impian dengan kriteria di atas. Rumah yang tak perlu mewah dengan design bangunan atau arsitektur yang wah. Yang tegak mencolok dengan keindahannya agar orang lain dapat melihat betapa megahnya ia.

Yang kuinginkan adalah rumah, rumah impian untuk keluarga kecilku. Rumah di mana aku akan memasak masakan sehat dan lezat setiap hari untuk semua penghuninya. Rumah di mana aku akan menyambut kepulangan anak-anak beserta suamiku setiap harinya. Rumah yang akan menyaksikan perjuanganku, napak tilasku, hingga nanti di gurat usia yang menua. Hingga nanti ketika berpulang kepada-Nya dalam khusnul khatimah. Aamiin insyaa Allah.

"Rumahnya bagus-bagus ya, Nda?"
"Iya, Yah. Tapi rasanya justru minder tinggal di rumah sebagus itu."

Suami menatapku, barangkali ia paham maksudku. Sebab tak sekali dua kali kusampaikan padanya, tentang sketsa rumah impian yang kuinginkan. Dan rumah yang berada tepat di depan mata kami, sama sekali tak pernah ada dalam anganku. Mendamba untuk punya pun tidak.

Lalu obrolan ringan membuat terik di siang itu menjadi teduh.


Membahas tentang konsep sederhana yang kami cita-citakan. Tentang pernikahan yang saat ini berjalan pada tahun ke-tujuh. Waktu seperti berjalan begitu cepat. Mengingat hari ini kami bahkan sampai di tahun ke sekian usia pernikahan. Masih seumur jagung barangkali. Tetapi setiap moment yang terlampaui menjadi pembelajaran berharga, sarat ibrah, dan modal pendewasaan bagi kami pribadi.

Tak kupingkiri, bahwa sabarnya berperan kuat di biduk ini. Untuk menghadapi segala macam kekurangan yang bersumber dari kepribadianku. Pun, juga kekuatan yang kupilin setiap saat demi tetap berdiri tegak di sisi lelaki yang kupilih. Meski konsekuensi yang dihadapi kadang jauh dari ekspektasi. Sekalipun titik jenuh kadang mendorongku untuk melangkah pergi.

Tak ada biduk tanpa ujian. Dan ini terbukti dari tahun pertama pernikahan sampai saat ini. Kenyataan beserta kondisi sulit telak mematahkan ekspektasiku dalam semalam. Menyesal kah? Mungkin pernah. Tetapi dalam kondisi apapun, engkau perlu waktu untuk menenangkan diri. Untuk kembali berpikiran jernih.

Seburuk apapun kemarahan, kekecewaan yang dirasakan, pasti selalu ada ribuan alasan untuk kembali. Dan redamkan segala yang keruh di dalam diri.

Tak sekali pula merasa lemah, terpuruk, bahkan timbul rasa kufur. Tetapi bukankah masalah hadir untuk diselesaikan baik-baik? Bukankah ujian datang untuk membuatmu kian matang? Agar kau tak berhenti pada satu tapakan saja, melainkan naik ke anak tangga selanjutnya.

Kendati kehidupan berumah tangga kadang kala tak semudah yang diinginkan. Terlebih untuk kami yang sudah melalui konflik dan polemik pelik. Ketika harus hidup mandiri benar-benar dimulai dari 0. Namun yang terpenting adalah saling bertahan dan mempertahankan. Terlepas dari dinamika apa yang sedang dihadapi bersama.

Yang tak kalah penting ialah hati yang memilih untuk tak beranjak. Tetap tegar membersamai dalam tiap fase kehidupan yang datang.

Untuk belajar lebih baik agar peka membaca situasi. Serta kian bijaksana dalam hadirkan solusi.

Sekalipun sampai saat ini kelemahan diri masih mendominasi dalam banyak hal termasuk juga saat terbentur masalah bertubi. Setidaknya, seperti yang suami katakan.. "Mari berproses lebih baik lagi. Mari mencoba lagi. Mari berusaha lagi.."

Percayalah.. di antara semua kesulitan itu, ada saat kita tertawa lepas dan saling memeluk dalam suka. Menghitung nikmat demi nikmat yang nyatanya jauh lebih banyak. Mengukur lagi kedewasaan diri yang tertempa melalui hadirnya masalah. Menatap lagi wajah satu sama lain untuk memberi kekuatan lagi dan lagi. Serta tak lupa ucapkan kata terima kasih untuk mau berjuang bersama :')

Di satu titik, ketika hati dan pikiranmu hanya berpikir tentang kesulitan yang menguji.. seolah ada tembok besar yang menjadi sekat. Tetapi di satu titik lain, engkau akan sampai di waktu di mana tembok itu tidaklah sebesar yang dirasakan ketika hati terundung kesedihan. Ada kala kita justru mensyukuri semua kesulitan, ujian, masalah yang datang, sebab telah memberimu pelajaran terbaik. Ingat? Ini sekaligus cubitan dan pengingat bagi diriku sendiri. Bahwasanya Allah hanya beri apa yang kita butuhkan, tak melulu tentang apa yang diinginkan.

Karena barangkali, yang kita jalani saat ini adalah apa yang lebih dibutuhkan melebihi semua yang dikehendaki angan. Allah tahu yang terbaik 😊

Dalam diri setiap pasangan memiliki kekurangan, namun kita atau dia adalah kelebihan. Kelebihan untuk saling menutupi kekurangan. Kelebihan untuk saling menutupi aib pasangan. Kelebihan untuk lebih mengerti dan memahami. Kelebihan untuk saling memberi pundak untuk beban yang diemban. Dan berbagai macam kelebihan yang muncul dari dalam diri setiap saat. Ketika harus terbentur masalah atau ketika satu persatu masa sulit mampu dilewati bersama. Mari saling menopang, mendewasa dan tumbuh bersama. Terkhusus untuknya, lelaki bernama suami sekaligus ayah dari anakku  :)



"Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian bagi mereka." [QS. al-Baqarah: 187]

*****×*****

Pada lelaki yang tetap memeluk sabar dan memikul amanah di pundaknya, semoga Allah ridha padamu. Semoga Allah ridho terhadapku sebagai seorang istri. Semoga Allah ridha pada rumah tangga ini, pada anak-anak yang lahir membersamai. Hingga jalan demi jalan baik akan senantiasa terbuka di hadapan langkah, menuju Jannah-Nya walau tak mudah.

Sakinah mawaddah warahmah bersamamu until jannah. Aamiin. Insyaa Allah.

