Monday, 19 February 2018

S.A.H.A.B.A.T [Sepenggal Kisah Remaja]

22:26 0 Comments
Dalam hidup ini beberapa orang terlahir dengan jaminan kemudahan. Baik itu kekayaan atau status tinggi yang ia dapat dari keluarganya. Ia tak perlu berjuang keras untuk meraih banyak hal, ia tak perlu memerah keringat bahkan airmata hanya untuk bekerja keras. Ia barangkali tak tahu tentang malam-malam panjang ketika ada mata yang sulit terpejam, demi memperhitungkan esok hari akan seperti apa.

Di sisi lain, ada orang yang terlahir dengan cucuran airmata beserta keringat. Di dalam hidupnya tak selalu ada kemudahan. Ia ditempa untuk jatuh bangun seorang diri. Untuk berlari sekuat tenaga menuju mimpi-mimpi di tengah orang-orang yang kerap mencaci. Ia harus berjuang mati-matian untuk bertahan, agar dapat terus bangkit lagi dan lagi.

Beberapa orang berjalan begitu mudah menuju mimpinya, sebagian lain berjuang keras tanpa henti. Namun satu hal, orang-orang terpilih yang Allah uji terus menerus tak melangit lewat kemudahan sejak awal. Mereka ditempa dengan kesulitan jauh sebelum mereka mampu melangkah tegak. Mereka lahir bersama kesulitan dan keterbatasan yang ada. Tetapi merekalah orang yang paling berbahagia ketika mimpi mampu digenggam tangan. Mereka lah yang paling berbahagia atas pencapaian sekecil apapun. Bersyukurlah jika kita orang-orang pilihan itu. [Caption Instagram : @bianglalahijrah_]

 
Sore ini saat berkunjung ke rumah seorang teman. Dua jam pembicaraan kami seperti ragam kendaraan yang hiruk pikuk di sebuah jalan raya. Ada yang mengarah ke Barat, ke Selatan, ke Utara, bahkan ke Timur. Pembicaraan kami merambah ke banyak hal. Seolah tanpa spasi, semua mengalir begitu saja. Dua jam untuk duduk berdua dan mencerna semuanya bersama.

Namun saat menulis ini, entah mengapa teringat dengan seorang sahabat yang akrab denganku sejak kecil. Sahabat yang dulu, bersamanya, kami pernah berbaring di bawah langit sembari menghitung berapa banyak pijar bintang yang berkerlap-kerlip. Sahabat yang barangkali di hatinya masih ada jejak kisah dan tetap utuh di sana.

Tentang sesabit senyum yang kami titipkan di masa depan. Berharap ketika kami tiba di sana, waktu akan membawa ingatan kami pada hari itu. Hari di mana dua remaja berbagi tentang mimpi-mimpi besar.

Aku tak menyebut namanya. Tetapi ia yang bernama sahabat, tetap mengakar di dalam hati. Ia turut bernafas bersama puzzle-puzzle ingatan pun dalam pita rekaman bernama kenangan.

Juga untuk wajah-wajah yang pernah membersamai di masa sekolah. Untuk geng Kutu Buku, kuharap di mana pun kalian berada.. semoga Allah lapangkan serta mudahkan jalan kalian dalam menuju mimpi demi mimpi yang pernah kita eja bersama.

Untuk Syarif, bocah ingusan yang hari ini menjelma sebagai fotografer tampan (please jangan senyum ge-er ketika membaca ini). Aku meneropongmu dari bawah langit Magelang. Mengingat bagaimana sulitnya kondisimu dulu, percayalah.. kamu teman lelaki kecilku yang mengajariku kebijaksanaan ketika semua orang menyingkir satu persatu. Terima kasih untuk bertahan denganku hari itu. Pun berbahagialah dengan setiap pencapaian hidupmu hari ini. Kau jauh lebih baik :)

Teruntuk semua teman yang dulu pernah memelukku kala sedih, atau menghapus airmata. Sepertinya rinduku menarikku pada kenangan-kenangan itu. Ia tampil serupa slide, ada pelangi di setiap cerita.

Hari ini, aku tiba-tiba ingin menulis tentang kalian.

Ingat kah? Gelak tawa yang selalu mampu mengusir gundah di masa remaja? Atau problematika yang berujung dengan cerita panjang penuh energi saat kita saling berbagi secuil kekuatan di dalamnya. Atau tentang persaingan-persaingan yang membuat kita saling terpacu untuk lari mendahului yang lain, kendati kita takkan meninggalkan satu sama lain.

Pun ketika fase demi fase perubahan siklus masa puber, kadang kala membuat kita berbolak-balik. Ada saat kita berlari mendekat. Ada saat kita mencari ruang lain untuk menguji diri sendiri.

Untuk Winda, kudengar ia menjadi seorang ibu rumahtangga. Percayalah, setiap anak berharap ia bisa tumbuh dewasa.. meraih cita-cita.. mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Hanya saja, beberapa anak ada yang tumbuh dan melesat begitu saja menuju mimpinya, tanpa ada hambatan. Dan ada pula anak-anak yang harus menyimpan impian itu sebagai bagian dari dirinya. Walau tak pernah tahu kapan akan terwujud atau tidak sama sekali.

Untuk Winda, semoga kelak anak-anakmu lah yang akan melebarkan sayap dan mewujudkan mimpi-mimpi besarmu yang harus terpenggal kenyataan. Jadilah ibu terhebat bagi mereka, tangga bagi mimpi anak-anakmu :)

Untuk Angga, Randy, Yulian, Ira, Nika, Romi, Aina, siapapun teman yang dulu pernah ada di masa itu sekalipun nama kalian tak tertulis di sini.. percayalah, kalian adalah bagian dari kepingan puzzle itu. Kalian berkontribusi memberikan kenangan masa puber yang selalu menghadirkan cerita unik saat terangkat ke permukaan.

Sebelumnya, teruntuk sahabat spesialku Wahda. Kamu ingat waktu-waktu tersulitku dulu, dan kau ada di sana? Kamu ingat, saat menyeka airmataku, dan memberiku buku bersampul Cinderella yang kau lukis dengan tanganmu sendiri. Katamu, itu kado ulang tahun untukku. Karena aku begitu menyukai karakter Cinderella di antara deretan film kartun yang selalu kita tonton di hari minggu.

Aku belajar dari perbedaan yang membuat kita tumbuh seperti langit dan bumi. Tetapi dari situ lah aku memahami bahwa setiap anak lahir, tumbuh, dan membawa keberuntungannya masing-masing. Saat kau begitu mudah meraih sesuatu dengan limpahan kasih sayang, aku di sisi lain berjuang untuk bertahan demi impian walau hanya sedikit dukungan.

Tetapi nyatanya, kau sahabat yang dulu tak sekedar datang kemudian pergi hanya untuk mengeruk keuntungan. Itu mengapa seorang sahabat terasa jauh lebih membekas di dalam ingatan.

Hari ini, barangkali mimpi-mimpi besar yang dulu kita rangkai bersama telah kita raih satu persatu. Aku dengan jalanku, kau dengan jalanmu. Kutahu kita sama-sama berjuang di dalamnya. Tetapi percayalah, bahwa mimpi remaja ingusan kala itu, yang kita haturkan di bawah langit bersama hamparan bintang.. seolah-olah saling menggema satu sama lain. Kita pada akhirnya berjalan menuju semua itu.

Aku berbahagia untukmu, untuk setiap pencapaian baik di dalam hidupmu.

Seiring waktu kita semakin tumbuh dewasa dan juga akan menua. Bersamanya, lalu lalang wajah-wajah bernama teman. Ada yang bertahan meninggalkan kesan, ada yang singgah dan berlalu tanpa arti. Kelak, hari di mana waktu itu benar-benar tiba. Bawa diri kita dengan cerita masing-masing, habiskan satu malam untuk kembali menghaturkan kisah pada bintang.