Self reminder, with love..
For my lovely husband πŸ’“
Magelang, 2 Oktober 2018
© #bianglalahijrah 

Sunday, 30 September 2018

Sajak Muhasabah [Jangan sedih, ada Allah]

20:23 0 Comments

Tak ada yang pasti pun tak ada yang abadi dalam putaran waktu
Ada kala kita menangis, ada kala kita memeluk suka dalam syukur yang berlapis
Allah.. kiranya Ia mengujimu untuk tunjukkan cinta
Kiranya Allah mengujimu untuk melihat sedalam apa Ia kau patri dalam jiwa
ketika engkau mengaku cinta

Allah.. Ia mengujimu sebab tahu engkau mampu tuk lewati.

Takdir tentu tak salah memilih pundak, ketika engkau yang dikehendaki melaluinya
Takdir-Nya tak pernah keliru menakar uji
Ia tak pernah salah mengira seberapa besar atau kecil kekuatan di balik cadar hamba

Takdir jelas tak mungkin tersesat di catatan Lauhul Mahfuz milikmu, jika Allah yang menetapkan itu

Maka hati, menguatlah. Sekalipun kau tenggelam dalam arah yang tak pasti
Tegarlah, meski pilu bertubi-tubi menampar
Sabar, saat kerikil melukai langkah yang terseok luka

Barangkali, Allah ingin menuntunmu pada arah yang tepat
Sekalipun kau telah jauh tersesat
Allah tahu kau takkan mencela takdir yang diperuntukkan oleh-Nya
Allah tahu saat hatimu hendak menyerah, tetapi langkahmu tetap tegak
Tak mundur atau pun tersungkur

Allah tahu, sedihmu takkan membawa jiwamu karam ke dasar kufur
Sebab engkau ada di lautan kepasrahan dan ketaatan hamba
Patuh pada titah takdir yang dikehendaki-Nya.

Barangkali, jika kau bertanya pada-Nya mengapa Ia mengujimu
".. sebab engkau mampu."
Sebab Allah tak pernah salah ketika menggariskan takdir pada kitab kehidupan seorang hamba.

La Tahzan, Innallaha ma'anaa.
Maka setelah ini, kau takkan bersedih lagi
Sebab hatimu tahu ada tangan yang menggerakkan langkahmu, mewujudkan asamu, mengabulkan doamu, dan kau pun mengerti ke mana sabar harus tertuju

Lillah, Billah. Fillah. Karena Allah..


*************
Refleksi, cermin, ruang bermuhasabah untuk diri sendiri
ditulis pada selembar kertas di ruang kelas kuliah,
29 September 2018, Magelang
© @bianglalahijrah

Monday, 27 August 2018

[Parenting] : Melebihi Apapun, Anak Hanya Butuh Kehadiran Orangtuanya

09:48 0 Comments

Beberapa hari yang lalu aku sengaja menulis status di Whatsapp mengenai keputusan kami untuk tidak menyekolahkan Aidan sejak dini. Menunggu hingga Aidan berusia cukup untuk langsung belajar di taman kanak-kanak, biar nggak kelamaan di play group kalau harus dimasukkan sekolah dari sekarang sedang usianya pun baru 3,4 tahun. Ada banyak pertimbangan dan alasan tertentu. Ternyata, keputusan kami juga tak serta merta sebuah pilihan yang diambil mentah-mentah. Tetapi ada penjelasan menurut pakar psikolog dalam hal ini, tentang dampak menyekolahkan anak di usia dini.

Tentu saja ini semakin mematangkan keputusan yang diambil. Mengingat salah satu sumber menjelaskan bahwa anak yang bersekolah dini juga harus dilihat dari aspek kebutuhannya. Apakah anak benar-benar butuh mendapatkan stimulus di tempat lain, atau cukup dioptimalkan di rumah bersama kedua orangtuanya juga lingkungan tempat tinggalnya.

Salah satu teman kemudian japri dan ternyata beliau berseberangan dengan kami. Beliau memasukkan anaknya yang baru saja berusia tiga tahun di play group. Mengingat tak sedikit pasangan yang sama-sama bekerja di luar rumah. Jadi mungkin waktu membersamai anak juga tidak sepenuhnya full time atau on time. Hingga ada beberapa kondisi di mana fase tumbuh kembang si anak tetapi orangtuanya barangkali belum bisa membersamai dengan baik sebab terkendala pekerjaan. Maka kembali pada pilihan apa yang moms and dad ambil dalam hal ini.

Dari jauh hari aku sendiri sudah siap mental untuk menghadapi orang-orang yang jelas akan berkomentar tentang keputusan untuk tidak memasukkan Aidan ke play group atau PAUD. Karena kami sendiri merasa bahwa Aidan insyaa Allah mendapat stimulasi yang baik dari orangtuanya. Suami sendiri juga mendampingi dan kerap ambil peran dalam soal mendidik anak, menyisihkan waktu luang untuk membersamai anak begitu pulang dari kantor. Intensnya aku sendiri kerap cemburu, karena waktu yang ia berikan kadang-kadang lebih cenderung ke anak dan istri baru setelahnya.

Tapi setelah membaca buku Screaming-free Parenting, dijelaskan bahwa seorang ahli Psikoterapi, Alix Pirani, mewanti-wanti efek dari ke tidak-hadiran seorang ayah dalam pengasuhan anak. Dalam bukunya, The Absent Father: Crisis and Creativity, Pirani menyebut gejala ini sebagai Phatological Absence (ketidakhadiran patologis) kebanyakan ayah. Yang berakibat buruk terhadap kepribadian anak,  di antaranya :

• Perkembangan keterampilan sosial
• Pemahaman diri
• Sikap terhadap keberhasilan
• Kontrol diri
• Kecakapan
• Tanggung jawab, dan
• Ketergantungan

Terlalu fokusnya para orangtua pada peran "tradisional" ayah (yakni pencari nafkah yang jauh dari peran aktif pengasuhan dan pendidikan anak yang saling mengisi dengan pasangan hidupnya), mengakibatkan adanya peran kunci yang terabaikan. Peran yang tak bisa begitu saja dilimpahkan pada istri, apalagi pembantu rumah tangga maupun baby sitter. Nah, setelah membaca penjelasan ini pikiranku jadi lebih terbuka dan kami juga sering meluangkan waktu untuk berdiskusi. Bersyukur sekali, suami adalah sosok yang selalu hadir sebagai ayah yang baik bagi anaknya. Perasaan cemburu karena merasa suami lebih memperhatikan anak pun berubah menjadi rasa syukur. Ini berkah tentu saja.

Selain itu, aku sendiri yang sehari-hari berkutat 24 jam di rumah tanpa terikat jam kerja di luar rumah, maka tak ada alasan men-subkontrakkan anak ke tangan pihak lain. Aku sendiri yang ambil peran sebagai ibu, pendidik, dan guru homeschooling bagi Aidan. Tantanganku di sini adalah bagaimana bisa terus belajar lebih baik, berbenah, dan menerapkan ilmu yang diketahui.

Untuk itu, kemajuan teknologi saat ini pun menjadi kemudahan tersendiri. Buku-buku parenting, video seputar parenting, artikel parenting yang berseliweran di Internet juga menjadi referensi yang mudah sekali didapatkan. Untukku pribadi, membeli sekaligus membaca buku-buku fisik lebih menguntungkan ketimbang membaca dalam bentuk e-book. Tetapi untuk lebih mudahnya, e-book pun bisa jadi alternatif kalau nggak punya waktu buat ke toko buku. Dan kita tetap bisa akses melalui android kapan saja.

Ini benar-benar terasa setelah punya anak. Mau nggak mau harus siap berbenah terus menerus. Belajar terus menerus untuk menjadi sebaik-baik madrasah pertama bagi anak-anakku sendiri. Jadi kalau di luar sana kemudian ada yang berseberangan, itu nggak masalah. Hak masing-masing orang untuk menjalankan pilihan yang dianggap baik untuk diri sendiri.

Toh, masing-masing kita lah yang tahu persis bagaimana anak kita. Kesulitan apa yang ia hadapi. Kebutuhan apa yang ia butuhkan dalam proses belajar atau tumbuh kembangnya. Kita yang lebih tahu tantangan dan kendala apa yang dihadapi dalam membersamai anak-anak. Untuk ortu yang tidak menyekolahkan anaknya di usia dini tentu ada alasan khusus, begitu pun dengan ortu yang memilih menyekolahkan anaknya di usia dini. Nggak ada yang salah atau pun benar, selama itu sendiri diyakini yang terbaik bagi yang menjalani. Dan yang terpenting dapat dipertanggungjawabkan dengan baik pula.

Untuk komentar orang-orang yang bertolak belakang dengan kita, selamanya akan tetap ada. Kita juga nggak bisa menutup diri dari apa yang orang lain katakan.

Sebab itu, pilihan pertama yang bisa moms and dad lakukan ketika berada di antara dua pilihan antara menyekolahkan dini atau nanti, sebaiknya pikir matang-matang apakah keputusan tersebut sudah yang terbaik untuk anak. Bukan semata-mata demi keuntungan kita pribadi yang mungkin sudah amat sibuk dengan tuntutan pekerjaan, hingga hal itu dirasa sebagai jalan keluar terbaik. Sekalipun menurut kita keputusan itu sudah benar, tetapi tetap kebutuhan dan keinginan anak adalah prioritas utama.

Kadang tak sedikit ortu yang bekerja dan kehilangan moment berharga untuk membersamai anak. Terlebih kalau sampai di rumah kita sendiri sudah lelah. Dan harus berhadapan dengan rongrongan anak-anak yang juga menuntut waktu kita. Barangkali sekolah di usia dini tercetus karena pikiran bahwa hal tersebutlah yang si anak butuhkan. Menimbang ia akan belajar lebih banyak dari guru pendamping, atau ia akan memiliki banyak teman kemudian mampu bersosialisasi. Bisa juga pikiran bahwa hal-hal yang tak sepenuhnya bisa si anak dapatkan di rumah, yang berasal dari kedua orangtuanya, kemudian lingkup sekolah bisa menggantikan itu.


Ada banyak alasan yang jelas. Mungkin saja point-point di atas termasuk salah satunya, mungkin juga tidak sama sekali. Karena kembali lagi pada kondisi apa yang moms and dad hadapi. Setidaknya mendahulukan keinginan dan kebutuhan anak jauh lebih penting dari sekedar menjalankan apa yang menurut kita benar sebagai orangtua.

Seperti yang bunda Elly Risman katakan, pada masa golden age anak yang ia lebih butuhkan adalah kehadiran kedua orangtuanya. Yang ia butuhkan adalah sosok sang ibu. Usia 0-8 tahun adalah masa bermain bagi anak. Jadi yang dibutuhkan lebih ke stimulasi untuk perkembangan empati pada diri si anak, bukan kognitifnya. Anak-anak pada dasarnya bermain tanpa terstruktur, tetapi di sekolah ia kemudian harus mengikuti tata terbit yang berlaku. Permainan atau hal-hal yang lebih terstruktur.

Mengutip penjelasan dari salah satu artikel mengenai ini, berikut penjelasannya :

[Masalah lain yang tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah sistem pendidikan dini yang ada sekarang ini terlalu berorientasi pada pengembangan otak kiri (kognitif) dan kurang memperhatikan pengembangan otak kanan (afektif, empati, dan rasa). Padahal, pengembangan karakter lebih berkaitan dengan optimalisasi fungsi otak kanan. Mata pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan karakter pun (seperti budi pekerti dan agama) ternyata pada prakteknya lebih menekankan pada aspek otak kiri (hafalan, atau hanya sekedar “tahu”).

Padahal, pembentukan karakter harus dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan yang melibatkan aspek “knowledge, feeling, loving, dan acting”. Pembentukan karakter dapat diibaratkan sebagai pembentukan seseorang menjadi body builder (binaragawan) yang memerlukan “latihan otot-otot akhlak” secara terus-menerus agar menjadi kokoh dan kuat.

Pendidikan karakter ini hendaknya dilakukan sejak usia dini, karena usia dini merupakan masa emas perkembangan (golden age) yang keberhasilannya sangat menentukan kualitas anak di masa dewasanya. Montessori menyebutnya dengan periode kepekaan (sensitive period). Penggunaan istilah ini bukan tanpa alasan, mengingat pada masa ini, seluruh aspek perkembangan pada anak usia dini, memang memasuki tahap atau periode yang sangat peka. Artinya, jika tahap ini mampu dioptimalkan dengan memberikan berbagai stimulasi yang produktif, maka perkembangan anak di masa dewasa, juga akan berlangsung secara produktif.]

Menurut Freud kegagalan penanaman kepribadian yang baik di usia dini ini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak. Kesuksesan orang tua membimbing anaknya dalam mengatasi konflik kepribadian di usia dini sangat menentukan kesuksesan anak dalam kehidupan sosial di masa dewasanya kelak (Erikson, 1968).

Jadi memang terlepas dari keinginan dan apapun alasan kita untuk menyekolahkan anak di usia dini, harus tetap kita pahami bahwa yang anak butuhkan adalah bermain tanpa harus dituntut untuk mempelajari sesuatu hal secara terstruktur pada tempatnya. Tugas kita sebagai orangtua adalah bagaimana cara mendidik dan menumbuhkan kemampuan empati emosional anak dengan baik di usia golden age-nya.