Hari itu akan tiba, percayalah.. ada cerita menarik yang menunggu kita di ujung sana :) sukses selalu untuk kalian semua. Jangan pernah membuang wajah, kehilangan tutur kata, bahkan hangus begitu saja keramahan pada diri, sekalipun tangan sudah mampu mencapai ketinggian langit. Semoga hati dan kaki kita tetap berpijak di bumi dan selayaknya padi yang berisi. Aamiin insyaa Allah. Rindu untuk kalian semoga terwakilkan di sini.

Juga untuk ejekan-ejekan yang hingga hari ini masih menjadi motivasiku, itu juga berkat kalian. Terima kasih.

Magelang, 19 Februari 2018
bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu, rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya.. janganlah berganti #Ipang #Sahabatkecil
copyright @bianglalahijrah

Wednesday, 31 January 2018

Pesona Bangka Belitung : Negeri Serumpun Sebalai

19:29 0 Comments
(c) original picture by @bianglalahijrah [Pantai Parai Tenggiri, Bangka Belitung]

Bismillah :D akhirnya bisa duduk santai di depan laptop. Sejak beberapa hari yang lalu hanya berangan-angan untuk menulis di blog namun terkendala hal lain. Btw, kami baru pulang dari Bangka Belitung. Negeri yang disebut Bumi Serumpun Sebalai, tetapi aku lebih suka menyebutnya sebagai negeri Laskar Pelangi. Kampungnya Om Andrea Hirata. Meski Bangka Belitung sendiri nyatanya bukan pulau sekaligus provinsi kecil. Selain itu, aku baru tahu kalau pulau Bangka dan pulau Belitung itu sebenarnya terpisah. Ke mana saja aku? Kelihatan banget jarang buka peta :'D

Eh, ke Bangka Belitung mau ngapain?

Kami mau silaturahmi ke mamak dan keluarga yang ada di sini. Kebetulan terhitung sejak 7 tahun yang lalu ibuku tinggal di negeri laskar pelangi ini.

Menyambut langit senja di Alun-alun Taman Merdeka
Kalau dipikir-pikir, rasanya bukan sebuah kebetulan. Dulu, ada banyak list yang aku masukkan ke daftar mimpi. Dua di antaranya aku ingin menginjakkan kaki ke Candi Borobudur dan Bangka Belitung. Tak disangka saat ini aku justru menetap di kota yang sama dengan Candi Borobudur, situs peninggalan sejarah yang dulu pernah diakui UNESCO sebagai bagian dari tujuh keajaiban dunia. Yang kedua, tahu-tahu ibuku memilih tinggal di Bangka Belitung bersama keluarga yang ada di sini. Sebab mengapa akhirnya aku bisa berkunjung ke Babel.

Tadinya aku hampir lupa bahwa dulu pernah punya keinginan untuk menginjakkan kaki di pulau ini. Alhamdulillah, Allah beri kesempatan. Kami bertiga berangkat ke Babel pada Selasa tanggal 23 Januari lalu. Sampai kembali di Magelang kemarin minggu.

Pantai Karang Mas Air Anyir :) yang berhasil kefoto cuma plangnya karena kami hanya mampir sebentar


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dari perjalanan menuju Bangka hingga pulang, aku memanfaatkan setiap moment dengan sebaik-baiknya. Selain itu Bangka Belitung adalah pulau dengan destinasi yang indah dan sangat cocok untuk menyalurkan minat fotografi. Hampir setiap tempat yang kami datangi kuabadikan lewat kamera DSLR dan handphone. Hingga memori overload karena kelebihan muatan.

Ada satu info penting nih, destinasi di Babel itu rata-rata gratis. Iya pun berbayar paling cuma 2000-an dan kami sendiri hanya bermodal motor plus bensin. Ngetrip hemat banget pokoknya. Ditambah penduduk setempat juga ramah-tamah. Kamu akan sangat sering mendengar kata "Aok.." di setiap pembicaraan mereka. Dan kata "Aok" ini sebenarnya bukan kali pertama aku dengar. Orang-orang Melayu yang ada di Riau juga sering mengucapkannya. Aok bisa juga berarti (iya). Kalau menurut pendengaranku sih, karena dulu aku juga pernah tinggal di Jambi. Bahasa mereka terdengar seperti bahasa Melayu tetapi ada aksen Palembangnya juga. Tetapi berhubung aku pernah punya teman orang Lampung, bahasanya juga hampir sama :D dan yang jelas, aku tak tahu pasti apa arti setiap kali mereka berbicara hahaha.

Selama di Bangka aku lebih banyak mengambil gambar sembari belajar mengambil foto dengan angle yang pas, pun agar lebih mengerti tentang seluk beluk fotografi. Katanya fotografi itu juga didominasi oleh kemauan untuk belajar dan mencoba, selain karena memang ada skill khusus di bidang ini. Intinya jangan takut salah. Jangan takut kalau-kalau foto yang kita ambil mungkin jelek atau tak bernilai seni sama sekali. Sebab, sama halnya seperti menulis yang butuh keterampilan terus menerus. Fotografi pun demikian, jangan bosan berlatih dan terus mencoba. Karena tak pernah ada kata cukup dalam belajar.

Senyum mereka :) masyaa Allah, alhamdulillah. Loc : Alun-Alun Taman Merdeka

Bersyukur karena suami mensupport minat istrinya. Jadilah dia dan Aidan yang terbalik menjadi model. Lebih banyak foto-foto anak dan suami yang terekam kamera. Eh tapi fotoku juga banyak sih, ngambilnya gantian. Sayang kalau disia-siakan. Untuk foto-foto hasil trip bisa teman-teman nikmati di akun Instagramku @bianglalahijrah_

Jadi ceritanya, hari pertama di Bangka kami tiba pukul setengah empat sore. Dari bandara langsung menuju tempat mamak. Hari pertama adalah reuni bagi kami dan mamak setelah berapa tahun tak bertemu. Pertemuan yang mengharukan karena hampir semua orang yang ada menangis melihat kami. Iya, sejak berpisah dari mamak aku sendiri bahkan tak tahu kapan akan bertemu beliau lagi. Dan hikmah dari sakitnya mamak, begitu banyak kemudahan yang menyertai langkah kami untuk sampai di Bangka Belitung menemui beliau.

Jadi tujuan utama ke Babel memang bukan sekedar untuk mengunjungi destinasi setempat. Travelingnya hanya nyambi selama di sini.

Alhamdulillah, di hari kedua kami baru bisa menyempatkan waktu untuk berkunjung ke destinasi setempat setelah paginya mengantar mamak kontrol ke dokter.

Sisi lain dari pantai Temberan :) ikuti keindahannya di My Instagram @bianglalahijrah_

Di hari kedua ini kami mendarat di Pantai Pukan, pantainya masyaa Allah bagus banget. Pasir putih, ada gubuk-gubuk kayu di sepanjang pesisir pantai. Pantai ini juga bisa dibilang terawat karena tak banyak sampah yang kami temui ketika mengeksplore. Tiba di sini pas banget air laut sedang surut, jadi kami bisa berjalan kaki menyusuri pantai yang tergolong landai. Bisa mengabadikan gambar di atas gundukan pasir yang terbentuk karena air surut. Sangat-sangat menakjubkan menikmati keindahan pantai Pukan bersama keluarga.

Berkat papan petunjuk ini kami menemukan pesona keindahan Pantai Pukan

Pantai kedua di hari yang sama yaitu pantai Karang Mas Air Anyir. Tempatnya kurang sreg di kami. Jadi cuma mutar sebentar setelah itu memutuskan untuk pergi ke pantai lain, karena masih ada pantai di jalur yang sama dan hanya selisih beberapa kilometer saja.

Nah di pantai ketiga, tempatnya nggak kalah asyik. Rasanya nggak mau cepat-cepat pulang, apalagi kalau kamu ke sini sekitar jam 3 sampai jam 5 sore. Pantai Temberan ini sama ramahnya dengan Pantai Pukan. Cuaca sore yang sangat mendukung membuat suasana terasa damai, sejuk, betah berlama-lama.

Begitu turun dari kendaraan aku sudah siap dengan kamera yang sejak awal memang tergantung di leher. Agar di sepanjang jalan bisa mengabadikan lebih banyak gambar. Meski ternyata di pantai ketiga ini airnya juga pas surut sama seperti pantai-pantai sebelumnya. Tetapi keindahan pantai Temberan tak berkurang sama sekali.