Kita memfasilitasi, memberi ruang, tanpa menciptakan sekat atau batas-batas tertentu bagi keinginan dan kreativitasnya. Dan seiring berjalannya waktu kemampuan kognitif anak akan tetap berkembang dengan sendirinya tanpa perlu mengurangi jatah bermainnya. Tanpa harus merenggut hak-hak individualisnya sebagai anak. Tanpa harus men-subkontrakkan anak ke pihak lain yang dirasa lebih mumpuni ketimbang diri sendiri sebagai orangtua.

Self reminder dari yang juga disampaikan oleh bunda Elly Risman, jangan renggut masa kanak-kanak dari anakmu, sebab nantinya hanya akan ada orang dewasa yang kekanak-kanakan. Kurang lebih demikian.

Jadi yang bisa dipertimbangkan :

• Pastikan bahwa keputusan untuk menyekolahkan anak di usia dini benar-benar sesuai dengan kebutuhan si anak jika moms and dad termasuk orangtua pekerja yang sibuk. Jika stimulus yang diharapkan didapat dari pendidikan anak usia dini namun bisa dioptimalkan di rumah serta langsung dari kedua orangtuanya, barangkali keputusan menyekolahkan dini bisa jadi alternatif kedua atau ditunda sementara sampai usia anak cukup untuk belajar di sekolah. Karena jika bisa diatasi oleh ayah bundanya mengapa harus disub-kontrakkan ke pihak lain?
• Jangan lengah untuk terus introspeksi diri dan sisipkan waktu terbaik bagi anak kendati sesibuk apapun
• Menyadari kekurangan diri sebagai orangtua dan mau untuk terus belajar sambil berbenah
• Siap mental berarti kita sudah punya jawaban yang bisa dijelaskan pada orang-orang yang memang membutuhkan jawaban kita, jika sewaktu-waktu ada yang bertanya sekalipun berbeda pandangan. Bukan lantas tersinggung atau marah.
• Jadikan akhir pekan atau waktu libur untuk fokus pada keluarga. Ajak serta pasangan dan anak-anak untuk berlibur. Tak harus mahal atau ke tempat-tempat yang mengharuskan budget tebal. Ada banyak sarana dan prasarana yang bisa dinikmati untuk ber-quality time bersama orang-orang tercinta.

Selain itu yang perlu digaris bawahi, pengawasan dan didikan langsung dari kedua orangtua di masa golden age sangat berperan penting pada proses tumbuh kembang si anak. Menjadi orangtua yang baik tidak ada sekolah khusus, bukan juga pilihan, melainkan memang kewajiban. Bersyukurlah jika Allah memberi kita cukup waktu untuk membersamai anak-anak dalam setiap fase dan proses yang ia lalui. Tanpa harus men-subkontrakkan anak ke pihak lain.


Sebaik-baik apapun yang bisa ia dapatkan di luar sana, tak ada yang bisa menandingi kehadiran orangtua dalam kehidupan sehari-hari seorang anak. Tak ada yang lebih berharga dari sosok ibu yang bisa ia peluk kapanpun sang anak mau. Self reminder, barangkali masih banyak kesalahan di sana-sini. Sebab yang menulis pun hanya seorang ibu rumah tangga yang juga tengah berproses menjadi sebaik-baik orangtua.

Aku percaya bahwa setiap orangtua itu hebat. Tetap luar biasa dengan sederet peran yang dilakoni di dalam maupun luar rumah. Pun, setiap orangtua pasti tetap memprioritaskan yang terbaik bagi anak-anaknya walau sesibuk apapun pekerjaan yang mengikat mereka dalam mencari nafkah.

Tetapi sungguh, karier terbaik dan yang paling mulia bagi seorang ibu adalah mendidik anak-anak di rumah. Kembali pada fitrah dan kodratnya sebagai istri sekaligus ibu. Membersamai mereka dalam tiap fase maupun proses. Anak tak butuh ibu yang cantik, ayah yang tampan, karena seperti apapun kita bagi mereka kita tetap orangtuanya. Anak tak memerlukan sosok ibu dengan karier cemerlang luar biasa, sedang hadirnya hanya bisa ia nikmati sekelebat saja di dalam rumah. Anak tak butuh semua pencapaian yang mampu kita capai jika ia sendiri merasa menjadi satu hal yang tersisihkan. Self reminder, i'm talking with my self. Betapa menjadi orangtua adalah proses belajar sepanjang masa dengan dedikasi sepenuh jiwa πŸ˜’πŸ™ Maka semoga Allah memudahkan kita setiap orangtua maupun calon orangtua. Aamiin aamiin allahumma aamiin.


Semoga bermanfaat.. πŸ™

Magelang, 27 Agustus 2018
© bianglalahijrah


***

Referensi buku :
• Screaming-free Parenting (Mengasuh Anak dengan Energi dan Emosi Positif) oleh Teguh Iman Perdana
Referensi video :
• Elly Risman : Dampak Pendidikan Usia Dini
Referensi artikel :
• https://id.linkedin.com/pulse/pengembangan-pendidikan-karakter-anak-usia-dini-dalam-maria-lience
Picture by #Pinterest

Saturday, 25 August 2018

Sebab Ibu Hamil Hanya Butuh Dipahami

11:53 0 Comments

25 Juli, satu bulan yang lalu. Dapat kejutan tak terduga ketika strip uji kehamilan menunjukkan dua garis merah terang. Kaget? Iya. Senang? Juga iya. Tetapi ada kesedihan yang membayang saat itu. Meski kehamilan ini direncanakan, tetapi semua terjadi lebih cepat dari perkiraan kami. Mengingat alat kontrasepsi IUD yang sebelumnya digunakan juga baru dilepas pada tanggal 29 Juni. Tahu-tahu belum genap satu bulan tiba-tiba saja ada benih yang sudah tumbuh di rahimku.

Mungkin juga hormon ibu hamil saat itu mulai mendominasi. Karena setelah melihat hasil tespek tahu-tahu nangis sendirian sambil nunjukin ke suami yang lagi nungguin di depan pintu πŸ˜‚ bisa bayangin kan gimana melo-dramanya begitu tahu positif hamil anak kedua. Agak beda pas tahu hamil Aidan dulu, yang ada di pikiran cuma perasaan senang sampai-sampai pengen ngabarin ke semua orang. Padahal psikologis saat itu juga nggak siap-siap banget. Tetapi karena menunggu moment hamil sampai dua tahun lamanya, otomatis ini jadi kabar paling bahagia yang sekaligus menjawab doa kami.