Hitam putih Jembatan Emas

Setelah dari pantai Temberan yang terletak di desa Air Anyir kecamatan Merawang, kami langsung ke Jembatan Emas yang katanya sekarang jadi ikonnya Bangka. Lagi-lagi merasa beruntung karena sewaktu kami tiba di sana, jembatannya pas banget baru mau diangkat karena ada kapal besar yang akan lewat. Jadilah, momentum itu tidak aku lewatkan untuk mengabadikan gambar. Sayangnya beberapa gambar masih tersisa di kamera dan belum bisa aku bagi di sini. Mungkin next post.

Jembatan Emas dari depan :)

Sebelum pulang kami juga sempat mendarat di Gramedia Babel. Toko buku yang keren. Rapi dan cukup lengkap. Gedungnya lumayan luas karena hanya dijadikan khusus untuk toko buku saja. Kalau di Magelang mah, Gramedia Expo gabung di Mall Gardena. Nah di Babel justru enggak. Sayangnya, nggak boleh foto-foto di tokbuk ini. Aneh juga sih, sebanyak-banyak toko buku yang aku masuki baru ini nggak dibolehin ambil foto :(

Gramedia Babel, karena terlanjur difoto dan boleh dibawa pulang [by husband] :D

Aku sempat nanya ke satpamnya, dan dia beralasan takut kalau ada yang berniat kurang baik. Lah, dikata mau ngapain coba? Ampun, kesan yang sedikit mengecewakan. Padahal ke Gramedia cuma pengen belikan mamak Al-Qur'an dan beberapa keperluan lain sambil foto penampakan Gramednya. Tapi mood kadung nggak enak gara-gara insiden ini. Meski setelah itu saling balas senyum saja ke karyawan dan satpamnya :'D

Lanjut di hari ketiga dan keempat kami kembali mengeksplore Bangka. Destinasi pertama yang kami ingin tuju di hari ketiga adalah Danau Kaolin. Sayangnya akses internet terputus di tengah jalan. Selalu begitu kalau sudah memasuki kecamatan Merawang dan menuju ke arah Sungailiat. Padahal kami mengandalkan peta dari Google Maps. Alhasil bukannya sampai di tempat yang dituju kami justru nyasar ke pemukiman warga etnis konghucu. Setelah beberapa kali bertanya di penduduk setempat kami memutuskan untuk mencari sendiri lokasinya.

Anak dan bapak lagi mojok :D emaknya ambil foto doang. Loc : Kolong Biru

Masuk jalur yang satu dan keluar ke jalur yang lain. Sampai akhirnya kami menemukan papan petunjuk arah bertuliskan Kolong Biru. Suami tak pikir panjang, langsung tancap gas mengikuti petunjuk arah yang menempel di salah satu pohon.

Akhirnya, fiuh!! :D kami tiba di Kolong Biru disambut pemandangan yang sangat-sangat indah. Tadinya sempat mikir kalau Kolong Biru ini yang dinamakan Danau Kaolin, tapi ternyata bukan. Karena seingatku Danau Kaolin memiliki dua bekas galian timah yang airnya berwarna biru dan hijau, dan lokasinya ada di satu tempat. Sedang Kolong Biru hanya ada satu ini saja.

Di sini aku sempat ngevlog singkat, kendati nongkrongnya cukup lama. Sampai nggak sadar kalau kulit semakin berwarna kecoklatan. Kalau sudah bertemu dengan keindahan yang menghipnotis begini, jadi nggak pikir seribu sekalipun kulit harus menggelap. Tak masalah, toh pengalaman yang didapat takkan luntur semudah kulit yang balik ke sedia kala begitu kembali jadi emak rumahan :)

Dari Kolong Biru kami kembali lagi ke Jembatan Emas tapi ke pantai yang terletak persis di bawahnya. Sambil menemani Aidan nyemplung dan menikmati keindahan langit sore di tempat itu. Pantai di bawah Jembatan Emas ada sarana bermain anak juga loh. Ada pedagang-pedagang kecil yang menjajakan dagangannya.

Yeay!!! Asal tahu berangkat ke Bangka putih pulang-pulangnya gosong :D tahu kan penyebabnya?

Dan di hari ketiga pula, meski menikmati tetapi capek sudah mulai terasa. Terlebih karena menghitung hari untuk kembali ke Magelang. Pikiranku terbagi-bagi ke banyak hal. Masih banyak destinasi yang belum sempat kami kunjungi. Masih ingin berlama-lama di Bangka dan menemani mamak. Masih ingin mengeksplore kebudayaan setempat yang penuh ragam dan keunikan, tentang masyarakat melayu dan etnis konghucu yang hidup rukun berdampingan. Masih penasaran dengan otak-otak dan makanan khas Bangka. Masih banyak hal yang ingin kupelajari selama di tempat ini.

Tetapi hari kelima kami sudah harus kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Magelang. Dan hari keempat menjadi moment menyedihkan bersama mamak saat kami ingin foto bersama. Setelah bertahun-tahun baru bertemu lagi namun harus berpisah dalam hitungan hari. Hari keempat semangat untuk menjelajah keindahan Bangka pun tiba-tiba mengendur. Kendati perjalanan kami lanjutkan ke Pantai Parai Tenggiri yang kata masyarakat setempat adalah replika dari Pantai di Bali. Walau setelah itu kami juga masih sempat singgah di alun-alun Taman Merdeka, Pangkalpinang, ibukota Provinsi Bangka Belitung. Tetapi tetap saja pikiranku seperti bermain-main, antara pulang atau bertahan sebentar lagi.

Aku perkenalkan ibu yang sangat kucintai. Dia berharga bagi kami [by husband] :)

And then, tak ada pilihan lain. Hari keempat, malamnya kami berkeliling Pangkalpinang untuk membeli apa saja yang mamak butuhkan sesuai pesanan yang sudah kucatat di dalam list. Kami tak mau ada satu pun yang terlupa, sebisa mungkin dipenuhi sebelum kepulangan kami. Sebisa mungkin mamak benar-benar merasa lapang dengan kami berada di sana sampai kami pulang kembali ke Magelang.

Mengintip keindahan sisi lain dari pantai Parai Tenggiri

Alhamdulillah, pembelajaran sekaligus pengalaman berharga dalam waktu yang singkat. Lima hari rasanya tak cukup untuk menikmati semuanya. Tetapi terima kasih untuk mamak, lewat beliau ada mimpi yang terpenuhi secara tak sengaja, tapi Allah pula yang berkehendak. Terima kasih pada Bangka Belitung yang telah memberiku banyak pembelajaran baik selama berada di sana. Membuka kaca mataku lebih lebar untuk melihat, mendengar dan merasakan lebih banyak hal lagi di dunia luar. Syukran Allah, untuk kemudahan demi kemudahan. Pun kesempatan berharga.

Beach Resort and Spa, Parai Tenggiri :) bisa nih ajak keluarga besar ke sini

Insyaa Allah khusus untuk tiap destinasi akan kubahas detil sendiri-sendiri di postingan selanjutnya. Termasuk masjid-masjid paling menawan yang ada di Babel, berikut foto-foto hasil ngetrip. Semoga bermanfaat, semoga tak hanya kami yang bisa menikmati keindahan alam Bangka Belitung. Tak hanya kami yang bisa mengetahui setitik mengenai negeri Serumpun Sebalai ini, melainkan juga teman-teman yang barangkali belum pernah ke sana, tetapi ingin menginjakkan kaki di sana. Aamiin insyaa Allah.. semoga kelak kalian juga bisa menginjakkan kaki di sini.

Sampai jumpa lagi Bangka Belitung :) teruslah semakin indah. Loc : Alun-alun Taman Merdeka

 
di dunia ini tak ada yang kebetulan melainkan qadarullah, kehendak dan ketetapan Allah :)
salam rindu untuk mamak dan Bangka Belitung, kelak kami akan kembali lagi.. alhamdulillah
31 Januari 2018

copyright : @bianglalahijrah_
*original picture taken by me* 

Tuesday, 16 January 2018

Doa Orangtua : Doa yang Tak Mengenal Jarak

00:18 0 Comments

Selamat malam :) Nulis di sela ngerjain tugas. Pelarian terbaik ketika otak terasa penuh dan harus segera dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Alhamdulillah sebab minggu ini bisa kembali menghubungi mamak dan bapak di seberang pulau sana, setelah sempat lost kontak karena handphone sebelumnya rusak.