Nggak kepikiran juga tentang banyak hal yang harus dipersiapkan baik ketika hamil hingga setelah punya anak. Meski pada akhirnya kami memang terbentur dengan berbagai macam konflik dan kesulitan yang mewarnai ketika sedang menanti kelahiran anak pertama. Ya, namanya juga konsekuensi. Siap punya anak berarti harus siap menjadi orangtua. Harus lebih baik, lebih dewasa dan lebih bijaksana lagi. Harus siap dengan segala situasi dan kondisi.

Sampai sekarang pun kami masih berproses.

Dan, jika Aidan menjadi kado di usia ke-20 tahun maka kehamilan yang ini menjadi kado yang sama di milad ke-24 tahun. Kendati kalau ikut keterangan tahun di KTP ini jadi milad yang ke-25 tahun. Kok bisa gitu? Ceritanya panjang πŸ˜‚ yang jelas, bagi Emma dan Etta' ini milad anak mereka yang ke-24 di 7 Agustus lalu. Bulan ini berasa melewati banyak moment. Moment anniversary pernikahan kami yang ke-6 tahun, moment milad diri sendiri, moment kehamilan di trimester pertama, plus sekarang lagi mabok daging di hari tasyrik setelah Idul Adha beberapa hari yang lalu. Barakallah, bertambah tua itu pasti tetapi semoga bertambah pula kebaikan dan keberkahan dalam tiap usia yang bertambah sekaligus berkurang. Aamiin insyaa Allah.

Nah, seperti saat hamil Aidan, emosiku berubah drastis mengikuti suasana hati yang naik turun. Pas dulu, semua jadi terasa salah. Masalah kecil akan mencuat besar begitu saja. Rasa-rasanya mengatasi hormon dan kelabilan pada saat hamil lebih melelahkan dari kehamilan itu sendiri 😭 tapi mau gimana lagi kan ya? Memang sudah kodratnya demikian. Memang sudah jatahnya kayak gitu. Jadi peran baik dari suami, keluarga dan orangtua dalam memberikan perhatian plus pengertian menjadi hal yang sangat-sangat dibutuhkan selama hamil.

Bukan justru nyinyiran kalau tetiba badan jadi makin subur makmur. Bukan juga celetukan kalau selama hamil kulit jadi kelihatan kusam, lelah dan problem berjerawat. Tak juga komentar macem-macem kalau ibu hamil itu nggak boleh gini dan harus begitu. Lebih parahnya, kalau disuruh batasin makanan dengan dalih biar nggak gemuk. Pleasee ini ituh ibu hamil, bukan tawanan. Bukan juga modelling yang harus selalu jaga postur tubuh biar ideal. Iya kalek, ibu hamil nggak boleh makan ini dan itu. Yang ada juga boleh-boleh saja, selama aman buat baby dan masih dalam batas wajar.

Asal tahu, bawa badan saja sudah hal terberat bagi bumil dengan segala ketidak-nyamanan yang dirasa. Entah itu pusing, kram, sakit punggung aka pinggul yang berasa mau copot dan masih banyak lagi. Jadi jangan ditambah dengan komentar julid bin nyinyir yang sama sekali nggak dibutuhkan oleh ibu hamil dan janin yang sedang dikandungnya.

Cukup beri ia perhatian, pengertian lebih. Pahami kemauannya, pahami kebutuhannya. Meski berkomentar adalah hak semua orang apalagi bagi mulut-mulut latah, tapi nggak semua komentar perlu dikeluarkan. Apalagi di hadapan ibu hamil yang hati dan perasaannya sensitif banget. Nggak sedikit ibu hamil yang karena faktor hormonal menjadi lebih mudah tersinggung dengan guyonan seremeh apapun. Jadi please, berkata baik atau diam itu jauh lebih bijaksana. Nggak perlu nambah-nambahin beban si bumil.

Karena tanpa dikasih tahu juga dia mengerti dengan sendiri kalau Size baju naik dari ukuran sebelum hamil. Dia juga ngerasa ketika sendal dan sepatu tiba-tiba terasa sempit. Nggak harus juga ibu hamil menahan keinginan untuk makan ketika dirasa bener-bener pengen dan memang lagi lapar. Kadang, lingkungan dan perlakuan orang-orang terdekat sangat berpengaruh bagi mental dan psikologis si ibu hamil. Tapi nggak semua orang mau mengerti itu.

Lewat curcolan ini, pengen ngasih tahu ke semua orang yang di sekitarnya barangkali ada ibu hamil. Nggak perlu banyak nyinyir, nggak perlu banyak larangan ini itu yang terkadang juga nggak logis sama sekali, cukup pahami keinginan maupun kebutuhan si ibu hamil. Itu jauh lebih berarti untuk mensupport si ibu agar ia bisa menjalani masa-masa kehamilannya dengan ringan.. berbahagia.. sekalipun beban badan menyiksa. Support setiap ibu hamil untuk legowo dengan kondisi tubuh dan kulitnya. Selama ibu dan debay sehat itu yang terpenting, soal perubahan tubuh, semua akan berangsur pulih setelah melahirkan. Terlebih ketika sudah menyusui.

Kadang nggak semua komentar mendatangkan solusi tetapi justru sebaliknya. Karena memang nggak semua orang butuh dikomentari, dan nggak semua komentar perlu dikeluarkan. Speak good or remain silent, right?

***

Ibu hamil yang berbahagia insyaa Allah πŸ˜‡
Magelang, 25 Agustus 2018
©bianglalahijrah

Tuesday, 17 July 2018

Kita Hebat, Tak Ada yang Saling Melebihi Satu Sama Lain

23:37 0 Comments
Tak ada yang lebih dari siapapun. Entah itu bahagia, senang, sedih, sakit, sulit, apapun. Karena setiap kita Allah sudah berikan porsi masing-masing. Setiap kita sedang berjuang di ranah masing-masing. Perlu diingat, segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Jangan mempertanyakan mengapa orang lain harus begini dan begitu saat kita merasa mampu melewatinya. Atau merasa jauh lebih baik darinya. Ingat, Allah bahkan menakar kemampuan seseorang sesuai tingkat ujian yang diberi. Engkau, aku, tak ada yang melebihi sesiapa. Kita sama-sama kuat insyaa Allah. Kuat dan hebat di ranah masing-masing. #copas dari status Watshapp pribadi.

Sebuah renungan, pengingat, untuk diri sendiri.


Kadangkala kita akan duduk berdiskusi dengan seseorang yang ternyata mengalami kisah yang hampir serupa dengan apa yang sudah dialami. Sepanjang bercerita tak jarang ada yang merasa atau menganggap bahwa kisahnya jauh lebih pilu dari lawan bicaranya. Merasa bahwa mungkin dialah orang yang lebih kuat untuk mampu melewati ujian yang datang padanya, saat di sisi lain ada orang yang memilih jalan lain. Ketika beranjak menjadi pilihan selain bertahan.