Ada banyak agenda di tahun ini. Keinginan, target, planning yang menjadi lebih berwarna. Doa mamak dan bapak tentu saja bagian terpenting dari itu semua. Selain itu, bagi seorang istri ridho suami yang paling utama. Jadi di antara semua planning itu dari jauh hari sudah kudiskusikan kepada suami. Asal suami ridho, insyaa Allah jalan hehe

Termasuk rencana untuk silaturahmi, mengunjungi mamak di negeri Laskar Pelangi, yaitu Bangka Belitung. Semoga dalam waktu dekat Allah mudahkan dan beri kemurahan rezeki untuk segera memberangkatkan diri ke sana. Rasanya sudah bertahun-tahun tak bertemu mamak. Bahkan ketika beliau mengangkat telepon dan mendengar suaraku, beliau menangis rindu sekaligus bahagia, karena baru saja dihubungi kembali oleh anaknya.

Sedih? Iya. Rindu? Jelas. Tak ada anak yang bisa lupa pada orangtuanya sejauh apapun kaki melangkah. Bahkan dalam kondisi bagaimanapun wajah orangtualah yang selalu hadir di pelupuk mata. Meski sudah bersuami, bagiku doa orangtua seumpama pelindung sekaligus pelukan yang memastikanku untuk tetap berada di koridor kebaikan.

Meski aku tak meminta doa-doa mereka secara langsung, bapak dan mamak sudah pasti mendoakan kebaikanku tanpa henti. Berharap semua anak-anak mereka menjadi orang yang berguna, berhasil dunia dan akhirat, serta tetap berbakti kepada kedua orangtua. Aamiin insyaa Allah.

Tadi sore setelah pulang dari pertemuan liqo, aku sempatkan untuk menghubungi bapak. Menyenangkan saat berbicara lama dengan bapak dan meminta beliau untuk mengaminkan pengharapan terbaikku hingga bapak benar-benar jelas mengeja kata aamiin.

Rasanya plong! Lapang sekali. Setiap kali usai menghubungi orangtua dan lagi-lagi meminta doa mereka. Apa yang lebih berharga dari ini? Ketika doa orangtua selalu menjembatani langkah diri ke manapun pergi, insyaa Allah.

Terima kasih pula pada bu Dokter Muda di negeri horas sana. Yang beberapa waktu lalu sudah memberikan masukan berharga. Bagiku, salah satu nikmat terbesar dari Allah. Ketika kamu dikelilingi oleh orang-orang baik yang ringan hati memberikanmu nasehat emas demi kebaikanmu sendiri. Bonus besar dari Allah saat dipertemukan dengan orang-orang shaleh, alhamdulillah

Dan, menuju semester baru dengan tugas yang semakin mendekati deadline. Mendengar suara bapak malam ini, aku seperti menerima transferan energi yang tak terkira. Bapak, bagaimanapun, dulu aku adalah anak yang selalu beliau manja. Bapak begitu penyayang. Meski setelah beberapa tahun berpisah dan bertemu lagi justru saat aku beranjak dewasa, kami mungkin tak lagi bisa sedekat dulu, tetapi tak ada yang berubah dari beliau.

Bapak masih sama. Diamnya. Senyumnya. Tawa bapak. Sudut pandang beliau dalam menilai sesuatu. Dunia yang bagi beberapa orang sempit, tetapi aku menemukan muara kehidupan di sana. Seorang bapak yang tangguh kendati tanpa gelar tertinggi di belakang namanya. Ia setidaknya mampu menjadi sosok terbaik di ingatan anak-anaknya meski kadang anak-anaknyalah yang kerap lupa.

Dan, seperti ucapan suami.. jika setiap kali semangat itu melemah. Harapan itu meredup. Ingat lagi wajah orangtua. Ingat wajah mamak, bapak, adik-adik, siapapun yang berarti di dalam hidupmu.

Ingatlah, sesuatu yang baik tidak hanya engkau perjuangkan untuk dirimu sendiri melainkan juga orang-orang yang kau sayangi dan sayang kepadamu. Perjuanganmu tak hanya semata demi mimpi-mimpi besar yang ingin kau raih, tetapi ada harapan dan doa-doa yang menyertai langkahmu.

Aku bersyukur, hingga kini Allah seperti menuntunku untuk menuju mimpi demi mimpi satu persatu. Banyak hal yang dulunya terasa mustahil Allah jadikan mungkin seketika. Allah mengizinkanku untuk melihat langsung bukti kebesaran-Nya.

Sebab itu, ke manapun kaki mampu menapak pada akhirnya. Ada tanda kebesaran Allah di dalamnya. Allah yang telah menjadikan apa yang mustahil menjadi sangat mungkin terjadi. Meski rencana manusia selamanya takkan bisa melebihi kuasa Allah. Tetapi rencana Allah jelas lebih baik.

Alhamdulillah untuk kesempatan demi kesempatan baik yang Allah beri untukku hingga detik ini. Banyak hal yang bahkan masih luput dari rasa syukur, tetapi nikmat Allah bahkan tak pernah putus sama sekali. Salah satunya? Nafas yang masih berhembus ini. Hidup yang Allah karuniakan untuk terus belajar, belajar, dan belajar lagi.

Ah, terkhusus untuk bapak dan mamak. Untuk suami, untuk little boy Aidan. Untuk adik-adik, untuk semua orang yang membuatku berarti di dalam kehidupan mereka. Terima kasih sudah membuatku belajar dan mengerti akan banyak hal.

Semoga setelah ini, Allah lapangkan sabar dan ikhlas di dalam diri tanpa mengenal batas untuk berjuang lagi dan lagi. Sebab nyatanya, perjuangan tak cukup hanya dengan satu pencapaian saja. Selagi masih ada waktu dan kesempatan, tangkap setiap peluang yang ada. Tebarkan lebih banyak lagi kebaikan di muka bumi. Aamiin aamiin yaa mujibassailin.

Magelang, 15 Januari 2018
sungguh, janji Allah itu pasti.. bersama kesulitan selalu ada kemudahan

copyright : @bianglalahijrah_ 

Thursday, 11 January 2018

Dilema Jadi Orang Nggak Enakan

20:37 0 Comments

Kadang, mudah bagi orang lain untuk berkata ikhlas dan sabar. Kendati merekalah penyebab luka itu. Mereka sendirilah yang menjadi pemantik dari kekisruhan yang ada di dalam hati dan pikiranmu. Meski begitu, nggak enaknya jadi orang yang 'nggak enakan', kadang kamu lebih memilih seperti menerima saja dengan ringan hati walau setelahnya kau justru menikmati kekecewaanmu sendiri.

Betapa banyak orang baik yang muncul di depan mata tetapi berlalu sebagai musuh. Tak sedikit pula lawan yang berwajah teman, mengelilingimu untuk memastikan, suatu saat mereka bisa menancapkan belati tepat di dalam hatimu. Tetapi, apa kita punya banyak waktu untuk menerka mana yang sebenarnya kawan dan mana yang bukan? Jelas tidak!

Kadang, kita tetap menaruh prasangka baik kendati orang lain bertubi-tubi melemparkan duri. Konsekuensi tak mengenakkan ketika menjadi orang baik.

Baiklah, jika berbicara soal ikhlas dan sabar. Perbedaannya apa? Sabar bisa jadi mungkin, ketika kamu memilih untuk menahan diri dan tak membalas mereka dengan perlakuan yang sama. Sedang ikhlas? Ikhlas belum tentu dapat berjalan seiring dengan kesabaran itu sendiri jika di hatimu masih tersimpan kekecewaan sekaligus rasa marah. Ah, kurang lebih begitu. Ini menurutku saja.