Aku yakin, Allah tak pernah salah memilih siapa orang yang akan menjalani skenario tertentu yang sudah Ia tulis dalam kitab kehidupan setiap hamba. Di buku itu, masing-masing kita sudah diberikan garis hidup yang berisi takdir hidup maupun mati. Kita masing-masing beroleh peran tersendiri. Allah menempatkan kita di ranah masing-masing. Jika pun serupa kisahnya, tetapi nyaris tak ada yang menyerupai persis sama. Baik waktu, tempat, maupun cara kejadiannya. Terlebih pelakunya jelas berbeda.

Kita tak bisa merasa diri adalah orang-orang pilihan yang Allah khususkan untuk ujian tertentu hingga mampu melewatinya. Sebab, kekuatan itu pun datangnya dari Allah. Bukan kita yang hebat, tetapi Allah yang memampukan kita untuk melewati setiap inci demi inci ujian tersebut.

Kita juga tak bisa menganggap orang lain lebih lemah, tatkala ia melalui kisahnya tidaklah sebaik kita melalui kisah diri sendiri. Kita tak bisa menghakimi orang lain untuk keputusan-keputusan yang telah ia ambil, ketika kita sendiri tak pernah ada di saat ia benar-benar jatuh dan kesulitan. Di masa sewaktu ia benar-benar membutuhkan uluran tangan orang lain.

Tak ada yang melebihi sesiapa. Kau tak sedang melebihiku. Aku tak sedang melebihimu. Tak ada yang lebih melampaui batas apapun untuk hal-hal yang memang sudah Allah tetapkan. Kita sama-sama pelakon. Hanya tokoh yang berperan, sekali lagi, di ranah masing-masing. Kita sama-sama sedang berjuang. Berjuang dengan kehidupan diri sendiri. Berjuang dengan apapun kesulitan yang pasang surut hadir begitu saja. Berjuang untuk meraih keridhoan Allah untuk dapat mencicipi nikmat surga.

Bagaimana mungkin kenikmatan hakiki itu dapat teraih jika masih ada secuil kesombongan di dalam dada? Merasa diri sendirilah yang paling mampu. Paling bisa. Paling hebat.

Allah memberi kita permasalahan untuk dipecahkan. Ujian untuk naik ke tingkat selanjutnya. Masalah untuk menjadi dewasa. Dan yang tak kalah penting, hal-hal itu yang dapat menghapus kesalahan-kesalahan diri yang disengaja atau tidak. Hal-hal itu yang akan menambah derajat ketakwaan diri. Tanpa harus membumbui perasaan merasa 'lebih' dari sesiapa untuk soal apapun itu.

Self reminder. Di setiap apa yang kutulis ini tetap menjadi pengingat bagi diri sendiri. Termasuk kali ini. Jika barangkali, ada perasaan lemah. Terendahkan. Atau bahkan ingin mencoba untuk meninggi. Semoga Allah ampuni setiap apa yang terbersit di dalam hati maupun dari ucapan juga prilaku.

Kadang hal-hal sepele begitu mudah mengotori hati. Mudah sekali.

Jadi, mari tetap saling menghargai peran atau kisah juga pilihan masing-masing. Tanpa perlu merasa lebih dari yang lain. Allah beri kita porsi yang takkan mungkin dimiliki orang lain begitupun sebaliknya. Jika pun dalam kesulitan dan kesakitan, kita pada akhirnya mampu melewatinya, itu karena Allah yang memampukan. Bukan karena kita hebat. Ingat, Allah kuasa hamba tak kuasa. Segala sesuatu hanya jika Allah telah memberi ketetapan untuk itu.

Kita hebat. Kita kuat. Kita sama-sama luar biasa. Tetapi di ranah masing-masing. Dengannya Allah tinggikan derajat, namun bukan untuk merendahkan orang lain. Bukan untuk memandang orang lain tak lebih baik dari diri sendiri.

"Your wanting people to know your specialness is a proof for your lack of truthfulness in your slavehood." [Al-Hikam]

Semoga bermanfaat πŸ™

© @bianglalahijrah_
Magelang, 17 Juli 2018.

Monday, 2 July 2018

Resep : "Ayam Geprek" yang Praktis, Mudah dan Lezat

20:50 0 Comments
Assalamualaikum, welcome Juli!!! Postingan kali ini mau bagi-bagi resep masakan, salah satu kuliner yang lagi hits banget saat ini. Aku dan suami juga pecinta berat sama kuliner ini, tiap ngetrip ke mana pasti yang dicari resto atau rumah makan yang ada menu "Ayam Geprek"-nya. Sampai-sampai Aidan nyebut semua masakan ayam dengan sebutan ayam geprek sekalipun yang dimakan adalah ayam rendang 😁

Tapi yaa, dari semua tempat yang kami kunjungi sebagian masih di luar ekspektasi. Baik penyajian sampai di level kelezatannya. Sejauh ini, ada satu resto yang penyajian dan rasanya masih cukup konsisten, kebetulan pertama kali kenal "Ayam Geprek" juga di resto ini. Andalan tempat belanja keluarga, itu tuh yang nggak jauh dari Gardena. Tepatnya di alun-alun Utara, bernama Trio Plaza.

Eh tapi, ada satu lagi tempat di Magelang yang memang rekomendet dengan menu Ayam Geprek yang lebih bervariasi. Ada di Prekju, dengan menu ayam geprek yang dikasih lumeran keju di atasnya. Ada pilihan prekjudar juga kalau nggak salah, ayam geprek dengan tambahan telor dadar. Dulu pas ke tempat ini bareng duo teman, sepulang kuliah. Di sini kamu bisa minta tingkat kepedasan sesuai level lidah kamu. Aku level 8 saja sudah mrebes mili hahaha.

BTW, berikut resep olahan "Ayam Geprek" yang mudah, praktis, ekonomis. Tetapi rasa dijamin lezaaatt, made by me πŸ˜‰ Baru saja aku eksekusi tadi siang karena tetiba suami dan anak minta menu ayam goreng dan ayam geprek, jadilah belanja ke pasar dan diolah sepenuh cinta eaa πŸ’“πŸ’“πŸ’“


RESEP AYAM GEPREK :

* Pertama-tama beli daging ayam, 1 kilo bisa. Tapi di sini aku cuma pakai setengah kilo daging ayam. Udah lumayan banyak untuk 2/3 porsi.