Sedikit pembahasan berat di minggu kedua setelah kuliah masuk kembali. Untungnya tugas di penghujung pekan minggu ini tak begitu mendesak untuk segera diselesaikan. Jadi mungkin hanya perlu membuka beberapa buku. Membaca dengan isi pikiran yang terpecah belah. Semoga Allah mudahkan.

Rasanya itu, seperti kehilangan beberapa potongan penting di dalam pikiran sendiri. Seperti terjebak pada kemelut yang membingungkan. Antara dua dunia yang saling bertolak belakang.

Masih tak habis pikir, apa yang dirasakan oleh orang-orang dengan mulut berbisa, ketika berbicara perihal orang lain yang sebenarnya ia tak tahu menahu? Bangga kah, jika berdiri lebih tinggi dengan merendahkan orang lain? Bahagia kah? Jika melihat orang lain menjadi kerdil sedang ia bersikap pongah.

Lagi-lagi nggak enaknya jadi orang yang nggak enakan, kamu harus menahan keringat dingin di sekujur tubuh saat jantungmu memompa darah lebih kencang. Saat tiba-tiba tubuhmu terasa lemas. Hanya untuk memikirkan kata apa yang tepat untuk mematahkan kepongahan orang-orang seperti mereka saat kita sendiri takut akan menyakiti perasaan orang lain.

Nggak enaknya jadi orang yang nggak enakan, kau bahkan harus ringan meminta maaf untuk kesalahan yang bahkan bukan kamu muaranya. Kau harus selalu memaklumi banyak hal saat orang lain justru mencari cela kesalahanmu.

Jadi orang yang 'nggak enakan' itu apa enak? Enggak!

Sering-seringnya, aku menyesali kata-kata yang terlanjur keluar dari mulutku ketika pada akhirnya terpancing untuk membalas. Walau hanya sekedar kalimat bantahan yang bertujuan untuk meluruskan ucapan mereka yang begitu gemar membicarakan kekurangan orang lain.

Yang paling menyebalkan, saat kau bahkan kesulitan untuk mengatur detak jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

Saat kamu terlalu memikirkan kata-kata apa yang pas, orang lain bahkan sudah menyelamu dengan banyak kalimat. Membuat hatimu mengecil sedemikian mudah. Baiklah, sekali lagi ini menjadi konsekuensi untuk orang dengan karakter 'nggak enakan'.

Tapi jujur, meski begitu aku sendiri memilih untuk sesekali angkat bicara dan tegas dalam bersikap. Satu kali? Oke lupakan. Dua kali? Maafkan, mungkin dia lagi khilaf. Tiga kali? Jangan cuma diam, waktunya berbicara dan buat mereka mengerti.

Sampai di sini, aku juga belajar banyak hal tentang menyampaikan sesuatu secara diplomatis. Agar aku sendiri bisa meluruskan kesalahan yang ada. Di sisi lain aku bisa membersihkan kemungkinan penyakit hati akan bersarang di hatiku tersebab prasangka. Sebab orang yang menyimpan prasangka juga nggak bisa hidup tenang. Kenapa? Mereka jelas tersiksa dengan prasangka mereka sendiri.

Senin lalu begitu selesai mengikuti kajian, salah satu akhwat bercerita tentang konflik yang menimpanya di sekolah bersama pendidik lain di satu lembaga yang sama. Tiba-tiba seorang ummahat memandangku sambil berseloroh, "Untung mbak putri nggak jadi masuk ke sana, kalau nggak bisa ramai terus. Mbak putri kan orangnya berani."

Tadinya aku nggak mudeng konotasi berani di sini maksudnya apa? Begitu bertabayyun barulah aku paham bahwa mereka yang memang bisa dibilang konco kental ini ternyata memahami karakterku yang satu itu.

Yang dimaksud berani di sini, ketika orang lain memilih untuk nrimo tanpa banyak komplain tetapi di belakang malah ngegrundel. Berbeda denganku yang mungkin akan menyampaikan langsung apa yang mengganjal kepada yang bersangkutan. Ketimbang hanya menyimpannya di dalam hati dan berlarut-larut dalam prasangka. Sungguh, ini nggak nyaman banget. Apalagi harus pasang wajah ramah dengan senyum termanis padahal dalam hati lagi sebel tingkat dewa, mending sekalian saja didiemin.

Suamiku juga paham benar. Meski aku tipikal orang yang nggak enakan, di lain sisi aku juga nggak bisa terlalu lama nyimpan uneg-uneg ke orang lain dan bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa. Beberapa orang mungkin bisa kaget, tetapi  untuk mereka yang bisa mencerna baik-baik dan mau memahami maksudku yang sebenarnya, justru bisa awet berjalan bersamaku tanpa harus berpura-pura apalagi bemuka dua.

Kembali tentang ikhlas dan sabar, jadi ingat petikan lirik lagu dangdut yang sering diplesetkan dengan banyak ragam. Tetapi aku lebih suka yang ini, "kuat dilakoni, yen ra kuat ditinggal ngaji."

Iya, ngaji! Semoga cukup Allah saja tempat berlabuhnya segala derap harap dan pinta sekaligus berbagai macam persoalan hidup, sebab hanya Allah sebaik-baik pemberi solusi yang tak pernah mengecewakan. Keep husnudzhon.

Lagi-lagi, aku kebablasan untuk menulis sepanjang ini.. padahal tadinya bingung mau mulai dari mana.

Nb: aku bukan dangdut's lover tapi secara kebetulan punya tetangga yang tiap hari dengerin lagu-lagu beginian makanya heran juga kok ya nyantel di otakku? :D

Btw, aku baru saja memperbaharui tampilan blog bianglala hijrah. Coba dilihat deh, ada yang beda kah dari tampilan sebelumnya? :) Hadiahnya?!! Postingan selanjutnya. Hehee

Assalamu'alaikum.

Magelang, 11 Januari 2018
mood booster menuju akhir pekan :) bismillah ...

Thursday, 4 January 2018

Rencana Allah Selalu Lebih Baik : Trip Semarang di Awal Tahun

11:52 0 Comments

Sampai di awal tahun 2018. Pun liburan resmi diusaikan. Selain karena suami sudah kembali bergelut dengan pekerjaan kantor, sabtu lusa aku kembali masuk kuliah. Yang menyenangkan karena pembuka di awal tahun ini keinginan lama telah terpenuhi untuk menginjakkan kaki di bangunan bersejarah, Lawang Sewu yang terletak di kota Semarang. Bukan hanya di Lawang Sewu tetapi juga destinasi lain di kota itu.

Dulu, beberapa tahun yang lalu aku sempat memiliki keinginan untuk menginjakkan kaki di tempat ini selain Candi Borobudur. Menyenangkan ketika bisa mengunjungi tempat-tempat yang tadinya hanya ada dalam bayangan, kemudian Allah izinkan untuk menginjakkan kaki secara langsung di tempat tersebut.

Happy travelling, bagiku yang menetap di Jawa justru setelah menikahi lelaki Jawa. Bisa ngetrip kendati masih area Jawa Tengah juga merupakan kebahagiaan tersendiri. Bagaimana tidak? Dulu aku hanya bisa menyawang tempat-tempat ini dari kejauhan. Tak ada bayangan bahwa akan menikah dengan suami yang asli Magelang hingga kemudian menetap di Jawa. Rasanya Allah sungguh-sungguh berencana di luar rencanaku tetapi terasa luar biasa. Rencana Allah nyatanya jauh lebih baik dari rencanaku sendiri.

Awal tahun dengan tujuan destinasi yaitu kota Semarang, satu lagi keinginan yang Allah ijabah. Sedang di trip penghujung tahun 2017 bisa dibilang trip habis-habisan karena dalam waktu berdekatan kami melangsungkan perjalanan ke beberapa tempat. Sebelumnya jelajah Yogyakarta, Klaten, Temanggung, Wonosobo-Banjarnegara, kemudian Semarang.

Berharap semoga libur panjang yang akan datang bisa melebarkan sayap lebih jauh lagi. Bisa mengunjungi lebih banyak tempat. Sembari mulai menabung dari sekarang. Aamiin insyaa Allah.

Btw, bagaimana dengan resolusinya? Alhamdulillah masih sama seperti sebelumnya kendati ada beberapa list target yang bertambah. Selalu asyik saat membaca daftar list impian ini. Sama asyiknya ketika membicarakan soal planning dan impian kepada suami. Suami itu ibarat diary bergembok tetapi bisa diajak bertukar pikiran sekaligus memberimu solusi. Suami adalah tempat untuk membicarakan banyak hal di mana tak ada rasa takut apakah rahasia itu akan terbongkar atau tidak.

Jadi, setiap kali ada debur semangat untuk mimpi-mimpi yang terasa semakin kuat mencengkram dada aku membaginya pada suami. Kadang beliau menyempurnakannya dengan kalimat-kalimat yang terasa pasti. Kadang, ia sertakan tips untuk bisa maju selangkah demi selangkah.

Selain itu, di 2017 yang telah berlalu ada banyak hal yang terjadi di dalam hidupku. Ada banyak pembelajaran berharga. Moment baik di mana Allah lagi-lagi menjawab doa dengan solusi yang lebih baik dari persangkaanku. Sederet keinginan yang sudah terceklist rapi di 2017. Dan masih banyak lagi kebaikan dan keberkahan lain yang Allah beri hingga detik ini.

Kalau sudah begitu, masihkah menipis rasa syukur ini di antara nikmat yang tak putus-putus?

Baiklah, aku bagi secuil pengalaman manis saat berkunjung ke Lawang Sewu, tepatnya ketika baru saja berjalan keluar setelah usai menjelajah ke dalam bangunan kokoh itu.

Mata Aidan tertuju pada seorang bapak yang tengah menikmati santap siangnya. Lalu suami yang berinisiatif untuk merogoh kocek, memberikannya pada Aidan, dan Aidan sendirilah yang meletakkan uang ke dalam ember kecil yang ada di hadapan si bapak.

Bapak yang tengah makan itu lantas menyodorkan sebuah koran, tetapi kami menolaknya. Karena niat kami memang bukan hendak membeli. Rasanya aku sungguh-sungguh terenyuh, sebab dalam keterbatasan ia masih berusaha sebisa mungkin untuk mencari rezeki yang halal. Melihat pemandangan seperti itu selalu berhasil membuatku mencubit diri sendiri.

Masihkah kurang rasa syukur di dalam diri? Padahal masih banyak orang di luar sana yang tak lebih beruntung darimu.

Itu sebabnya, sesekali kita perlu menengok ke bawah untuk lebih banyak bersyukur. Sebab, menengok ke atas hanya akan membuatmu lelah mendongak terlalu lama.

Saat ini, barangkali Aidan belum paham betul arti yang ia perbuat. Tetapi semoga nilai kebaikan tersebut terus hidup di dalam hatinya hingga ia dewasa kelak dan akan terus begitu. Semoga Aidan tumbuh seperti doa-doa baik dan harapan terbaik orangtuanya. Aamiin insyaa Allah.

Sungguh untuk berbagi kita tak harus menunggu benar-benar lebih. Untuk berbagi jangan menunggu ada koin receh sebagai pengecualian untuk menyedekahkan uangmu.

Sekali lagi, selalu ada hal penuh makna yang kami dapatkan di setiap perjalanan. Semoga bermanfaat baik untuk Aidan yang sejak masih dikandung badan sudah terbiasa diajak ngetrip. Semoga di setiap perjalanan kami selalu ada rasa syukur yang bertambah, perenungan terbaik, serta banyak hal yang selalu kami temui untuk dibawa pulang sebagai sesuatu yang berkesan manis di hati masing-masing.

Alhamdulillah. Syukran Allah untuk memberiku kesempatan baik setiap saat, maupun di tahun-tahun yang akan datang.

Semoga lebih banyak lagi mimpi dan kebaikan yang terijabah di tahun 2018 ini. Dan Allah mudahkan  setiap list target dan planning yang telah ada untuk segera terwujud. Aamiin aamiin yaa mujibassailin. Insyaa Allah. Keep husnudzhon.

Magelang, 4 Januari 2018
secuil hikmah bersama rasa syukur
Allah sungguh penulis skenario terbaik untuk jalan hidupmu

copyright : @bianglalahijrah

Saturday, 30 December 2017

Inna Ma'al 'Usri Yusra : Jangan Takut Bermimpi Besar

11:12 0 Comments

Semakin mendekati penghujung tahun. Sudahkah menulis resolusi impian untuk 2018 yang akan segera datang? Aneh juga, karena sampai sekarang aku masih santai. Biasanya aku yang paling dilingkupi semangat 45 untuk berbenah banyak hal. Mulai dari bersih-bersih rumah, mendekor ulang suasana yang ada, hingga menulis sederet list terbaru untuk target pencapaian yang ingin kuraih di tahun selanjutnya.

Tetapi ketika tahun berganti, maka ada usia yang turut bertambah sekaligus berkurang. Ada kalanya planning yang sudah dibuat berubah haluan seiring waktu berjalan. Sama halnya dengan mimpi-mimpi yang menggandrungiku sejak kecil.

Katanya aku gadis supel yang tak pernah bisa diam. Mulutku akan masam ketika berhenti berbicara. Bahkan mamak dan setiap orang di rumah, selalu jengkel mendengar ocehanku yang tak habis-habis. Di sisi lain aku memiliki dunia imajinasi sendiri. Dunia anak-anak yang tak dimengerti oleh orang dewasa.

Dulu, aku pernah bermimpi untuk menjadi seorang dokter. Boneka yang kuanggap pasien dengan ikhlas menerima banyolanku. Kemudian aku ingin menjadi seorang sekretaris entah ide dari mana keinginan itu, tatkala aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Selanjutnya aku ingin menjadi seorang artis, bintang film, dan penyanyi. Waktu remaja tak sedikit orang yang memuji suaraku yang katanya bagus. Hihihi. Meski sekarang aku nyaris tak memiliki kepercayaan diri untuk bernyanyi seperti dulu. Malu, terlebih setelah tahu bahwa suara muslimah itu juga termasuk aurat.

Dulu? Iya, aku adalah salah satu gadis kecil yang dengan PD bernyanyi sambil berjoget di pesta ulang tahun. Padahal lagu yang dibawakan adalah lagu "Wakuncar". Ahh aku malu mengingat ini. Betapa masa kecilku berlalu dengan hal-hal super yang membuatku menutup muka saat ini. Ternyata dulu aku bisa se-PD itu hahaha.

Sayangnya, seperti tak ada jalan yang kemudian mendukung langkahku untuk menuju mimpi-mimpi itu. Barangkali Allah berkehendak lain untuk menjawab setiap harap yang menyelinap atau untuk menghantarku pada impian yang lebih baik.

Tak lama setelah mengenal lingkup tarbiyah untuk pertama kalinya, ketika hatiku mulai terpaut untuk mempelajari Islam lebih dalam, ketika niatku mengenakan hijab lebar seketika tumbuh di dalam hati. Meski, tentu saja tak ada yang benar-benar mengerti apalagi mendukung.

Untuk mengikuti kajian liqo' aku bahkan harus mencari alasan untuk pamit pada mamak dan mak aji. Mereka beranggapan bahwa aku hanya ingin berkeliaran. Pun ada saat ketika kerudung yang kukenakan ditarik paksa hanya karena aduan tak benar yang melayang padaku. Hingga sangkaan bahwa aku mengikuti pengajian sesat. Mengingat waktu itu sedang beredar isu serupa di tengah masyarakat. Muslimah bercadar yang hanya hitungan jari di lingkungan tempat tinggalku juga tak lepas dari tatapan sinis, aneh, dan sesuatu yang diluar kebiasaan.

Barangkali hanya aku yang menatap hal itu sebagai sesuatu yang teduh dan menyejukkan. Saat semua orang mempermasalahkan soal cadar, aku menganggap pikiran mereka yang salah dan belum paham benar apa itu cadar dan fungsinya. Bukankah cadar bisa diyakini sebagai sunnah? Menjadi wajib jika ada faktor yang benar-benar mengharuskan pemakaian cadar. Itu pun semata untuk menjaga kehormatan sang muslimah.