Bumbu halus (buat ngungkep daging ayam)  :
- 2 cm Kunir
- Garam 1 sdm
- Bawang Putih 3 Siung

* Daging ayam yang telah dibersihkan kemudian dilumeri bumbu yang telah dihaluskan tadi. Tepuk-tepuk sedikit agar meresap. Kemudian ungkep di atas panci penggorengan sampai bumbu meresap sempurna dan daging mulai matang (bisa tambahkan merica bubuk sedikit jika suka, tadi pas lagi ngungkep aku tambahin merica bubuk).

Lalu angkat, tiriskan.

* Siapkan satu bungkus tepung bumbu (di sini aku pakai Sajiku, Golden Crispy). 3 sendok makan untuk adonan basah, air bisa dikira-kira, jangan sampai encer banget πŸ˜‰πŸ™ Nah, sisa tepung Sajiku jadikan adonan kering (boleh kalau mau tambah sedikit tepung terigu dan garam juga)

Langkah selanjutnya :

* Celup potongan ayam yang sudah diungkep ke dalam adonan basah hingga rata, kemudian tiriskan. Lalu gulingkan ke dalam adonan kering sambil ditepuk-tepuk. Kemudian goreng di penggorengan sampai berwarna kuning kecoklatan. Setelahnya angkat dan tiriskan.

Bumbu ulek untuk ayam geprek :
- 3 biji cabe merah
- 5 biji cabe galak/rawit merah
- 3 siung bawang putih
• Nb : goreng semua cabe hingga setengah matang, angkat sebelum berubah warna. Kalau semua mau diulek mentah juga boleh. Tetapi hasil eksekusiku tadi, enakan digoreng dulu hehe. Sesuai selera yaa, ini mah ideku saja karena terbiasa bikin sambal goreng. Tapi lebih endess pokokmen πŸ˜‰πŸ™

* Terakhir, ulek bumbu geprek setengah halus, tambahkan ayamnya, ulek lagi sampai tercampur rata kurang lebih seperti gambar di bawah ini πŸ˜‡


* Hidangkan dengan nasi hangat, ayam geprek siap disantap bersama keluarga tercinta πŸ€—
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Nah, sekian catatan resep made by me. Koki andalan keluarga sendiri, resep ala mommud hihihi.
Insyaa Allah dijamin endess dan kata pak su nggak kalah sama yang ada di resto (bisa nih bisa) πŸ˜„πŸ’ƒ meski eksekusinya berbeda, tapi rasa bersaing πŸ˜‰πŸ‘
Semoga bermanfaat dan bisa langsung kamu eksekusi juga di dapur kesayangan untuk menu santap bersama keluarga tercinta πŸ’“

Biasanya aku nulis resep di Cookpad, so kamu juga bisa intip resep masakan yang lain di sana. Alhamdulillah. Terbukti bikin sendiri itu jauh lebih nikmat, enakkk, hemat dan bisa makan puas. Kadang beli jadi hasil nggak sesuai ekspektasi, kurang pedeslah, hambarlah, kurang asinlah, pernah berasa zonk karena rasa mengecewakan. Masak sendiri lebih sipp bukan? Buktinya suami makan lahap meski sambil kibas-kibas, dimakan plus sayur soup juga. Buat penyuka pedes, cocok dah 🌢🌢

Happy cooking πŸ˜‡πŸ™

_______
Magelang, 2 Juli 2018.
©@bianglalahijrah

Saturday, 30 June 2018

Ibu, Berjuta Cinta Kendati Tak Sempurna

10:50 0 Comments

Pernah ketika duduk bergerombol dengan sekumpulan ibu-ibu yang tengah ngerumpi asyik tentang topik terbaru yang sedang beredar di sekitar mereka. Tak jarang, mereka ngerumpiin si A yang kebetulan sedang tak ada di antara mereka. Tak jarang ngerumpiin si B yang kemarin baru saja meluncurkan topik rumpi tentang si C. Mereka diam-diam saling membicarakan satu sama lain, tentunya tidak di hadapan yang terkait secara langsung.

Itu mengapa begitu jadi menantu yang memang bukan asli Jawa. Aku memilih untuk lebih banyak di dalam rumah. Karena praktek di atas seperti sudah menjadi tradisi turun temurun dan tak bisa diputus begitu saja. Takutnya orang lain yang berghibah kita yang dapat tempias dosanya. Karena kita juga ikutan nimbrung sekalipun hanya jadi pendengar.

Di dunia ini sulit sekali untuk melepaskan diri dari penilaian orang lain. Bahkan tak satu orang pun yang pernah luput dari mulut-mulut yang senang membicarakan kejelekan saudaranya. Termasuk ketika aku hanya memilih untuk lebih banyak di dalam rumah dan bergaul dengan tetangga seperlunya, ada komentar tak menyedapkan yang tetap mampir ke telinga.

Memilih untuk nimbrung atau tidak, konsekuensinya sama. Kita yang akan menjadi pembicaranya atau kita yang justru dibicarakan mereka.

Satu waktu saat berkunjung ke rumah mertua, Aidan masih beberapa bulan waktu itu. Masih menetek dan lengket di gendongan ibunya. Beberapa tetangga mendekat hanya untuk mengorek apa yang bisa mereka komentari. Tentang beginilah atau begitulah. Alih-alih mereka juga membicarakan orang lain yang kebetulan kukenal, intinya betapa mereka seakan lebih tahu apa yang seorang ibu rasakan saat menangani anaknya.

Mereka menganggap bahwa pengalaman mereka jauh lebih baik dari siapapun dalam soal menangani anak maupun cucu-cucu mereka, barangkali.

Dulu ketika awal hamil, aku dan suami memutuskan untuk mengambil jarak dari lingkungan yang memang tak kondusif. Tetapi setelah menjadi ibu, mau tak mau aku harus terbiasa dengan celetukan-celetukan asal dari beberapa orang yang begitu senang berkomentar tanpa menimbang isi perasaan orang lain. Bagi mereka, apa yang ingin mereka katakan adalah mutlak kebenaran. Sekalipun fakta yang ada tak lagi mendukung argument mereka.

Tak jarang aku memilih menarik diri dan menangis sendiri saat kata-kata mereka begitu tajam menusuk hati. Ucapan yang seharusnya tak terlontar bagi mereka yang benar-benar tahu. Jadi, ada kala aku harus membesarkan hati. Bukankah seseorang berbicara atas dasar ilmu yang ada padanya? Barangkali sebatas itulah pengetahuan yang mereka miliki. Lagi pula, semakin orang berilmu ia akan semakin minim kata untuk berbicara hal yang tak perlu.

Memaklumi. Untuk bisa memberi maaf kendati hati masih sakit.