Tapi, masih ada yang menganggap bahwa cadar sebagai simbol fanatisme terhadap Islam, yang seolah-olah pengenanya bukan bagian dari Islam itu sendiri. Jilbab lebar masih dianggap sebagai sesuatu yang aneh meski saat ini justru menjadi trend fashion yang katanya syar'i.

Dan.. awal-awal mula berhijrah, Allah uji dengan kabar bahwa mamak dan bapak berpisah.

Meski sempat terpuruk, tetapi menjadi titik balik di mana aku benar-benar mengubah mimpi, yang tadinya bahkan tak pernah terpikirkan sama sekali.

Berbagai planning besar kutulis di selembar kertas karton berwarna-warni, berikut sederet kata-kata motivasi, kemudian kutempel di dinding kamar. Setiap hendak berangkat sekolah aku membacanya. Memantapkan motivasi dalam diri demi meraih mimpi, meski orangtua tak lagi berada di sisi.

Saat itu, mimpi terbesarku adalah menjadi guru dan seorang penulis terkenal. Gadis supel yang tadinya periang dan banyak bicara lambat laun berubah. Aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama buku dan perpustakaan daerah maupun perpus sekolah. Semua buku-buku sastra yang ada kulahap habis. Termasuk sastra "Bunga Rampai" yang cukup tebal untuk dibaca anak seusiaku dengan bahasa yang tak semuanya mudah dicerna.

Ketika remaja yang lain asyik duduk bergerombol bersama genk yang mereka bentuk. Aku menyudutkan diri dengan buku di genggaman. Di mana ada aku, di situ ada buku. Hingga teman-teman menjuluki sebagai kutu buku.

Waktu itu, barangkali aku sudah memiliki kemampuan menulis sejak lama, sebab kebiasaan menulis di diary terhitung sejak aku duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar.

Namun karier menulis pertamaku, bermula ketika menulis naskah pementasan teater untuk acara perpisahan di sekolah. Selanjutnya aku belajar menulis puisi walau puisi cinta dan patah hati lebih mendominasi waktu itu. Ketika ikut mamak bersama suaminya, aku mulai menulis cerpen.

Aku masih ingat, setiap akhir pekan ada koran yang datang, aku selalu terpaut pada majalah Expresi yang berasal dari Pekanbaru. Berharap bisa mengirim naskah ke sana.

Sayangnya karena keterbatasan sarana, aku hanya bisa menulis di buku tulis biasa. Tak ada komputer, belum mengenal akun email, apalagi akses internet.

Meski tak ada dukungan dari keluarga, tetapi mamak waktu itu mengucapkan kata yang menjadi doa untukku di hari ini.

Malam itu mamak menghampiriku ketika aku sedang menulis, "Mau jadi penulis ya, Nak?"

Tanya mamak. Aku hanya memandang mamak dengan mata berbinar. Besok-besoknya di setiap kesempatan, mamak berbicara pada orang-orang bahwa putrinya ini ingin jadi penulis. Kemudian, takdir seperti menggiring langkahku menuju babak demi babak baru di dalam hidup. Doa mamak masih terus berkontribusi di dalamnya.

Lantas, Allah seperti menempaku lewat berbagai ujian sejak masih remaja.

Masa remajaku bahkan tak berjalan seperti remaja lainnya. Masa remaja kuhabiskan dengan banyak konflik yang menempa diri untuk dewasa lebih dini, ditemani mimpi-mimpi yang terus terajut setiap hari. Sibukku adalah buku. Buku apa saja akan kulahap dengan senang hati, dan itu terbukti membantuku sejauh ini.

Cita-citaku ingin menjadi seorang guru dan penulis, aku bahkan menautkan mimpi besar lainnya untuk menginjakkan kaki di berbagai negara. Aku ingin kuliah di luar negeri, di bumi Kinanah, negeri para Nabi. Aku ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Aku ingin membuat mamak dan bapak bangga. Aku harus menjadi sarjana pertama di keluarga mak aji. Aku cucu latok aji yang dulu selalu dimanja, akan kukirim doa dan kebanggaan untuk beliau yang telah berada di alam sana.

Akan kuwujudkan mimpi mamak yang terpenggal karena perjodohan dini.

Seiring dengan mimpi-mimpi itu, sungguh Allah membuka mataku bahwa memang tak ada yang mustahil bagi-Nya. Semua mungkin selama engkau yakin dan percaya pada ketetapan Allah. Satu persatu hal yang kata orang mustahil untuk kuraih, Allah mudahkan. 

Allah kabulkan. Kendati jalan untuk menuju mimpi-mimpi itu membelakangi rencana yang sudah kubuat semulus mungkin. Barangkali Allah ingin aku menjadi lebih kuat. Sebab seorang yang tangguh tak lahir lewat kemudahan hidup, tetapi mereka benar-benar ditempa untuk bangkit di setiap kegagalan yang datang. Maka ini yang disebut perjuangan.

Iya, Allah menginginkanku berjuang. Allah ingin menguji kesungguhanku.

Meski sempat beberapa kali terbentur. Maha Besar Allah yang telah mengirimiku malaikat-malaikat tak bersayap ke dunia ini. Mereka yang menguatkan langkah. Mereka yang mengokohkan pondasi di dalam diri tatkala lemah terpuruk. Mereka yang mungkin menyelipkan namaku di antara doa-doa yang mereka langitkan.

Allah membersamaiku di sepanjang jalan ini dengan saudara-saudara yang bertemu karena Allah. Saudara-saudara yang bahkan lebih kental dari sekedar hubungan darah. Mereka yang merangkulku dalam lingkar ukhuwah Islamiyah. Mengajariku, menasehatiku, mendidikku, untuk tak hanya menjadi pribadi yang kuat dan sabar tetapi taat sebagai muslimah di mata Allah.

Pada akhirnya, aku menuju mimpi untuk menjadi seorang pengajar barangkali lewat program studi yang saat ini kutekuni di salah satu sekolah tinggi berbasis Islam. Syukran pada murabbi dan suami beliau yang selalu membuka tangan untuk menampung segala curhat dan problematika yang mendatangiku hingga saat ini. Mereka yang terus menerus menguatkan dan memberi nasehat berharga.

Bagiku tak ada yang lebih berharga di dunia ini tatkala Allah berikan saudara-saudara yang membantuku untuk menjadi lebih baik di jalan-Nya. Alhamdulillah.

Mereka berdua pula yang sejak awal mendorongku untuk mengambil study ini. Mereka yang seperti pengganti orangtua di ranah orang. Kelak, semoga Allah beri kesempatan untuk membalas setiap kebaikan orang-orang yang hingga hari ini ikhlas membantuku karena Allah. Semoga Allah kuatkan langkah dan azam di dalam diri untuk tetap kokoh sekuat apapun angin bertiup di sepanjang jalan menuju tujuan.

Mamak bilang aku ingin jadi penulis, maka aku menulis untuk mamak, maka aku menjadi penulis juga untuk mamak. Satu-satunya orang yang doanya masih membekas padaku ketika semua orang mengecilkan mimpiku saat itu. Apapun pencapaianku hari ini, pun nanti, semua untuk mamak dan bapak. Untuk orang-orang yang berarti di dalam hidupku dan mereka yang membuatku berarti di kehidupan mereka.

Setelah sekian banyak nikmat dan bukti yang Allah tunjukkan di depan mataku, fabiayyi 'alaairabbikuma tukadzhiban? Allah itu dekat. Sangat dekat. Lihat bagaimana Allah mengatur jalan hidupmu kendati berliku tetapi tak lepas dari hikmah dan kebaikan yang dapat dipetik sebagai pembelajaran berharga.