Bagiku, menjadi ibu adalah hadiah terbesar dari Allah. Meski dari sejak hamil hingga detik ini, semua benar-benar dirasakan sendiri. Hanya dikerjakan berdua dengan suami. Dari persiapan menyambut buah hati, persalinan, hingga setelah Aidan lahir. Semua kami persiapkan sendiri tanpa bantuan orangtua. Tak sedikit kesulitan yang sudah kami lalui dan tak siapapun tahu.

Jika beberapa pasangan atau orangtua baru menerima banyak bantuan dari orangtua maupun mertua mereka, maka lain halnya dengan kami.

Orangtuaku jauh di seberang pulau sana, jarak rumah mertua juga tak bisa ditempuh dengan jalan kaki dalam hitungan menit. Ditambah ada beberapa hal yang membuat keadaan tak berjalan seperti yang kami harapkan.

Sedih sekali jika ada mulut-mulut tajam yang begitu senang menikam. Mereka tak tahu, kesulitan seperti apa yang sudah kulalui hingga sejauh ini. Tatkala orang lain melalui persalinan dengan dampingan orangtua, maka aku berbeda, suara mamak hanya bisa menemani sebentar lewat sambungan telepon genggam.

Jika kemudian ada orangtua yang mau bergantian momong cucunya ketika kondisi sang ibu benar-benar letih dan lelah, maka berbeda denganku. Sejak pagi hingga sore mengurus bayi sendirian dengan rentetan pekerjaan rumah tangga, sambil menunggu suami pulang kantor di sore hari.

Ada saat di mana aku menangis sambil mencuci pakaian karena lelah bercampur perasaan yang sulit dijelaskan. Sempat mengalami sindrom baby blues saat harus beradaptasi mati-matian setelah menjadi ibu. Kaget, lelah, stress, dan banyak faktor yang menjadi pemicu saat itu.

Kadang,  aku hanya bisa menggodok satu bungkus Indomie dan memakannya dalam keadaan dingin sambil memangku Aidan yang masih menyusu tanpa mau lepas dari gendongan. Barangkali, di waktu yang sama ada ibu yang bisa makan dengan lahap sebab orangtua/mertuanya bersedia berganti peran sesekali.

Atau ketika Aidan jatuh sakit dan hanya kami berdua dengan perasaan panik bercampur aduk. Setelah menjadi ibu, banyak hal yang berubah termasuk daya tahan tubuh yang mudah sekali masuk angin dan mengalami demam. Tetapi jika masih bisa bangun, maka pilihannya tetap memaksa tubuh untuk berdiri dan mengerjakan pekerjaan rumah.

Dan hal yang menjadi pengalaman seumur hidup, ketika baru saja melahirkan Aidan. Jika seorang ibu bersalin seharusnya banyak beristirahat dan cukup tidur. Aku justru tak tidur sama sekali terhitung dari malam ketika berjuang melahirkan Aidan berlanjut di malam berikutnya. Sebab harus membersihkan rumah setelah semua orang pamit pulang.

Aku bahkan baru bisa merebahkan tubuh tepat jam 3 dini hari ketika memastikan rumah dalam keadaan rapi dan besih. Mengingat besoknya, kami akan menerima kunjungan tamu yang tak sedikit.

Apa saja yang kukerjakan? Merapikan barang-barang, menyapu, mengepel lantai, bahkan membersihkan kamar mandi juga sisa piring kotor. Jika bukan bantuan Allah aku takkan bergerak sekuat itu, sekalipun bekas jahitan terasa linu. Sekalipun letih di sekujur badan usai persalinan masih begitu terasa. Nyatanya, Allah yang memampukanku untuk mengerjakan semua pekerjaan itu hingga selesai.

Disusul malam-malam lainnya tatkala jam tidur berkurang karena harus bangun setiap 2-3 jam untuk menyusui Aidan. Ini pengalaman tak terlupakan. Sekalipun kadang terasa sedih karena mungkin tak seperti orang lain. Tapi prinsipku, tak ada yang berubah hanya dengan membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain.

Aku percaya bahwa setiap pasangan yang baru saja beroleh amanah anak memiliki ujian dan airmatanya tersendiri. Dari pengalaman yang aku bagi di sini, di luar sana pasti ada pasangan yang telah mengalami perjuangan lebih dari apa yang pernah kami lalui.

Yang terpenting saat ini adalah terus belajar dan belajar bagaimana cara menjadi orangtua yang baik. Orangtua yang dapat mendidik anak-anaknya menjadi jundullah terbaik di muka bumi. Belajar untuk menjadi madrasatul ula yang bisa menyematkan kebaikan sejak dini pada diri anak-anak.

Tak peduli seberapa banyak komentar yang sanggup mematahkan hati dan semangat kita, tugas kita adalah berbenah dan menjadi lebih baik. Bukan menurut barometer penilaian orang lain, tetapi menurut kesanggupan kita dan apa yang membuat Allah ridha terhadap kita.

Tak ada orangtua yang bisa sempurna dalam banyak hal terutama soal mendidik atau mengasuh anak-anak mereka, tetapi juga tak ada yang berkurang dari itu. Cinta, kasih sayang, perjuangan, ketulusan, setiap orang memiliki paket perjuangannya masing-masing. Setiap pasangan, orangtua, memiliki ladang kebaikannya masing-masing.

Self remind untukku, untuk airmata yang jatuh di lebaran hari ke sekian beberapa waktu lalu. Maafkan orang-orang yang berkomentar sesuka hati,  mereka hanya tidak mengerti apa-apa yang sudah kau lalui sejauh ini. Tetap, jadikan Allah landasan dan sandaran untuk setiap niat dalam hati. Untuk tuju dalam langkah, hanya Allah. Lillah,  Lillah, Lillah, agar senantiasa berkah insyaa Allah.

Tak harus seluruh orang tahu tiap jengkal rasa lelah yang telah kita geluti, biarkan itu menjadi rahasia manis yang justru memberatkan timbangan kebaikan kita di sisi Allah. Sebab ada Allah. Allah tidak tidur. Allah yang tahu pasti apa yang sudah kita kerahkan selama ini. Sekalipun masih ada yang berkomentar, mengatai engkau tak becus sebagai ibu, atau engkau tak telaten mengurus anak.

Allah tahu usahamu. Dan komentar buruk mereka terhadapmu, takkan mengurangi takaran pahalamu di sisi-Nya.

Teruntuk setiap ibu yang berjuang menjadi sebaik-baik pendidik bagi anak-anaknya.

Semoga bermanfaat :')

Magelang, Sabtu, di penghujung Juni 2018.
© @bianglalahijrah_