Ketika seseorang mengecilkan mimpimu, mereka hanya belum sadar bahwa ada Allah yang Maha Besar yang mampu  mengubah mustahil menjadi sangat mungkin terjadi. Mereka yang lupa bahwa di dunia ini semua bergerak atas izin dan kehendak Allah, lalu apa yang kau takutkan? Jika Pemilik kehidupan ini saja sudah menjamin segala sesuatunya. Mengapa ragu pada Dzat yang telah membuatmu bernyawa? Allah itu dekat. Sangat dekat. Maka tak ada yang mustahil di dunia ini ketika Allah berkata "Kun" maka "Faya Kun". Bismillah ... #bianglalahijrah

Magelang, 30 Desember 2017
tulisan ini untuk refleksi diri sekaligus rindu yang basah memeluk "mamak" dari kejauhan
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

Aamiin.
copyright : @bianglalahijrah

Friday, 29 December 2017

Bukan Jalan-Jalan Biasa

21:41 0 Comments
 

Sebab takkan ada pertemanan baik yang akan bermula dan berlangsung awet tanpa prasangka baik di dalamnya.

Balasku pada salah satu pesan seorang akhwat via DM Instagram sehari yang lalu. Salah satu akhwat yang menemani perjalanan trip kami ke Dieng. Sebenarnya kami mengagendakan ke salah satu destinasi wisata alam yang ada di Temanggung, hanya saja realita yang dihadapi tak sesuai ekspektasi.

Jadilah kami memutar arah, nekat melanjutkan perjalanan ke Dieng. Tanpa persiapan matang. Tanpa peralatan memadai, jaket tebal misalnya. Tetapi alhamdulillah bisa tiba di sana walau hanya sempat mengabadikan gambar di sekitar komplek Candi Arjuna dan Telaga Warna Dieng. Masih ada beberapa spot wisata yang terlewatkan, barangkali suatu hari nanti bisa mengulang trip ini dengan persiapan yang lebih matang.

Perjalanan yang cukup melelahkan, menembus kabut yang disertai udara dingin menggigit, belum lagi jalanan licin. Sempat tersesat di kaki gunung, di tengah perkampungan warga, karena Google Maps yang keliru. Sempat kehujanan juga. Rombongan yang terdiri dari 7 orang dengan 3 kendaraan bermotor. Mengesankan!

Libur panjang di penghujung tahun ini alhamdulillah bisa memanfaatkan waktu yang ada dengan lebih baik. Siapa yang sangka rencana ke Temanggung malah mendarat ke Dieng. Sebuah destinasi yang berada tepat di perbatasan antara Wonosobo dan Banjarnegara.

Sebelumnya kami bertiga, sudah sampai di Yogyakarta, Klaten, dan Temanggung. Trip habis-habisan dan membawa pulang oleh-oleh kulit belang :'D

Tetapi apa bisa dibandingkan dengan cerita sekaligus pengalaman yang didapat selama ngetrip? Kulit belang sih bakal pulih lagi dengan sendirinya begitu rajin ngungkum di rumah. Tetapi selalu ada kisah perjalanan sendiri yang dibawa pulang usai dari mengunjungi berbagai destinasi yang kami datangi.

Salah satunya saat dolan ke situs candi Prambanan di Klaten, kami bertiga bertemu dengan seorang tourist India yang mengaku menetap di Amerika dan sedang mengajar English di Medan selama dua pekan. Ia tak hanya meminta kami untuk mengambil gambar untuknya tetapi juga menawarkan diri untuk memfoto kami bertiga dengan background Candi Prambanan. Hasil fotonya? Lumayan bagus lohh. Jarang-jarang kan ada yang mau fotoin kami bertiga ketika jalan-jalan, biar kelihatan keluarga pecinta travelling hahaha. Sekalinya ada yang menawarkan diri, malah tourist lagi. Aji mumpung nih!

Terus waktu main ke wisata alam Posong, Temanggung. Kami bertemu dengan teman-teman dari komunitas Laskar Sedekah Jakarta. Sempat mengabadikan foto bersama dengan atribut syal, bendera Palestina beserta bendera Indonesia.

Menyenangkan sekali karena di setiap perjalanan kami bertemu dengan banyak orang. Bertambah pengalaman, bertambah kenalan. Ada yang hanya sekedar bertemu di perjalanan kemudian berpisah tanpa kabar selanjutnya. Ada pula yang mengawetkan pertemuan kami dengan saling bertukar kontak pribadi dan akun sosmed yang dipunya. Tentunya, kami  tetap harus jeli terhadap orang-orang yang baru dikenal. Meski sejauh ini alhamdulillah Allah pertemukan dengan orang-orang baik tanpa modus apapun. Murni karena hobby yang sama-sama digeluti.

Pernah juga waktu ngetrip ke Kulon Progo, Yogyakarta. Ada Mas-Mas yang dengan senang hati memfoto moment trip kami dan hasil foto-fotonya juga berkelas. Bisa dibilang berdasarkan pengalaman trip kami, Yogyakarta memang dipenuhi orang-orang ramah yang tak sungkan menawarkan kebaikan.

Bagiku sendiri travelling bukan sekedar agenda jalan-jalan bersama keluarga, apalagi kalau dikata hanya membuang-buang uang dan waktu senggang. Ah yang berkomentar seperti itu mah paling karena dianya kurang pi-ke-nik. Jadi ya masih sesempit itu sudut pandangnya.

Padahal ada banyak kebaikan yang bisa didapat, tergantung dari kitanya sendiri. Dari sudut mana kita menilai sesuatu. Toh, baik atau buruk memang tergantung sudut pandang masing-masing. Yang jelas, ada hal yang menjadi kesenangan maupun kepuasan orang lain yang tak bisa kita hakimi dengan pendapat apalagi penilaian diri sendiri. Sebab, toh kita tak pernah tahu apa yang benar-benar orang itu alami dan rasakan.

Namanya juga hak asasi, soal ini lebih hak asasi dari pada eljibiti yang lagi santer itu. Orang mau bagaimanapun kita tak memberi kontribusi apa-apa kan? Terus kepentingan baik apa yang kita miliki untuk menilai kehidupan orang lain hanya dari sepintas yang terlihat? Ayoo, berpikir cerdas! Jangan rawat penyakit hati :)

Travelling itu bisa bermakna banyak kebaikan tergantung dari sudut mana kita menilainya. Untukku sendiri aku jadi beroleh banyak kesempatan untuk mendengar dan melihat lebih, apa-apa yang tadinya tak terpikirkan olehku. Yang tadinya belum pernah kutemui sama sekali. Bahkan, di sepanjang perjalanan aku selalu menemukan hasil perenungan baru untuk kemudian aku bagi dalam bentuk tulisan. Semata, semoga tak hanya bermanfaat untuk diri sendiri namun juga orang lain yang membaca.

Bertemu banyak orang dan menambah jumlah teman secara tak langsung juga adalah kesenangan tersendiri. Ada saat kita bisa belajar untuk menjadi pendengar yang baik. Ketika mereka dengan senang hati berbagi pengalamannya.

Ada rasa syukur yang bertambah. Ada rasa lapang yang sulit dijelaskan tetapi ia betul-betul bersemayam di dalam dada.

Kelak, suatu hari.. bersama mimpi-mimpi yang lain. Semoga Allah izinkan kaki ini untuk menginjak lebih banyak lagi tempat di belahan bumi-Nya yang lain. Semoga Allah ijabah setiap mimpi-mimpi yang terasa mustahil, namun tak ada yang mustahil bagi Allah, semua mungkin hanya dengan Kun Faya Kun-Nya.

Kelak, bersama mimpi-mimpi yang semakin pasti.. semoga tetap ada kebaikan dan kontribusi terbaik yang bisa diri ini bagi pada setiap orang di manapun kaki melangkah. Di manapun takdir tertuju pada akhirnya. Sungguh, Allah kuasa.

Terkhusus teman-teman yang telah menemani perjalanan yang belumlah seberapa ini. Teman-teman yang bertemu di perjalanan, kutahu tak ada yang tanpa sengaja di dunia ini melainkan Allah yang berkehendak, maka tentu ada kebaikan yang menyertai. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah memberi banyak arti dan pelajaran berharga. Menambah ilmu, pengalaman, cerita, yang tak habis-habis. Tabarakallah. Alhamdulillah :) sampai berjumpa di trip selanjutnya..

Magelang, 29 Desember 2017
ditemani secangkir kopi Chocolatos, Matcha Latte
foto-foto hasil trip bisa leluasa kamu lihat di akun instagramku : @bianglalahijrah_
jangan lupa follow yaa hehehe :D